18. Multivitamin

"Aku cinta kamu Dean, kamu kira yang sedang aku lakukan ini apa? Aku nggak suka karena kamu terus ragu-ragu. Jadi memang kayaknya aku yang harus maju lebih dulu," ucap Disty seraya memeluk tubuh Dean yang masih berdiri terdiam menatapnya.

"Kamu cinta aku nggak sih De?" sambung Disty sedikit kesal melihat reaksi kekasihnya yang sejak tadi banyak melamun terkesan tidak fokus.

"Aku sayang kamu Dis, tapi kamu nggak boleh pakai cara yang begini. Kamu harus bisa masuk ke keluargaku pelan-pelan. Ambil hati mereka. Ambil hati papa, ambil hati mama" bujuk Dean kepada Disty. Berharap kalau wanita itu tak akan mendesak untuk dinikahi dalam jangka waktu dekat ini.

Dean benar-benar tidak mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Dia memang menyayangi Disty. Dia mengerti kesulitan yang dialami Disty selama ini. Tapi dia juga tidak ingin jika Pak Hartono tidak menerima istrinya kelak. Bagi Dean, restu orang tuanya teramat penting untuk hidup yang akan dijalaninya.

"Beri aku waktu, aku akan coba ngomong lagi ke papa. Selama itu, kamu jangan berbuat macem-macem," ucap Dean sambil memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggung wanita itu.

Disty merangkulkan kedua lengannya ke sekeliling pinggang Dean, kemudian wanita itu mulai menciumi dada kekasihnya yang terbalut kemeja.

Wanita berkulit eksotis itu mendongakkan kepala memandang kekasihnya yang sangat tampan siang itu. Berharap jika Dean akan menciumnya, Disty memejamkan mata.

Sedetik kemudian mereka hanyut dalam ciuman yang panjang dan panas. Disty yang memang kemarin malam tidak bercinta dengan Dean, masih penasaran akan kekasihnya itu.

Disty mulai meraba-raba resleting celana Dean. Dia merasa jika tak sempat bercinta kemarin malam, setidaknya siang ini dia harus mengingatkan Dean akan kemahiran lidahnya.

Selama ciuman mereka itu, tangan Disty sudah berhasil menyusup ke dalam boxer kekasihnya. Tangannya sudah menggenggam sebuah benda hangat yang mulai mengeras berisi.

Hingga kemudian Dean seperti tersadar dan mulai melepaskan ciumannya. "Aku harus buru-buru, papa-mama bakal tiba di rumah sebentar lagi. Mama pasti langsung nyariin aku," ujar Dean tersenyum.

Tangan kanannya menarik pelan tangan Disty kemudian cepat-cepat membetulkan resleting dan letak celana chinos hitam yang dipakainya.

Dean khawatir kalau-kalau efek obat yang diminumnya kemarin malam itu masih berpengaruh. Karena dia merasakan ketika tangan Disty menggenggam sesuatu miliknya itu, darahnya kembali berdesir dengan cepat.

Meski agak susah melepaskan dirinya dari Disty, tapi akhirnya Dean berhasil keluar dari apartemen. Dean melirik jam di pergelangan tangan kirinya, dia hanya berada di sana tak lebih dari 2 jam.

Dia langsung melajukan kendaraannya menuju Menteng, daerah kediamannya. Dalam perjalanan, matanya melihat sebuah apotek. Tanpa berpikir panjang Dean langsung menepikan kendaraannya.

"Ada multivitamin Mbak?" tanya Dean pada seorang pegawai apotek yang berseragam biru.

"Multivitamin untuk apa Mas?" tanya pegawai itu sambil tersenyum-senyum melihat konsumen tampan yang terlihat kebingungan tapi malah memasang tampang jutek.

"Emangnya multivitamin untuk apa aja Mbak?" tanya Dean tak sabar.

"Ya, ada merek yang ini, merek ini, merek ini dan merek ini Mas. Kalau merek yang ini fungsinya untuk mening--" Pegawai apotek mengeluarkan beberapa merek multivitamin dan menjabarkannya di hadapan Dean. Tapi belum lagi ia selesai bicara, Dean telah memotongnya.

