Dengan wajah cemas, mbok Mirah sampai di istana Amartha, dirinya langsung menghadap raja, ratu dan senopati bersama pangeran Jayanaga.
"Ndalem gusti, ada apa memanggil saya"
kata mbok Mirah menghadap raja Amartha.
"Mbok, ini adalah senopati Wirakha dari kerjaan jayanaga, bersama dengan pangeran Jayanaga, Sanjaya ingin mengajak puteri mu ke kerajaannya, Sanjaya ingin meminang puteri semata wayang mu, bagaimana mbok?"
kata sang raja yang duduk di singgah sananya.
"Ngeh gusti, saya manut apa kata gusti"
sahut mbok Mirah yang merasa lega, puterinya akhirnya bisa menikah dengan seorang pria baik.
"Terimakasih ya mbok, sudah merestui saya"
sahut Sanjaya menjabat tangan si mbok Mirah.
"Ngeh pangeran"
sahut mbok merasa terharu.
"Mbok Mirah tidak perlu khawatir, Kemuning akan di perlakukan layaknya puteri jayanaga"
tambah senopati yang berjalan ke arah mbok Mirah.
"Saya percayakan puteri saya kepada pangeran"
kata mbok Mirah, suasana terasa haru, mbok Mirah tidak henti-hentinya meneteskan air mata.
Raja dan ratu Amartha pun sangat bahagia, mbok telah mengabdikan hidupnya kepada Kerajaan sebelum dirinya menikah, sebagai ucapan terimakasih raja Amartha akan menyediakan kereta untuk si mbok pergi ke acara pernikahan puterinya Kemuning.
"Mbok tidak perlu khawatir, nanti kum yang akan antar mbok ke kerajaan jayanaga"
kata raja Amartha.
"Terimakasih atas perhatian raja dan ratu, saya jadi terharu"
sahut mbok tidak hentinya menangis bahagia.
"Mbok sudah jadi bagian keluarga Amartha, sudah seharusnya mbok"
sahut sang ratu kepada mbok Mirah.
...💞💞💞...
Selesai pembicaraan Sanjaya bergegas pergi menemui Kemuning, untuk memberi kabar bahagia, Sanjaya menyusul Kemuning ke ladang yang tidak jauh dari sungai kemarin, Kemuning sedang menyirami ladangnya, tidak seberapa tapi kalau di jual akan cukup untuk mengisi tabungan.
Sanjaya melaju bersama kuda hitamnya, raut bahagianya tidak dapat di pendam, rasa di hatinya seperti berbunga-bunga, dirinya tidak menyangka kalau mbok Mirah akan menyetujui Kemuning menikah dengannya.
Kemuning yang sedang asik berladang, tidak menghiraukan panas sinar matahari, dirinya hanya berfokus membantu ibu, sebagai tabungan di hari tuanya nanti.
Jarak ladang dari rumah Kemuning lumayan jauh, Kemuning ke sana pasti pagi buta sudah berangkat, semua ladang telah di rapikan, rumput juga di bersihkan Kemuning.
Sanjaya terus melaju kan kudanya, sampai di mana dia berhenti di sebuah ladang jagung, Sanjaya tidak dapat menemukan Kemuning, akhirnya dirinya turun dan membiarkan kudanya mencari makan.
Sanjaya berjalan menyusuri kebun jagung yang mulai tumbuh menjulang tinggi, dirinya tidak tahu ujung dari kebun itu, Sanjaya terus menyusuri sampai bertemu dengan seorang gadis yang sedang berteduh dari sinar matahari di sebuah pondok yang di buat oleh warga.
"Dek...."
panggil Sanjaya yang berlari kearah nya.
"Mas San..."
sahut Kemuning bingung.
Ada apa mas Sanjaya menyusul ke ladang?
batin Kemuning bertanya-tanya.
Sanjaya langsung memeluk sang pujaan hati, diri ya mendekap mesra sang kekasih, bahkan Kemuning nampak susah bernafas.
"Mas...mas..."
kata Kemuning yang di peluk erat oleh Sanjaya.
"Si mbok merestui kita dek..."
sahut Sanjaya yang masih memeluk kemuning.
Antara senang dan sedih, Kemuning bimbang harus berkata apa, dirinya bahagia namun di satu sisi dirinya kepikiran si mbok yang akan sendirian di Amartha.
"Kamu tidak senang?"
tanya Sanjaya yang melihat raut wajah bimbang pada Kemuning.
"Bukan begitu, si mbok akan sendirian di Amartha?"
kata Kemuning sedikit bimbang.
"Mbok kita akan ajak ke Jayanaga"
sahutnya Sanjaya mengelus pelan rambut Kemuning.
"Iya mas...."
sahut Kemuning.
Mereka merebahkan diri di padang rumput yang luas, pekerjaan Kemuning juga telah usai, sambil menikmati cuaca cerah siang itu mereka bercerita banyak hal.
