...💞💞💞...
Keesokan hari rombongan kerajaan Jayanaga telah sampai, nanti malam akan di adakan pesta pernikahan, raja Surapha dan sang ratu telah tiba, sorak sorak rakyat Amartha mengiringi kedatangan mereka.
Mbok Mirah juga sangat sibuk, sedangkan Kemuning, tidak berani ke istana, dirinya tidak mau bertemu dengan pangeran dari jayanaga tersebut.
Bramasena sedang menikmati kesendiriannya duduk di sebuah pendopo di tengah sawah, selesai mencari tanaman obat dirinya habiskan disana.
Kemuning yang baru tiba langsung duduk di samping Bramasena.
"Bagaimana dengan luka mu?"
tanya Bramasena.
"Aku sudah baikan"
jawab Kemuning.
Sejenak Bramasena terdiam dalam lamunan nya, dia menatap kearah Kemuning, tanganya dengan lembut menyentuh pipi kemuning, entah apa yang di pikirkan Bramasena, mungkin di matanya nampak seperti puteri Kirana, Bramasena berniat mencium Kemuning yang hanya terdiam menatap Bramasena, namun seketika Bramasena tersadar, bahwa gadis yang duduk di depannya adalah Kemuning bukan puteri Kirana.
Kemuning hanya menundukan wajahnya, hatinya terasa sakit, sebenarnya tidak apa-apa walau dirinya di anggap sebagai pengganti sang puteri.
"Apa nama ku masih bisa berada di hati mu mas?"
tanya Kemuning tiba-tiba.
"Kamu sudah ada di hati aku, sebagai teman, sahabat dan seorang adik"
jelas Bramasena.
Kemuning hanya bisa menghela nafasnya, dirinya memang tidak pernah diberi kesempatan untuk mencintai seseorang seperti Bramasena.
"Seperti orang yang serakah, aku hanya ingin kamu membalas apa yang ku rasa mas"
jelas Kemuning.
"Aku tahu, kamu gadis yang baik, pasti akan ada orang yang tulus mencintai mu"
kata Bramasena menyeka rambut panjang Kemuning.
"Maafkan aku Kemuning."
Mulai hati ini Bramasena hanya lah sebuah nama yang dikenalnya sebagai teman, tidaklah lebih, bahkan tidak ada yang istimewa dari hubungan pertemanan mereka.
...💞💞💞...
Raja Surapha di sambut hangat oleh raja Amartha, mereka banyak berbincang, berjalan-jalan untuk melihat persiapan acara nanti malam. Semua dayang juga bersiap untuk menampilkan tarian, hidangan, semua yang terbaik di Amartha.
"Kamu itu mbok cari-cari, ayok ikut !!!"
seru ibunda Kemuning.
Lepas setelah bertemu Bramasena Kemuning yang pulang kerumah bertemu dengan sang ibu, dirinya diminta tolong untuk membantu pekerjaan sang ibu, mempersiapkan pernikahan puteri Kirana malam ini.
"Aku tidak mau mbok, nanti aku ketemu pangeran itu lagi"
jelas Kemuning.
"Memangnya kenapa?"
tanya sang ibu.
"Wes...ikut aja, bantu dandani puteri Kirana, kamu yang paling pinter soalnya"
sahut sang ibu kepada anak gadisnya.
Akhirnya dengan berat hati, Kemuning pun bersedia ikut menemani sang ibu untuk membantu persiapan pernikahan malam ini. Memasang wajah cemberut, Kemuning berlalu menuju kamar sang puteri.
"Ning...kamu tolong sebentar ya"
pinta sang puteri kepada Kemuning.
"Baik puteri..."
Kemuning mulai mempersiapkan merias sang puteri, kadang ada di dalam hatinya, ingin merias wajahnya sesekali, hanya saja serasa tidak pantas untuk dirinya.
"Kamu jangan pergi ya Ning, kamu harus ada sampai pernikahan selesai"
pinta lagi puteri Kirana.
Kemuning hanya tertunduk, dirinya bukan tidak mau berada di istana, hanya saja dirinya enggan bertemu dengan pangeran dari Jayanaga itu.
Kemuning selesai merias, cukup mahir hasil yang di berikan Kemuning cukup memuaskan.
"Kamu juga harus tampil cantik, siapa tahu kamu bertemu dengan jodoh mu"
seru puteri Kirana.
Kemuning yang hanya terdiam di rias oleh puteri Kirana, mereka memang tumbuh bersama dalam asuhan mbok Mirah ibunda Kemuning, sahabat dan teman puteri Kirana yang paling menurut.
Ada perasaan haru, Kemuning merasa bersalah karena menyukai orang yang sama dengan puteri Kirana, ada perasaan lega karena dirinya juga mengetahui Bramasena hanya mencintai puteri Kirana.
(ilustrasi ; Kemuning setelah di dandani puteri Kirana)
Mau tidak mau Kemuning menghadiri pernikahan sang puteri, malam penuh riang, suka cita bercampur dengan rasa bahagia, malam penuh bintang menambah semarak acara pernikahan malam ini.
