20. Monas

Dua hari berada di kamar terus-terusan berbaring ternyata malah membuat Winarsih merasa uring-uringan dan tak enak kepada Tina yang sudah dilimpahi pekerjaannya.

Menjelang siang Winarsih ke luar kamar untuk membantu Tina menyiapkan makan siang para pegawai. Pak Hartono dan Bu Amalia sudah berangkat ke Pekanbaru pagi-pagi sekali bersama seorang asisten pribadi dan ajudan.

Sedangkan Dean di hari-hari kerja pasti berada di kantor. Tina mengatakan jika pria itu jarang sekali pulang cepat ke rumah. Biasanya Dean akan tiba di rumah hampir tengah malam setiap harinya.

Menu makanan yang mereka masak hari itu hanya diperuntukkan kepada para pegawai yang berada di rumah. Dan hal yang paling melegakan Winarsih adalah tuan rumah mereka tidak ada, malam nanti mereka tak perlu lagi memasak menu baru.

Kata Mbah, Dean jarang sekali meminta dimasakkan makan malam. Pria itu seperti tak mau mengganggu jam istirahat para pegawai di rumahnya.

"Kamu, kok, diam saja dari tadi Win? Mikirin apa?" tanya Mbah yang menyadari kebisuannya sejak mendengar cerita yang baik-baik tentang Dean.

"Enggak apa-apa, Mbah. Tapi apa pak Dean memang sebaik itu?" tanya Winarsih hati-hati karena khawatir akan menyinggung Mbah yang tampak begitu menyayangi anak majikannya.

"Dean anak baik. Dia selalu menjadi anak baiknya Pak Hartono dengan caranya sendiri," ucap Mbah dengan nada lembut, namun tegas.

"Dean memang ketus, tapi sebenarnya penyayang. Dia cuma kesepian," ujar Mbah seraya menarik napas panjang.

Winarsih hanya diam membayangkan sikap yang sudah diterimanya dari Dean selama dirinya bekerja di sana. Cuma multivitamin itu yang dirasanya bisa sedikit mendeskripsikan cerita Mbah barusan.

Hari itu Winarsih sudah izin kepada Mbah bahwa malam nanti, dia akan pergi keluar bertemu Utomo. Winarsih beralasan bahwa ada satu hal yang harus ia selesaikan bersama kekasihnya itu.

Mbah menyetujui hal yang dikatakannya meski diikuti dengan wejangan halus. Winarsih senang karena Mbah tampak benar-benar tulus peduli padanya.

Winarsih sudah berada di kamarnya sejak pukul empat sore. Multivitamin pemberian Dean yang dicampakkannya ke dinding kemarin, kini telah ia punguti dan diletakkan kembali ke dalam kemasan.

Satu persatu Winarsih membaca merek dan fungsi multivitamin itu. Semuanya hampir sama, hanya berbeda merek dan kemasan saja.

Winarsih memutuskan untuk meminum salah satunya sesuai dengan dosis yang tertera di belakang kemasan.

Sebenarnya dia jijik sekali melihat multivitamin itu, tapi sejak kecil dia selalu diajarkan untuk tidak membuang-buang segala sesuatu.

Meski hatinya sesak dipenuhi amarah dan benci terhadap dirinya sendiri, dengan air mata menetes di pipinya, Winarsih menenggak satu buah tablet dengan segelas air putih.

Malam ini dia akan bertemu dengan Utomo. Winarsih sudah mengatakan kepada pria itu untuk menunggu di luar pagar saja. Dia tak ingin Utomo bertemu dengan Dean.

Sekarang-sekarang ini Winarsih semakin takut dengan reaksi anak majikannya itu jika bertemu dengan Utomo. Entah kenapa.

Dean pasti punya banyak koleksi ratusan kata-kata tajam untuk menghina dirinya dan Utomo. Dia juga tak mau Utomo direndahkan oleh Dean.

Pukul jam 19. 30 Winarsih telah selesai berpakaian. Di pantulan cermin dia melihat wajahnya masih terlihat pucat.