"Ya sudah saya ambil semuanya. Semuanya yang kamu pegang itu saya ambil. Cepat dibungkus. Berapa?" tanya Dean lagi tak sabar seraya mengeluarkan dompet dan mengulurkan sebuah kartu berwarna hitam.

"Pembayarannya di kasir ya Mas. Sebelah sana," jawab pegawai apotek dengan tangannya menunjuk ke arah kanan, tempat sebuah konter bertuliskan 'kasir' berada.

Dean cemberut sembari membawa bungkusan yang disodorkan pegawai apotek tadi untuk menuju bagian kasir dan membayar semua multivitamin yang dibelinya dalam berbagai merek itu.

Di dalam mobil ketika melanjutkan perjalanannya menuju rumah yang tak jauh lagi, Dean berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa memberikan multivitamin itu kepada Winarsih tanpa membuat wanita itu marah, tersinggung ataupun malah mencampakkannya.

******

Dean berjalan gelisah hilir-mudik di ruang makan. Waktu masih menunjukkan pukul pukul 4 sore. Pak Hartono yang dikiranya akan kembali sekitar pukul itu tampaknya belum juga muncul.

Dean masih memegang bungkusan yang dibelinya tadi dari apotek. Langkah kakinya ragu-ragu menuju antara dapur atau kembali ke kamarnya. Tak ada satupun pegawai yang bisa ditanyainya soal keberadaan Winarsih sore itu. Pria itu kembali berjalan ke ruang keluarga menuju pintu besar yang mengarah ke kolam renang.

Dean tidak melalui dapur untuk menghindari bertemu dengan Mbah yang pasti akan bertanya padanya soal urusannya mencari Winarsih.

Meski berjalan agak jauh memutar, akhirnya Dean tiba di depan kamar Winarsih. Dean mendekati pintu kamar, mencoba mengetuknya dua kali dan memasang telinganya tajam-tajam. Tak ada suara yang didengarnya dari dalam. Dia mulai khawatir kalau Winarsih benar-benar sakit dan tidak mampu bangkit dari tempat tidurnya. Seperti seorang penguntit, Dean menempelkan telinganya ke pintu kamar.

Tiba-tiba, "Cari apa Pak?"

DUKK!!

Kepala Dean membentur pintu. Suara Winarsih yang muncul di belakangnya tiba-tiba membuat Dean terkejut.

"Emm... nggak. Nggak ada," jawab Dean sedikit terbata-bata.

Sialan, dia tak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Winarsih yang muncul dengan sebuah daster batik di bawah lutut dan wajah pucat mampu membuatnya kehilangan kata-kata.

"Saya mau masuk Pak, hari ini saya sudah izin sama Mbah bahwa saya nggak membantu pekerjaan," ujar Winarsih diplomatis dengan wajah datar.

"Oh ya silakan," jawab Dean cepat seraya mundur dua langkah menjauhi pintu kamar.

Winarsih maju memegang handle pintu dan kemudian membukanya. Ternyata pintu itu dalam keadaan tidak terkunci.

Pembantunya itu masuk dan mendorong pintu agar tertutup dengan tangan kirinya. Jelas Winarsih berniat menghindari tatapan Dean yang mengandung arti khawatir dan keangkuhan tersirat secara bersamaan.

"Tunggu!" Tangan kiri Dean menahan pintu yang nyaris tertutup.

"Ada apa lagi?" tanya Winarsih yang mulai sebal melihat anak majikannya itu.

"Aku tadi membelikan ini untuk kamu," Dean mengangkat bungkusan dari apotek tadi di hadapan Winarsih.

"Apa itu? Saya nggak perlu. Saya cuma mau istirahat sekarang," jawab Winarsih tegas. Tangannya kembali mau menutup pintu.

Ternyata tenaga Dean hanya dengan sebelah tangan kirinya begitu kuat menahan pintu agar tidak tertutup.

"Maaf Win, saya nggak sengaja" ucap Dean pelan.

Anak majikannya ini baru saja mengatakan bahwa dia tidak sengaja telah memperkosanya tadi malam.

Airmata Winarsih kembali menggenang. Dia tak tahu harus mengatakan apa kepada Dean. Haruskah dia memohon kepada Dean untuk menikahinya? Rasa-rasanya itu sangat tidak mungkin.

