Beberapa hari berlalu, kini suasana di Amartha berjalan seperti biasa, mbok tidak lagi mengurus puteri Kirana, sang puteri telah diajak pangeran Rendra ke istana di Jayanaga, pangeran Sanjaya juga pulang kembali ke Jayanaga. Bramasena juga pergi ke timur untuk memperdalam ilmu pengobatan.
Tinggalah Kemuning yang sering merenung di pinggir sungai, merenung seorang diri, siapa yang di tunggu nya juga tidak tahu, menyendiri membuatnya tenang, gadis biasa seperti dirinya tidak mungkin bisa mendapatkan cinta. Seperti berangan-angan, cinta hanyalah untuk mereka yang mempunyai darah bangsawan.
Mbok juga pernah cerita bahwa dirinya menikah dengan ayah karena memang di jodohkan.
Malam ini Kemuning tidak dapat tidur seperti biasa dirinya duduk di pinggir sungai, di temani suara jangkrik, katak yang saling bersahutan, ada beberapa kunang-kunang yang terbang mengitari di pinggir sungai. Bulan malam ini berbentuk sabit, cahaya masih menerangi beberapa sudut hati Kemuning.
Kemuning hanya lah anak dari seorang dayang, kemampuan khusus tidak dimilikinya, dia hanya bisa membaca dan menulis seperti anak pada umumnya, beberapa hal dirinya lakukan demi membantu keuangan sang ibunda, mulai dari menyulam, membantu ibu berjualan hasil kebun di pasar.
...💞💞💞...
Kehidupan Kemuning yang sederhana, membuat orang sekelas pangeran Sanjaya terus memikirkannya, terus membuat Sanjaya gelisah selalu ingin bertemu dengan Kemuning.
Bahkan dia selalu meminta senopati untuk mengajaknya bila ada urusan ke Amartha. Angin malam yang bertiup disela-sela gorden tipis kamar pangeran Sanjaya seakan mengantar rasa rindunya kepada Kemuning.
Pertama kalinya dirasakan oleh Sanjaya, dirinya tidak dapat memejamkan mata beberapa hari ini, saat acara makan malam pun dirinya seperti tidak bernafsu untuk makan.
"Pangeran Sanjaya....putera ku, kenapa kau tidak makan?"
tanya sang ayah kepada puteranya.
"Maaf ayah handa, saya belum merasa lapar"
sahut Sanjaya dengan santai.
"Kakanda sedang merindukan seorang gadis ayah..."
seru Rendra yang menyeringai.
"Siapa gadis itu?"
tanya sang ibunda menatap kepada Sanjaya.
"Bukan siapa-siapa bunda"
jawab Sanjaya yang masih menutup rapat hatinya.
"Gadis itu..."
"Narendra sepertinya puteri Kirana tidak enak badan ya?"
tanya Sanjaya memotong dan mengalihkan pembicaraan.
"Ibunda sudah memberikan minuman herbal, nanti juga baik-baik saja"
sahut Rendra.
Mungkin ada saat nya nanti setelah Kemuning berkenan menerimanya, barulah Sanjaya berani bercerita kepada orang tuanya.
...💞💞💞...
Hari ini senopati Wirakha bersiap pergi ke Amartha terkait kerjasama diplomatik antar kedua kerajaan, kali ini pangeran Sanjaya berkesempatan ikut, kebetulan juga dia sedang ada undangan berkuda dari pangeran Abimayu.
Sepertinya pangeran Sanjaya akan lama berada disana, senopati Wirakha paham betul pangeran yang sedang jatuh cinta, hanya ini yang bisa senopati lakukan untuk sang pangeran.
Pangeran yang melaju menunggangi kuda favoritnya balapan dengan senopati, perjalanan yang biasa di tempuh seharian sekarang sore pun telah sampai.
Seperti biasa mereka melewati anak sungai yang menjadi tempat biasanya Kemuning melamun, Sanjaya sengaja perlahan melewati itu, dirinya hanya ingin berjumpa dengan Kemuning.
Namun sayang Kemuning saat itu tidak ada di sana, Kemuning tengah sibuk membantu di istana, mbok Mirah belakangan sering sakit, mungkin badanya sudah lelah, sesekali mbok Mirah meminta tolong kepada puterinya.
Selesai membantu di istana, Kemuning bersiap pulang.
"Ning...berikan ini kepada si mbok"
kata ratu Amartha kepada dirinya sambil menyerahkan beberapa tanaman herbal yang mahal untuk kesehatan ibunya.
"Tapi kanjeng...ini..."
"Sudah....bawa saja"
seru ratu Amartha.
"Terimakasih kanjeng ratu..?"
Kemuning pun berlanjut untuk pulang, semoga dengan gingseng ini, si mbok bisa sehat, dulu mereka selalu berobat kepada Bramasena, sekarang mencari tabib yang handal itu susah.
Kemuning berjalan santai melewati beberapa tempat di dalam istana, seperti kandang kuda, disana Kemuning tidak sengaja bertemu dengan pangeran Sanjaya. Dia baru tiba dan segera memberi kan makan dan minum untuk sang kuda.
"Ning..."
teriak pangeran Abimayu yang berbincang kepada pangeran Sanjaya.
Kemuning menoleh kearah pangeran Abimayu, dilihatnya juga pangeran dari Jayanaga, berada di sebelah pangeran Abimayu.
"Iya pangeran..."
sahut Kemuning berjalan kearah mereka.
"Bagaimana keadaan si mbok?"
tanya pangeran Abimayu.
"Si mbok hanya kecapean, sementara saya akan menggantikan mbok"
jelas Kemuning yang hanya tertunduk.
"Iya sudah...sampaikan salam rinduku kepada si mbok"
kata pangeran Abimayu yang mengelus kuda kesayangannya.