Winarsih meraba leher dan sedikit menurunkan tepi kerah kaosnya. Di sana dia masih melihat bercak kemerahan yang sekarang telah berubah menjadi sedikit kebiruan.

Itu adalah bekas gigitan Dean. Meski sudah menggosok dan mengolesinya dengan minyak angin berharap bisa menyamarkan bercak tersebut, namun usaha itu tak berhasil.

Setiap mandi dan tak berpakaian dia masih melihat beberapa tanda yang ditinggalkan Dean di tubuhnya. Hal itu menambah rasa bersalah pada dirinya karena menjadi tuan yang tak becus menjaga raganya.

Winarsih ke luar pagar dan mendapati Utomo telah berdiri di trotoar tepi jalan menunggu dirinya.

Seperti yang lalu-lalu, pakaian Utomo seringnya hampir sama. Pria itu memang jarang berbelanja pakaian. Celana bahan berwarna biru pekat dan sebuah kaos berkerah dengan warna senada melengkapi penampilan Utomo malam itu.

Rambut ikal Utomo tersisir rapi ke belakang, mengilap seperti biasa. Bibit parfum yang dipakai Utomo juga tercium dari jarak beberapa meter.

Aromanya khas seperti yang sering dicium Winarsih dari segerombolan bapak-bapak yang berdandan kelimis dan duduk di warung.

Sedangkan Winarsih, malam itu mengenakan kaos lengan panjang bercorak bunga besar-besar dan sebuah rok model A di bawah lutut berwarna biru terang. Winarsih baru menyadari kalau pakaiannya mirip seperti taplak meja makan ruang pegawai rumah Pak Hartono.

"Kita jalan sekarang, Mas?" sapa Winarsih saat tiba di depan Utomo.

Utomo tersenyum sumringah dan mengangguk. Tak lupa pria itu mengatakan, "Kamu makin cantik, Win."

Winarsih yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Tak berapa lama mereka sudah berada di sebuah taksi yang membawa mereka menuju Monas.

Sebelum tiba di halaman Monumen Nasional itu, mereka harus berjalan melewati banyak pedagang yang menjual berbagai macam souvenir.

Berkali-kali Utomo berusaha menggandeng tangan Winarsih, tapi wanita itu selalu berusaha menghindar dengan berpura-pura melakukan sesuatu.

"Bagus ya, Mas," lirih Winarsih saat kakinya memasuki halaman Monas dan memandang monumen itu dari kejauhan.

Winarsih mendudukkan dirinya di deretan batu yang membingkai jalan menuju ke arah pelataran monumen. Melihat Winarsih duduk dengan santai, Utomo pun mengikuti.

"Pertama kali diresmikan tahun 1975. Kita aja belum lahir. Awal mula didirikan namanya Lapangan Gambir. Itu di sekeliling dindingnya ada relief yang mengabadikan kejayaan Nusantara di masa lampau," tutur Utomo dengan kedua tangannya yang melingkari lutut.

Pria itu tampaknya sudah jera mencoba menggandeng tangan Winarsih.

"Mas Ut," panggil Winarsih.

"Hmmm ...?" Utomo menoleh ke arah kekasihnya.

"Apa selama ini aku sering merepotkan Mas Ut?" tanya Winarsih sambil memandang pria yang duduk di sebelah kirinya itu.

"Ngomongin apa, sih, kamu? Ngerepotin gimana? Aku sama sekali nggak pernah merasa direpotkan. Lagi pula, kamu itu pacar yang nggak baca nuntut, Win," sahut Utomo yang sedikit bingung dengan perubahan nada bicara Winarsih.

"Kamu nggak pernah malu pacaran dengan aku, Mas?" tanya Winarsih lagi. Dadanya sudah mulai terasa sesak.

"Aku sayang kamu, Win. Kamu itu perempuan baik-baik, pekerja keras dan sayang keluarga. Apa yang membuatku malu? Yanto? Aku udah sayang Yanto kayak adikku sendiri. Hubungan kita enam tahun itu tidak sebentar, Win. Meski aku sering membuatmu kesal, tapi aku benar-benar sayang kamu." Utomo menyelipkan sebagian rambut Winarsih yang ke luar dari ikatan ekor kudanya.

