Siang telah berganti menjadi malam namun Mang Abri dan Ayu masih belum pulang ke rumahnya.
Saat ini Echa sedang menatap indahnya langit di balkon kamarnya, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
Mama, Papa, makasih udah ngerawat Caca sampai sebesar ini, meskipun Caca bukan anak kandung kalian. Ucap Echa yang sedang menatap langit malam bertabur bintang.
Kalian pasti lagi liat Caca kan? dengerin suara hati Caca juga ya, semoga kalian baik-baik aja di sana. sambung Echa dalam hati.
"Liat apa?" tanya seseorang dari belakang Echa, dia tidak perlu membalikkan tubuhnya karena Echa sudah tau siapa orang yang berada di belakangnya itu.
"Liat bintang, siapa tau aja ada yang jatuh," jawab Echa sambil menatap orang itu yang kini sudah berada di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Bara?
"Emang bintang bisa kabulin permintaan?" tanya Bara yang kini sedang menatap langit.
"Kata orang-orang sih bisa, tapi Caca belum pernah liat bintang jatuh, jadi Caca mau coba mitos itu," jawab Echa sambil tersenyum.
"Kalau misal sekarang ada bintang jatuh, Caca mau minta apa?" tanya Bara.
"Caca cuman minta kuatin hati orang-orang yang sayang sama Caca pas nanti Caca pergi," jawab Echa.
"Kenapa bilang gitu?" tanya Bara.
"Itu pasti kak, Caca gak bisa selamanya bertahan," jawab Echa sambil menatap Bara yang juga sedang menatap dirinya. Sedangkan Bara hanya menghela nafasnya kasar.
"Mang Abri sama Ayu udah pulang belum?" tanya Echa.
"Belum, masih ada di bawah," jawab Bara.
"Ayu juga pasti lagi ikut ngumpul ya?" tanya Echa.
"Iya," jawab Bara.
"Terus kenapa Kakak kesini?" tanya Echa.
"Mau liat Caca," jawab Bara dengan senyuman tipisnya.
"Apaan sih Kak, receh tau gak?" tanya Echa.
"Gak tau, tapi itu nyatanya," jawab Bara.
"Masih mau disini?" tanya Bara sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Kakak mau kemana?" tanya Echa.
"Ke bawah. Yang lain udah nunggu," jawab Bara.
"Nanti Caca nyusul," ucap Echa. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan berlalu pergi dari kamar itu.
Echa masih menatap indahnya langit malam dengan di penuhi bintang-bintang. Namun saat dirinya ingin membalikkan tubuhnya, matanya terpaku pada seorang wanita yang mengendap ngendap dengan biola yang ada di tangannya.
"Siapa dia? Kenapa jalannya harus ngendap-ngendap kayak gitu?" tanya Echa sambil menyipitkan matanya.
"Ca," panggil Hanin yang sedang menepuk pundak Echa.
"Eh, iya? Kenapa Nin?" tanya Echa kaget.
"Liat apa sih?" tanya Hanin.
"Tadi Caca liat ada orang di sana," jawab Echa sambil menunjuk salah satu pohon yang tadi dia temui gadis dengan alat musik biola di tangannya.
"Mana?" tanya Hanin sambil melihat ke arah yang Echa tunjuk, namun kini gadis itu sudah tidak ada lagi, tidak ada apapun di tempat yang Echa tunjuk.
"Serius tadi Caca liat ada orang disana," jawab Echa.
"Udah ah ayo, Caca belum makan mungkin itu Ayu," ucap Hanin yang kini sedang menuntun Echa untuk mengikutinya.
Sedangkan Echa masih terus menatap ke arah pohon itu.
Itu manusia atau bukan ya? tanya Echa dalam hati.
...----------------...
Sesampainya di meja makan, Echa melihat banyak sekali makanan yang di sajikan oleh Ayu dengan aroma yang memanjakan hidung dan perut.
"Wah banyak banget," ucap Echa saat melihat banyaknya lauk pauk yang di sajikan.
"Iya lah buatan siapa dulu," ujar Azka.
"Yang bikin Ayu yang sombong kenapa Kakak ya?" tanya Echa sambil tertawa.
"Harus bangga dengan apa yang kita miliki bukan begitu tuan Bara?" tanya Azka yang sedang menatap Bara.
"Tidak perlu repot, cukup satu tapi pasti." jawab Bara dengan senyuman sinis nya.
"Emang bener-bener ya Bar, udah Azka puji setinggi-tingginya eh di jatuhin," ucap Azka.
"Gak kebalik?" tanya Bara. Sedangkan Azka hanya mendengus kesal menanggapi ucapan Bara, bagaimana pun Azka memuji nya Bara akan tetap menjatuhkannya dengan perkataan yang dia ucapkan, semacam senjata makan tuan.