"Iya pangeran, saya pulang dulu"
Kemuning yang kemudian berlalu tanpa menatap pangeran Sanjaya.
Sanjaya pun hanya bisa tersenyum, dirinya masih malu-malu bila bertanya dengan Abimayu sahabatnya.
...💞💞💞...
Malam di Amartha sangat dingin, menembus tulang sisa-sisa kerinduan membiaskan harapan palsu, kini Kemuning hanya bisa berdoa Bramasena baik-baik saja, entah bagaimana Kemuning tidak berhenti memikirkannya.
Dirinya sering merenung, tiba-tiba meneteskan air mata, rindu yang sia-sia ini hanya bisa membuat luka di hatinya semakin dalam. Sanjaya sudah menebak bila Kemuning pasti akan berada di sana, entah mengapa dirinya sangat peduli kepada gadis ini gadis yang bahkan tidak mengetahui nama pangeran Sanjaya.
Tersadar seperti ada yang memperhatikan, Kemuning menoleh dan dilihatnya Sanjaya telah berdiri di sebrang jembatan, bergegas Kemuning bangkit dan menundukan wajahnya, seperti memberi hormat.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?"
tanya pangeran Sanjaya mendekati Kemuning.
"Tidak pangeran..."
jawab Kemuning.
"Apa aku tidak bisa berteman dengan mu?"
tanya lagi Sanjaya.
"Maaf pangeran saya hanyalah anak dayang, tidak pantas berteman dengan pangeran"
jawab Kemuning.
"Bisakah kita berteman sebagai lelaki dan perempuan, jangan pandang karena aku seorang pangeran"
pinta Sanjaya berdiri tepat di depan Kemuning.
"Maaf pangeran, saya lancang tapi saya tidak mau orang berpikir jelek tentang pangeran"
jelas Kemuning yang mencari alasan untuk menghindar dari pangeran.
Tiba-tiba ada seorang anak lelaki yang berlari sambil teriak memanggil namanya.
"Kak Kemuning....kak..."
teriak bocah berumur 10 tahun.
"Ada apa Jo?"
tanya Kemuning yang kaget.
"Si mbok...mbok jatuh kak..."
jelas sang bocah terengah-engah.
Mendengar hal itu Kemuning bergegas berlari, menuju rumahnya, di ikuti dengan pangeran Sanjaya di belakangnya si mbok yang saat itu sedang hendak mengambil air tiba-tiba jatuh, dirinya tidak sadarkan diri sampai Jojo anak tetangga melihat.
"Mbok...mbok...."
panggil Kemuning yang melihat sang ibu pingsan tergelatak di lantai.
"Kita pindahkan ke kamar"
sahut pangeran Sanjaya mulai mengangkat mbok menuju kamarnya.
Bocah itu juga di perintah Sanjaya untuk memanggil senopati Wirakha, untuk segera memeriksa keadaan ibu Kemuning. Hampir 30 menit mereka menunggu, sementara Kemuning mengompres kain dan meletakan di kening sang ibu.
"Pangeran...."
senopati yang baru tiba.
"Paman....tolong periksa lah ibu Kemuning"
pinta sang pangeran.
"Baik pangeran...."
sahut senopati.
Senopati akhirnya memeriksa keadaan tubuh ibu Kemuning, di cek melalui denyut nadi tangan si mbok, senopati berkonsentrasi untuk menganalisa penyakit ibu Kemuning.
"Bagaimana paman?"
tanya pangeran Sanjaya.
"Beliau hanya kelelahan, sering menunda makan sampai pingsan, saya akan berikan obat agar cepat membaik"
seru senopati.
"Terimakasih...tapi maaf"
kata Kemuning yang kemudian membuka sebuah kantong kain berisi tabungan dirinya.
"Apa ini cukup membayar tuan?"
tanya Kemuning.
"Aku tidak butuh uang mu nona, bertemanlah dengan pangeran"
pinta senopati yang sangat mengejutkan.
"Paman...."
sentak Sanjaya kaget dan menahan malu.
"Dia adalah pria yang baik, niatnya hanya berteman, apa nona bersedia?"
pinta lagi sang senopati.
"Apa saya pantas berteman dengan seorang pangeran Jayanaga?"
tanya Kemuning melirik kearah pangeran Sanjaya.
"Saya hanya gadis biasa, saya hanya punya mbok, apakah masih mau berteman dengan saya yang hanya rakyat biasa?"
"Aku tidak pernah memandang mu dari semua itu, aku hanya mengikuti kata hati ku, semua orang tidak akan berani berpikiran begitu"
jelas pangeran Sanjaya.
"Saya lega mendengarnya, baiklah...saya bersedia menjadi teman anda pangeran"
kata Kemuning tertunduk.
"Jangan panggil aku dengan pangeran, panggil saja Sanjaya"
kata pangeran yang mencoba akrab dengan Kemuning.
"Baik, mas Sanjaya"
kata Kemuning yang sangat penurut.
Akhirnya sang ibu pun di obati selama beberapa hari senopati dan pangeran Sanjaya intens berkunjung kerumah Kemuning. Sanjaya dan Kemuning yang berteman walau kadang masih terasa canggung.
...💞💞💞...
Rindu....
Kata yang bisa menusuk sampai ke ubun-ubun...
Kata yang membuat hati berkecamuk...
Rindu....
Kini hanya itu yang bisa dirasakan...
menepi semua tangis di hati...
batin tersiksa karena Rindu...
Rindu...
Terimakasih karena engkau masih mempertahankan
satu nama di hati...
Rindu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
pgri
💕💕💕💕💕💕💕
2021-08-24
0
💐Novi_Naira💐
dehem aja dah buat pangeran😂
2021-07-29
0
Hiat
nyicil thorr😁
2021-07-26
1