MY BERONDONG
Pagi itu cerah. Sinar mentari menyapa lembut, menembus dedaunan yang berayun pelan. Kicau burung-burung saling bersahutan, menambah riuh suasana.
Seorang perempuan tampak kesusahan membawa kantong besar berisi pakaian yang harus diantar hari ini. Dialah Lyra, mahasiswi jurusan Matematika di Universitas Bina Nusantara.
"Aduh, banyak banget sih yang harus diantar. Kapan selesainya ini? Mana tugas kuliah belum kelar lagi. Kenapa harus aku, sih? Kan ada Vanes. Nasib tinggal sama saudara, selalu begini," gerutunya sambil menyalakan motor.
Lyra memang tinggal bersama pamannya sejak kedua orang tuanya tiada. Sayangnya, istri sang paman tidak pernah benar-benar menginginkan Lyra sukses.
Baru beberapa meter melaju, Lyra terpaksa menginjak rem mendadak. Di seberang jalan, sekelompok pelajar tengah tawuran. Suasana ricuh, saling pukul, lempar, bahkan beberapa membawa benda keras. Tak ada jalan lain untuk dilewati.
Tepat di depan matanya, seorang pelajar memukuli lawannya tanpa henti. Naluri Lyra mendorongnya turun tangan. Ia memarkir motornya, meraih kayu di pinggir jalan, lalu berlari ke arah mereka.
"Hei! Hentikan! Dia bisa mati kalau kamu pukul terus!" teriak Lyra sambil mengangkat kayu itu.
"Lepas! Biarin anak sombong ini tamat sekalian!" sahut pelajar itu sambil berusaha merebut kayu dari tangannya.
Mereka sempat saling tarik-menarik. Lyra tetap berusaha keras mempertahankan kayu itu. Hingga akhirnya remaja itu gusar, melepaskan tangannya secara kasar. Lyra terhuyung ke belakang, dan kayu berhasil direbut.
Belum sempat ia bangkit, kepalanya dihantam kayu itu dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa menghantam syarafnya, pandangan Lyra berkunang-kunang, lalu gelap. Tubuhnya jatuh tak berdaya.
Warga sekitar panik dan berlari menghampiri. Para pelajar langsung kabur. Beberapa orang segera menelpon ambulans.
---
Di rumah sakit
Lyra membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, namun sosok paman, tante, dan sepupunya sudah berdiri di hadapannya.
"Lyra, syukurlah kamu sadar. Bagian mana yang sakit? Bilang sama Paman," ujar pamannya cemas, membantu Lyra duduk.
"Alah, paling juga cuma keseleo," sahut tantenya ketus, tanpa rasa kasihan.
Lyra menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Aku nggak apa-apa kok, Paman. Hanya sedikit keseleo," jawabnya lembut.
"Makanya lain kali jangan sok jadi pahlawan. Akhirnya begini kan," sindir Vanes, sepupunya.
"Sudah, sudah! Bukannya kasihan, malah dihujat. Lyra sedang sakit, jadi mulai hari ini tugas antar laundry kamu saja, Vanes," tegas sang paman.
"Apa? Kok jadi aku? Itu kan kerjaannya Lyra. Tugasku hanya fokus belajar," protes Vanes.
"Lyra juga kuliah. Dia belajar juga, tapi masih sempat antar laundry. Sekarang dia sakit, masa mau dipaksa lagi? Kamu harus belajar mandiri!" bentak pamannya.
"Ini semua gara-gara kamu! Dasar anak sial!" Vanes melotot pada Lyra.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya. Tante dan Lyra terkejut, sementara air mata Vanes jatuh. Ia meraih tasnya dan pergi meninggalkan ruangan.
"Mas! Apa yang kamu lakukan? Dia anak kita, demi anak orang kamu tega menamparnya!" teriak tantenya.
"Kamu dengar sendiri kan ucapannya? Ingat, Lyra bukan orang lain. Dia anak abangku. Sama seperti Vanes, dia juga anakku!" tegas paman.
Tantenya mendengus sinis pada Lyra, lalu pergi menyusul Vanes.
Paman menoleh lembut. "Lyra, tunggu sebentar ya. Paman kejar mereka dulu."
Lyra hanya mengangguk.
---
Pertemuan dengan Reyhan
Tak lama kemudian, seorang remaja laki-laki masuk. Kepalanya diperban, tubuhnya duduk di atas kursi roda. Ia mendorong kursinya mendekat ke arah Lyra.
"Maaf, kamu bagaimana? Lukamu parah nggak?" tanyanya.
Lyra mengerjap. "Oh, kamu pelajar itu ya? Aku sudah mendingan kok." Ia tersenyum.
Remaja itu mengulurkan tangan. "Namaku Reyhan."
"Aku Lyra." Ia menyambut uluran tangannya.
Reyhan sempat terdiam, lalu bertanya, "Umur kamu berapa?"
"24 tahun," jawab Lyra sambil tersenyum.
"Kamu nggak mau nanya umurku?" balas Reyhan, mengangkat alis.
"Haha, untuk apa? Aku juga tahu kamu lebih muda," candanya.
Reyhan menghela napas, lalu berkata lirih, "Terima kasih sudah menolongku tadi. Aku kira... aku akan mati."
"Lain kali jangan suka tawuran, dek. Nggak baik. Bisa-bisa nyawamu melayang," nasihat Lyra.
