3. Perjalanan

Winarsih berada di bus bersama utomo yang duduk di sebelah kanannya. Sesaat lagi mereka akan tiba di terminal. Sepanjang perjalanan itu mereka tak banyak bicara. Utomo hanya sesekali menunjukkan suatu tempat yang mereka lewati dan menjelaskan tentang tempat itu sedikit.

Utomo yang lumayan sering ke ibukota mengurus usaha orangtuanya, tampak begitu bangga ketika menjelaskan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi.

Sedangkan Winarsih yang baru sekali bepergian jauh meninggalkan rumah, mendengarkan uraian Utomo dengan cermat. Sorot matanya yang cerdas begitu antusias meski terlihat lelah.

Ketika bus melewati jajaran perkebunan sawit dan tanaman karet, keduanya kembali membisu.

Pikiran Winarsih kembali mengingat saat berpamitan dengan ibunya dan Yanto kemarin sore. Bahkan setelah menghabiskan satu malam di dalam bus, tak membuat Winarsih melupakan wajah sendu sang ibu yang menatap kepergiannya yang menumpangi ojek dengan memeluk tas jinjing perca.

Kini Winarsih menatap ke luar jendela dengan terkantuk-kantuk dan pikiran melayang ke rumah. Sudah makankah Yanto? Apa yang dimasak Ibu untuk adiknya hari ini?

Utomo memandang bagian belakang kepala Winarsih yang memunggunginya. Sejujurnya, saat ini Utomo masih merasa canggung dan malu mengingat apa yang telah ia lakukan di pondok bekas pos ronda kemarin malam.

Dia benar-benar tak bermaksud buruk pada kekasihnya. Ia cinta Winarsih dan menginginkan wanita itu menjadi istrinya kelak. Hanya saja ia sering tak bisa menahan diri jika berduaan dengan kekasihnya itu belakangan ini.

Winarsih menyadari apa yang membuat Utomo begitu kaku dan gelisah sepanjang perjalanan mereka. Pasti karena kejadian kemarin malam. Winarsih cemberut. Sumpah ia tidak mau mengingatnya lagi.

Dalam hati, dia telah memaafkan Utomo dan dirinya sendiri. Tak mau berlarut-larut merasa tak enakan dengan Utomo. Bagaimanapun juga, dia masih mencintai kekasihnya itu seperti sebelumnya. Meski sekarang Winarsih sedikit merasa was-was jika berduaan terlalu lama dengan Utomo.

Perjalanan dari desa mereka menuju ibukota menghabiskan waktu hampir 18 jam dengan perjalanan darat yang berganti dua kali. Harusnya dalam perjalanan panjang itu, Winarsih bisa bermanja-manja dengan Utomo mengingat kini mereka bebas berpacaran setelah keluar dari desa.

Di ibukota, tak akan ada yang mengenali ataupun melarang mereka kontak fisik terang-terangan seperti bergandengan tangan, berpelukan atau bahkan berciuman.

Tapi karena sikap canggung Utomo, Winarsih jadi ikut-ikutan canggung dan risi. Bahkan saat tidur di bus kemarin malam, Winarsih menggerak-gerakkan kepalanya mencari sandaran tidur dengan gelisah. Ia tidur bersandar ke dinding bus hingga pagi sampai lehernya terasa pegal karena terlalu lama berada di posisi yang sama selama berjam-jam.

“Kita sudah sampai, Win.” Utomo menggamit lengan Winarsih agar berdiri. Ia lalu berjalan menyusuri deretan kursi bus yang sudah nyaris kosong sambil membantu membawakan tas kain perca kekasihnya.

Penumpang bus turun satu-persatu melalui pintu depan dan belakang. Winarsih yang dari rumah tadi mengenakan rok berwarna hitam dan kaos lengan panjang berwarna merah tampak celingak-celinguk memperhatikan tiap sudut terminal yang ramai.

