Mayra melihat wajah Gibran sedikit pucat dan Mayra bertambah kaget saat melihat lengan jas Gibran berdarah
"Tuan, ada darah!" ucap Mayra yang langsung melihat bagian lengan Gibran.
Mayra mendekat kearah Gibran dan melihat di bagian lengan pada jas yang dikenakan Gibran robek dan terdapat darah. Lalu Mayra mengajak Gibran untuk masuk kedalam kamarnya
"Tuan, saya ambilkan obat di bawah dulu ya" ucap Mayra yang kemudian ia berlari kebawah untuk mengambil kotak obat di dapur. Sementara Gibran membuka pakaiannya dan memakai celana tidurnya. Tak lama kemudian Mayra kembali kekamar Gibran dengan membawa kotak obat dan segelas air putih.
Saat Mayra melihat Gibran yang sudah melepas bajunya dan tiba-tiba wajah Mayra memerah begitu saja, baru kali inilah dirinya melihat tubuh seorang pria secara langsung
"Permisi tuan, saya mau mengobati luka anda" ucap Mayra dengan menunduk
"Lakukanlah Mayra" ucap Gibran
Kemudian Mayra duduk di samping Gibran dan melihat luka yang ada di lengan Gibran. Mayra tidak berani sedikitpun menatap Gibran yang berada sangat dekat dengannya. Tangannya bergetar saat membersihkan luka di lengan Gibran.
"Lukanya seperti kena tembak tuan" ucap Mayra saat membersihkan luka
"Iya, tadi ada pluru nyasar dan untung hanya nyerempet sedikit" ucap Gibran
"Harusnya tuan lebih hati-hati" ucap Mayra
Gibran menatap lekad wajah Mayra yang begitu dekat dengannya. Wajah yang sama sepèrti pertama kali mereka bertemu. Gibran meniti setiap lekuk wajah Mayra dan fokusnya kini pada kelopak mawar pink milik Mayra yang menggoda matanya
"Tuan, besok tuan harus pergi ke dokter, biar lukanya di jahit" Mayra membuyarkan fikiran Gibran
"Kamu mau kan mengantarkan saya besok?" tanya Gibran
Mayra mengangguk patuh dan membuat Gibran tersenyum. Setelah selesai, Mayra pun membereskan kotak obat dan akan pergi meninggalkan Gibran
"Mayra, bisa bantu saya pakai piyama itu?" tanya Gibran
Mayra ragu, tapi ia kembali ingat dengan tugasnya sebagai seorang pelayan. Mayra mengangguk lalu mengambil baju piyama milik Gibran dan memasangkannya. Sungguh tangan Mayra bergetar hebat, dan jantungnya berdegup cepat saat ia berada di hadapan Gibran mengancingkan piyamanya. Mayra dapat mencium aroma maskulin Gibran, yang membuat Mayra merasa nyaman didekatnya. Begitu selesai, Mayra langsung mundur dan pamit kepada Gibran
"Saya permisi tuan" ucap Mayra yang sudah tidak tahan lagi menahan debaran jantungnya.
Belum sempat Gibran menjawab, Mayra sudah berlari pergi meninggalkannya.
"Gadis itu lucu sekali" ucap Gibran dengan tersenyum
Kemudian Gibran mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur, ia pun berbaring dan akan segera tidur. Namun matanya sulit terpejam, ingatannya akan kelopak mawar pink Mayra masih bergentayangan difikirannya. Rasanya ingin sekali ia mengecup dan menikmati manisnya,
"Pasti sangat manis, dan aku yakin belum ada yang mencicipinya" ucap Gibran saat bayangan Mayra masih ada di otaknya
Sementara Mayra yang berada di kamarnya, juga tidak bisa tidur. Jantungnya masih berdebar-debar tak karuan saat itu, pikiran Mayra punn masih mengingat Gibran, Aroma maskulinnya pun terasa melekat pada Mayra, Kemudian Mayra segera memejamkan matanya berharap dirinya akan tidur dan melupakannya.
******
Pagi menjelang,,,,,
Setelah membereskan kamar, Mayra keluar dari kamarnya dan tugas pagi ini adalah membangunkan tuannya. Kemudian Mayra masuk kedalam kamar Gibran dan melihat suasana kamar yang masih remang-remang. Perlahan Mayra berjalan menuju tempat tidur Gibran dan melihatnya yang masih tidur
"Tuan,,, tuan bangun" ucap Mayra namun Gibran tak bergeming
"Tuan,,,,, bangun tuan,,,, tuan belum sholat subuh " ucap Mayra
Gibran bangun dan melihat Mayra berdiri tegak di sampingnya.
