Angela terbangun dari tidurnya. Ia baru saja tertidur selama dua jam sehingga kepalanya merasakan pusing luar biasa. Mungkin itu adalah efek karena dirinya tidak bisa tidur semalaman penuh, dan mengakibatkan sakit kepala.
Tok
Tok
Mendengar suara ketukan pintu, Angela menyahuti siapapun itu untuk masuk. Tak lama kemudian, Molly menampakkan diri dari balik pintu.
"Nona, kenapa nona belum mandi? Master sudah memanggil nona untuk sarapan," ucap Molly mengamati Angela yang terus saja memijit keningnya.
"Ah maaf, kepalaku terasa sangat pusing. Katakan padanya aku akan turun setelah mandi."
Molly menjadi panik saat mendengar penuturan Angela. "Apa nona sakit? Aku akan melaporkannya pada master."
"Tidak, Molly tunggu...!"
Angela mendesah panjang, ucapannya itu tertelan kembali karena Molly sudah lebih dulu keluar dari kamarnya. "Ck, dia pasti akan mengatakan kalau aku adalah wanita yang manja," seraya menggerutu, Angela pun berjalan ke dalam kamar mandi dengan perlahan, karena takut dirinya akan terjatuh. Ia ingin menyegarkan diri, siapa tau sakit kepalanya akan berkurang begitu ia selesai mandi.
"Ah segarnya." Angela keluar dari kamar mandi setelah 20 menit berada di dalam sana.
"Aku pikir kau pingsan di dalam kamar mandi!"
"Astaga!" Angela terkejut karena Zayn sudah berada di dalam kamarnya. Pria itu dengan santainya duduk di sofa dengan mata yang terpejam.
"Kenapa kau disini?"
"Kenapa aku disini?" Zayn berdecak dan membuka matanya, mengulangi perkataan Angela.
"Aish, kau selalu mengulangi ucapan ku!" Angela yang kesal pun semakin kuat memijit keningnya yang masih terasa sakit itu. Untung saja dirinya sudah mengenakan pakaian yang sudah ia letakkan di dalam kamar mandi terlebih dahulu.
"Aku dengar kau sakit?" tanyanya menatap Angela yang baru saja duduk di atas ranjang.
"Ya, hanya pusing biasa."
"Kenapa bisa pusing? Bukankah aku selalu memberi mu makanan yang bergizi?"
Tentu saja karena kau! Kau seenaknya saja membatasi aktivitasku!
Tentu saja Angela hanya dapat memaki dalam hati. "Tidak apa-apa, hanya kurang tidur saja!" ucapnya dengan berusaha tetap menyelipkan senyuman.
"Kurang tidur? Apa tempat tidurnya kurang nyaman? atau kau ingin tempat tidur seperti tuan putri di negeri dongeng?"
Angela berdecak kesal. Pertanyaan-pertanyaan Zayn itu justru membuat sakit kepalanya bertambah. "Sebenarnya untuk apa kau datang ke kamarku, kalau hanya untuk membuatku kesal?" Angela yang sudah terlanjur kesal pun akhirnya berani menghardik Zayn.
"Apa aku membuat mu kesal?" tanya Zayn berpura-pura tidak tahu, dan memasang wajah polos. Ia sudah menyadari sejak tadi bahwa wanita itu kesal padanya.
"Ya, aku sangat kesal padamu. Kenapa saat keinginanmu sudah terpenuhi, kau masih tetap tidak membiarkan ku keluar dari mansion, bahkan hanya sekedar untuk mengurus perusahaan."
Saat mendengar perkataan Angela, Zayn mendesah kasar. "Aku tidak ingin mengulangi perkataan ku!"
"Ck, kau benar-benar keterlaluan! Tidak seharusnya aku menikah denganmu! Aku lebih baik mati dari pada harus hidup bersama denganmu disini!" Angela menyeka air matanya yang hendak tumpah itu. Akhirnya ia berani mengungkapkan apa yang dipendamnya selama ini.
Tanpa sadar Zayn mengepalkan kedua tangannya. Apa katanya? Lebih memilih mati dari pada hidup bersama dengannya? batinnya.
"JANGAN BESAR KEPALA! MEMANGNYA KAU PIKIR AKU SENANG MENIKAH DENGANMU! SEHARUSNYA KAU BERTERIMA KASIH KARENA AKU TIDAK MELUKAI MU DAN KELUARGA MU !" teriakan Zayn justru membuat cairan yang sedari tadi ditahan oleh Angela, mendadak berhamburan di wajahnya.