Baru kali itu Winarsih menginjak salah satu terminal di ibukota. Biasanya saat membawa ayahnya berobat, Winarsih hanya mampir di sebuah perhentian bus kecil di kabupaten.

Utomo memegangi lengan Winarsih sepanjang berjalan keluar terminal. Langkahnya melambat ke tempat beberapa taksi yang parkir menunggu penumpang.

“Ke alamat sini bisa, Pak?” Utomo mengulurkan sebuah kertas kepada salah seorang supir taksi yang pertama kali mereka temui di luar pintu terminal.

Beberapa saat membaca tulisan pada kertas yang disodorkan Utomo, supir taksi tadi mengangguk.

“Ini enggak jauh. Bawaannya mana? Biar saya taruh di belakang," kata supir taksi.

“Bawaannya cuma sedikit, Pak. Masih bisa dipangku. Nggak apa-apa," jawab Utomo yang kemudian membukakan pintu belakang taksi agar Winarsih bisa segera masuk.

Taksi berjalan membelah kepadatan ibukota yang saat itu telah lewat tengah hari. Perut mereka berdua sebenarnya sangat lapar, tapi rasa canggung dalam diri mereka kini telah bertukar menjadi rasa tegang yang mengalahkan kebutuhan lambung.

Winarsih merasa tegang dan antusias sekaligus dalam perjalanan menuju rumah majikannya. Hatinya terus bertanya-tanya orang-orang seperti apa yang bakal menjadi majikannya kelak. Bagaimana jika dirinya nanti tidak mendapat perlakuan baik di sana. Atau bagaimana kalau ia merindukan keluarganya? Semua pikiran itu datang saat dirinya nyaris tiba.

Seperti mengetahui kekhawatiran hatinya, Utomo meraih tangan kiri Winarsih dan menggenggamnya.

“Kantorku nanti di Jakarta Pusat. Enggak jauh dari tempat kamu bekerja. Mess yang disediakan kantor buat kami juga nggak jauh dari rumah itu. Di rumah majikanmu ini banyak telepon yang bisa dipakai. Kamu bisa menghubungi ponselku kalau ada keperluan apa pun. Aku juga sudah menyimpan nomor telepon khusus ruangan belakang yang biasa digunakan para pegawai di rumah itu. Kamu nggak perlu khawatir. Jaga diri kamu ya, Win. Ingat semua hal yang aku bilang malam itu. Aku bakal nunggu."

Utomo semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Winarsih. Winarsih menoleh ke arah Utomo dan bibirnya menarik senyuman hangat.

Tak berapa lama kemudian taksi yang mereka tumpangi masuk ke perumahan yang ukurannya besar-besar. Semua rumah yang berjajar di kanan-kiri jalan nyaris berukuran sama besar dengan tampilan sama mewahnya.

Seumur hidup baru kali itu Winarsih melihat rumah yang benar-benar mirip seperti istana di film-film yang ia tonton. Tak ada satu pun pedagang kaki lima yang ia lihat melintas di jalanan. Sepanjang jalan yang mereka lalui sangat bersih dan rindang.

Taksi berhenti di sebuah rumah putih besar bergaya klasik yang memiliki delapan tiang tinggi di terasnya. Pagar rumah itu tingginya hampir tiga kali pria dewasa. Dengan warna hitam kombinasi emas dan model besi meliuk-liuk yang amat rumit. Bagian teras depan rumah itu tak tampak dari jalan karena tertutupi pagar tembok yang sama tingginya. Depan pagar tembok ditumbuhi beberapa pohon palem yang letaknya bersisian dengan trotoar jalan raya.

Utomo masih membantu Winarsih menjinjing tas kain batik perca. Setelah membayar ongkos taksi, Utomo menggandeng Winarsih mendekati sisi pintu pagar yang bersebelahan dengan pos satpam.

“Pak! Permisi ...." Utomo memanggil salah seorang satpam yang baru keluar dari pos di sisi kanan pagar.

“Ya ...? Ada yang bisa dibantu?” tanya satpam dengan menjengukkan kepala sedikit menoleh ke arah Utomo dan Winarsih.