"Saya membelikan ini untuk kamu. Saya nggak mau kamu sakit atau kenapa-napa karena saya" ujar Dean cepat sambil terus memandang Winarsih.

Pandangan Dean membuatnya risih. Apalagi sore itu Winarsih yang baru saja kembali dari ruang pegawai untuk menelepon Utomo, hanya menggunakan sebuah daster tipis di bawah lutut.

"Saya nggak perlu itu. Saya baik-baik aja" ucap Winarsih datar.

Menyadari dirinya yang sudah terlalu lama berdiri di depan pintu kamar pembantunya, Dean sedikit kesal.

"Ya udah ini diambil aja belagu banget sih,"

ketus Dean sambil menyorongkan bungkusan dari apotek tadi ke dekapan dada Winarsih.

Dean lalu bergegas pergi meninggalkan kamar pembantunya itu.

Sebelum benar-benar menghilang di kelokan, Dean berbalik dan berkata, "Awas kalau nggak kamu minum! Nanti saya tanya ke Tina atau Mbah," ancam Dean dengan sedikit tarikan senyum di bibirnya yang tak dilihat oleh Winarsih.

Saat pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua, Dean memijat-mijat jari tangan kanannya yang tadi menyodorkan bungkusan multivitamin kepada Winarsih.

Darahnya kembali berdesir saat tadi tak sengaja tangannya menyentuh dada Winarsih. Otaknya langsung menyuguhkan ingatan jelas soal dada itu yang dalam keadaan polos saat sedang dieksplorasi dengan lidahnya.

Apa benar reaksi obat kuat mampu bertahan berhari-hari? tanya Dean pada dirinya sendiri. Dean berjalan buru-buru menuju kamarnya.

Tampaknya dia harus lebih banyak beristirahat dan menghindar bertemu pembantunya itu beberapa hari ke depan jika tak ingin sesuatu yang berbahaya terjadi lagi.

To Be Continued.....

Terpopuler

Comments

dyul

dyul

ser.... ser.... an pak de🤣

2025-01-07

0

nan_elok

nan_elok

tak bisa berkata kata

2025-01-12

0

Siti Aisyah

Siti Aisyah

Dean tangan kamu nakal ya...

