Echa yang melihat kepergian Gaida ke dapur itu langsung berinisiatif untuk membantunya.
Echa berdiri dari duduknya untuk menyusul Gaida.
"Kemana?" tanya Bara yang sedang asyik bermain game online bersama dengan yang lainnya.
"Mau ke kamar mandi dulu," jawab Echa berbohong.
"Jangan lama." ucap Bara sambil menatap Echa.
"Iya," sahut Echa sambil melangkahkan kakinya ke arah dapur.
Sesampainya disana Echa melihat Gaida dan ibunya itu sedang sibuk membuat cemilan.
"Permisi bu," ucap Echa. Ibu Ayu langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah Echa.
"Ada apa neng?" tanya Ibu Ayu.
"Caca boleh bantuin gak?" tanya Echa.
"Gak usah neng, nanti tangannya luka-luka, Gaida juga sama Ayu udah cukup buat bantuin ibu," jawab Ibunya Ayu.
"Gak apa-apa bu, Caca juga sering bantuin Ayu di Vila," ucap Echa.
"Ya udah neng kalau maunya gitu, boleh bantuin tapi jangan yang berat-berat ya." ujar Ibunya Ayu.
"Iya bu makasih." ucap Echa sambil duduk di sebelah Gaida.
"Caca boleh bantuin Kak ida?" tanya Echa dengan senyuman manisnya.
"Boleh." jawab Gaida singkat.
Echa dan Gaida sedang sibuk mengupas buah pepaya yang akan dijadikan manisan. Tidak ada percakapan apapun antara Gaida dan Echa.
"Kak Caca disini juga?" tanya Ayu yang tiba-tiba datang.
"Eh iya Ayu," jawab Echa sambil menatap ke arah Ayu.
"Kenapa gak sama yang lain teh?" tanya Ayu.
"Disana gak ada yang seru, udah biasa kumpul sama mereka, jadi Caca mau coba in kumpul disini sama kalian," jawab Echa.
"Oh iya atuh teh makasih ya," ucap Ayu. Sedangkan Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak Ida, Caca boleh tanya sesuatu gak?" tanya Echa.
"Boleh." jawab Gaida.
"Kak ida suka ya main biola?" tanya Echa.
"Iya." jawab Gaida.
"Sejak kapan Kak?" tanya Echa.
"Udah dari dulu." jawab Gaida sambil menatap mata Echa.
Echa yang di tatap oleh gaida tidak ingin kesempatannya hilang, dia kembali menatap mata Gaida sambil tersenyum manis.
Dari tatapan Gaida, Echa dapat melihat kesedihan yang begitu dalam, penyesalan dan harapan untuk hidupnya hampir pupus. Echa juga dapat melihat kasih sayang Gaida kepada Mira yang begitu dalam sampai saat ini.
"Kenapa bakatnya gak di salurin lewat event-event yang ada di sosial media? Kalau Kakak ikut pasti menang." ucap Echa.
"Gak mau." ujar Gaida.
"Maaf ya neng Ida emang gitu orangnya," ucap Ibunya Ayu.
"Gak apa-apa Bu, Caca paham kok," ujar Echa sambil tersenyum ke arah Gaida yang juga sedang menatapnya.
"Kak Ida, Caca boleh dengerin gak suara biola kakak?" tanya Echa.
"Gak." jawab Gaida.
"Caca pernah denger suara biola dan itu enak banget, Caca ngerasain di nada itu ada kasih sayang seorang adik terhadap Kakak nya," ucap Echa sambil menatap Gaida, Echa dapat melihat raut wajah Gaida yang menjadi sedih.
Gaida tidak membalas perkataan Echa, dirinya langsung berdiri dari tempat duduknya dan membawa wadah berisi pepaya yang sudah di potong.
"Bu, Caca keluar dulu ya, maaf cuman bisa bantu segini," ujar Echa
"Gak apa-apa neng, malahan ibu yang harusnya bilang maaf," ucap Ibunya Ayu
"Gak apa-apa bu, Caca pergi dulu ya" pamit Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
"Kemana dulu?" tanya Bara saat Echa duduk di sebelahnya.
"Caca bantuin dulu di dapur." jawab Echa.
"Oh," ucap Bara singkat sambil kembali memainkan game nya.
"Dih, udah gitu aja?" tanya Echa.
"Iya," jawab Bara yang sedang tersenyum ke arah Echa.
"Ca," panggil Shiren.
"Apa?" tanya Echa.
"Shila," jawab Shiren.
Echa langsung melototkan matanya saat mendengar perkataan Shiren.
"Kenapa kayak yang ketakutan gitu?" tanya Hanin saat melihat perubahan raut wajah Echa.