“Saya Utomo dari Desa Beringin; temannya Jaka dari Grup Cahaya Mas yang sudah punya janji dengan pemilik rumah ini. Bu Amalia. Saya yang membawakan calon asisten rumah tangga bagian dapur," jelas Utomo pada satpam yang sepertinya masih enggan menggeser pagar.

Mendengar penjelasan Utomo, satpam itu mengangguk dan berkata, “Sebentar saya telepon ke dalam dulu.”

Tak lama kemudian satpam tadi kembali keluar dari pos dan menghampiri pagar. Kali ini satpam itu bersedia menggeser pagar besinya yang tampak begitu berat. Urat-urat di tangan satpam itu seketika menonjol keluar saat mendorong mundur pagar besi.

Winarsih melihat pagar yang terbuka sudah lebih dari cukup untuk ia lewati bersama Utomo. Tapi satpam itu membukanya terlalu lebar.

“Maaf, Mas, Mbak, bisa minggir sedikit? Mobil Pak Dean sebentar lagi lewat,” ujar satpam yang bernama Rojak. Winarsih melirik bordiran nama yang menempel di seragam satpam itu.

Ternyata pemilik rumah itu yang akan lewat, pantas saja pagar itu langsung terbuka lebar, pikir Winarsih.

“Pemilik rumah ini?” tanya Utomo spontan.

“Pak Dean, anaknya Bu Amalia dan Pak Hartono. Yang punya rumah ini, ya Pak Hartono. Ya tapi secara tidak langsung, rumah ini milik Pak Dean juga, sih.” Rojak meringis ke arah Utomo yang terus melongok ke arah jalan seolah turut menanti kedatangan anak pemilik rumah tersebut.

Winarsih terus meringis sambil menyipitkan mata karena silau. Cahaya matahari pukul dua siang tengah menaungi mereka semua. Tubuhnya terasa gerah dan lengket. Perutnya mengeluarkan suara kriuk-kriuk tanda kelaparan.

Saat Winarsih sedang menunduk menatap flat shoes murahan yang membungkus kakinya, sebuah SUV putih bertuliskan RANGE ROVER memasuki gerbang. Rojak mengangguk ke arah mobil dari sisi seberang di mana Winarsih dan Utomo berdiri.

Dengan cekatan, Utomo menarik lengan Winarsih agar sedikit merapat ke pagar dan memberi ruang terhadap mobil yang akan masuk.

Saat Utomo menarik lengannya, Winarsih menegakkan kepala melihat ke arah mobil. Dirinya penasaran ingin mengetahui bagaimana rupa bentuk salah satu calon majikannya.

Sejenak matanya tertuju pada sosok pria penumpang di kursi bagian belakang. Pria itu sempat beradu pandang melalui kaca dengannya selama beberapa detik. Kemudian pria itu kembali menunduk menghadap satu benda persegi yang memantulkan cahaya ke wajah tampan pria itu.

Winarsih terhenyak. Bagaimana mungkin ketampanan, kemewahan dan keangkuhan yang seolah membalut pria itu menjadi satu, bisa menghadirkan paduan yang begitu sempurna. Meski hanya melihat sekilas, Winarsih sudah bisa membayangkan seberapa menyebalkan anak majikannya itu.

Winarsih terpukau dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Selama ini dia selalu melihat Utomo sebagai pria paling tampan yang ia temui. Tapi hari ini keyakinan Winarsih selama ini terpatahkan.

Utomo yang berdiri di sebelah Winarsih menghela napas panjang saat RANGE ROVER putih itu berlalu dari hadapan mereka dan berhenti tepat di depan teras.

“Bagus sekali, ya,” gumam Utomo.

“Apanya, Mas?” tanya Rojak.

“Mobilnya, Pak.” Utomo tersenyum malu karena menyadari telah menyuarakan pujiannya begitu jelas. Winarsih ikut tersipu saat Utomo mengatakan hal yang menurutnya tidak perlu dikatakan saat itu.

