Pagi hari telah tiba, matahari sudah menampakkan dirinya dan saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk menyantap sarapannya yang sudah Ayu dan Mang Abri siapkan.
"Teh Caca hayu atuh, makanannya udah siap," ajak Ayu saat melihat Echa turun dari tangga bersama dengan Bara.
"Iya Ayu, semalam Ayu nginep disini?" tanya Echa sambil melangkahkan kakinya ke arah Ayu.
"Engga teh, Bapak nyuruh Ayu pulang," jawab Ayu.
"Yang lain belum turun?" tanya Echa.
"Belum," jawab Ayu yang sedang tersenyum ke arah Echa dan Bara.
"Nanti Ayu coba suruh mereka turun aja," ucap Echa sambil membantu Ayu mempersiapkan makanannya.
Sedangkan Bara sudah duduk di kursi meja makan sambil memainkan ponselnya, dia tidak memperdulikan Ayu yang secara terang-terangan merapikan rambutnya agar dilihat olehnya.
"Iya,tapi beneran ini teh? gak bakalan marah kan kalau Ayu yang nyuruh kebawah?" tanya Ayu.
"Gak bakalan, mereka malah seneng," jawab Echa.
"Ya udah atuh kalau gitu Ayu keatas dulu," ucap Ayu sambil berlalu pergi.
"Kak, Caca mau ke dapur dulu, mau cuci tangan," ucap Echa.
"Iya." sahut Bara yang masih asik memainkan ponselnya, Echa langsung melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencuci tangannya. Namun saat Echa ingin mencuci tangannya dia melihat Mang Abri yang membawa beberapa buah-buahan.
"Bawa buah apa Mang?" tanya Echa yang sedang mencuci tangannya.
"Ini buah pepaya sama buah durian." jawab Mang Abri.
"Kayaknya enak ya kalau di makan siang-siang," ucap Echa.
"Iya neng nanti biar Mang Abri yang buka buahnya," ujar Mang Abri.
Echa kembali teringat dengan mimpinya semalam tentang Mira dan Gaida, dua gadis yang umurnya seperti hanya beda 1 tahun.
"Oh ya Mang, Caca boleh tanya gak?" tanya Echa yang sudah selesai dengan cuci tangannya.
"Boleh Neng," jawab Mang Abri.
"Kata Ayu di rumah ada yang namanya kak Ida ya?" tanya Echa.
"Iya Neng, ya gitu anaknya jarang ngomong, jarang keluar rumah, di rumah juga palingan diem di kamar sambil main biola," jawab Mang Abri.
Biola. ucap Echa dalam hati, dia kembali mengingat anak kecil di mimpinya yang akan selalu menjaga biola kesayangan kakaknya itu.
"Kak Ida suka banget ya main biola?" tanya Echa.
"Iya, hampir setiap hari suka beda-beda musiknya," jawab Mang Abri.
"Kenapa gak di salurin aja Mang bakatnya, sekarang kan udah modern, banyak event-event tentang musik gitu, siapa tau Kak Ida bisa menang di event itu," ucap Echa.
"Neng Ida mah anaknya gak mau ada orang yang denger musiknya, main biola juga kadang larut malem atau pagi buta gak pernah mainin biola di pagi, siang atau sore hari," ujar Mang Abri.
"Sayang banget ya padahal kak Ida jago banget main biolanya," ucap Echa.
"Neng Caca pernah denger suara biolanya?" tanya Mang Abri aneh.
"Eh, engga bukan gitu, maksud Caca kak Ida pasti berbakat banget, semua orang yang denger suara biolanya pasti meleleh," jawab Echa berbohong.
"Ida anaknya keras kepala neng, susah di bilangin," ucap Mang Abri.
"Kalau kata Caca Kak Ida itu orangnya baik, cantik, kuat, tangguh gak pernah berubah sama prinsipnya, meskipun Caca belum liat langsung tapi Caca bisa ngerasain hal itu," ujar Echa, sedangkan Mang Abri hanya tersenyum menanggapi ucapannya, senyuman menutupi rasa sedihnya.
"Caca mau banget ketemu sama Kak Ida, boleh?" tanya Echa.
"Boleh Neng, nanti biar Ayu yang anterin ke rumah tapi maaf ya rumah nya gak bagus," jawab Mang Abri.
