Selamat Membaca🤍
Setelah kejadian di dapur tadi, semua orang langsung berkumpul di ruang tamu.
"Gimana Ca?" tanya Azka sambil tertawa.
"Biasa aja." jawab Echa.
"Biasa aja apa luar biasa banget?" tanya Hanin yang sedang menaik turunkan alisnya.
"Ish, kenapa sih, jangan gitu Caca malu," jawab Echa sambil menutup wajahnya yang terlihat memerah. Semua orang hanya yang ada di sana hanya tertawa melihat Echa yang memerah seperti itu.
"Oh iya, Kak Rara, Shiren sama Kak Gavin mana?" tanya Ivy yang sedang memakan cemilan.
"Rara lagi keluar negeri sama orang tuanya, kalau Gavin sama Shiren gak tau dimana," jawab Mutiara.
"Terus Devan?" tanya Echa.
"Devan bakalan kesini Ca, ngapain nanyain dia?" tanya Hanin sambil tersenyum penuh arti.
"Oh, gak apa-apa Caca cuman tanya aja," jawab Echa yang merasakan tatapan Bara sedang menuju ke arahnya saat mendengar nama Devan di sebut olehnya.
"Permisii! ada orang?" teriak seseorang sambil masuk kedalam rumah.
"Tuh yang ditanyain nongol, panjang umur," ucap Alvero saat mendengar suara teriakan orang tadi.
"Woi Van, ini rumah bukan hutan." ucap Azka.
"Aelah ya maaf, kirain gak ada orang, dari tadi Pijit-pijit bel gak ada yang bukain pintu." ujar Devan.
"Udah, duduk dulu pasti capek kan?" tanya Mutiara sambil memberikan Devan air putih.
"Ah baik banget," jawab Devan sambil mengambil air putih itu dan duduk di sebelah Echa.
Sedangkan Bara yang melihat itu langsung melemparkan gelas aqua yang sudah habis kearah Devan.
Pletak.
Gelas aqua itu tepat mengenai kepala Devan, sasaran Bara tak pernah meleset sedikitpun.
"Ck, iya Devan ngerti, Devan lesehan aja di bawah." ucap Devan sambil duduk di bawah karpet namun kini Devan duduk lebih dekat ke arah Echa.
"Kakak, kasian tau jangan gitu." ucap Echa sambil menatap tajam kearah Bara. Sedangkan Bara hanya menghela napasnya pasrah saat Echa sudah menatap dirinya seperti itu.
"Aaaa, Hanin juga pengen kayak gitu," ujar Hanin yang melihat pertengkaran antara Bara dan Echa.
Pletak.
Suara itu terdengar dari kepala Hanin yang di lempar bekas gelas aqua oleh Nathan.
"Gitu kan?" tanya Nathan.
"Ish, gak ke Hanin juga Kak. Sakit nih, gimana kalau Hanin jadi amnesia terus lupa sama semua orang?" tanya Hanin yang menatap kesal ke arah Nathan.
"Bukannya tadi pengen kayak Bara? Kak Nathan gak salah dong Nin," jawab Ivy yang tertawa melihat Hanin mengaduh kesakitan.
"Untung temen." ucap Hanin sambil mengelus dadanya.
Semua orang tertawa mendengar pertengkaran antara Hanin dan Ivy yang tidak ada beres-beresnya, Echa melihat tawa bahagia itu dirinya seolah kembali teringat tentang kejadian malam gerhana bulan merah.
FLASHBACK ON
Echa berada di suatu tempat yang bernuansa serba putih, matanya terus melihat sekeliling tempat tersebut, dia tidak melihat apa-apa, bahkan dirinya tidak melihat satupun orang.
"Ibu!!" teriak Echa sambil melihat sekeliling ruangan putih itu.
"Nak, kemari lah," ucap seseorang yang suaranya Echa kenali.
Mama. ucap Echa dalam hati.
"Mari kita pulang, Caca udah terlalu capek kan?" tanya suara itu lagi.
"Mama dimana?" tanya Echa saat mendengar suara Mama nya itu.
"Ayo." ajak Mama Echa yang kini sudah ada di hadapan Echa, dia melihat wajah yang sudah membesarkannya selama ini, meskipun hanya membesarkan saja tapi Mama nya itu telah membantunya merangkak, berjalan dan berlari.
"Mama, Caca kangen banget sama Mama." ucap Echa sambil memeluk Mamanya itu.
"Kamu udah tau semuanya ya?" tanya Mama nya itu. Echa hanya menganggukkan kepalanya sambil terus memeluk Mamanya itu.
"Ayo pergi. Tugasmu sampai disini, Mama gak mau kamu capek sama kemampuan yang kamu milikin," ucap Mamanya itu.
"Tapi ibu?" tanya Echa.
"Caca!" teriak Hanin yang menggema di seluruh ruangan, teriakan yang belum pernah Echa dengar.
"Hanin?" tanya Echa sambil melihat sekeliling ruangan.
"Ca," panggil Bara yang suaranya menggema di ruangan putih itu.
"Kak Bara?" tanya Echa.
"Ayo. Mama gak mau liat kamu sakit lagi," ajak Mamanya sambil menggenggam tangan Echa untuk membawanya pergi.
"Kakak keliatan baik-baik aja di luar Ca, Kakak tenang di luar, Kakak kayak yang gak peduli waktu Caca pergi, Itu cuman di luar aja Ca, Tolong dengerin hati Kakak, Caca pasti bisa dengerin suara hati Kakak," ucap Bara.
"Kakak," panggil Echa sambil meneteskan air matanya.
