Selamat membaca🤍
10 menit telah berlalu, kini Echa dan Hanin sudah selesai dengan acara makannya itu. Mereka harus bergegas pergi kerumah Mutiara.
"Udah selesai?" tanya Echa sambil merapikan meja makannya.
"Udah." jawab Hanin.
"Bi, ini maaf ya Caca gak bantuin," ucap Echa.
"Gak apa-apa simpen aja di situ, biar Bibi yang beresin," sahut Bi Neni yang sedang berada di dapur.
"Ayo," ajak Echa.
Mereka berdua melangkahkan kakinya pergi keluar untuk segera menemui teman-temannya yang berada di rumah Mutiara.
Saat Echa berada di dalam mobil, dia hanya menatap keluar jendela meratapi perginya seseorang yang selalu ada di kehidupannya.
Sedangkan Hanin hanya bisa mengelus pundak Echa yang sedang di landa dilema, Hanin dapat merasakan di tinggal pergi oleh seseorang yang telah dia sayangi.
"Hanin tau, Caca pasti bisa lewati semua ini sendirian, Hanin juga tau Caca sekuat dan setegar apa dalam menghadapi setiap masalah tapi buat kali ini Caca bisa kok nangis sekeras-kerasnya kalau emang udah cape banget," ucap Hanin sambil melihat kearah Echa yang sedang meratapi jalanan dari jendela.
"Caca bisa lewatin semua ini," ujar Echa sambil tersenyum dan menggenggam tangan Hanin.
"Hanin tau ini pasti berat," ucap Hanin yang masih mengelus pundak Echa.
"Caca belajar dari perginya Kak Bara. Kalau kita terlalu bergantung dengan orang, akan ada saatnya orang itu pergi di waktu yang tidak tepat," ujar Echa yang sedang menahan air matanya.
"Gak apa-apa nangis aja, Hanin tau pertama kali mengikhlaskan itu harus penuh dengan air mata," ucap Hanin sambil memeluk Echa yang sedang menahan tangisannya itu.
"Caca gak perlu khawatir soal gimana nge hadapin dunia ini tanpa Kak Bara, Hanin disini selalu sama Caca apapun yang terjadi," ucap Hanin yang merasakan air mata Echa membasahi bajunya.
Echa hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis tanpa suara di pelukan Hanin. Yang dikatakan soal Hanin tentang mengikhlaskan harus dengan air mata itu memang sesuatu yang sangat menguji ketegaran hati.
"Nangis aja sampai Caca tenang. Jangan simpan bebannya sendirian," ujar Hanin sambil mengelus lembut punggung Echa.
Caca selalu berharap kalau ini cuman mimpi, tapi ini adalah kenyataannya. ucap Echa dalam hati.
...----------------...
15 menit telah berlalu, Echa dan Hanin sudah sampai di rumah Mutiara.
Setelah kejadian di mobil tadi, Echa sedikit lega dengan apa yang selama ini membebani hatinya.
"Kita kira Caca gak bakalan datang," ucap Nathan.
"Caca pasti dateng ko, Caca gak mau karena perginya Kak Bara hidup Caca jadi gak ada semangatnya sama sekali," ujar Echa sambil tersenyum manis.
Sedangkan semua orang yang berada di rumah itu hanya tersenyum penuh arti dan saling menatap satu sama lain.
"Hebat ya Ca, bisa sekuat ini. Padahal long distance relationship itu gak enak," ucap Ivy.
"Meskipun berat tapi Caca gak bisa apa-apa," ujar Echa.
"Oh iya Kak Tiara mana?" tanya Echa yang mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin air matanya turun di saat seperti ini.
"Tiara ada di dapur, lagi buat makanan." jawab Alvero.
"Caca pergi bantuin Kak Tiara aja ya," ucap Echa.
"Bantu aja Ca, itu emang kita tunggu," ujar Ivy polos.
"Ya udah Caca pergi dulu ya," ucap Echa sambil berlalu pergi, di saat yang bersamaan dengan perginya Echa, semua orang yang sedang berkumpul itu saling tersenyum penuh arti.
"Gak tau ya Ca, kalau di dapur ada apa?" tanya Ivy dengan suara yang pelan dan senyuman penuh arti.
Saat Echa tiba di dapur, dia tidak melihat ada keberadaan Tiara di sini, dia hanya melihat beberapa makanan yang belum jadi.
Echa langsung membereskan makanan yang sedang Mutiara simpan begitu saja.
Dia sedang memotong bawang merah yang masih utuh. Namun karena dirinya terlalu banyak melamun jari tangannya itu sedikit tersayat oleh pisau yang dia pegang sendiri.
"Aww..." ringgis Echa saat melihat jari tangannya yang berdarah.
"Kalau lagi di dapur jangan ngelamun." ucap seseorang yang berada di belakang Echa. Seseorang yang Echa kenali.
Gak mungkin. ucap Echa dalam hati saat mendengar ucapan seseorang yang berada di belakangnya.
Orang tersebut langsung membalikkan tubuh Echa dan melihat luka yang ada di tangannya. Sedangkan Echa hanya diam tak berkutik melihat seseorang yang berada di hadapannya ini.
Kak Bara. ucap Echa dalam hati sambil menatap orang tersebut yang sedang membersihkan darah di jarinya.
Gak mungkin, Caca pasti lagi halu, Kak Bara lagi di luar negeri kenapa bisa tiba-tiba disini? Ini halu seratus persen pasti halu banget.ujar Echa dalam hati sambil menarik tangannya dan memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.
Ibu, tolongin Caca, ini pasti bohong kan? jangan buat Caca berharap lebih kalau Kak Bara emang datang beneran. Caca gak mau sakit lagi, baru aja tadi nangis. Seseorang atau siapapun tolong sadarin Caca dari halu ini. sambung Echa dalam hati.
"Gak mungkin." ucap Echa sambil mengucek matanya. Namun hasilnya nihil, orang yang Echa panggil dengan sebutan Bara itu masih belum menghilang dari hadapannya.
"Iya ini Kakak," ujar Bara yang sedang menatap gemas ke arab Echa.
"Masih gak percaya kalau ini Kakak?" tanya Bara.
"Ini beneran Kakak kan?" tanya Echa sambil menatap wajah Bara yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Iya." Jawab Bara sambil memeluk Echa.
Echa yang mendapat pelukan itu langsung membalas pelukan Bara, melepas rasa rindu ya g baru saja di tinggal selama 1 hari, tapi baginya 1 hari itu ibarat 1 abad
......................
...Mengikhlaskan dan melepaskan itu dua hal yang paling berat untuk di laksanakan....
...•Hanin Anjani Tifanka...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
anggi ferfetty
aku kirain bara udh prgi 1th yg lalu,, ehh tau tau nya bru 1hri doang
2024-12-01
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓴𝓲𝓻𝓪𝓲𝓷 𝓼𝓪𝔂𝓪 𝓑𝓪𝓻𝓪 𝓽𝓾𝓱 𝓹𝓮𝓻𝓰𝓲𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓪𝓱 1 𝓶𝓲𝓷𝓰𝓰𝓾 𝓮𝓱 𝓽𝓮𝓻𝓷𝔂𝓪𝓽𝓪 𝓫𝓪𝓻𝓾 1 𝓱𝓪𝓻𝓲 🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2022-09-30
0
🥰Ani🥰
bacanya sambil ngiris bawang gini deh jadinya 😭😭😭😭😭
2022-06-19
1