"Mampus." ucap Gavin saat melihat senyuman sinis dari Bara. Azka terlalu banyak mempermainkan Bara yang bisa saja memutarkan perkataan seseorang.
"Kakak." ujar Shiren yang mendengar perkataan Gavin.
"Rasain," gumam Azka yang suara nya masih bisa di dengar oleh Gavin, karena Gavin berada di sampingnya. Sedangkan Gavin hanya menghela nafasnya.
"Silahkan dimakan," ucap Ayu yang memberikan piring kepada masing-masing orang.
"Makasih," ujar semua orang.
Namun saat Bara ingin mengambil piringnya dengan cepat Ayu mengambilkan nasi untuk Bara.
"Biar Ayu ya A Bara," ucap Ayu sambil menuangkan nasi ke piring Bara, sedangkan Bara langsung menatap ke arah Echa yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Biar Kakak aja, Kakak bisa sendiri." ujar Bara yang mencoba untuk sedikit menjauhi Ayu.
"Gak apa-apa A, ini kan tugas Ayu," ucap Ayu yang kembali menuangkan lauk pauk ke piring Bara.
Sedangkan Echa yang melihat itu hanya bisa diam dan menghela nafasnya pelan. Semua orang yang ada di meja makan itu bahkan menatap Echa yang sedang menahan rasa kesalnya.
"Bara aja? Aa Azka engga?" tanya Azka sambil menyerahkan piring ke arah Ayu.
"A Azka ambil aja sendiri," jawab Ayu sambil menyerahkan nasi ke Azka.
"Ayu, Kakak bisa sendiri." ucap Bara dengan tatapan tajam dan nada menusuk. Ayu yang mendengar penuturan tersebut langsung menyimpan lauk pauk yang ada di tangannya ke meja makan.
"Iya A, maafin Ayu udah lancang," ujar Ayu yang kini menundukkan kepalanya.
"Hm." gumam Bara.
"Aa Azka kan udah bilang jangan pernah deketin Bara, mau sekeras apapun deketin Bara gak bakalan mempan," ucap Azka.
"Ayu permisi ke dapur dulu," ujar Ayu sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
Bara langsung melihat ke arah Echa yang sedang sibuk menuangkan makanan ke piringnya dengan wajah yang sedikit kesal.
...----------------...
30 menit berlalu, mereka sudah selesai dengan makannya, tanpa ada yang berbicara hanya ada suara dentingan sendok menemani keheningan di meja makan itu.
"Udah makannya?" tanya Ayu yang tiba-tiba datang dari arah dapur.
"Udah, biar Caca bantu," jawab Echa sambil membantu Ayu yang sedang membereskan piring.
"Makasih Teh," ucap Ayu, Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayu mau nginep disini?" tanya Echa.
"Gak tau teh tapi Bapa kayaknya bakalan tidur disini," jawab Ayu.
"Ayu gak mau nginep disini? Ini udah larut malam," ucap Echa.
"Ayu mah gimana Bapak aja, kalau disuruh ya Ayu nginep," ujar Ayu.
Echa kembali teringat dengan seseorang yang dia temui di pohon itu.
"Ayu tau gak orang yang suka main biola?" tanya Echa.
"Oh itu Teh ida, teteh liat teh Ida ya tadi?" tanya Ayu.
"Teh Ida?" tanya Echa.
"Iya, itu teteh nya Ayu, Teh Ida emang jarang keluar, sekalinya keluar sambil bawa-bawa biola kesayangannya," jawab Ayu.
"Oh, itu ya teh Ida, suka banget main biola?" tanya Echa.
"Suka banget, hampir tiap hari selalu mainin lagu yang beda," jawab Ayu.
"Lain kali kenalin Caca sama Teh Ida ya, orangnya cantik banget," ucap Echa.
"Iya teh, nanti Ayu kenalin, tapi teh Ida jarang ngomong bahkan sama orang-orang di kata sombong," ujar Ayu.
"Gak apa-apa, kan Caca belum kenal sama teh ida," ucap Echa sambil tersenyum.
......................
...Seberapa keras menyembunyikannya, cepat atau lambat semua akan terungkap dengan sendirinya. ...
...•Alvero...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓐𝔃𝓴𝓪 𝓳𝓷𝓰𝓷 𝓴𝓸𝓶𝓹𝓸𝓻 𝓭𝓮𝓱🤭🤭🤭🤭
2022-09-30
0
Winar hasan
devan kemana???dia ikut kan???semobil ma shiren..
2022-07-14
0
Mrs.tomioka
ini novel terfav dech😭💕
2022-06-22
0