Ternyata Utomo ini termasuk pria yang isi kepala dan kata-katanya selalu sama, pikir Winarsih.

“Ayo, Mas, Mbak ... itu Bu Amalia baru pulang bersama Pak Dean. Mari ikut saya.” Rojak berjalan di depan mendahului Winarsih dan Utomo.

Setelah menurunkan majikannya, RANGE ROVER putih tadi pergi berlalu menuju ke sisi kiri rumah.

“Maaf, Bu ... ini ada yang cari Ibu. Katanya rekan Pak Jaka dari Desa Beringin yang mau mengantar asisten rumah tangga bagian dapur.” Rojak sedikit bergeser ke samping letak agar majikan perempuannya bisa melihat calon asisten rumah tangga bagian dapur yang sedang berdiri tegak tersenyum manis. .

“Kamu calon pegawainya? Bisa masak? Umur berapa kamu?” tanya Bu Amalia.

Dean masih berdiri di teras rumah bersama ibunya. Sejak tadi pandangannya tak beralih dari sebuah tablet yang terus-menerus ia gulir dan ia pencet.

“Dua puluh satu tahun, Bu,” jawab Winarsih masih dengan senyum termanisnya. Kedua lesung pipinya di kanan-kiri menjadi nilai tambah siang itu mengingat penampilannya sudah sangat acak-acakan.

“Ini suami kamu?” selidik Bu Amalia sembari melihat ke arah Utomo.

“Bukan, Bu. Kami masih berpacaran dan berasal dari desa yang sama,” jawab Winarsih polos.

Saat Winarsih mengatakan ‘kami masih berpacaran' pandangan menyelidik Dean berpindah dari Winarsih ke Utomo. Lalu kembali menatap sepasang kekasih di depannya bergantian.

“Dua puluh satu tahun dan belum menikah. Sebenarnya kamu terlalu cantik untuk jadi pembantu. Saya, kok, jadi kurang sreg. Tapi ya sudahlah. Susah sekali cari orang kerja yang cocok zaman sekarang. Kamu ngapain masih di sebelah Mama?” Bu Amalia yang tadinya berbicara kepada Winarsih dan Utomo kini menyadari kehadiran Dean yang belum beranjak dari sisinya.

“Ya udah, Jak ... kamu bawa aja si....siapa nama kamu?” tanya Bu Amalia pada Winarsih.

“Winarsih, Bu.”

“Iya. Ya sudah kamu ikut Rojak ke kamar yang di bawah, ya. Yang di sayap kiri, Jak. Terus bawa ke dapur buat diperkenalkan ke Mbah.”

Bu Amalia mengibas tangan kemudian pergi menggandeng lengan putra bungsunya itu.

Sesaat sebelum Dean berjalan di sebelah ibunya, pria dua puluh sembilan tahun itu sempat menoleh dan melihat tajam ke arah Winarsih.

Utomo ternyata menangkap basah pandangan Dean barusan dan saat itu juga wajahnya langsung berubah masam.

“Belum apa-apa ... anak majikan kamu sudah begitu mandangin kamu, Win,” sungut Utomo.

“Begitu bagaimana? Kan, wajar, Mas. Aku bakal bekerja di rumahnya. Masa Pak Dean tadi enggak boleh melihat aku bicara dengan ibunya?" Winarsih menghela napas kasar. Sedikit jengkel dengan Utomo yang kekanakan. “Kalau kamu begitu terus ... kamu bisa stres, Mas. Aku juga lama-lama bakal capek,” sambung Winarsih.

“Sudah berantemnya? Kalau sudah ... mari saya antar ke kamarnya Mbak Winarsih. Untuk kali ini Mas-nya boleh mengantarkan sampai ke kamar; dengan pengawalan saya tentunya. Tapi lain kali kalau ingin bertamu, silakan hubungi saya di pos atau telepon ke nomor khusus asisten di ruangan belakang. Nanti bakal bertemu dengan si Mbah," terang Rojak ramah kepada Winarsih dan Utomo yang hanya mendengar dan mengangguk-angguk.