2024-12-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Cita-cita Winarsih
2 2. Persiapan
3 3. Perjalanan
4 4. Keluarga
5 5. Pak Hartono
6 6. Dean Danawira Hartono
7 7. Malam Minggu
8 8. Kepergok
9 9. Mendadak Masak
10 10. In The Night Club
11 11. Sorry, Dear
12 12. Pertengkaran
13 13. Maaf ?
14 14. Luka
15 15. Tak Cukup
16 16. Penyesalan
17 17. Ancaman
18 18. Multivitamin
19 19. Larut Malam
20 20. Monas
21 21. Bye, Love.
22 22. Where Are You?
23 23. Kebisuan
24 24. Get Out of My Car
25 25. Ukuran
26 26. Di Dekat Pohon Bambu
27 27. "Saya laper Pak,"
28 28. Pita Kecil Merah Hati
29 29. Eneg?
30 30. Peluk Aku
31 31. Create Memories
32 32. Calon Asisten Pak Hartono
33 33. Pergunjingan
34 34. Tell Him!
35 35. Duduk Persoalan
36 36. Tempat Bersandar
37 37. Pamit
38 38. Pulang
39 39. Di Mana Kamu?
40 40. Desa Beringin
41 41. Murka Ibu
42 42. Tamu Tengah Malam
43 43. Keputusan
44 44. Kebahagiaan Dean
45 45. Pengakuan
46 46. Pria Dengan Beskap
47 47. Dia, Istriku
48 48. Kekhawatiran Dean
49 49. Dia, Suamiku
50 50. Kerepotan Dean
51 51. Teruntuk Utomo
52 52. Berpapasan
53 53. Bu Winar
54 54. Sakit Bu Amalia
55 55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56 56. Pengakuan Dean
57 57. Pria Miskin?
58 58. Keresahan Winarsih
59 59. Melepas Dean Pergi
60 60. Pelukan Untuk Ibu
61 61. Stay Away From Me
62 62. Tunggu Aku di Kotamu
63 63. Uang Bu Winar
64 64. Rumah Mertua
65 65. Rumah Hijau
66 66. Galaunya Dean
67 67. Bertemu Reporter Desa
68 68. You Are My Home
69 69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70 70. Kabar
71 71. Baik-Baik Sayang
72 72. Where Are You (2)
73 73. Naif
74 74. Kebisuan (2)
75 75. I Heart You
76 76. Tamu di Pagi Buta
77 77. Get Out of My House
78 78. Keluarnya Kartu As
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Dean Sachet
81 81. Peringatan
82 82. Efek Cemburu Dean
83 83. Kram Dini Hari
84 84. Insiden
85 85. Akhir Cinta Disty
86 86. Hei, Love!
87 87. Aku Di Sini
88 88. Cinta Winarsih
89 89. Like a Baby
90 90. Siapa Ara?
91 91. Air Mata Dean
92 92. Buka Jahitan
93 93. Shopping
94 94. Berita
95 95. Ketika Badai Datang
96 96. Titik Balik
97 97. Sandaran Hati
98 98. Hati Seorang Isteri
99 99. Bunga Untuk Winarsih
100 100. Dean Sachet is Coming
101 101. Nama Bayi
102 102. Pillow Talk
103 103. Resah
104 104. Akung dan Uti
105 105. Sidang Putusan
106 106. Wanita Pemilik Saham
107 107. Teman Lama
108 108. Obrolan
109 109. Tatapan Nostalgia
110 110. Salah Tingkah
111 111. Dirja dan Uti
112 112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113 113. Misi Dean
114 114. Gosip Time
115 115. Kebohongan Kecil
116 116. Titah Bu Amalia
117 117. Rapat Pemegang Saham (1)
118 118. Jatuh Cinta Lagi
119 119. Rapat Pemegang Saham (2)
120 120. Curahan Hati Winarsih
121 121. Usaha Dean
122 122. Hari Pertama
123 123. PDKT
124 124. Curahan Isi Hati
125 125. Anak Dan Ibu
126 126. Berburu
127 127. Efek SPA
128 128. Aku Cinta Mas Dean
129 129. Mesra
130 130. Anggi Nisakara Hartono
131 131. Menatapmu Lekat-Lekat
132 132. Mas Gagah
133 133. Arti Dirimu
134 134. Selamat Ulang Tahun Mas
135 135. Bye Ara
136 136. Makan Malam Paket Lengkap
137 137. Jambi
138 138. Jawa di Jambi
139 139. Rewang
140 140. Panen Bu Sumi
141 141. Acara Sesudah Panen
142 142. Stressnya Dean
143 143. Sungsang
144 144. Kelahiran Kedua
145 145. Ciuman Yuk
146 146. Kejutan Sebelum Pesta
147 147. Untuk Cinta Winarsih
148 148. Raja dan Ratu Sehari
149 149. Paguyuban Winarsih
150 150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151 151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152 152. GENK DUDA AKUT
153 SPECIAL PART : 1.0
154 SPECIAL PART : 2.0
155 SPECIAL PART : 3.0
156 SPECIAL PART : 4.0
157 SPECIAL PART : 5.0
Episodes

