Los Angeles - California
Zayn yang tadi malam baru tiba di mansion mewahnya di Los Angeles begitu tampak lelah. Ia langsung terlelap saat membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Pagi menjelang, matahari sudah menampakkan diri dari peredarannya. Suara gaduh yang ditimbulkan oleh Roy, membuat pria itu membuka kedua matanya dengan malas. Sudah berulang kali Roy mengetuk pintu kamarnya, sehingga dirinya terpaksa membuka matanya.
"Kenapa kau berisik sekali, Roy!" Zayn berteriak kepada Roy. Begitu kesal karena asistennya itu tidak berhenti mengetuk pintu jika dirinya belum juga terbangun.
Mendengar suara Zayn yang terdengar kesal, Roy menarik tipis kedua sudut bibirnya, sebelum kemudian berlalu dari kamar Zayn.
Hanya memerlukan waktu singkat untuk Zayn mengumpulkan kembali kesadarannya. Beranjak berdiri, pria itu menuju kamar mandi.
Tak lama setelahnya, Zayn terlihat keluar dari kamar dan menuruni tangga. Pria itu mengenakan pakaian rapi dengan jas yang membalut tubuh tegapnya.
"Kau tidak lupa kan kalau kita akan mendatangi Westh Corporation?" ucap Roy pada Zayn yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi makan.
"Tentu saja tidak. Aku harus memberikan mereka pelajaran supaya tidak bermain-main dengan ku!" Zayn berucap seraya mengambil roti yang sudah di lapisi daging dengan keju, menggigit roti itu dan menelannya dengan cepat.
"Ya, karena kau sudah berinvestasi cukup banyak dan juga berjasa membuat mereka mencapai posisi tertinggi di perusahaan itu."
Zayn mengangguk saat mendengar ucapan Roy. Beberapa Minggu yang lalu, Zayn berinvestasi di salah satu perusahaan yang cukup besar di negara bagian California tersebut.
Zayn yang keluar dari lift di dampingi Roy melangkah menuju salah satu ruangan yang terdapat di lantai 28. Ruangan itu merupakan salah satu Direktur di Perusahaan Westh Corporation.
Salah satu tangan Zayn mendorong tubuh seorang sekretaris wanita yang hendak menghalangi dirinya. "Aku tidak ada urusan denganmu!" Menatap sinis ke arah sekretaris tersebut yang sudah terdorong olehnya. Sekretaris itu bergetar hebat karena tatapan tajam Zayn.
Zayn membuka pintu dengan kasar. Sehingga dua orang yang berada di dalam ruangan itu terlonjak kaget dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Tuan Jasper?" Salah satu dari pria yang usianya sekitar 35 tahun berjalan mendekat ke arahnya. "Kenapa Tuan Jasper datang ke perusahaan tidak mengabari kami lebih dulu?" lanjutnya kemudian.
Zayn berdecak seraya melayangkan tatapan sinis. Berjalan menuju sofa, ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa lebih dulu. Sedangkan Roy lebih memilih berdiri di sisinya. "Kalau kalian mengetahui aku akan datang, maka kalian akan bersembunyi lagi."
Zayn menekankan kata lagi dengan duduk bersandar, kaki kanannya bertumpu pada lutut kirinya. Sebelumnya ia sudah pernah datang ke Perusahaan Westh Corporation namun kedua direktur itu tidak berada di tempat.
"Mm bu-bukan begitu Tuan, saat itu kami sedang berada di luar kota." Salah satu pria yang berperawakan lebih muda menjawabnya dengan terbata-bata. Ia melirik pada rekannya yang juga sudah duduk saling berhadapan dengan Zayn.
Zayn menyambutnya dengan datar. Tentu saja ia bukan pria yang dapat dibodohi begitu saja. "Aku tidak akan memberikan kesempatan untuk hidup lagi jika kalian berkhianat."
Mendengar ancaman yang dilayangkan Zayn, keduanya seperti tercekat sesuatu. "Ten-tentu saja tidak. Tuan sudah banyak membantu kami, sehingga akhirnya posisi direktur tetap pada kami."