“Soal Pak Dean ... Tidak usah sering-sering dibahas. Pak Dean itu punya pacar. Cantik sekali. Khas kota.” Rojak menekankan kata ‘khas Kota’ demi meyakinkan Utomo yang baru saja mencemburui pacarnya. Pria Desa Beringin itu hanya tersenyum-senyum.

Tak sampai lima menit berjalan, tibalah mereka di sebuah kamar yang letaknya sangat terpencil di sayap kiri rumah. Meski terlihat sangat kecil, Winarsih bahagia karena kamar itu bakal ditempatinya seorang diri. Akhirnya, meski harus menjadi seorang pembantu rumah tangga, Winarsih bisa memiliki kamarnya sendiri.

Winarsih sangat berharap, kamar itu akan menjadi rumah keduanya setelah sepetak kamar lusuh di Desa Beringin.

To be continued

Terpopuler

Comments

Suharnani

Suharnani

Dan masih banyak lelaki tampan di ibu kota win

2024-12-20

0

Fransiska Widyanti

Fransiska Widyanti

Dean ngapain liat2 😁

2025-01-19

0

dyul

dyul

waw..... pak De songong, cinta pada pandangan pertama🤣🤣🤣🤣
Mbak Win.... iku kamar bersejarah yg bakal ubah nasib kamu😜