Sanjaya selalu menatap Kemuning, dirinya tidak menyangka akhirnya Kemuning bersedia menjadi isterinya, rasa bahagia nya tidak terbendung.
Mata yang bertatapan tidak dapat menahan gejolak dalam dirinya, Sanjaya mencoba lebih mendekatkan dirinya, mencium Kemuning di tengah hamparan rumput hijau ini.
Larut dalam suasana jatuh cinta keduanya, sudah mantap menikah (zaman dulu cocok nikah setia sampe mati).
...💞💞💞...
Ke esokan harinya, Kemuning telah siap berangkat, raja Amartha memberikan tumpangan berupa kereta kuda untuk membawa Kemuning ke Jayanaga.
"Disana kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh"
pesan si mbok kepada puterinya.
"Mbok akan menyusul kan?"
tanya Kemuning kepada ibunya.
"Iya nanti mbok menyusul"
kata mbok memeluk puterinya.
"Jadi lah isteri yang bisa membanggakan nama baik keluarga mu"
tambah mbok harus bisa menahan rasa sedihnya.
Raja Amartha juga memberikan beberapa bingkisan berupa kain sutera, yang di peruntukan untuk seorang bangsawan. Kemuning sangat bersyukur masih banyak yang peduli terhadapnya.
"Ayo Ning...."
sahut Sanjaya.
"Ning berangkat dulu mbok"
"Iya, hati-hati, tolong jaga puteri ku pangeran"
pesan si mbok.
"Iya mbok...aku akan menjaga Kemuning"
sahut Sanjaya menyakinkan mbok Mirah.
"Terimakasih pangeran"
sahut mbok.
Kemuning pun menaiki kereta kuda yang di tumpangi pangeran Sanjaya, senopati dan Kemuning di dalamnya. Kuda mereka melaju begitu cepat, Kemuning hanya terus memikirkan sang ibu.
Ini pertama kalinya Kemuning keluar dari Amartha.
Andai mas Bramasena ada disini, dia orang pertama yanga akan ku beritahu aku bahagia, aku bahagia bersama dengan orang yang mencintai ku.
Batinnya yang merasa berbunga-bunga.
Perjalanan mereka melewati beberapa hutan, sungai dan padang batu yang luas, satu hari perjalanan terasa lama sekali, Kemuning juga masih terasa gugup, bagaimana reaksi orangtua pangeran Sanjaya.
Apa mereka akan bisa menerima ak?
pikirnya kembali.
Sesekali Kemuning memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gugupnya, namun tidak bisa, dirinya terlalu senang sampai tidak busa memejamkan mata. Mereka juga mampir sesekali untuk makan, mbok membawakan mereka bekal agar di jalan tidak kelaparan, walau hanya kue pasar cukuplah untuk mereka menahan sampai ke Jayanaga.
Malam pun tiba perjalan mereka masih belum sampai, karena pakai kereta kuda mungkin agak terlalu lama dari biasanya. Kemuning melihat gerbang masuk wilayah jayanaga.
Gapura seperti gambar di atas berjejer tiga, terbuat dari bata merah menjulang tinggi, menandakan memasuki wilayah Jayanaga.
Kemuning yang kelelahan hanya bisa tersandar sambil memejamkan matanya. Di kira setelah memasuki gapura jarak ke istana akan dekat, ternyata masih 40km lagi untuk menuju istana. Suasana hutan yang gelap, hanya terdengar suara jangkrik bahkan burung hantu, tidak ada penerangan, mereka menggunakan obor sebagai penerang di kereta.
Keretanya terus melaju bahkan ketika sampai di depan gerbang istana, mereka telah sampai, pangeran Sanjaya membuka pintu kereta dan mendapati Kemuning tertidur.
Tidak ingin membangunkan Kemuning, Sanjaya menggendongnya untuk di bawa ke kamarnya.
"Paman, aku titip jinggo"
sahut Sanjaya sambil menggendong Kemuning, jinggo adalah nama kuda kesayangan Sanjaya.
Karena sudah malam, ayah dan ibunda juga sudah beristirahat, mungkin besok mereka akan berkenalan, tidak mau merepotkan orang lain, pangeran Sanjaya membopong Kemuning tidur di ranjang miliknya.
...💞💞💞...
Nantikan kelanjutan kisahnya...
(Bagi yang penasaran kisah kirana, bramsena dan rendra kalian bisa langsung baca cerita teman ku,KIRANA, karya ian oktian)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
👺
keren,,lanjut terus
2021-07-27
0
π5
💞💞💞💞💞💞
2021-07-16
0
Puan Harahap
asyik thor
🌹🌹Yuk thor mampir
salam Pria Idola
Bos Arrogan jatuh cinta
Menikahi pria urakan🌹🌹
2021-06-09
0