Setelah kejadian malam tadi, Echa sudah tidak khawatir lagi tentang Ayu yang selalu mencoba untuk dekat dengan Bara, meskipun dirinya sedikit takut Ayu akan tetap mendekati Bara.
Saat ini Echa dan teman-temannya itu sedang berkumpul di ruang tamu, melanjutkan percakapan tentang kejadian yang menimpa Devan.
"Dev liat sosok itu kulitnya putih? bajunya kayak gimana?" tanya Echa.
"Iya, pokoknya cantik banget, Dev gak terlalu liat baju, soalnya gak keliatan di dalam air tapi kayak semacam gaun gitu," jawab Devan.
"Terus gimana lagi?" tanya Echa.
"Gak tau apa-apa lagi, abis itu gelap. semua," jawab Devan.
"Caca boleh pegang tangannya gak?" tanya Echa.
"Boleh banget." jawab Devan sambil. mengulurkan tangannya ke arah Echa karena dirinya berada di samping Echa.
"Dasar buaya." ucap Shiren sinis.
"Kirain Vivi yang jadi buaya disini cuman satu, nyatanya ada dua," ujar Ivy yang sesekali menatap sinis kearah Azka.
"Apaan?" tanya Azka saat melihat Ivy sedang menatapnya.
"Gak." jawab Ivy singkat.
"Udah, bisa diem dulu gak?" tanya Echa yang kini sedang menggenggam tangan Devan. Tanpa Echa sadari tatapan Bara sudah dingin, tajam dan siapapun yang melihatnya akan mendadak ciut.
Echa menatap ke arah mata Devan sambil menggenggam tangannya, tujuan dirinya hanya untuk mengetahui siapa sosok wanita yang Devan lihat.
Dari tatapan Devan, Echa melihat siluet gadis dengan gaun berwarna putih, rambut panjang sedang menghampiri cahaya berwarna putih, cahaya yang menyilaukan mata siapapun.
Echa langsung mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba cahaya itu mampu membuat matanya silau.
"Ada apa Ca?" tanya Hanin penasaran.
"Caca gak bisa liat apa-apa, tapi Hanin bisa kan rasain aura sosok yang Caca liat?" tanya Echa yang masih belum melepaskan genggamannya dari tangan Devan.
"Hanin cuman bisa ngerasain aura abu-abu tapi agak putih." jawab Hanin yang sedang merasakan aura dari sosok yang Echa lihat.
"Itu artinya sosok yang Devan liat mempunyai sedikit rasa sakit hati di masa hidupnya tapi dia juga sadar dunianya sudah berbeda." sambung Hanin.
"Terus Vivi bisa liat masa lalunya kan?" tanya Echa sambil menatap ke arah Ivy dan Echa masih belum melepaskan genggamannya pada tangan Devan, sedangkan Bara hanya diam dengan tatapan tajamnya.
"Bisa sih, tapi kalau Caca liatnya samar-samar nanti ke visual Vivi juga bakalan samar-samar." jawab Ivy.
"Terus gimana?" tanya Mutiara.
"Ada cara lain gak buat manggil hantu? tapi hantunya gak semuanya dateng kesini," tanya Alvero.
"Ada sih, tapi mungkin bakalan ada beberapa yang masuk, karena kita juga gak tau sosok mana yang bisa nembus pertahanan kita," jawab Hanin.
"Masih bisa ke hitung jari gak?" tanya Nathan.
"Mungkin bakalan kurang dari 10." jawab Shiren.
"Bahayanya apa?" tanya Gavin.
"Bakalan ada beberapa sosok yang mungkin bisa berubah wujud, karena sosok itu bisa mengambil energinya dari sumber pertahanan kita." jawab Hanin.
"Serem ya," ucap Azka.
"Dih, penakut." ujar Ivy.
"Emang situ engga?" tanya Azka.
"Ya takut sih, tapi gak begitu takut banget." jawab Ivy.
"Yakin mau manggil?" tanya Shiren.
"Terserah sih, mau manggil gak apa-apa tapi bagusnya sih gak usah," jawab Azka.
"Setuju gak?" tanya Echa yang masih menggenggam tangan Devan.
Bara hanya diam tanpa berbicara apapun, dia langsung melangkahkan kakinya pergi tanpa berbicara sepatah katapun dan semua orang yang berada di sana menatap kepergian Bara tanpa ada yang mencegahnya, mereka sudah dapat merasakan aura yang tidak baik jika mencegah atau menghentikan Bara.
"Kenapa Ca?" tanya Mutiara.
"Caca juga gak tau," jawab Echa bingung, dirinya belum menyadari bahwa tangannya masih menggenggam tangan Devan.
"Pantesan aja pergi," ucap Gavin sambil menatap ke arah tangan Echa. Semua orang langsung mengikuti arah pandangan Gavin terutama Echa.
"Ya ampun, Caca lupa." ujar Echa kaget sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Mati gue." ucap Devan yang juga tidak menyadari genggaman tangan Echa.
"Samperin Ca," ucap Mutiara.
"Ya udah Caca samperin dulu ya," ujar Echa sambil melangkahkan kakinya pergi.
"Kayaknya hidup Devan gak lama lagi deh," ucap Gavin sambil menatap ke arah Devan.
"Kakak, kenapa ngomong nya gitu?" tanya Shiren.
"Ya udah iya maaf, gak bakalan ngomong lagi abis ini." jawab Gavin saat melihat tatapan tajam Shiren.
"Mampus." gumam Devan yang sedang saling menatap dengan Gavin.
......................
...Ada beberapa hal yang harus dibatasi, contohnya pertemanan, siapapun bisa menjadi duri didalam daging atau sering disebut sebagai musuh dalam selimut. ...
...•Bara Gatramana...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
miraa
ngakak bngt 😭
2024-01-03
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓑𝓪𝓻𝓪 𝓴𝓵 𝓷𝓰𝓪𝓶𝓫𝓮𝓴 𝓼𝓮𝓻𝓮𝓶𝓲𝓷 🤭🤭🤭🤭
2022-09-30
0
Fahzar Soemantry
terlalu bdohhh sih caca itu kekanakan,,,,
2022-03-08
0