2025-01-06

1

lihat semua
Episodes
1 1. Cita-cita Winarsih
2 2. Persiapan
3 3. Perjalanan
4 4. Keluarga
5 5. Pak Hartono
6 6. Dean Danawira Hartono
7 7. Malam Minggu
8 8. Kepergok
9 9. Mendadak Masak
10 10. In The Night Club
11 11. Sorry, Dear
12 12. Pertengkaran
13 13. Maaf ?
14 14. Luka
15 15. Tak Cukup
16 16. Penyesalan
17 17. Ancaman
18 18. Multivitamin
19 19. Larut Malam
20 20. Monas
21 21. Bye, Love.
22 22. Where Are You?
23 23. Kebisuan
24 24. Get Out of My Car
25 25. Ukuran
26 26. Di Dekat Pohon Bambu
27 27. "Saya laper Pak,"
28 28. Pita Kecil Merah Hati
29 29. Eneg?
30 30. Peluk Aku
31 31. Create Memories
32 32. Calon Asisten Pak Hartono
33 33. Pergunjingan
34 34. Tell Him!
35 35. Duduk Persoalan
36 36. Tempat Bersandar
37 37. Pamit
38 38. Pulang
39 39. Di Mana Kamu?
40 40. Desa Beringin
41 41. Murka Ibu
42 42. Tamu Tengah Malam
43 43. Keputusan
44 44. Kebahagiaan Dean
45 45. Pengakuan
46 46. Pria Dengan Beskap
47 47. Dia, Istriku
48 48. Kekhawatiran Dean
49 49. Dia, Suamiku
50 50. Kerepotan Dean
51 51. Teruntuk Utomo
52 52. Berpapasan
53 53. Bu Winar
54 54. Sakit Bu Amalia
55 55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56 56. Pengakuan Dean
57 57. Pria Miskin?
58 58. Keresahan Winarsih
59 59. Melepas Dean Pergi
60 60. Pelukan Untuk Ibu
61 61. Stay Away From Me
62 62. Tunggu Aku di Kotamu
63 63. Uang Bu Winar
64 64. Rumah Mertua
65 65. Rumah Hijau
66 66. Galaunya Dean
67 67. Bertemu Reporter Desa
68 68. You Are My Home
69 69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70 70. Kabar
71 71. Baik-Baik Sayang
72 72. Where Are You (2)
73 73. Naif
74 74. Kebisuan (2)
75 75. I Heart You
76 76. Tamu di Pagi Buta
77 77. Get Out of My House
78 78. Keluarnya Kartu As
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Dean Sachet
81 81. Peringatan
82 82. Efek Cemburu Dean
83 83. Kram Dini Hari
84 84. Insiden
85 85. Akhir Cinta Disty
86 86. Hei, Love!
87 87. Aku Di Sini
88 88. Cinta Winarsih
89 89. Like a Baby
90 90. Siapa Ara?
91 91. Air Mata Dean
92 92. Buka Jahitan
93 93. Shopping
94 94. Berita
95 95. Ketika Badai Datang
96 96. Titik Balik
97 97. Sandaran Hati
98 98. Hati Seorang Isteri
99 99. Bunga Untuk Winarsih
100 100. Dean Sachet is Coming
101 101. Nama Bayi
102 102. Pillow Talk
103 103. Resah
104 104. Akung dan Uti
105 105. Sidang Putusan
106 106. Wanita Pemilik Saham
107 107. Teman Lama
108 108. Obrolan
109 109. Tatapan Nostalgia
110 110. Salah Tingkah
111 111. Dirja dan Uti
112 112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113 113. Misi Dean
114 114. Gosip Time
115 115. Kebohongan Kecil
116 116. Titah Bu Amalia
117 117. Rapat Pemegang Saham (1)
118 118. Jatuh Cinta Lagi
119 119. Rapat Pemegang Saham (2)
120 120. Curahan Hati Winarsih
121 121. Usaha Dean
122 122. Hari Pertama
123 123. PDKT
124 124. Curahan Isi Hati
125 125. Anak Dan Ibu
126 126. Berburu
127 127. Efek SPA
128 128. Aku Cinta Mas Dean
129 129. Mesra
130 130. Anggi Nisakara Hartono
131 131. Menatapmu Lekat-Lekat
132 132. Mas Gagah
133 133. Arti Dirimu
134 134. Selamat Ulang Tahun Mas
135 135. Bye Ara
136 136. Makan Malam Paket Lengkap
137 137. Jambi
138 138. Jawa di Jambi
139 139. Rewang
140 140. Panen Bu Sumi
141 141. Acara Sesudah Panen
142 142. Stressnya Dean
143 143. Sungsang
144 144. Kelahiran Kedua
145 145. Ciuman Yuk
146 146. Kejutan Sebelum Pesta
147 147. Untuk Cinta Winarsih
148 148. Raja dan Ratu Sehari
149 149. Paguyuban Winarsih
150 150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151 151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152 152. GENK DUDA AKUT
153 SPECIAL PART : 1.0
154 SPECIAL PART : 2.0
155 SPECIAL PART : 3.0
156 SPECIAL PART : 4.0
157 SPECIAL PART : 5.0
Episodes