Updated 157 Episodes

1
1. Cita-cita Winarsih
2
2. Persiapan
3
3. Perjalanan
4
4. Keluarga
5
5. Pak Hartono
6
6. Dean Danawira Hartono
7
7. Malam Minggu
8
8. Kepergok
9
9. Mendadak Masak
10
10. In The Night Club
11
11. Sorry, Dear
12
12. Pertengkaran
13
13. Maaf ?
14
14. Luka
15
15. Tak Cukup
16
16. Penyesalan
17
17. Ancaman
18
18. Multivitamin
19
19. Larut Malam
20
20. Monas
21
21. Bye, Love.
22
22. Where Are You?
23
23. Kebisuan
24
24. Get Out of My Car
25
25. Ukuran
26
26. Di Dekat Pohon Bambu
27
27. "Saya laper Pak,"
28
28. Pita Kecil Merah Hati
29
29. Eneg?
30
30. Peluk Aku
31
31. Create Memories
32
32. Calon Asisten Pak Hartono
33
33. Pergunjingan
34
34. Tell Him!
35
35. Duduk Persoalan
36
36. Tempat Bersandar
37
37. Pamit
38
38. Pulang
39
39. Di Mana Kamu?
40
40. Desa Beringin
41
41. Murka Ibu
42
42. Tamu Tengah Malam
43
43. Keputusan
44
44. Kebahagiaan Dean
45
45. Pengakuan
46
46. Pria Dengan Beskap
47
47. Dia, Istriku
48
48. Kekhawatiran Dean
49
49. Dia, Suamiku
50
50. Kerepotan Dean
51
51. Teruntuk Utomo
52
52. Berpapasan
53
53. Bu Winar
54
54. Sakit Bu Amalia
55
55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56
56. Pengakuan Dean
57
57. Pria Miskin?
58
58. Keresahan Winarsih
59
59. Melepas Dean Pergi
60
60. Pelukan Untuk Ibu
61
61. Stay Away From Me
62
62. Tunggu Aku di Kotamu
63
63. Uang Bu Winar
64
64. Rumah Mertua
65
65. Rumah Hijau
66
66. Galaunya Dean
67
67. Bertemu Reporter Desa
68
68. You Are My Home
69
69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70
70. Kabar
71
71. Baik-Baik Sayang
72
72. Where Are You (2)
73
73. Naif
74
74. Kebisuan (2)
75
75. I Heart You
76
76. Tamu di Pagi Buta
77
77. Get Out of My House
78
78. Keluarnya Kartu As
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Dean Sachet
81
81. Peringatan
82
82. Efek Cemburu Dean
83
83. Kram Dini Hari
84
84. Insiden
85
85. Akhir Cinta Disty
86
86. Hei, Love!
87
87. Aku Di Sini
88
88. Cinta Winarsih
89
89. Like a Baby
90
90. Siapa Ara?
91
91. Air Mata Dean
92
92. Buka Jahitan
93
93. Shopping
94
94. Berita
95
95. Ketika Badai Datang
96
96. Titik Balik
97
97. Sandaran Hati
98
98. Hati Seorang Isteri
99
99. Bunga Untuk Winarsih
100
100. Dean Sachet is Coming
101
101. Nama Bayi
102
102. Pillow Talk
103
103. Resah
104
104. Akung dan Uti
105
105. Sidang Putusan
106
106. Wanita Pemilik Saham
107
107. Teman Lama
108
108. Obrolan
109
109. Tatapan Nostalgia
110
110. Salah Tingkah
111
111. Dirja dan Uti
112
112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113
113. Misi Dean
114
114. Gosip Time
115
115. Kebohongan Kecil
116
116. Titah Bu Amalia
117
117. Rapat Pemegang Saham (1)
118
118. Jatuh Cinta Lagi
119
119. Rapat Pemegang Saham (2)
120
120. Curahan Hati Winarsih
121
121. Usaha Dean
122
122. Hari Pertama
123
123. PDKT
124
124. Curahan Isi Hati
125
125. Anak Dan Ibu
126
126. Berburu
127
127. Efek SPA
128
128. Aku Cinta Mas Dean
129
129. Mesra
130
130. Anggi Nisakara Hartono
131
131. Menatapmu Lekat-Lekat
132
132. Mas Gagah
133
133. Arti Dirimu
134
134. Selamat Ulang Tahun Mas
135
135. Bye Ara
136
136. Makan Malam Paket Lengkap
137
137. Jambi
138
138. Jawa di Jambi
139
139. Rewang
140
140. Panen Bu Sumi
141
141. Acara Sesudah Panen
142
142. Stressnya Dean
143
143. Sungsang
144
144. Kelahiran Kedua
145
145. Ciuman Yuk
146
146. Kejutan Sebelum Pesta
147
147. Untuk Cinta Winarsih
148
148. Raja dan Ratu Sehari
149
149. Paguyuban Winarsih
150
150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151
151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152
152. GENK DUDA AKUT
153
SPECIAL PART : 1.0
154
SPECIAL PART : 2.0
155
SPECIAL PART : 3.0
156
SPECIAL PART : 4.0
157
SPECIAL PART : 5.0

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!