"Jam berapa?" tanya Gibran
"Hampir setengah 6 tuan, apa tuan tidak sholat subuh?" tanya Mayra
"Sholat?" Gibran duduk dan menyibakkan selimutnya
"Aku tidak tau sholat itu apa" ucap Gibran
"Tuan muslim?" tanya Mayra
Gibran menatap Mayra dengan tatapan dingin menusuk "Aku tidak percaya lagi dengan tuhan" ucap Gibran
Deg!
Deg!
Deg!
"Kenapa tuan?" tanya Mayra dengan kebingungan
Gibran tidak menjawab, kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan Mayra menjadi takut sendiri kepada Gibran. Lalu Mayra segera membereskan kamar Gibran setelah itu ia menuju walk in closet dan mengambil pakaian untuk Gibran. Mayra sedikit bingung, pakaian mana yang akan di pilihkan untuknya, pilihannya terlalu banyak dan membuatnya sedikit bingung.
Kemudian Mayra mengambil pakaian senada dan meletakkan diatas tempat tidur Gibran. Setelah itu, Mayra pun keluar dari kamar Gibran dan menunggunya di bawah. Mayra bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Gibran seorang muslim atau bukan. Ingin sekali ia bertanya kepada kepala pelayan tapi dirinya begitu takut.
Tak lama Gibran pun turun dari kamarnya dengan memakai pakaian yang disiapkan oleh Mayra. Lalu Mayra menyambutnya dan mengantarkan Gibran menuju meja makan. Mayra tidak berani duduk lantaran masih takut jika Gibran marah kepadanya,
"Mayra, duduklah. Temani saya makan" ucap Gibran
Mayra mengangguk lalu duduk di sebelah Gibran. Mayra pun hanya mengambil selembar roti dan mengoleskannya dengan selai lalu memakannya. Mayra sama sekali tidak berani berkata apapun bahkan menatap Gibran membuat dirinya sangat takut. Sesekali Gibran melirik Mayra dan melihat tangannya bergetar juga wajahnya pucat, Gibran tau jika Mayra pasti merasa takut. Setelah selesai makan, Gibran pun akan pergi kekantor dan Mayra mengantarkan sampai diteras.
"Aku akan ke dokter sendiri. Kamu tidak perlu ikut" ucap Gibran
"Baik tuan" jawab Mayra
Kemudian Gibran masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah besar itu, sementara Mayra langsung masuk kedalam dan bersiap untuk mengikuti pelajaran etika dan tata krama kalangan atas bersama kepala pelayan. Mayra tidak bisa fokus sebelum terjawab semua pertanyaan didalam hatinya.
"Ibu,,," ucap Mayra
"Ada apa Mayra?" tanya ibu kepala
"Saya boleh bertanya satu hal?" ucap Mayra
"Apa?"
"Apa tuan Gibran itu seorang muslim?" tanya Mayra
"Kenapa kamu tanyakan itu?" ucapnya
"Saya membangunkannya tadi pagi, dan sepertinya dia marah saat saya membangunkannya" ucap Mayra
"Tuan memang tidak pernah bangun pagi-pagi sekali Mayra, apalagi setiap malam Tuan selalu keluar malam dan pulangnya pagi. Pasti dia sangat lelah, jadi jangan kau bangunkan dia terlalu pagi. Jam 7 saja bangunkannya" jawabnya
"Berarti tuan bukan muslim ya?" tanya Mayra semakin menuntut
"Aku rasa dia muslim karena keluarganya semua muslim" ucap pelayan
"Terus kenapa dia bilang tidak percaya adanya tuhan?" tanya Mayra semakin penasaran
"Sudahlah Mayra, jangan tanya berlebihan. Aku pun tidak tau alasannya, yang jelas jangan sampai kamu membuat tuan marah. Itu saja!" ucapnya
Mayra mengangguk, namun hatinya masih tidak tenang dan semakin penasaran. Ntah mengapa Mayra ingin sekali memecahkan misteri dari rasa keingintahuannya itu.
"Aku harus cari tau sendiri" ucap Mayra didalam hatinya
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SEMOGA DGN ADANYA MAYRA, GIBRAN DI JEMPUT HIDAYAH..
2023-04-18
0
Iiq Rahmawaty
sudhlah jgn kepo mayra
2022-01-27
0
Bidadarinya Sajum Esbelfik
ini cerita horor bukn sih.. 🤔🤔🤔🤔
2021-09-07
1