"Ya, benar. Kami tidak mungkin berkhianat," timpal pria yang lebih muda.
"Baiklah, kalian sudah pasti tau kedatangan ku datang kesini untuk apa!" Tatapan Zayn mengintimidasi, sehingga kedua pria itu terlihat sangat gugup dan ketakutan. "Aku minta kalian kirimkan bagian ku malam ini juga. Karena ini sudah lebih dari batas waktu yang sudah kita tentukan."
Kedua pria itu saling memandang, sebelum kemudian menatap Zayn kembali. "Kami sudah pasti akan mengirimkan uangnya tetapi tidak malam ini."
Zayn menyunggingkan senyum meremehkan. Tanpa berbasa-basi, ia mengarahkan sesuatu di balik sarung tangannya. Sedgley OSS berbetuk sarung tangan dengan revolver yang terpasang di telapak tangan. Sarung tangan senjata itu selalu di pakai olehnya saat mengunjungi sebuah perusahaan yang keamanannya begitu terjaga.
"Kalian pasti tau bukan, apa yang akan terjadi kalau peluru ini menembus di kepala kalian?!" Zayn berucap sarkasme sehingga membuat mereka bergidik ngeri.
"Ka-kami mengerti tuan, kami akan mengirimkan uangnya malam ini juga," sahut pria yang usianya lebih tua.
Saat mendengarnya, Zayn menarik kedua bibirnya tipis. "Bagus kalau kalian sudah mengerti." Zayn merapihkan jas yang dikenakannya. "Senang bekerja sama dengan kalian." Beranjak berdiri, Zayn segera keluar dari ruangan itu. Roy pun mengikuti di belakangnya.
"Bagaimana ini? Apa kita harus mengirimnya malam ini juga?" Pria yang lebih mudah bertanya memastikan.
"Tentu saja, karena kita masih ingin selamat."
Keduanya mengangguk setuju karena mereka pun sudah terlanjur masuk ke dalam kandang harimau.
***
Di sebuah mansion luas dan mewah, seorang wanita cantik baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Mengerjapkan kedua matanya berulang kali seraya meraba sisi ranjang, mencari ponsel yang tadi malam dilemparnya dengan asal karena tak kuasa menahan kantuk.
Sejak tadi ponsel itu berdering sehingga mengganggu tidur lelapnya. Meraih benda pipih itu, ia mengangkat panggilan telepon tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Hallo," jawabnya dengan suara yang parau.
"Astaga Angel, apa kau baru saja bangun?" tanya seorang wanita di sambungan teleponnya.
"Hm, aku sangat lelah, Sya. Ada apa kau menelpon ku pagi-pagi seperti ini?" Wanita yang bernama Angela itu berucap dengan mata yang masih terpejam.
"Apa kau lupa bahwa kita akan bertemu dengan klien penting?"
Mendengar perkataan sahabatnya sekaligus asisten pribadinya itu, kedua mata Angela membelalak karena terkejut. "Astaga aku melupakannya. Aku akan datang dalam waktu 30 menit lagi."
Memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, Angel segera beranjak dan berlari menuju kamar mandi.
Karena begitu tergesa-gesa sehingga dirinya hanya membutuhkan waktu selama 15 menit. Mengenakan pakaian kantornya, dan memoles wajah dengan make up tipis. Penampilannya semakin sempurna, meskipun tak memakai riasan tebal.
"Oke, sempurna," ucapnya seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Sebelum kemudian keluar dari kamar, berlari kecil dan menuruni tangga.
Kedua pasangan paruh baya yang tampak masih terlihat tampan dan cantik menoleh ke arah putri mereka yang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Kenapa terburu-buru sekali, sayang?" tanya Marlin sang mommy yang menghentikan aktivitas sarapannya, menatap heran pada putrinya.
"Angel sudah terlambat mom." Angela meraih beberapa lembar roti yang sudah di lapisi selai strawberry. "Angel akan bertemu klien penting," sambungnya kembali, meneguk habis segelas susu. Berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya dan mencium pipi mereka secara bergantian, sebelum kemudian berlalu.
