Hujan masih tercurah dari atas langit yang gelap seakan ikut berduka dengan kematian para murid perguruan Gunung Bhisma. atau bisa juga malah menertawakan ketidak berdayaan seorang pemuda kurus yang juga masih berdiri termangu di bawah siraman rintik air hujan.
Tetes air hujan yang menimpa tubuh kurus itu seakan tusukan jarum yang menyakitkan si pemuda. meskipun tubuhnya terasa sakit, dingin dan menggigil namun entah kenapa pemuda ini tidak berusaha untuk berteduh. mungkin juga dia sengaja membiarkan tubuhnya tersiksa seperti itu, agar bisa sedikit mengurangi duka dendam di hatinya.
Sebuah peta dari kulit kambing yang sudah sangat tua dan usang tergenggam di tangannya. otak di kepalanya bekerja sangat keras untuk mengingat setiap gambar, letak dan tulisan yang ada di sana. perlahan dia melangkah ke teras bangunan kayu yang berada paling ujung sebelah kanan, lalu dengan gunakan sepotong batu arang dia mulai menggurat lantai kayu yang ada disana.
Gambar peta yang selesai dia buat di atas lantai teras kayu lantas coba di cocokkan dengan gambar yang ada di peta kulit kambing. hasilnya sungguh mengecewakan, karena tidak satupun yang mirip dengan gambar yang ada di dalam peta kulit kambing. satu kali si pemuda gagal tapi dia kembali mengulangi pekerjaannya. dua kali, tiga kali, lima kali, hingga tujuh kali dia tetap tidak mampu membuat gambar peta yang sama. dia tidak tahu apakah gambar dalam peta itu terlalu rumit, ataukah otaknya yang teramat bodoh.
''Jahanam., keparat., aku lebih baik mati., sial., sial.!'' rutuk pemuda itu seakan marah pada kelemahan dirinya sendiri.
Pemuda kurus pucat bernama Pranacitra ini hantamkan tinjunya kelantai kayu berulang kali hingga papan lantai itu melesak dan pecah. sebaliknya dua kepalan tangannya terlihat membengkak berdarah. bibirnya gemeletuk menahan rasa dingin, sakit dan amarah yang menggumpal di dalam relung jiwanya. darah menetes dari ujung jemari tangannya yang gemetaran dan sedikit tertekuk, mungkin selain terluka juga ada sebagian tulang jarinya yang patah.
Pranacitra pejamkan kedua matanya, berusaha mengatur pernafasan dan semua ingatannya. dia sadar hanya dengan ketenangan hati semuanya bisa dia lakukan.
Dengan menggunakan tetesan darah yang mengalir dari kulit jemarinya dia kembali melukis diatas papan lantai kayu. kini dia melakukannya dengan perlahan dan penuh perhitungan. tenang tapi sangat percaya diri. seakan masih belum merasa puas pemuda itu kembali mengulangi lukisan darahnya hingga dua kali. setelah genap sepuluh kali melukis dia baru merasa lega. semua letak gambar, tulisan, arah, dan petunjuk di lembaran kulit kambing itu sekarang sudah berpindah seluruhnya di dalam kepalanya.
Peti kayu kecil berisi peta kulit kambing sudah kembali kedalam liangnya. terpendam selamanya di dalam tanah pekarangan perguruan silat Gunung Bhisma. ada dua alasan kenapa Pranacitra tidak mau membawa peta itu keluar tapi lebih memilih untuk menghafalkannya.
Hanya peti yang di atas., itulah pesan dari Ki Rangga, artinya cuma peti terbawah yang tidak boleh diambil keluar. alasan lainnya walaupun si pemuda ceking itu tidak tahu apapun soal Lembah Seribu Racun, tapi mengingat Ki Rangga pernah mengatakan kalau peta ini cuma membawa bencana dan kejahatan maka bisa di pastikan kalau benda itu bakal jadi bahan sengketa jika muncul di dunia ramai.
Pranacitra mendongak, hujan sudah berhenti tapi mendung tebal semakin gelap seiring dengan datangnya malam. baru kali ini dia merasa sangat lelah dan lapar. dengan langkah terseok dia melangkah masuk kedalam pondok kayu yang biasa digunakan sebagai ruang makan dan pertemuan antara murid dan guru. disana sudah tersedia sebakul besar nasi, sayuran tumis, ketela rebus, dengan lauknya dua ekor ayam hutan bakar hasil tangkapan Sribowo, salah satu saudaranya yang paling jago berburu dan membuat jebakan di hutan. semua makanan itu dia sendiri yang menyiapkannya.
Di saat lain pastilah semua kawan dan gurunya bakal ramai berebutan, makan bersama penuh riang canda, dan terakhir biasanya semuanya merasa puas dan memuji kelezatan masakannya. tapi kini semua tinggal kenangan. nasi sayur dan lauk yang dingin terasa berat, pahit dan getir saat memasuki mulutnya. meskipun ceking dan lemah sebenarnya pemuda ini bukanlah seorang yang cengeng. tapi dalam keadaan itu air matanya tidak dapat berhenti mengalir.