"Aku mau minta maaf sama, Mas Ut," lirih Winarsih.

"Minta maaf kenapa? Jangan nakutin, ah, Win. Kamu ini kesannya kayak mau ke mana aja," sergah Utomo yang perasaannya mulai tak enak.

Dia khawatir Winarsih yang dirasanya berubah akhir-akhir ini akan mengatakan sesuatu hal yang tak ingin ia dengar.

"Kayaknya aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita Mas ...." Winarsih tercekat.

Utomo setengah ternganga menatap kekasihnya. "Kamu kenapa? Apa yang salah denganku, Win? Apa karena aku yang selalu maksa-maksa kamu?" Wajah Utomo pias seketika.

Winarsih hanya menggeleng berkali-kali. "Aku nggak bisa bilang apa alasannya, tapi aku memang nggak sanggup kalau harus melanjutkan hubungan kita, Mas. Aku minta maaf." Winarsih mengusap cepat air mata yang jatuh ke pipinya.

"Tapi aku sayang kamu, Win. Aku pergi ke kota agar aku bisa menikahimu dan membuat hidupmu lebih layak. Aku sayang kamu Winarsih. Kasih tau apa salahku. Aku akan mencoba yang terbaik untuk memperbaikinya." Mata Utomo memerah. Pria itu menyisir rambutnya berkali-kali dengan jemari. Efek pomadenya sudah nyaris hilang sekarang.

"Mas Utomo layak mendapat yang jauh lebih baik dari aku," ucap Winarsih dengan senyum getir.

Utomo hanya menunduk menatap sandal bertali warna hitam dengan logo kepala kelinci kecil di kakinya.

Malam ini, Utomo menyalahkan dirinya atas kepergian Winarsih. Menyalahkan dirinya yang terlalu agresif kepada wanita itu. Menyalahkan diri karena terlalu hemat dan pelit membelanjakan uangnya selama menjalin hubungan. Serta menyalahkan dirinya yang telah membawa Winarsih ke kota dan memasukkannya bekerja di rumah Keluarga Hartono.

Hampir tiga minggu bekerja di rumah itu, entah kenapa Winarsih seperti berubah menjadi sosok yang benar-benar tidak ia kenali.

"Mas Ut," panggil Winarsih lagi.

"Ya, Win?" Seolah tersadar dari lamunannya, Utomo menatap Winarsih berharap wanita itu mengatakan kalau itu hanya candaan.

"Kita makan sate di simpang deket rumah majikanku yuk, Mas."

"Sekarang?" tanya Utomo yang kemudian dijawab dengan anggukan wanita itu. Utomo berusaha bersikap biasa agar Winarsih kembali melunak dan lupa akan hal yang baru saja dikatakannya.

"Tadi aku ngeliat kalau dagangan itu sepi pembeli. Penjualnya seorang bapak tua. Aku kasihan. Teringat ibuku di desa. Mas Utomo mau, kan, mentraktirku makan sate itu?"

Pertanyaan Winarsih itu sangat menohok Utomo. Bisa dibilang Utomo jarang mengeluarkan uang selama enam tahun hubungan mereka di Desa Beringin.

"Ya, sudah. Ayo ...." Utomo segera bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Winarsih untuk membantunya berdiri.

Tapi Winarsih dengan lincah sudah kembali berdiri tanpa pertolongan darinya.

******

Cukup lama mereka duduk di lapak dagangan sate seorang pria tua yang usut punya usut ternyata adalah warga perantauan, sama seperti mereka.

Bedanya, bapak penjual sate itu memboyong anak-istrinya ke ibukota dan bisa mengontrak sepetak rumah kecil di gang sempit. Sehari-hari istrinya membantu nafkah keluarga dengan menjadi buruh cuci.

Setelah puas mengobrol yang sesekali diselingi tawa, mereka meninggalkan penjual sate menuju kediaman majikan Winarsih dengan berjalan kaki.