"Hati-hati, sayang. Jangan lupa, nanti malam ada tamu penting yang akan datang." Rolando berteriak pada putrinya. Berharap jika putrinya itu tidak melupakan pertemuan penting itu.
Mendengar teriakan sang Daddy, Angela terus berjalan tanpa menoleh. "Baik Dad. Aku akan pulang cepat waktu." Wanita itu menghilang di balik pintu. Berjalan masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dalam kecepatan sedang.
"Apa kau yakin kalau Angel tidak akan terkejut dengan apa yang akan kita katakan nanti?" tanya Marlin. Ia sedikit ragu untuk memperkenalkan putrinya pada putra dari salah satu kolega perusahaan mereka.
"Kau tenang saja. Kalau pun Angel menolak perjodohan ini, kita masih memiliki pinjaman lain. Karena aku tidak ingin memaksa putri kita satu-satunya, kebahagiaannya lebih penting," ucap Rolando menenangkan istrinya. Meskipun saat ini dirinya membutuhkan uang untuk menutupi kerugian perusahaan namun ia tidak ingin menjadikan putrinya sebagai jaminan.
"Ya, kau benar sayang. Tapi dari mana kau mendapatkan pinjaman? Bukankan beberapa hari ini, kau sudah mencari kemana-kemana tapi tidak ada satu orangpun yang mau membantu? Bahkan bank saja tidak memberikan pinjaman." Marlin melayang pertanyaan secara beruntun.
Saat mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Marlin, Rolando terdiam sejenak. Dirinya tentu saja tidak akan memberitahukan, darimana pinjaman itu berasal. "Teman bisnis yang memberikan pinjaman."
Marlin mengangguk paham. "Sayang, apa tidak sebaiknya kita meminjam kekurangan dananya pada keluarga Romanov?" Merlin bertanya dengan ragu.
Rolando yang cukup terkejut dengan pertanyaan sang istri yang tiba-tiba itu. "Kita tidak mungkin meminjam pada keluarga besar seperti mereka. Angela dan Tuan Xavier memang berteman saat di universitas, tapi kita tidak sedekat itu pada keluarga yang sangat berpengaruh di berbagai negara. Lagi pula kita hanya beberapa kali datang saat diundang ke pesta perayaan kelahiran putra kedua mereka."
Merlin tercenung saat mendengar perkataan suaminya. "Hm, kau benar. Kita akan malu kalau meminjam pada mereka."
"Bukan seperti itu, keluarga Romanov tidak akan mungkin menghina keluarga kita," sanggahnya dengan cepat. "Karena kita cukup tau malu. Apa kau lupa beberapa tahun yang lalu, Tuan Xavier membeli perusahaan Angel yang berada di Kota London. Uangnya kita pergunakan untuk membangun kembali perusahaan kita yang hampir saja bangkrut," terang Rolando mengingat kejadian beberapa tahun silam pada saat perusahaan dirinya yang hampir saja gulung tikar.
Dan kali ini kejadian itu terulang kembali karena di tipu oleh rekan bisnisnya yang entah saat ini berada dimana, sehingga Perusahaan Wilson di ambang kebangkrutan.
Marlin mengangguk paham. Ingatan akan kejadian beberapa tahun silam, terbesit begitu saja. Dan ia berharap kerugian yang menimpa perusahaan mereka akan segera terkendali kembali dan berharap akan ada suntikan dana.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Haii...kalau kalian sayang sama bang Zayn jangan lupa beri dukungan dengan cara Like, Vote dan Komentar kalian ya 🤗🤗 terima kasih banyak..
Jangan lupa bahagia 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Jacklin Clarisa morgana
angek temanya svir yg prnh ada prusahaan ent di london dan di beli safir waktu itu allona msih jdi modelnya di prusahaan ent
2023-02-19
1
Alexandra Juliana
Bagusnya minjam uangnya dr Zayn...😁😁
2022-12-18
0
Alexandra Juliana
Ini Angela yg menjual perusahaan entertainment yg menaungi model² ke Xavier yaaa..?
2022-12-18
0