Di bawah gapura kayu yang menjadi pintu masuk perguruan silat Gunung Bisma berdiri tiga orang tua. satu diantaranya adalah seorang nenek berjubah hijau tua yang sudah usang dan robek- robek. mukanya yang rada keriput di penuhi pupur dan bibir peotnya diolesi gincu berwarna hijau. sebuah giwang bulat besar yang terbuat dari emas tergantung di kedua telinganya.
Orang yang berdiri terbungkuk dan berada paling depan adalah seorang tua bermuka hitam berminyak, berbaju gelap lusuh dan bolong- bolong. dia tidak memakai alas kaki hingga sepasang kakinya yang kurus dan kotor terlihat pecah- pecah dan kudisan. sebuah tongkat besi sepanjang satu depa tergenggam di tangan kirinya.
Orang tua terakhir tampangnya kurang jelas terlihat karena sejak datang selalu tundukkan kepala hingga rambut panjangnya yang gimbal awut- awutan dan sudah beruban menutupi raut mukanya. dia seakan sengaja menyembunyikan wajahnya. tubuhnya tinggi kurus dan memakai jubah kelabu yang juga sudah dekil dan bau. di pinggang kirinya terselip sebilah arit yang sudah karatan. orang ini berdiri agak jauh di belakang kedua kawannya.
Meskipun belum tahu siapa ketiga orang pendatang itu tapi Arga Pangestu yang punya pikiran tajam dapat mengira kalau ketiga orang tua inilah yang menyebabkan Candraka dan Kundali jatuh dan cedera. bersama Ajeng Lestari dan empat kawannya maju menghadang tiga orang tua aneh itu. ''Maaf., siapakah kalian bertiga dan ada keperluan apa berkunjung ke perguruan gunung Bisma ini.?'' sapa Arga Pangestu sambil menjura hormat. meskipun dia kurang suka dengan sikap ketiga orang ini tapi si pemuda tetap menjaga kesopanan.
''Saat ini kami para murid perguruan gunung Bisma sedang berlatih silat, jadi harap maklum jika tidak sempat menyambut kedatangan tiga tetamu..'' sambung Ajeng Larasati. dia sebenarnya merasa sebal dengan orang tua bungkuk bermuka hitam yang matanya jelalatan mesum.
''Hek., he., para murid perguruan ini cukup sopan juga, berbeda dengan perangai gurunya Ki Rangga Wesi Bledek yang selalu berangasan dan menyebalkan.!'' ujar si nenek berjubah hijau
''Bukan saja menyebalkan, dia juga suka berlagak sok jagoan dan ikut campur urusan orang lain, kuharap dia mati saja..'' timpal si bungkuk muka hitam.
Para murid perguruan Gunung Bisma yang mendengar gurunya di umpat seperti itu menjadi marah dan hendak melabrak. tapi Arga Pangestu dan Ajeng Larasati yang punya pikiran luas masih bisa menahan diri.
''Sekali lagi kami mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyambutan ini. tapi harap ketiga orang tua tidak membawa serta nama baik guru kami..!'' tegur Arga Pangestu.
''Hak., ha., ha, nama baik katamu.? Anjing.,! maki si muka hitam. ''Orang seperti dia hanya layak menjadi anjing piaraan dari pada manusia.!''
'' Kami bertiga sengaja datang kemari justru untuk mencabut nyawa anjing tua itu., jadi cepat suruh dia keluar sekarang.!'' bentak nenek tua berjubah hijau.
Kali ini keempat murid yang berada di belakang Arga dan Ajeng tidak dapat lagi menahan kemarahan bebarengan mereka menyerang sambil keluarkan makian kotor pada si bungkuk muka hitam dan nenek jubah hijau. kedua orang ini bersikap berbeda. si nenek berjubah dan bibirnya bergincu hijau cuma diam dan meludah. sementara si bongkok muka hitam mendengus lalu putar tongkat besinya. terdengar suara beradunya tulang tubuh dan batang besi disertai raungan kesakitan. empat murid perguruan Gunung Bisma terjungkal roboh dengan tubuh memar dan tulang tangan kaki patah.!
Seketika para murid perguruan Gunung Bisma berteriak kaget, sebagian menolong keempat rekannya yang roboh yang lainnya maju hendak melabrak. tapi Arga dan Ajeng keburu menahan. kedua orang ini memang penuh perhitungan dan tidak mau gegabah bertindak. dalam hati keduanya berpikir, ''Biarpun mereka cuma bertangan kosong menghadapi si bungkuk yang membekal tongkat besi, tapi tidak seharusnya keempat saudaraku dapat dirobohkan begitu mudah hanya sekali gebrakan, mereka bertiga jelas bukan orang sembarangan.!''