Jaraknya memang tak begitu jauh.

"Aku nganggap kamu ngomong gitu ke aku, karena kamu mungkin sedang jenuh dengan hubungan kita. Aku berharap setelah beristirahat malam ini, kamu akan berubah pikiran," ucap Utomo seraya mulai memanjangkan tangannya hendak merangkul Winarsih.

Kemudian,

"Hei! Ngapain kamu di luar jam segini? Ayo pulang!! Besok kamu harus kerja! Ada-ada aja pembantu zaman sekarang. Katanya sakit, sekarang malah keluyuran. Cepat masuk! Saya buru-buru."

Utomo nyaris terlompat saking kagetnya.

Seorang pria tampan di balik setir mobil mewah yang pernah dikagumi Utomo berteriak ke arah mereka. Utomo mengenali pria itu sebagai anak Pak Hartono. Ada urusan apa pria itu mengajak Winarsih pulang bersamanya?

Jaka sahabatnya di desa yang merekomendasikan pekerjaan kepada Winarsih pernah mengatakan pada Utomo bahwa anak bungsu Pak Hartono itu adalah seorang pengacara sukses yang sangat angkuh.

To be continued

Terpopuler

Comments

dyul

dyul

katanya bpknya juragan, tapi pelit

2025-01-07

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

😔😔😔😔😔

2024-09-30

0

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Isshhhh....

2024-09-30

0

lihat semua
Episodes
1 1. Cita-cita Winarsih
2 2. Persiapan
3 3. Perjalanan
4 4. Keluarga
5 5. Pak Hartono
6 6. Dean Danawira Hartono
7 7. Malam Minggu
8 8. Kepergok
9 9. Mendadak Masak
10 10. In The Night Club
11 11. Sorry, Dear
12 12. Pertengkaran
13 13. Maaf ?
14 14. Luka
15 15. Tak Cukup
16 16. Penyesalan
17 17. Ancaman
18 18. Multivitamin
19 19. Larut Malam
20 20. Monas
21 21. Bye, Love.
22 22. Where Are You?
23 23. Kebisuan
24 24. Get Out of My Car
25 25. Ukuran
26 26. Di Dekat Pohon Bambu
27 27. "Saya laper Pak,"
28 28. Pita Kecil Merah Hati
29 29. Eneg?
30 30. Peluk Aku
31 31. Create Memories
32 32. Calon Asisten Pak Hartono
33 33. Pergunjingan
34 34. Tell Him!
35 35. Duduk Persoalan
36 36. Tempat Bersandar
37 37. Pamit
38 38. Pulang
39 39. Di Mana Kamu?
40 40. Desa Beringin
41 41. Murka Ibu
42 42. Tamu Tengah Malam
43 43. Keputusan
44 44. Kebahagiaan Dean
45 45. Pengakuan
46 46. Pria Dengan Beskap
47 47. Dia, Istriku
48 48. Kekhawatiran Dean
49 49. Dia, Suamiku
50 50. Kerepotan Dean
51 51. Teruntuk Utomo
52 52. Berpapasan
53 53. Bu Winar
54 54. Sakit Bu Amalia
55 55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56 56. Pengakuan Dean
57 57. Pria Miskin?
58 58. Keresahan Winarsih
59 59. Melepas Dean Pergi