"Gak apa-apa Mang, Caca cuman mau silaturahmi aja sama keluarga Mang Abri," ucap Echa sambil tersenyum ke arah Mang Abri.
"Iya atuh Neng, Mang Abri permisi mau ke kebun dulu ya," pamit Mang Abri.
"Eh, Mang Abri udah ambil makanan buat orang di rumah?" tanya Echa.
"Belum Neng, nanti aja kalau makanannya gak abis Mang bawa pulang," jawab Mang Abri.
"Jangan, mending sekarang aja ya, Mang Abri tunggu dulu sebentar, Caca mau bawain dulu makanannya, Caca gak mau Mang Abri ngambil makanan sisa," ucap Echa sambil membawa tempat makan bertuliskan tupperware untuk diisi makanan.
Echa melangkahkan kakinya ke meja makan untuk mengisi tupperware tersebut.
"Yang lain belum turun Kak?" tanya Echa yang sedang mengisi tupperware dengan makanan.
"Belum," jawab Bara sambil menatap ke arah Echa.
"Buat siapa?" tanya Bara.
"Buat Mang Abri, Caca gak mau Mang Abri sama keluarganya ngambil makanan sisa dari kita jadi Caca kasih yang masih utuh aja," jawab Echa.
"Oh yaudah yang banyak, yang lain juga pasti gak bakalan abis sama makanan sebanyak ini," ucap Bara.
"Iya," ujar Echa yang sudah selesai mengisi tupperware tersebut. Dia melangkahkan kakinya ke dapur sambil memberi makanan yang telah dia isi.
"Ini Mang," ucap Echa sambil memberikan tupperware berisi makanan.
"Makasih ya Neng," ujar Mang Abri.
"Sama-sama Mang, Hati-hati ya," ucap Echa saat melihat Mang Abri melangkahkan kakinya pergi.
"Terimakasih untuk kebaikan mu terhadap keluarga ku, semoga tuhan akan membalas dengan yang lebih daripada ini," ucap Mira dengan suara yang menggema di dapur.
Mira, kenapa kamu belum pergi? Padahal hatimu baik. ucap Echa dalam hati.
"Aku sedang menunggu seseorang," jawab Mira.
Siapa yang kamu tunggu? Kenapa kamu menunggunya? tanya Echa dalam hati.
Namun saat Mira ingin menjawab pertanyaan Echa ada seseorang yang datang ke dapur.
"Teh Caca ngapain disini? Semua udah nungguin di meja makan." ucap Ayu.
"Eh, itu tadi lagi liat pemandangan, bagus banget ya," ujar Echa berbohong.
"Iya," ucap Ayu sambil tersenyum ke arah Echa.
"Ayu udah makan?" tanya Echa.
"Udah teh, dari rumah udah sarapan," jawab Ayu.
"Ya udah kalau gitu Caca sarapan dulu ya," ucap Echa.
"Iya teh mangga," ujar Ayu saat Echa melangkahkan kakinya pergi dari dapur.
"Perasaan Ayu tadi kayak ngedengerin suara Teh Mira," ucap Ayu saat Echa sudah menghilang dari pandangannya.
"Ah mungkin perasaan aja kali ya?" tanya Ayu pada dirinya sendiri.
Echa melihat teman-temannya itu sudah berkumpul di meja makan dan sudah siap menyantap sarapan paginya itu.
"Ayo Caca, kita nungguin dari tadi," ucap Ivy saat melihat Echa yang duduk.
"Iya bentar," ujar Echa sambil menuangkan nasi dan lauk pauk ke piringnya.
Mereka semua menyantap makanannya tanpa ada yang berbicara sepatah katapun, hanya ada suara dentingan sendok yang memenuhi ruangan tersebut.
......................
...Orang hanya melihat dengan sebelah mata tanpa pernah merasakan hatinya yang rapuh di balik wajahnya yang tangguh. ...
...•Shiren ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓪𝓹𝓪 𝓼𝓮𝓫𝓮𝓷𝓪𝓻𝓷𝔂𝓪 𝔂𝓰 𝓽𝓮𝓻𝓳𝓪𝓭𝓲 🤔🤔🤔🤔
2022-09-30
0
Lukman Asix
apakah s ayu jg bisa merasakan adanya s mira 😴😴😴
2022-02-13
0
Kaa
shila mana? katanya tdi diajak maenn
2021-10-13
6