Setelah selesai dengan acara makannya, mereka membereskan semuanya karena Ayu entah pergi kemana. Dan saat ini mereka sedang berada di ruang tamu.
"Sekarang kita mau ngapain?" tanya Azka yang sedang duduk sambil memainkan remote TV.
"Gak tau," jawab Devan yang sedang menonton TV.
"Hayu atuh Aa, Teteh kita jalan-jalan keliling kampung, sambil Ayu kenalin sama yang lain," ajak Ayu yang tiba-tiba datang.
"Ide bagus." sahut Mutiara.
"Ini yang Gavin tunggu dari tadi," ucap Gavin.
"Kenalin juga ya sama temen-temen Ayu pasti cantik-cantik kayak Ayu," ujar Azka. Sedangkan Ayu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan tersenyum ke arah Azka.
"Dasar buaya," ucap Ivy.
"Nanti kenalin Caca sama kak Ida ya," ujar Echa.
"Iya, Ayo teh," ajak Ayu sambil melangkahkan kakinya keluar dari villa diikuti dengan yang lainnya.
Mereka semua berjalan keluar dari Villa, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
"Wah cantik-cantik ya," ucap Azka yang melihat banyak wanita desa yang seumuran dengannya.
"Punten teh," ucap Ayu saat melewati wanita cantik yang sedang memberi makan ayam.
"Mangga Ayu," ucap wanita tersebut saat Ayu menyapanya. (Mangga itu adalah bahasa Sunda yang artinya silahkan)
"Saha eta ayu? Meni gareulis (Siapa itu Ayu? cantik sekali) " ucap seorang pemuda desa yang lumayan tampan menyapa ke arah Ayu.
"Oh, ieu rerencangan Ayu a(oh, ini teman-teman Ayu kak) " ujar Ayu.
"Eta yu anu eta, (Itu yu yang itu)" ucap pemuda tersebut sambil menatap ke arah Hanin.
"Oh ieu namina teh Hanin a, (oh ini namanya kak Hanin)" ujar Ayu.
"Abdi Rifan teh, (Saya Rifan Kak)" ucap pemuda tersebut sambil menatap ke arah Hanin dan tersenyum, Hanin membalas senyuman tersebut.
"puntennya a," ucap Ayu sambil melangkahkan kakinya pergi diikuti dengan yang lainnya.
Mereka menyusuri jalanan kampung yang enak untuk di pandang meskipun jalannya sedikit banyak bebatuan, mereka tidak menghiraukan itu karena semua terbayarkan dengan pemandangan yang sangat indah.
"Alah Ayu, meni gareulis rerencangan teh bade kamana? (Aduh Ayu, cantik banget temen-temennya, mau kemana?)" tanya sekelompok pemuda yang seumuran dengannya.
"Muhun a, bade ka bumi, (Iya a, mau ke rumah)" jawab Ayu.
"Aa mah ukeun nu eta weh yu," ucap seorang pemuda sambil menatap ke arah Ivy.
"Dia bilang apa yu?" tanya Ivy yang tidak mengerti dengan percakapan itu.
"Katanya dia mau kenalan sama teteh boleh? Dia juga mau teteh Vivi." jawab Ayu.
"Oh, boleh, kenalin nama saya Ivy, panggil aja Vivi," ucap Iby sambil mengulurkan tangannya ke arah pemuda itu.
"Wah meni bageur nya si teteh na, abdi Adi teh, (Baik banget ya Kakak nya, saya Adi kak)" ujar pemuda yang ingin berkenalan dengan Ivy.
"Aa mah hoyong nu eta wios? (Kakak mau yang itu gak apa-apa?) " tanya seorang pemuda sambil menatap ke arah Mutiara.
"Tos aya nu gaduh a, (udah ada yang punya Kak)" jawab Ayu.
"Nya atuh wios kenalan weh, (Iya biarin aja, kenalan aja)" ucap pemuda yang ingin berkenalan dengan Mutiara.
"Saya Mutiara," ujar Mutiara sambil mengulurkan tangannya dan pemuda itu membalas uluran tangan Mutiara.
"Abi Rudi," ucap pemuda tersebut.
"Aa mah hoyong nu eta yu, (Kakak mau yang itu yu)" ucap salah seorang pemuda tampan sambil menatap ke arah Echa.
"Oh ieu teh Caca, geulis, bageur, (oh ini Kak Caca, cantik, baik)" ujar Ayu sambil memperkenalkan Echa yang berada di samping Bara.
"Abi Dimas," ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya.
