Malam itu tidak di sia-siakan Sanjaya, di gendongnya Kemuning ke kasur yang telah bertabur bunga, Sanjaya pun duduk dengan memangku Kemuning, perlahan di lepaskan nya tiap helai pakian yang di kenakan Kemuning,dia membantu Kemuning melepaskan pakaiannya.
Kemuning hanya terdiam gugup, tidak tahu harus berbuat apa, dirinya juga tidak pernah berpengalaman masalah ini. Dengan mesra Sanjaya mulai mencium pipi, leher hingga bahu Kemuning.
"Maaf ya mas, ini pertama kalinya bagi ku, aku tidak mengerti caranya"
Kemuning yang terlihat kagok, dirinya terus-terusan menelan air liur, bingung harus bagaimana.
"Iya..."
kata Sanjaya dengan nada lirih, nafasnya tidak beraturan, dia tengah sibuk mencium setiap leher dan bahu Kemuning.
Perlahan tangan Sanjaya telah berhasil melepaskan pakaian Kemuning, kini Sanjaya dapat melihat seluruh tubuh sang isteri, merebahkan badan Kemuning perlahan, memberikan ciuman di bibir sang isteri.
Keduanya pun terhanyut dalam buaian cinta, tidak dapat menahan gejolak, Kemuning hanya terdiam menikmati setiap sentuhan sang suami. Kini Sanjaya mencium bagian sensitif lainnya, gunung kembar yang terlihat kencang dan kenyal itu, sudah berada di bibir Sanjaya, Kemuning mengerang kenikmatan.
Matanya terus terpejam mengerang kenikmatan, Sanjaya sangat suka melihat Kemuning begitu menikmatinya, bibir Sanjaya kembali mencium bibir merah sang isteri. Bahkan yang tidak pernah Kemuning rasakan, Sanjaya menerobos masuk ke dalam bibir Kemuning menggunakan lidahnya,
Kemuning hanya mengikuti apa yang suami lakukan, Sanjaya mulai membuka kedua kaki Kemuning, memberikan ruang untuk nya masuk ke dalam.
"Aaaaahhh...."
lirik Kemuning.
Ini pertama kalinya, dirinya merasa nikmat yang bercampur dengan rasa perih, yang teramat perih, Sanjaya terus memberikan dorongan hingga dengan leluasa masuk dan keluar.
Kemuning hanya bisa menahan kedua rasa tersebut, lama-kelamaan yang tertinggal hanyalah rasa kenikmatan yang dirasakannya.
Sanjaya mengangkat badan Kemuning, posisi duduk membuat Sanjaya dapat melihat wajah cantik sang isteri yang di sinari cahaya bulan.
Kemuning terus mengerang Kenikmatan, tangannya berada di bahu Sanjaya, matanya terus terpejam menikmati buaian Sanjaya. Sampai di mana keduanya benar-benar merasa nikmat, Sanjaya merebahkan sang isteri di akhir permainan, Kemuning yang tidak tahu apa yang di rasakan, entah itu apa namanya, dia hanya merasakan seperti menggeliat.
Terus di dorong oleh Sanjaya, tangan Sanjaya kini memegang tangan Kemuning, menaruhnya di atas kepala Kemuning, Sanjaya terus memberikan dorongan kuat hingga akhirnya permainan usai.
Sanjaya memberikan kecupan kening di akhir di permainan. Mereka langsung tertidur hanya berselimutkan kain. Tidak terasa sudah hampir pagi, namun mereka tidak peduli dan hanya kembali tertidur.
...💞💞💞...
Karena pesta berakhir tengah malam, mereka bangun kesiangan, Kemuning yang telah bangun, Sanjaya juga sudah tidak ada di kamar, Kemuning bersiap bertemu dengan ibunya, bersama dengan raja dan ratu Amartha. Mereka yang siang itu santai di bungalau berada di tengah kolam teratai, puteri Kirana bersama sang buah hatinya, di temani suami dan anggota kerajaan lainnya.
"Ning...."
sapa semua orang yang berkumpul.
"Maaf, Ning malah kesiangan"
"Tidak apa, kami mengerti sekali"
ibunda Sanjaya yang tersenyum.
"Hari ini mbok pulang ya cah ayu"
"Mbok tidak tinggal bersama disini?"
"Mbok tidak bisa meninggalkan Amartha"
"Kenapa mbok?"
tanya sang ibunda ratu.