Meskipun perguruan silat Gunung Bisma bukan termasuk golongan perguruan silat paling terkenal, tapi juga tidak bernama kosong. mereka pernah beberapa kali ikut serta dalam pertandingan persahabatan dengan murid perguruan silat yang lain di seputaran Jawa Tengah dan sering kali menang, kalaupun kalah juga tidak sampai telak.
Bukan hanya itu saja, pernah suatu kali salah satu desa di kaki gunung ini di datangi para perampok. Arga Pangestu dan beberapa temannya yang kebetulan sedang turun gunung untuk membeli keperluan di desa itu cepat bertindak membantu para penduduk menghajar begundal rampok bersenjata golok itu hingga babak belur. padahal saat itu mereka tidak membekal senjata.
Perguruan Gunung Bisma memang lebih mengutamakan ilmu silat tangan kosong dan pukulan tenaga dalam dari pada ilmu silat senjata. karena Ki Rangga Wesi Bledek sendiri sebagai ketua perguruan adalah pesilat tangguh yang mengandalkan kedua tangannya yang sekeras besi dan sekuat guntur.
Dalam keadaan seperti ini dapat dipastikan kalau ketiga pendatang ini memang berilmu tinggi. diam- diam Arga Pangestu siapkan kedua kepalan tangannya hingga bunyi berkerotokan. urat tangannya bertonjolan keluar, kulit tangannya yang putih terlihat bersemu menguning hingga ke lengan.
Sementara Ajeng Lestari juga berbuat yang sama, hanya bedanya dia memakai telapak tangan terbuka bukan kepalan seperti Arga. diantara para murid Ki Rangga hanya mereka berdua saja yang sudah mampu mempelajari ilmu 'Tangan Guntur Wesi Kuning' andalan perguruan itu meskipun belum sempurna.
Hal ini tidak lepas dari perhatian si bungkuk muka hitam dan si nenek gincu hijau. dalam hati mereka rada terkejut juga. ''Masih begini muda tapi sudah menguasai ilmu andalan bedebah tua itu meski mungkin belum sempurna. hmm., lumayan juga mereka.''
''Katakan., siapa kalian bertiga sebenarnya sebelum kami bertindak kasar..!'' bentak Ajeng Lestari marah. turut maunya saat ini dia ingin melabrak si bongkok muka hitam yang bermata mesum. tapi dia penasaran ingin tahu siapa ketiga orang bedebah ini.
''Hek., he., dengar gadis cantik., kami ingin bertemu gurumu untuk menyelesaikan sebuah urusan lama. soal siapa kami., Hek., he., dalam dunia persilatan kami bertiga dijuluki 'Tiga Setan Berbaju Rombeng.' kau dengar itu.,!'
Ajeng dan Arga saling pandang. raut muka mereka berubah rada tegang. sementara para rekannya juga terlihat waspada. meskipun hanya selintas tapi mereka sempat mendengar cerita dari gurunya kalau dulu Ki Rangga pernah berseteru dengan ketiga orang jahat ini. tapi apa penyebabnya sang guru tidak pernah menjelaskan.
Yang tua bungkuk biasa dipanggil sebagai Setan Bungkuk Rombeng. si nenek bergincu hijau disebut Setan Hijau Rombeng. dan orang terakhir adalah Setan Arit Rombeng. ketiga nama ini meskipun bukan yang paling ditakuti tapi cukup merepotkan orang golongan putih.
''Kulihat si anjing tua Rangga Wesi Bledek sudah mulai mewariskan ilmu pukulan kebanggaannya pada para muridnya. bagus., majulah kalian berdua sekarang.!'' gertak orang tua bungkuk bermuka hitam alis Setan Bungkuk Rombeng sambil gebrakkan tongkat besinya ke tanah. sementara Setan Hijau Rombeng cuma meludah seakan memandang sebelah mata.
Diantara mereka bertiga hanya si Setan Arit Rombeng yang masih berdiri diam sambil tundukkan kepalanya. meskipun begitu entah kenapa dalam hatinya Arga Pangestu merasa orang inilah yang paling berbahya.!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
Luthfi Afifzaidan
up
2025-02-10
0
👁Zigur👁
siap2. tiga setan beebaju rombeng mao bikin rusuh..
2024-07-17
1
Loly 💃
lanjuuuuuuiiittttt
2024-05-10
1