"Echa, Kakak bisa panggil Caca aja," ujar Echa yang membalas uluran tangan Dimas dengan senyuman manisnya.
"Wah meni geulis nya, tong amis teuing atuh neng Aa jadi giung ninggal na, (Cantik banget, jangan manis-manis, Kakak jadi tergila-gila liatnya)" ucap Dimas.
Dimas masih belum melepaskan tangannya itu, bahkan Echa sudah berusaha untuk melepaskannya dengan halus.
"Ekhem," dehem Bara saat melihat genggaman Echa masih belum di lepaskan. Dalam seketika Dimas melepaskan genggamannya itu.
"Ayo yu." ajak Bara dengan tatapan dinginnya.
"Iya hayu A," ucap Ayu.
"Punten a, Ayu bade ka bumi hela, (permisi Kak, Ayu mau ke rumah dulu)" ujar Ayu sambil melangkahkan kakinya pergi.
"Mangga Ayu," ucap sekelompok pemuda tersebut.
Mereka semua melangkahkan kakinya menyusuri kampung dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Echa merasakan ada perubahan sikap Bara setelah perkenalan tadi.
"Kak," panggil Echa saat Ayu dan yang lain sedang mengobrol tentang kampung nya itu.
"Hm?" tanya Bara yang masih dengan tatapan tajam.
"Kakak marah?" tanya Echa.
"Ga." jawab Bara singkat.
"Tadi cuman mau kenalan aja, Kakak gak usah marah," ucap Echa.
"Gak lama juga." ujar Bara.
"Caca susah lepasin nya," ucap Echa.
"Hm," gumam Bara.
"Ish, Kak, senyum dikit gak usah lebar juga gak apa-apa," ujar Echa.
"Iya." jawab Bara yang tidak mengindahkan ucapan Echa, dia masih mempertahankan wajahnya yang dingin.
"Terserah kakak," ucap Echa yang ingin melangkahkan kakinya ke depan, namun Bara mencekal tangannya.
"Mau kemana?" tanya Bara yang sedang mencekal tangan Echa.
"Ke depan, disini juga di cuekin," jawab Echa dengan wajah kesalnya.
"Jangan, udah disini," ucap Bara sambil merangkul pundak Echa.
Giliran Caca yang marah gak boleh! ucap Echa kesal dalam hati.
"Hm," gumam Echa.
"Senyum," ucap Bara sambil mengacak rambut Echa gemas. Echa yang mendapat perlakuan itu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.
"Kakak!" ucap Echa kesal.
Niatnya mau marah, tapi kenapa gak jadi ya? tanya Echa dalam hati.
"Ini rumahnya, silahkan masuk maaf rumahnya gak bagus," ajak Ayu sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah diikuti dengan yang lainnya.
"Permisi bu," ucap semua orang saat memasuki rumah Ayu.
"Ada tamu ya yu?" tanya Ibu Ayu yang sedang berada di dapur.
"Iya Ma, yang dari Villa itu," jawab Ayu sambil berlalu pergi ke dapur.
Echa melihat poto-poto keluarga harmonis dari Mang Abri, di poto itu hanya ada dua orang anak bersama sepasang suami istri sedang tersenyum bahagia dengan setelan batik.
Mira nya mana? tanya Echa dalam hati.
"Ida! bantu Mama sama Ayu buat bikin makanan." teriak Ibunya Ayu.
Tak lama kemudian dari arah kamar keluar seorang gadis cantik seperti blasteran belanda-indonesia dengan raut wajah yang terlihat angkuh dan tatapan yang tajam bahkan dia tak menghiraukan tamu yang berada di rumahnya.
Itu pasti Gaida. ucap Echa yang sedang menatap punggung Gaida.
"Cantik ya," ujar Azka yang melihat Kakaknya Ayu.
"Real blasteran." ucap Devan.
......................
...Untuk menjalani hidup yang aman adalah memiliki prinsip yang tak mudah goyah. ...
...•Devan...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓴𝓪𝔂𝓪𝓴𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓸𝓶𝓫𝓪 𝓭𝓲 𝓫𝓮𝓭𝓪𝓴𝓲𝓷 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓐𝔃𝓴𝓪 𝓶𝓪𝓱 𝓬𝓪𝓷𝓽𝓲𝓴🤭🤭🤭🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2022-09-30
0
Winar hasan
nah lo bru nongol si devan
2022-07-14
0
Hasnah Siti
yah aku juga sama thor...gak suka kalo ada calon pelakorrr dicelah caca sama kak barra
2022-04-28
0