60 60. Pelukan Untuk Ibu
61 61. Stay Away From Me
62 62. Tunggu Aku di Kotamu
63 63. Uang Bu Winar
64 64. Rumah Mertua
65 65. Rumah Hijau
66 66. Galaunya Dean
67 67. Bertemu Reporter Desa
68 68. You Are My Home
69 69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70 70. Kabar
71 71. Baik-Baik Sayang
72 72. Where Are You (2)
73 73. Naif
74 74. Kebisuan (2)
75 75. I Heart You
76 76. Tamu di Pagi Buta
77 77. Get Out of My House
78 78. Keluarnya Kartu As
79 79. Langkah Selanjutnya
80 80. Dean Sachet
81 81. Peringatan
82 82. Efek Cemburu Dean
83 83. Kram Dini Hari
84 84. Insiden
85 85. Akhir Cinta Disty
86 86. Hei, Love!
87 87. Aku Di Sini
88 88. Cinta Winarsih
89 89. Like a Baby
90 90. Siapa Ara?
91 91. Air Mata Dean
92 92. Buka Jahitan
93 93. Shopping
94 94. Berita
95 95. Ketika Badai Datang
96 96. Titik Balik
97 97. Sandaran Hati
98 98. Hati Seorang Isteri
99 99. Bunga Untuk Winarsih
100 100. Dean Sachet is Coming
101 101. Nama Bayi
102 102. Pillow Talk
103 103. Resah
104 104. Akung dan Uti
105 105. Sidang Putusan
106 106. Wanita Pemilik Saham
107 107. Teman Lama
108 108. Obrolan
109 109. Tatapan Nostalgia
110 110. Salah Tingkah
111 111. Dirja dan Uti
112 112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113 113. Misi Dean
114 114. Gosip Time
115 115. Kebohongan Kecil
116 116. Titah Bu Amalia
117 117. Rapat Pemegang Saham (1)
118 118. Jatuh Cinta Lagi
119 119. Rapat Pemegang Saham (2)
120 120. Curahan Hati Winarsih
121 121. Usaha Dean
122 122. Hari Pertama
123 123. PDKT
124 124. Curahan Isi Hati
125 125. Anak Dan Ibu
126 126. Berburu
127 127. Efek SPA
128 128. Aku Cinta Mas Dean
129 129. Mesra
130 130. Anggi Nisakara Hartono
131 131. Menatapmu Lekat-Lekat
132 132. Mas Gagah
133 133. Arti Dirimu
134 134. Selamat Ulang Tahun Mas
135 135. Bye Ara
136 136. Makan Malam Paket Lengkap
137 137. Jambi
138 138. Jawa di Jambi
139 139. Rewang
140 140. Panen Bu Sumi
141 141. Acara Sesudah Panen
142 142. Stressnya Dean
143 143. Sungsang
144 144. Kelahiran Kedua
145 145. Ciuman Yuk
146 146. Kejutan Sebelum Pesta
147 147. Untuk Cinta Winarsih
148 148. Raja dan Ratu Sehari
149 149. Paguyuban Winarsih
150 150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151 151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152 152. GENK DUDA AKUT
153 SPECIAL PART : 1.0
154 SPECIAL PART : 2.0
155 SPECIAL PART : 3.0
156 SPECIAL PART : 4.0
157 SPECIAL PART : 5.0
Episodes