"Saya tidak bisa meninggalkan Amartha ndoro, saya titip puteri saya bersama ndoro"
Seakan kecewa sang ibu tidak mau ikut tinggal bersamanya, Kemuning paham betul tugas sang ibu yang memang mengabdi kepada Amartha.
"Mbok tenang saja,di sini ada kami yang akan menjaga Ning"
seru Kirana.
"Iya puteri..."
Tiba lah saat mereka harus berpisah, raja dan ratu Amartha menaiki kereta kuda besar bersama dengan mbok. Kemuning sangat mengkhawatirkan ibunya, berusaha percaya dengan apa yang di katakan mbok.
"Dek...."
"Mas san..."
"Ikut aku sebentar"
Sanjaya mengajak Kemuning berjalan di suatu tempat, tidak jauh dari istana.
Suatu padang ilalang tinggi, di tengah terdapat danau, tempat yang sangat tenang, sepi dan pemandang yang sangat indah.
"Indah sekali tempat ini"
"Aku biasa nya menyendiri disini"
"Untuk apa menyendiri?"
"Terkadang aku butuh ketenangan, sendirian"
"Sekarang sudah ada aku, tidak sendirian lagi kan"
Kemuning yang memeluk sang suami.
"Iya...aku menyayangi mu dek"
"Aku juga mas...."
Hari mulai gelap, mereka kembali ke istana, selepas makan malam mereka kembali ke kamar, Kemuning kembali ke kamar mereka, semua keperluan suaminya dirinya yang selalu menyiapkan, dayang hanya bertugas membersihkan kamar mereka.
Malam semakin larut Kemuning yang tidak dapat memejamkan matanya, di habiskan untuk menyulam, dirinya selalu terbangun ketika tengah malam, entah mengapa, karena tidak dapat tidur dirinya hanya menyulam, membuatkan sesuatu untuk sang suami.
Satu minggu ini sang suami Sanjaya selalu menemani dan mengajak isterinya berjalan-jalan keliling Jayanaga, mulai ke pasar, sekedar ke pantai mereka lakukan, namanya juga pengantin baru, apa-apa selalu berdua.
"Mas San...."
panggil Kemuning berlari di hamparan pasir putih.
"Ada apa?"
Kemuning tidak menjawab namun hanya berlari, Sanjaya juga berlari mengejarnya.
"Awas ya kamu..."
Sorak riang ke duanya, mungkin ini hal terbahagia Kemuning di dalam hidupnya, tidak ada lagi Bramasena di pikirannya, dia bahkan tidak pernah, membicarakan hal itu kembali bersama dengan puteri Kirana.
Walau sebenarnya merasa tidak enak dengan pangeran Rendra, Kemuning tetap berusaha jadi pendengar untuk Kirana, Kemuning juga melihat bahwa Kirana telah bahagia, bahkan mereka membesarkan Bima dengan baik.
Hari demi hari telah terlewatkan di Jayanaga, Kemuning kini di kenal sebagai puteri, permaisuri dari pangeran Sanjaya, hal itu tidak mengubah kehidupan Kemuning, dirinya masih berbelanja ke pasar, berbaur dengan rakyat Jayanaga
Mereka pun sangat suka dengan puteri Kemuning, menurutnya dengan berbaur, dirinya bisa mengobati rasa rindunya akan kerajaan Amartha.
"Dek..."
panggil Sanjaya yang melihat sang isteri membawa beberpa kain.
"Iya mas, ada apa?"
"Kamu beli kain untuk apa?"
Sanjaya yang merangkul pundak sang isteri, mereka berjalan beriringan menuju kamar mereka.
"Aku tidak bisa berdiam diri mas, setidaknya aku membuat sesuatu dengan kain cantik ini"
"Kamu bosan?"
"Terkadang....tidak apa-apakan aku pergi ke pasar?"
"Tidak apa-apa, kamu mau ikut mas berburu?"
"Berburu?"
"Iya"
"Mau mas...kapan mas mau berburu?"
"Lusa...tapi benar tidak apa-apa?"
"Perjalanan lama, mungkin berhari-hari"
tambah Sanjaya memberikan gambaran.
"Tidak apa-apa asal bersama mas..."
sahut Kemuning menggenggam tangan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
👺
hadir untuk mu Thor, visualnya bagus ya apa lagi yang ini hehhe semangat Thor...
2021-07-30
0
👑
boom like mendarat 🤭
2021-07-23
0
π5
💞💞💞💞💞
2021-07-16
0