Bramasena juga datang sebagai tamu undagan bersama dengan sang ayah, terlihat gagah Bramasena dengan lapang hati menerima pernikahan puteri Kirana dan pangeran Rendra.
(ilustrasi : pernikahan pangeran Rendra dan puteri Kirana)
Walau begitu puteri Kirana hanya memasang wajah tertunduk, dirinya yang tidak bisa melawan titah ayah handa, di hatinya tidaklah hilang perasaan tulus mencintai Bramasena.
Kemuning berada di antara mereka, mereka yang saling mencintai, cinta Bramasena kepada Kirana membuat Kemuning hancur, cinta Kirana kepada Bramasena membuat Kemuning tidak berdaya.
Selalu hadir, ada di setiap momen mereka saling cinta namun tidak bisa bersama, Kemuning hanya berdoa agar sang Pencipta bisa mempersatukan mereka kelak.
...💞💞💞...
Pangeran Sanjaya yang menghampiri Kemuning tidak tahu bahwa Sanjaya telah berada tepat di belakangnya, tersenyum melihat pertunjukan, dirinya sangat beruntung bisa melihat pesta pernikahan puteri Kirana yang berlangsung megah.
Perlahan Sanjaya menepuk pundak Kemuning, memberikan tanda bahwa dirinya berada di belakang. Kemuning menoleh dan mendapati pangeran dari Jayanaga tersebut.
Kemuning yang tadinya tersenyum, seketika berubah, dirinya tertunduk di hadapan lelaki tampan itu, berusaha menempatkan diri karena dia tidak pantas berteman dengan golongan bangsawan.
"Permisi..."
kata Kemuning hendak berlalu meninggalkan keramaian pesta pernikahan.
"Kamu mau pergi kemana?"
tanya Sanjaya menghalangi jalan Kemuning.
Dirinya tidak menjawab, Kemuning hanya ingin berlalu dengan tenang, Sanjaya tetap gigih berusaha mendekati Kemuning.
"Tunggu...apakah aku tidak bisa berteman dengan mu?"
tanya Sanjaya kepada Kemuning.
Mendengar perkataan Sanjaya, Kemuning seperti tidak tega hanya saja kasta mereka berbeda, dia tidak ingin orang-orang beranggapan aneh tentang dirinya dan mbok.
"Maaf pangeran..."
sahut Kemuning berlalu pergi meninggalkan keramaian pesta.
Sanjaya merasa terpukul, dirinya tidak tahu kenapa Kemuning bersikap seperti itu, apa karena dirinya seorang pangeran Kemuning menarik diri. Tapi itu tidak membuatnya menyerah dia ingin terus bersama dan berusaha lagi mendekati Kemuning.
Kemuning kemudian berjalan jalan ke luar istana, dirinya merasa tidak tega dengan pangeran tadi, hanya saja Kemuning memikirkan si mbok, cukup pangeran Abimayu dan puteri Kirana yang menjadi temannya.
"Kemuning..."
panggil Bramasena.
"Mas Bramasena...ada apa?"
tanya Kemuning menghentikan langkah kakinya.
"Kamu kenapa keluar?"
"Hanya ingin berjalan-jalan, bagaimana dengan mu mas?"
tanya balik Kemuning.
"Aku mencari udara segar"
"Pasti menyakitkan, aku berdoa mas akan bahagia bersama dengan orang yang kau cintai"
kata Kemuning yang menyemangati Bramasena.
Mungkin itu yang harus di lakukan Kemuning, setidaknya sahabatnya tidak lagi murung karena pesta pernikahan puteri Kirana.
"Setelah ini aku kan berkelana, belajar dan mencari ilmu untuk pengobatan"
kata Bramasena merancang masa depannya sendiri.
"Sepertinya menarik, aku mungkin hanya berakhir disini, menjadi dayang istana seperti mbok"
kata Kemuning yang berjalan beriringan dengan Bramasena.
"Temukanlah seseorang untuk dirimu, kamu gadis yang baik, pasti ada yang mencintai mu dengan tulus"
kata Bramasena membuat langkah kaki Kemuning terhenti.
"Ada apa? kaki mu masih sakit?"
tanya Bramasena melirik Kemuning terdiam.
"Tidak...aku hanya terpikir si mbok, bagaimana kalau aku menikah?"
sahut Kemuning, semenjak dalam kandungan, ayah Kemuning telah tiada, beliau wafat setelah maju ke medan perang.
"Kamu akan temukan jawabannya ketika dirimu bertemu dengan orang yang tepat"
sahut Bramasena.
Note isi surat puteri Kirana :
Mas Bramasena,
Hati ku terpatri hanya untuk mu
Segenap raga ku hanya untuk dirimu
Jangan lepaskan pelukan ku
Jangan pernah melupakan ku
Di setiap malam ku, hanya ingin kehadiran dirimu...
Kirana yang selalu mencintai mu.
...💞💞💞...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Quora_youtixs🖋️
q mampir lagi kk 😘😘😘
2021-07-17
2
👺
mampir lagi Thor nyicil ya...semangat
2021-07-16
2
NHCL17
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
2021-07-16
2