Updated 157 Episodes

1
1. Cita-cita Winarsih
2
2. Persiapan
3
3. Perjalanan
4
4. Keluarga
5
5. Pak Hartono
6
6. Dean Danawira Hartono
7
7. Malam Minggu
8
8. Kepergok
9
9. Mendadak Masak
10
10. In The Night Club
11
11. Sorry, Dear
12
12. Pertengkaran
13
13. Maaf ?
14
14. Luka
15
15. Tak Cukup
16
16. Penyesalan
17
17. Ancaman
18
18. Multivitamin
19
19. Larut Malam
20
20. Monas
21
21. Bye, Love.
22
22. Where Are You?
23
23. Kebisuan
24
24. Get Out of My Car
25
25. Ukuran
26
26. Di Dekat Pohon Bambu
27
27. "Saya laper Pak,"
28
28. Pita Kecil Merah Hati
29
29. Eneg?
30
30. Peluk Aku
31
31. Create Memories
32
32. Calon Asisten Pak Hartono
33
33. Pergunjingan
34
34. Tell Him!
35
35. Duduk Persoalan
36
36. Tempat Bersandar
37
37. Pamit
38
38. Pulang
39
39. Di Mana Kamu?
40
40. Desa Beringin
41
41. Murka Ibu
42
42. Tamu Tengah Malam
43
43. Keputusan
44
44. Kebahagiaan Dean
45
45. Pengakuan
46
46. Pria Dengan Beskap
47
47. Dia, Istriku
48
48. Kekhawatiran Dean
49
49. Dia, Suamiku
50
50. Kerepotan Dean
51
51. Teruntuk Utomo
52
52. Berpapasan
53
53. Bu Winar
54
54. Sakit Bu Amalia
55
55. Kau Adalah Sebuah Alasan
56
56. Pengakuan Dean
57
57. Pria Miskin?
58
58. Keresahan Winarsih
59
59. Melepas Dean Pergi
60
60. Pelukan Untuk Ibu
61
61. Stay Away From Me
62
62. Tunggu Aku di Kotamu
63
63. Uang Bu Winar
64
64. Rumah Mertua
65
65. Rumah Hijau
66
66. Galaunya Dean
67
67. Bertemu Reporter Desa
68
68. You Are My Home
69
69. Sepetak Sawah Untuk Winarsih
70
70. Kabar
71
71. Baik-Baik Sayang
72
72. Where Are You (2)
73
73. Naif
74
74. Kebisuan (2)
75
75. I Heart You
76
76. Tamu di Pagi Buta
77
77. Get Out of My House
78
78. Keluarnya Kartu As
79
79. Langkah Selanjutnya
80
80. Dean Sachet
81
81. Peringatan
82
82. Efek Cemburu Dean
83
83. Kram Dini Hari
84
84. Insiden
85
85. Akhir Cinta Disty
86
86. Hei, Love!
87
87. Aku Di Sini
88
88. Cinta Winarsih
89
89. Like a Baby
90
90. Siapa Ara?
91
91. Air Mata Dean
92
92. Buka Jahitan
93
93. Shopping
94
94. Berita
95
95. Ketika Badai Datang
96
96. Titik Balik
97
97. Sandaran Hati
98
98. Hati Seorang Isteri
99
99. Bunga Untuk Winarsih
100
100. Dean Sachet is Coming
101
101. Nama Bayi
102
102. Pillow Talk
103
103. Resah
104
104. Akung dan Uti
105
105. Sidang Putusan
106
106. Wanita Pemilik Saham
107
107. Teman Lama
108
108. Obrolan
109
109. Tatapan Nostalgia
110
110. Salah Tingkah
111
111. Dirja dan Uti
112
112. Oleh-Oleh Dari Kalimantan
113
113. Misi Dean
114
114. Gosip Time
115
115. Kebohongan Kecil
116
116. Titah Bu Amalia
117
117. Rapat Pemegang Saham (1)
118
118. Jatuh Cinta Lagi
119
119. Rapat Pemegang Saham (2)
120
120. Curahan Hati Winarsih
121
121. Usaha Dean
122
122. Hari Pertama
123
123. PDKT
124
124. Curahan Isi Hati
125
125. Anak Dan Ibu
126
126. Berburu
127
127. Efek SPA
128
128. Aku Cinta Mas Dean
129
129. Mesra
130
130. Anggi Nisakara Hartono
131
131. Menatapmu Lekat-Lekat
132
132. Mas Gagah
133
133. Arti Dirimu
134
134. Selamat Ulang Tahun Mas
135
135. Bye Ara
136
136. Makan Malam Paket Lengkap
137
137. Jambi
138
138. Jawa di Jambi
139
139. Rewang
140
140. Panen Bu Sumi
141
141. Acara Sesudah Panen
142
142. Stressnya Dean
143
143. Sungsang
144
144. Kelahiran Kedua
145
145. Ciuman Yuk
146
146. Kejutan Sebelum Pesta
147
147. Untuk Cinta Winarsih
148
148. Raja dan Ratu Sehari
149
149. Paguyuban Winarsih
150
150. EXTRA PART : 2 Tahun Kemudian
151
151. EXTRA PART : Winarsih S.Mb
152
152. GENK DUDA AKUT
153
SPECIAL PART : 1.0
154
SPECIAL PART : 2.0
155
SPECIAL PART : 3.0
156
SPECIAL PART : 4.0
157
SPECIAL PART : 5.0

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!