"Ayo Nak." ajak seseorang yang suaranya Echa kenali.
Ayah. ucap Echa dalam hati saat melihat orang tersebut juga sudah menggenggam tangannya.
"Ayo kita pergi, kamu sudah menyelesaikan semuanya," ajak Ayahnya itu. Echa menganggukkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya.
"Kakak mohon untuk yang satu ini, Kakak mohon Caca bangun, Kakak bakal turutin apa aja mau Caca, apapun itu Kakak janji," ucap Bara dengan suara seraknya.
Langkah Echa langsung terhenti saat mendengar ucapan Bara.
"Kenapa berhenti?" tanya Mamanya.
"Ayo Nak." ajak Ayahnya. Echa menganggukkan kepalanya lemah, dia terlihat ragu dalam melangkah.
"Ca. Ini Ibu Nak,"ucap Ibunya Echa yang kini suara menggema.
"Ibu?" tanya Echa yang memberhentikan langkahnya lagi.
"Ayo Nak bangun, apa kau tidak mau memeluk ibumu ini?" tanya Ibunya Echa.
"Caca mau Bu, Caca mau peluk Ibu tapi Caca harus pergi," jawab Echa.
"Ayo Nak bangun, kamu pasti mendengarkan suara ibu," ucap Ibunya Echa.
"Iya Bu, Caca denger suara Ibu disini, Caca jiga denger suara semuanya," ujar Echa yang kini sedang menangis.
"Siapa yang memberatkan mu pergi?" tanya Mamanya Echa sambil mengelus lembut rambut Echa.
"Semuanya," jawab Echa.
"Tapi ini sudah waktunya kamu pergi," ucap Ayahnya Echa sambil menghapus air mata Echa.
"Ca, apa yang harus Kakak bilang ke Mama soal Caca?" tanya Bara.
"Bunda An," ucap Echa.
"Kakak gak bisa nge hadapin Mama pas nanti tanya dimana Caca, kemana Caca, kenapa Caca. Kakak gak bisa nge hadapin pertanyaan Mama," ujar Bara.
"Jaga dirimu baik-baik Nak." ucap Mamanya Echa sambil tersenyum ke arahnya.
"Kami akan selalu menjagamu disini," ucap Ayahnya Echa sambil mencium keningnya.
Secara bersamaan wajah Mama dan Ayahnya menghilang bersama dengan cahaya putih yang menyilaukan mata dan semuanya langsung menggelap, dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
FLASHBACK OFF
Setelah kejadian itu, Bara tidak pernah mengingkari janjinya, Bara selalu menuruti apa kemauan Echa.
Roslyn Ibunya Echa, dia sedang mengurus beberapa perusahaan yang sempat berhenti di tangan keluarganya dan perusahaan yang sempat dia rintis sendiri.
"Udah gak boleh ribut," ucap Mutiara saat mendengar percakapan antara Hanin dan Ivy yang masih belum berhenti.
"Eh, gimana kalau kita liburan?" tanya Devan.
"Bener juga kata Devan," ucap Alvero.
"Tapi enaknya kemana?" tanya Azka.
"Gimana kalau ke daerah pedesaan gitu? Menurut Devan sih mending ke pedesaan gitu, soalnya hidup kita penuh dengan polusi," ucap Devan.
"Emang ada saudara di sana?" tanya Nathan.
"Apa sangkut pautnya sama saudara?" tanya Devan bingung.
"Terus mau tidur dimana? Mau lesehan?" tanya Bara sambil menatap ke arah Devan yang sedang menyandarkan tangannya ke kaki Echa.
"Terkadang orang yang lagi marah cepat tanggap ya," ucap Mutiara.
"Iya juga sih, kita mau tinggal dimana coba?" tanya Hanin.
"Ngontrak aja." jawab Ivy polos.
"Vi, lain kali naro otaknya jangan di dengkul, di kira kontrakan itu segede apa?" tanya Azka.
"Ya kalau kita cari nya yang gede bakalan gede," jawab Ivy.
"Shiren tau tempatnya," ucap Shiren yang datang secara tiba-tiba bersama dengan Gavin di belakangnya.
"Kirain gak bakalan kesini," ujar Echa.
"Bakalan lah Ca," ucap Shiren sambil duduk di sebelah Echa.
"Jadi dimana tempatnya?" tanya Nathan to the point.
"Shiren punya satu Villa di perkebunan gitu tapi udah lama gak di pake sih," jawab Shiren.
"Gimana kalau ada hantunya?" tanya Ivy.
"Bukannya itu yang kita liat sehari-hari ya Vi?" tanya Echa.
"Caca sama Shiren aja Vivi gak ikutan," jawab Ivy.
"Tau jalannya?" tanya Bara.
"Terakhir kali Shiren kesana itu waktu kelas 3 sd. Kayaknya masih inget deh," jawab Shiren.
"Seru gak? Banyak kembang desanya gak?" tanya Azka.
"Kembang desa banyak tuh di pinggir jalan." jawab Ivy sewot.
"Sewot banget." ucap Azka.
"Kayaknya sih banyak kalau emang mereka masih bertahan buat gak nge rantau ke jakarta." ujar Shiren.
"Ya udah kalau gitu otw nya kapan?" tanya Alvero.
"Besok!" jawab semua orang kompak.
......................
...Hal yang menyakitkan adalah perginya seseorang....
...•Ivy Oktaviani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Bunda'a Glang
Tim baca ulang kembali
2024-02-07
1
Indy
lanjuuuuttt...
2023-12-28
0
Park Kyung Na
👍👍
2022-11-28
0