"Aku tahu itu. Tapi kamu nggak ngerti masalahnya. Aku nggak salah apa-apa," Reyhan membela diri.
"Oalah, panggil aku kakak dong. Kita jelas bukan seumuran," ujar Lyra sambil terkekeh.
"Aku nggak mau," sahut Reyhan kesal, lalu memutar kursi rodanya, meninggalkan Lyra.
Lyra mendengus. "Kenapa sih anak itu? Nggak ada sopan-sopannya. Anak zaman sekarang labil semua, huh."
Malam di Rumah Sakit
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Setelah diperiksa, dokter menyarankan Lyra boleh pulang karena lukanya tidak terlalu serius.
Merasa bersalah karena tadi sempat membuat Reyhan marah, Lyra menitipkan sebatang cokelat dan secarik surat untuknya. Suster pun membawakannya ke kamar Reyhan.
Reyhan membuka amplop kecil itu. Di dalamnya ada tulisan singkat:
> Hy, maaf karena sudah membuatmu marah. Semoga cepat sembuh •_•
Tanpa sadar bibirnya melengkung. Reyhan tersenyum kecil lalu membuka cokelat itu dan memakannya.
---
Sesampainya di Rumah
Lyra tiba di rumah dengan kondisi lelah. Ia langsung merebahkan diri di kasur, lalu menyalakan ponselnya. Belum sempat membuka aplikasi apapun, panggilan masuk dari sahabatnya, Siska.
“Halo? Iya, Siska. Aku baik-baik aja kok. Nggak seserius itu. Paling lusa juga sudah bisa masuk. Jangan lebay deh,” ucap Lyra sambil tersenyum.
Baru saja ia menutup telepon, pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Vanes masuk tanpa mengetuk.
“Enak banget ya, bisa bermalas-malasan terus di rumah. Ingat, ini bukan rumahmu!” teriak Vanes.
Lyra menghela napas. “Vanes, bisa nggak sih kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu? Baru masuk.”
“Rumah rumahku, suka-suka aku dong. Terus kamu mau apa, hah?” Vanes mendekat, wajahnya sinis.
“Aku nggak mau cari ribut. Jadi tolong keluar.”
“Eh, berani-beraninya kamu nyuruh aku!” Vanes mendorong kursi Lyra hingga ia terjatuh ke lantai. Panik kalau perbuatannya ketahuan sang ayah, Vanes langsung kabur dari kamar.
Lyra meringis sambil berusaha bangkit. “Sabar, sabar... Akan ada saatnya aku keluar dari sini. Kalau bukan karena Paman yang baik padaku, sudah ku balas tadi, Vanes...” gumamnya lirih.
Reyhan di Rumah
Sementara itu, Reyhan turun dari mobil dengan bantuan supirnya. Di depan rumah besar bergaya modern itu, beberapa pembantu segera menyambutnya.
“Aduh, Den Reyhan... kok bisa sampai begini sih?” tanya Bik Sum, pembantu tertua, panik melihat tuannya dengan perban di kepala.
Reyhan hanya terdiam. Tatapannya kosong, seolah mencari sesuatu yang tak ada.
“Den, Nyonya berpesan agar Aden istirahat. Beliau tidak bisa pulang malam ini karena—”
“Sudah, Bik. Aku sudah tahu,” potong Reyhan pelan. Ia menghela napas, lalu menoleh ke supirnya. “Pak Mat, antar aku ke kamar.”
Sesampainya di kamar, Reyhan duduk lama menatap dinding. Kenangan masa kecil di rumah itu berkelebat—masa ketika orang tuanya masih sering ada untuknya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama di layar: Erick.
“Halo. Iya, aku sudah di rumah. Nggak usah bawa apa-apa. Aku nggak butuh,” ucapnya singkat lalu menutup telepon.
Namun, 20 menit kemudian Erick tetap datang. Ia masuk dengan wajah kesal.
“Bro, masih sakit nggak? Kok bisa sih lo ikutan tawuran lagi?”
“Fero ngajak duel. Katanya gara-gara surat cinta adiknya aku tolak,” jawab Reyhan datar.
Erick mendengus. “Lagi-lagi surat cinta. Orang lain bilang jadi cowok tampan itu anugerah. Buat lo malah jadi petaka.”
Reyhan terdiam. “Aku capek, Rick. Bosen.”
Erick meliriknya curiga. “Eh, tapi gue denger ada cewek yang nolong lo ya. Cantik nggak?” godanya.
“Apaan sih? Gue sakit, bukannya prihatin malah nanya aneh-aneh,” balas Reyhan kesal.
“Hmmm... malu nih ye, abang Reyhan yang ganteng. Peluk aku dong,” canda Erick sambil merentangkan tangan.
Reyhan mendengus geli, tapi bibirnya tak bisa menahan senyum.
Hari-hari berikutnya pun berlalu. Reyhan dan Lyra kembali ke aktivitas masing-masing... tanpa pernah bertemu lagi.
Oh yaa lanjut ke part selanjutnya akan ada pengenalan karakter bye n see u 😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Nofi Ana
Hai baru mampir lagi ni
kren nda ceritanya yah
2023-08-12
1
Fitri Talib Jelani
Mampit dulu
2022-07-21
1
re
Mulai
2021-11-04
1