Updated 157 Episodes

1
1. Cita-cita Winarsih
2
2. Persiapan
3
3. Perjalanan
4
4. Keluarga
5
5. Pak Hartono
6
6. Dean Danawira Hartono
7
7. Malam Minggu
8
8. Kepergok
9
9. Mendadak Masak
10
10. In The Night Club
11
11. Sorry, Dear
12
12. Pertengkaran
13
13. Maaf ?
14
14. Luka
15
15. Tak Cukup
16
16. Penyesalan
17
17. Ancaman
18
18. Multivitamin
19
19. Larut Malam
20
20. Monas
21
21. Bye, Love.
22
22. Where Are You?
23
23. Kebisuan
24
24. Get Out of My Car
25
25. Ukuran
26
26. Di Dekat Pohon Bambu
27
27. "Saya laper Pak,"
28
28. Pita Kecil Merah Hati
29
29. Eneg?
30
30. Peluk Aku
31
31. Create Memories
32
32. Calon Asisten Pak Hartono
33
33. Pergunjingan
34
34. Tell Him!
35
35. Duduk Persoalan
36
36. Tempat Bersandar
37
37. Pamit
38
38. Pulang
39
39. Di Mana Kamu?
40
40. Desa Beringin
41
41. Murka Ibu
42
42. Tamu Tengah Malam
43
43. Keputusan
44
44. Kebahagiaan Dean
45
45. Pengakuan
46
46. Pria Dengan Beskap
47
47. Dia, Istriku
48
48. Kekhawatiran Dean
49
49. Dia, Suamiku
50
50. Kerepotan Dean
51
51. Teruntuk Utomo
52
52. Berpapasan
53
53. Bu Winar
54
54. Sakit Bu Amalia
55
55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56
56. Pengakuan Dean
57
57. Pria Miskin?
58
58. Keresahan Winarsih
59
59. Melepas Dean Pergi
60
60. Pelukan Untuk Ibu
61
61. Stay Away From Me
62
62. Tunggu Aku di Kotamu
63
63. Uang Bu Winar
64
64. Rumah Mertua
65
65. Rumah Hijau
66
66. Galaunya Dean
67
67. Bertemu Reporter Desa
68
68. You Are My Home
69
69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70
70. Kabar
71
71. Baik-Baik Sayang
72
72. Where Are You (2)
73
73. Naif
74
74. Kebisuan (2)
75
75. I Heart You
76
76. Tamu di Pagi Buta
77
77. Get Out of My House
78
78. Keluarnya Kartu As
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Dean Sachet
81
81. Peringatan
82
82. Efek Cemburu Dean
83
83. Kram Dini Hari
84
84. Insiden
85
85. Akhir Cinta Disty
86
86. Hei, Love!
87
87. Aku Di Sini
88
88. Cinta Winarsih
89
89. Like a Baby
90
90. Siapa Ara?
91
91. Air Mata Dean
92
92. Buka Jahitan
93
93. Shopping
94
94. Berita
95
95. Ketika Badai Datang
96
96. Titik Balik
97
97. Sandaran Hati
98
98. Hati Seorang Isteri
99
99. Bunga Untuk Winarsih
100
100. Dean Sachet is Coming
101
101. Nama Bayi
102
102. Pillow Talk
103
103. Resah
104
104. Akung dan Uti
105
105. Sidang Putusan
106
106. Wanita Pemilik Saham
107
107. Teman Lama
108
108. Obrolan
109
109. Tatapan Nostalgia
110
110. Salah Tingkah
111
111. Dirja dan Uti
112
112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113
113. Misi Dean
114
114. Gosip Time
115
115. Kebohongan Kecil
116
116. Titah Bu Amalia
117
117. Rapat Pemegang Saham (1)
118
118. Jatuh Cinta Lagi
119
119. Rapat Pemegang Saham (2)
120
120. Curahan Hati Winarsih
121
121. Usaha Dean
122
122. Hari Pertama
123
123. PDKT
124
124. Curahan Isi Hati
125
125. Anak Dan Ibu
126
126. Berburu
127
127. Efek SPA
128
128. Aku Cinta Mas Dean
129
129. Mesra
130
130. Anggi Nisakara Hartono
131
131. Menatapmu Lekat-Lekat
132
132. Mas Gagah
133
133. Arti Dirimu
134
134. Selamat Ulang Tahun Mas
135
135. Bye Ara
136
136. Makan Malam Paket Lengkap
137
137. Jambi
138
138. Jawa di Jambi
139
139. Rewang
140
140. Panen Bu Sumi
141
141. Acara Sesudah Panen
142
142. Stressnya Dean
143
143. Sungsang
144
144. Kelahiran Kedua
145
145. Ciuman Yuk
146
146. Kejutan Sebelum Pesta
147
147. Untuk Cinta Winarsih
148
148. Raja dan Ratu Sehari
149
149. Paguyuban Winarsih
150
150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151
151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152
152. GENK DUDA AKUT
153
SPECIAL PART : 1.0
154
SPECIAL PART : 2.0
155
SPECIAL PART : 3.0
156
SPECIAL PART : 4.0
157
SPECIAL PART : 5.0

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!