"Shila," jawab Echa.
"Mampus kita kelupaan," ucap Ivy.
"Emang Shila mau ikut ya?" tanya Mutiara.
"Iya, waktu malem sebelum berangkat kita sempet ngajak Shila buat ikut," jawab Shiren.
"Terus gimana?" tanya Mutiara.
"Mungkin sekarang dia lagi marah-marah karena di tinggal," jawab Ivy.
"Dan mungkin nanti pas kita pulang Shila bakalan lebih marah," sambung Hanin.
"Emang gak bisa di panggil?" tanya Mutiara.
"Bisa, tapi kalau kita memanggil Shila, otomatis bakalan ada mahluk lain yang terpanggil dan akhirnya mereka bakal kumpul di Vila," jawab Shiren.
"Niat kita liburan, jangan dulu yang mistis-mistis," ucap Mutiara.
"Maunya kita sih gitu,tapi gak tau kan kalau kedepannya bakalan gimana," ujar Shiren.
"Kalian ngerasain ada yang aneh gak pas di Vila?" tanya Echa secara tiba-tiba.
"Gak ada," jawab Mutiara.
"Hanin juga gak ngerasain ada apa-apa bahkan gak ngerasain ada aura jahat." ucap Hanin.
"Shiren ngerasain ada sih sekali, waktu itu Shiren lagi duduk sendiri di kursi ruang tamu tiba-tiba ada suara kayak musik balet gitu," jelas Shiren.
"Terus?" tanya Echa penasaran.
"Shiren ngerasain gak asing sama suara musik nya kayak pernah denger." jawab Shiren.
"Pas Shiren cari sumber suaranya tiba-tiba udah gak ada lagi, dan Shiren ngeliat kayak sekelebat bayangan orang lagi duduk cantik banget," sambung Shiren.
"Pake baju balet?" tanya Echa.
"Bukan, kayak habis penobatan gitu, Shiren juga ngerasa gak asing sama wajahnya, kayak pernah kenal sama orangnya tapi gak tau," jawab Shiren.
"Udah gitu aja?" tanya Hanin.
"Udah, dari situ gak ada apa-apa lagi," jawab Shiren.
"Ini cerita Vivi, tapi kalian jangan kaget," ucap Ivy.
"Apa?" tanya Mutiara, Hanin dan Shiren kompak.
"Vivi ngerasa ada yang aneh di keluarga ini, gak tau emang perasaan Vivi atau emang bener adanya kalau Mang Abri itu punya 3 anak bukan 2 anak," jawab Ivy dengan suara yang sedikit di pelan kan.
"Masa sih? di rumah ini gak ada potonya, masa iya Mang Abri setega itu sama anaknya," ucap Mutiara yang sedikit berbisik.
"Sebagai buktinya, Vivi liat visual itu di mata Ayu sama Mang Abri, Vivi sempat liat masa lalunya tapi gak terlalu jelas," ujar Ivy.
"Apa yang Vivi liat?" tanya Echa.
Namun saat Ivy ingin menjawab pertanyaan Echa tiba-tiba Ayu datang dengan nampan yang berisi air minum.
"Maaf ya teh kelamaan, Ayu juga lupa ngasih minum, maaf ya," ucap Ayu sambil memberikan minuman.
Echa juga melihat Ayu yang terus memandang Bara secara terang-terangan, sedangkan Bara masih terus memainkan ponselnya.
Kak Bara punya Caca! jangan diliat! ucap Echa dalam hati sambil menatap kesal ke arah Ayu yang kini sedang duduk di sebelah kiri Bara sedangkan Echa berada di sebelah kanan Bara.
"Kak," panggil Echa sambil menarik hoodie milik Bara.
"Apa?" tanya Bara yang masih terus fokus pada gamenya.
"Geser sini dikit," jawab Echa sambil mengarahkan Bara untuk menggeser tubuhnya ke sebelah kanan. Bara langsung menggeserkan tubuhnya ke sebelah kanan tanpa mengetahui bahwa Echa sedang menahan rasa kesalnya.
......................
...Diam bukan berarti memberi jalan....
...•Echa Aprilia Anjani...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
lola
ya ampun baru mau bilang lvy nya
2022-11-22
1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓳𝓾𝓳𝓾𝓻 𝓪𝓳𝓪 𝓪𝓽𝓾𝓱 𝓔𝓬𝓱𝓪 𝓴𝓵 𝓑𝓪𝓻𝓪 𝓹𝓾𝓷𝔂𝓪 𝓴𝓪𝓶𝓾🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2022-09-30
0
Winar hasan
takut amat bar...hihiiiii
2022-07-14
0