Zayn menghela napas. Beranjak berdiri dari duduknya, Zayn menghampiri Angela dengan tatapan kian menajam. "Aku akan meminta Molly untuk membawakan mu sarapan. Setelah itu akan ada dokter yang memeriksa mu. Dan tarik kembali ucapan mu itu sebelum kau menyesalinya!" Zayn sedikit melembutkan ucapannya namun penuh penekanan yang tidak ingin dibantah sedikitpun. Ia pun lebih memilih keluar dari kamar Angela, khawatir jika dirinya akan melukai wanita itu.
Setelah kepergian Zayn, Angel terisak di dalam kamarnya. Perkataan Zayn ada benarnya, kenapa ia harus membuat pria itu marah? Seharusnya ia patuh, karena dengan begitu dirinya dan keluarganya akan selalu aman.
Zayn kembali ke dalam ruangannya dengan suasana hati yang buruk. Ia mengambil botol minuman untuk menenangkan dirinya. Kenapa ia merasakan tidak nyaman setelah berteriak kepada wanita itu? Tapi itulah yang harus ia lakukan agar wanita itu tidak bertindak kurang ajar padanya.
Roy masuk tanpa suara. Dan dilihatnya Zayn tengah meneguk minuman, padahal ia sudah berulang kali mengingatkan Zayn untuk mengurangi minuman beralkohol.
"Ada apa? Aku mendengar kau berteriak padanya," tanya Roy menunggu jawaban Zayn yang berdiri membelakangi dirinya.
"Jangan banyak bertanya. Aku sedang kesal! Wanita itu benar-benar tidak tau diri, bukankah seharusnya dia senang aku berbaik hati dengan tidak membunuhnya dan keluarganya. Tapi dia berkata lebih baik mati dari pada hidup bersama ku!" Zayn meluapkan kekesalannya dengan tersenyum kecut. Perkataan Angela masih sangat segar di ingatannya.
Salah satu alis Roy terangkat saat mengetahui penyebab pertengkaran mereka. "Jadi itu masalahnya. Kau tidak terima dia berbicara seperti itu. Apa kau sudah mulai membuka hati untuknya?"
"Omong kosong!" Mendengar ucapan Roy, tentu saja Zayn menepisnya. Ia tidak terima dilayangkan pertanyaan itu. "Kau kan' tau, kalau pintu hatiku sudah lama tertutup untuk seorang wanita! Wanita hanya merepotkan!"
"Apa Nona Elleana termasuk wanita yang merepotkan?" Entah Roy sengaja meledek atau hanya sekedar memancing pria yang tengah kesal itu.
Perkataan Roy membuat Zayn tak mampu menjawabnya selama beberapa saat. "Jangan membahasnya Roy. Elle berbeda dari wanita manapun!" hardiknya kesal.
"Itu masalahnya, Zayn. Kau hanya memikirkan Nona Elleana dan yang selalu ada di hatimu adalah dia. Ingat Zayn, kau harus bisa melupakannya. Bukankah tujuanmu menikah dengan Angela adalah untuk dapat melupakan wanita itu!" Roy mengingatkan Zayn akan tujuan pria itu.
"Bagaimana bisa aku melupakan Elle, Roy. Melihatnya saja selalu mengingatkan ku pada Elle." Zayn berucap dengan lirih.
Roy berdecak dengan menggeleng. "Sudahlah! Yang harus selalu kau ingat adalah lupakan dia dan buka hatimu untuk Angel. Bukankah kau juga tau bahwa dia adalah wanita baik-baik. Tidak seperti wanita yang saat itu mendekatimu demi kepentingannya!" Perkataan Roy mengingatkan Zayn akan seorang wanita yang saat itu pernah mendekati dirinya hanya untuk kepentingan pribadi. Setelah rencananya berhasil, ia tidak ada kabar sedikitpun.
"Aku tidak peduli dengan wanita murahan itu!" Hanya mengingat namanya saja sudah membuat Zayn sangat kesal.
"Baiklah, aku tidak akan mengungkitnya. Sebaiknya kau berhenti minum, ini masih pagi!" Menepuk bahu tegap Zayn, Roy pun berjalan menuju pintu hendak keluar dari ruangan itu.
"Tunggu Roy!" ucapnya.
Roy pun berhenti melangkah dan berbalik badan. "Ada apa?"
"Panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Angel."
Roy mengernyitkan dahi. "Apa dia sakit?" Dan dijawab anggukan kepala oleh Zayn.
"Ck, kenapa kau baru bilang sekarang. Aku akan memanggil dokter."
Setelah mengatakan hal itu, Roy pun berlalu. Pria itu hanya menarik kedua sudut bibirnya, ia tahu bahwa Zayn sudah mulai membuka pintu hatinya untuk Angela. Namun Zayn selalu saja mengelak dengan tegas.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Setelah sarapan dan diperiksa oleh dokter, Angela pun tertidur kembali. Kini kepalanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Saat Molly memberitahunya untuk makan siang, Angela pun turun menuju ruang makan.