Suara ramai orang di pasar yang berada di pinggiran kadipaten Muntilan itu sudah terdengar sejak hari masih gelap. semakin mendekati terang tanah jumlah pedagang dan para pembeli semakin banyak. hari ini adalah selasa kliwon, dimana sudah menjadi tradisi di daerah itu kalau setiap selasa kliwon selalu ada pasar dadakan yang sangat ramai. karena para pedagangnya bukan saja berasal dari Muntilan sendiri, tapi banyak juga yang berasal dari luar kadipaten itu. biasanya orang- orang disana menyebut hari pasaran itu sebagai pasar sewon, mungkin itu singkatan selasa kliwon.
Dari salah satu sudut pasar terlihat seorang bocah kurus berbaju dekil dan tambalan sedang mengamati lalu lalang orang yang ramai di pasar itu. matanya yang tajam seakan sedang mengincar sesuatu. mulut kecilnya menyeringai licik saat melihat seorang perempuan gemuk berdandan menor yang baru berjalan keluar dari tempat penjual kue jagung. dengan agak rakus perempuan itu langsung memakan kue yang baru dibelinya sambil berjalan pulang. sebuah keranjang dari anyaman daun pandan yang penuh dengan barang belanjaan tertenteng di tangan kirinya yang besar berlemak.
Bocah kotor tiga belas tahunan yang berbaju compang- camping itu berjalan cepat menunduk menerobos lalu- lalang orang di pasar itu. saat berada di depan perempuan gemuk menor tangannya bergerak cepat. hanya perlu dua kejab mata saja baginya untuk mengambil kantung kain berisi uang yang terselip di keranjang daun pandan sekaligus memindahkan ke dalam kantong bajunya sendiri lalu pergi menghilang di tengah keramaian pasar.
''Aah., besar juga rejekiku hari ini., isi kantung uang ini paling tidak bisa menjamin perutku terisi selama satu minggu..'' gumam si bocah dekil itu sambil menepuk- nepuk kantong bajunya. langkahnya terhenti saat tubuhnya membentur sesosok pemuda kurus berbaju gelap yang sudah dekil dan bau seperti dia.
''Hei., kalau jalan lihat- lihat dulu, jangan suka main tabrak seenaknya.!'' bentak si bocah pencuri itu berkacak pinggang. kepalanya mendongak agar dapat melihat siapa orang yang telah menghadangnya. seraut wajah pucat berambut panjang. meskipun sebenarnya masih muda dan tampan tapi terlihat murung seakan penuh beban hidup. si bocah tertegun entah kenapa dia merasa sedikit kasihan melihat pemuda ini. karena itu dia hanya mendengus lalu ngeloyor pergi.
Tapi baru saja dia melangkah sebuah tangan sudah menahan tengkuknya. secepatnya si bocah membalik sekaligus memukul dan menendang, dari gerakannya yang tangkas bisa di duga kalau dia pernah belajar dasar ilmu silat. walaupun sempat terkejut tapi pemuda kurus itu juga tidak gugup. sedikit melangkah mundur dan bergeser ke kiri, serangan si bocah bisa dihindarinya. sekali tangan kirinya bergerak mencengkeram dan memutar, bocah itu sudah terpiting tak berdaya.
Pemuda ini sebenarnya tidak pernah belajar ilmu silat, tapi karena setiap harinya melihat teman- temannya berlatih silat di perguruan Gunung Bhisma, sedikit banyak dia juga paham bagaimana cara menghadapi serangan lawan.
''Lepaskan aku., lepaskan aku., dasar muka pucat sialan.!'' umpat si bocah berusaha berontak. tapi setiap kali dia melawan. tengkuk dan lengannya yang terjepit terasa amat sakit. terpaksa dia diam mendongkol.
''Kalau kau terus berontak hingga menarik perhatian orang pasar, akan kukatakan kalau kau sudah berani mencuri kantung uang milik perempuan gemuk itu. dan kau pasti tahu akibatnya, mati digebuki atau masuk Bui.!'' bisik pemuda pucat. si bocah langsung bungkam.
''Bagai., bagaimana kalau kita., kita bagi dua saja isi kantung itu.?'' tawar si bocah penuh harap. tapi dia kecewa melihat si pemuda cuma menggeleng. ''Kau kembalikan saja kantung uang yang kau curi., sekarang.!'' gertak pemuda pucat. si bocah menjadi marah ''Kembalikan katamu.? lalu siapa yang akan memberiku makan hari ini, besok dan seterusnya., isi kantung ini bisa menjamin perutku kenyang sampai seminggu..''
''Ooh jadi ini soal makanan., kembalikan kantung itu, jatah makanmu aku yang tanggung.!'' jawab si pemuda pucat. bocah dua belas tahunan itu terkekeh menghina. karena tengkuk dan lengannya terpuntir, tawanya jadi agak tercekik. ''Siapa percaya omonganmu, dasar muka pucat melarat.!''