Langkahnya terhenti sejenak karena melihat Zayn sudah berada di meja makan bersama Roy.
Kenapa dia disini? Ku kira dia sedang pergi.
Angela berjalan menuju meja makan dengan lambat, sejujurnya ia sedikit ragu untuk bergabung bersama mereka. Namun tatapan Zayn lebih dulu mengisyaratkan dirinya untuk duduk.
Dengan malas dan gugup di tatap seperti itu. Angela pun duduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Zayn.
"Bagaimana keadaan Nona Angel?" Roy lebih dulu membuka percakapan di antara mereka setelah beberapa saat suasana di meja makan begitu mencekam.
"Sudah lebih baik. Terima kasih sudah memanggilkan dokter untukku." Angela menjawab dengan disertai senyum.
"Tidak apa-apa. Zayn yang menyuruhku memanggilkan dokter, tadi dia begitu cemas."
"Uhuk uhuk..." Zayn tersedak makanannya saat mendengar ucapan Roy. Sebelum kemudian melayangkan tatapan tajam pada Roy.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau mau mati ya?"
"Maaf Zayn, aku tidak bisa berbohong, hehe."
Begitulah isyarat dari tatapan mata mereka. Percakapan di dalam batin itu hanya dapat diketahui oleh mereka. Angela yang melihatnya pun hanya terheran.
Karena kesal, Zayn terus melayangkan tatapan tajam. Sedangkan di dalam hati Roy bersorak senang. Dengan begitu, ia dapat memperlihatkan sisi baik Zayn pada Angela.
Namun perkataan Roy membuat Zayn tidak berani menatap ke arah Angela yang ia sadari tengah menatap dirinya. Tanpa permisi atau mengucapkan satu kata pun, Zayn meninggalkan meja makan.
"Ada apa dengannya? Tapi benarkah dia yang menyuruh Roy memanggil dokter untuk ku?" Angela menerka-nerka di dalam hati seraya menatap kepergian Zayn.
"Habiskan saja makanannya nona, tidak perlu pedulikan dia. Sikapnya memang selalu menyebalkan tapi dia adalah pria yang baik." Roy semakin berusaha membuat citra Zayn baik di mata Angela, meskipun cukup sulit karena Angela pun memiliki mata yang dapat melihat perlakuan Zyan padanya.
"I-iya, terima kasih!" ucapnya. Suasana di meja makan menjadi canggung karena hanya ada mereka berdua.
Angela sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia hendak kembali ke dalam kamar. Ponselnya yang sejak tadi ia genggam pun berdering. Dirinya benar-benar beruntung karena Zayn tidak mengambil ponselnya kembali.
Saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, Angela mengulas senyum. Sudah lama sekali mereka tidak saling berhubungan melalui pesan singkat atau sekedar menelpon.
"Hallo, Elle?" ucap Angela saat sudah mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana kabarmu Angel?"
"Aku baik. Bagaimana kabar kau dan keponakan ku?" tanyanya bergantian.
"Kami semua sangat baik. Aku dan Vie akan mengadakan 7 tahun anniversary di Los Angeles. Itu sebabnya aku menelponmu. Kau harus datang ya. Ah maafkan aku Angel, Austin menangis. Sampai bertemu nanti."
"Tunggu Elle. Hei aku belum menjawabnya." Ucapan Angela terbuang percuma karena sambungan telepon lebih dulu terputus.
"Aku belum selesai berbicara, Elle!" gumamnya.
"Kau menyebutkan siapa? Elle?"
Suara seseorang yang berdiri dibelakangnya membuat Angela terlonjak kaget.
"Astaga! Sejak kapan kau berada di belakang ku?"
Pria yang sejak tadi tidak sengaja menguping percakapan Angela adalah Zayn. Ia tak langsung menjawabnya. Pria itu justru menatap Angela dengan menyipitkan kedua matanya penuh selidik.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Di cerita bang Zayn ini author belum bisa up banyak dan bab nya gak panjang. Tapi author akan usahakan setiap hari walaupun gak banyak ya.
Terima kasih yang masih setia sama bang Zayn. Jangan lupa dukungannya. Like, follow, komentar. Dan vote kalau berkenan 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
jen
jd mereka sahabat Angel
2024-09-16
0
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
angel dan elle bersahabat
sadar zayn angek bukan elle jadi kamu harus bisa memperlakukan angel beda dengan elle sekarang istrimu engel
2022-06-27
0
Ainun Dunggio
wah,ternyata sepupu ni...
2022-06-02
0