Dengan sedikit memaksa pemuda pucat itu menyeret si bocah. ''Hooi., kakak berbaju merah., kakak berbaju merah., tunggu sebentar, kantung uangmu terjatuh..!'' seru pemuda pucat itu. sementara si bocah menyumpah geram tujuh turunan dalam hati.
Banyak orang di pasar menoleh ke asal suara. seorang perempuan gemuk berbaju merah dengan dandanan mencolok terlihat kebingungan membongkar isi keranjangnya mencari kantung uangnya yang hilang. saat mendengar teriakan buru- buru dia lari mendekat. ''Kau bilang menemukan kantung uangku., dimana.?''
''Bukan aku yang menemukannya, tapi adikku ini yang melihatnya terjatuh di jalan. saat hendak mengembalikan, dia terjatuh karena tubuhnya lemah akibat beberapa hari belum makan..'' jawab pemuda pucat itu sedih sambil kembalikan kantung uang perempuan itu. ''Kau lihat., dia harus kupegangi tubuhnya agar tidak terjatuh. badannya sangat lemas juga penyakitan..'' tambahnya. perempuan gemuk itu menjadi simpati dan merasa berhutang budi.
''Ooh kasihan sekali., kau juga terlihat pucat seperti adikmu., biarpun gembel tapi kalian berdua sangat jujur., ini kuberikan sedikit uang dan makanan untuk kalian berdua..'' ujarnya seraya memberi beberapa keping uang tembaga dan dua bungkus makanan pada mereka berdua. pengunjung pasar yang merasa dua gembel itu punya hati yang mulia banyak yang turut memberikan sedekah uang dan makanan. si bocah tertegun melongo. seumur hidup dia belum pernah mendapat rejeki sebanyak ini. tanpa sadar dia melirik si pemuda pucat yang cuma menyeringai dingin kepadanya.
Seorang pemuda pucat dan bocah dekil terlihat menikmati setumpuk makanan yang di letakkan dalam keranjang bambu. mereka makan dan minum dibawah sebatang pohon rindang yang tumbuh agak jauh dari tepi pasar. ''Ha., ha., sungguh hebat. kuakui kau sangat pandai bersiasat.!'' karena mulutnya penuh makanan, dia sempat batuk tersedak.
''Pelan saja makannya, tidak akan ada yang merebutnya., dari pada jadi maling lebih baik kau meminta baik- baik..'' ujar si pucat kurus.
''Enak saja., diriku bukan maling, aku hanya seorang Copet cilik..!'' sangkal si bocah gembel sengit. ''Maling dan copet apa ada bedanya.?'' batin si pucat sambil meneguk air kendi. kalau melihat bocah gembel di depannya dia jadi teringat masa lalunya bersama teman- temannya saat masih memjadi kawanan gembel pengemis.
Pemuda pucat yang memang Pranacitra itu termenung, hari ini sudah hampir sebulan lamanya dia pergi meninggalkan gunung Bhisma. tempat yang penuh kenangan baginya. selama ini dia sudah mendatangi berpuluh perguruan dan para tokoh silat yang dulunya menjadi sahabat Ki Rangga Wesi Bledek sang ketua perguruan silat Gunung Bhisma untuk meminta pertolongan, atau memohon agar mengajarinya ilmu silat.
Tapi dengan berbagai alasan semuanya menolak, bahkan sering menggunakan keadaan tubuhnya yang lemah sebagai alasan penolakan. pernah suatu ketika dia berlutut hampir tiga hari tiga malam di depan pintu perguruan 'Naga Biru' dari gunung Semeru yang menjadi salah satu dari sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih saat itu agar bersedia menerimanya sebagai murid. tapi bukan saja mereka menolak, bahkan dengan kejam mencaci maki serta menghajarnya supaya dia cepat pergi dari sana.
Sampai akhirnya hati pemuda itu menyadari kalau sebenarnya mereka semua hanya takut jika harus berurusan dengan partai Gapura Iblis. dalam hatinya timbul perasaan muak dan benci yang mendalam. dia bersumpah jika diberikan umur panjang dan kesempatan akan mengobrak- abrik semua perguruan silat yang dianggapnya kaum pengecut dan munafik itu.
Baru saja bocah gembel meneguk air kendi dan bersendawa kenyang. dari satu arah muncul lima orang lelaki kasar bermuka brewok dan membekal golok mendatangi. ''Celaka., mereka 'Lima Begundal Brewok' yang biasa menarik uang pajak secara paksa pada para pedagang dan penghuni pasar di sini..!'' seru si bocah gembel cemas. buru- buru dia kumpulkan semua uang dan makanan yang ada di atas keranjang bambu. lalu menarik Pranacitra untuk cepat kabur. tapi sepertinya terlambat karena lima orang itu sudah bergerak cepat menghadang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 470 Episodes
Comments
🇮 🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
wareg ra.. makanya jangan nakal😁✌
2024-09-03
0
🇮 🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
mlarat ra kon he.
gemes banget..
2024-09-03
0
👁Zigur👁
pinter pranacitra. yg pnting halal😊😊😊
2024-07-29
0