Keesokan harinya, usai istirahat makan siang. Angela di sibukkan dengan pekerjaan di kantornya. Menjadi pewaris satu-satunya Keluarga Wilson, membuat wanita itu bertekad akan melakukan yang terbaik untuk perusahaannya, meskipun ia seorang wanita yang menjabat menjadi Direktur. Angela telah mengetahui bahwa perusahaan sedang mengalami masalah yang serius mengenai keuangan.
Bahkan dirinya sudah menjual saham sebanyak 10%, namun belum menutupi kerugian yang dialami oleh perusahaan.
Angela memijit kening kanannya saat dirasa belum menemukan jalan keluar untuk menutupi kerugian. Rasa pusing semakin menyergap kala mengingat jika semua pengajuan pinjaman di tolak oleh bank.
"Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan Daddy," gumam Angela. Kedua matanya tak hentinya menatap selembar kertas yang tertera nominal kerugian perusahaan.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. "Masuk," ucap Angela.
Saat sudah mendapatkan jawaban dari dalam, Tasya masuk dengan membawa tumpukan berkas di tangannya.
"Permisi Bu Direktur, sepertinya kita harus segera menyelesaikan berkas ini sekarang juga." Meskipun Tasya adalah sahabat baiknya, namun jika berada di perusahaan mereka bersikap profesional.
Angela menatap jengah beberapa berkas yang dibawa oleh Tasya. "Apa kau yakin kita akan menyelesaikan malam ini juga?" Karena sedikit ragu dapat menyelesaikan malam ini juga, sehingga Angela dapat menyimpulkan hal seperti itu. Mengingat beberapa berkas yang lain belum diselesaikan.
"Entahlah! Tidak ada salahnya kita mencoba menyelesaikannya," jawab Tasya menyarankan. Wanita itu meletakkan beberapa berkas di meja kerja Angela.
Menghela napas panjang, Angela mulai meraih salah satu berkas yang tertumpuk itu. "Baiklah, semangat!" ucapnya dengan anggukan kepala yang menggebu.
Tasya tersenyum tipis melihat Bu Direktur sekaligus sahabatnya itu dapat bersemangat kembali. Tasya pun mulai melakukan pekerjaan di ruangan Angela. Kedua wanita cantik itu serius dengan pekerjaannya masing-masing, hingga tidak menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Waktu jam pulang kantor sudah terlewat satu jam yang lalu, mereka pun sudah menyelesaikan beberapa berkas namun masih tersisa 2 berkas lagi.
Seraya merenggangkan otot-ototnya, tangan Angela memijit tengkuk lehernya yang dirasa sangat pegal. Menghentikan sejenak pekerjaannya, wanita itu menyandarkan punggung di sandarkan kursi kebesarannya dan memejamkan kedua matanya sejenak.
"Sebaiknya kau pulang saja, Angel. Kau terlihat lelah sekali," ucap Tasya saat melihat guratan lelah yang terpancar di wajah Angela.
"Hm, aku akan menyelesaikan satu dokumen lagi." Angela menyahut dengan mata yang terpejam.
Drrtt
Drrtt
Suara getar ponsel yang bergesekan dengan meja menyentakkan telinga Angela. Membuka kedua matanya dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
Angela mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa si penelepon. "Halo," ucapnya dengan suara yang lemah.
"Ada apa denganmu? Kenapa suaramu terdengar lelah sekali?"
Kedua mata Angela membelalak sempurna karena terkejut, saat mendengar suara yang menghubungi dirinya adalah Samuel.
"Ada apa Sam?" Angela membenarkan posisi duduknya.
"Apa kau masih berada di kantor?"
"Hm." Angela menjawab dengan deheman.
"Aku akan mengajakmu makan malam, keluarlah! Aku sudah berada di depan gedung kantormu."
Mendengar perkataan Samuel yang sudah berada di depan kantornya, wanita itu beranjak berdiri, melihat keluar jendela yang posisi dirinya berada di lantai 15. Dan benar saja mobil Mercedes-Benz hitam milik Samuel terparkir di depan gedung kantornya.
"Kenapa kau datang ke kantorku tidak memberitahuku lebih dulu? Aku masih memiliki beberapa pekerjaan." Kedua mata Angela mengamati mobil Samuel di bawah sana. Pria itu masih terlihat di dalam mobil.
"Aku akan mengajakmu makan malam sebentar saja. Lagi pula ini sudah hampir malam, kau pasti belum makan."
Angela dapat melihat Samuel yang baru saja turun dari mobilnya. Seketika senyumnya terbit saat melihat pria itu.
"Hm, aku sibuk sejak tadi siang," jawab Angela cepat.
"Kalau begitu turunlah, aku akan mengajakmu makan dan mengantarmu kembali ke kantor. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."
"Baiklah. Kau tunggu aku. Aku akan segera turun." Angela memutuskan sambungan teleponnya.
Sepasang mata tengah memperhatikan Angela sejak wanita itu menerima telepon. Tasya menyipitkan kedua matanya penuh selidik.
"Astaga Tasya. Kau mengejutkan ku!" Angela mengusap dadanya karena terkejut oleh Tasya yang berdiri di belakangnya.
"Siapa dia?" Tasya mengabaikan keterkejutan sahabatnya. Ekor matanya melirik keluar jendela. Meskipun samar-samar terlihat dari atas, Tasya dapat melihat jika seseorang yang tengah menunggu adalah seorang pria. "Kau berhutang penjelasan padaku," lanjutnya.
"Hehe..." Angela hanya terkekeh, memamerkan deretan giginya yang putih. "Dia Sam. Pria yang aku ceritakan akan dijodohkan denganku." Angela berucap seraya merapihkan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.
"Aku akan makan malam bersamanya, dan akan kembali lagi ke kantor," lanjutnya kembali seraya menggantungkan tali tas di bahunya. "Aku akan membawakan makanan untukmu, oke?"
"Ya, baiklah. Hati-hati." Tasya memutar bolanya malas karena ucapannya terbuang percuma, sahabatnya itu sudah lebih dulu keluar dari ruangan.
"Ck, menyebalkan! Aku ditinggal sendirian." Tasnya menggerutu kecil. Mendaratkan tubuhnya kembali di atas sofa dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Angela berada di sebuah Cafe bersama Samuel, lokasi cafe tersebut tidak terlalu jauh dari kantor Angela. Sejak tiba di Cafe, Samuel sedikit menebar senyumnya. Pria itu terlihat senang karena dapat mengajak Angela makan malam bersama dirinya. Senyum itu pun menular pada Angela, entah mengapa wanita pun ikut tersenyum saat melihat senyuman pria dihadapannya.
Samuel membantu memotong steak milik Angela. Setelah semuanya terpotong sempurna, piring yang berisi steak itu diberikan pada Angela. "Makanlah yang banyak."
"Terima kasih," ucap Angela begitu antusias karena dirinya sudah sangat lapar. Tanpa menunggu lama, Angela memasukan potongan steak ke dalam mulutnya. "Lezat sekali," tuturnya. Entah karena lapar atau suasana hatinya tengah membaik sehingga makanan yang dilahapnya menjadi sangat lezat.
"Pelan-pelan saja." Samuel mengingatkan Angela agar tidak tergesa-gesa memakan makanannya. Pria itu pun mulai memakan tenderloin miliknya.
"Bukankah kau bilang akan membicarakan sesuatu padaku?" tanya Angela di sela-sela mereka makan.
Samuel hanya mengangguk karena di dalam mulutnya terisi penuh dengan makanan. "Habiskan dulu makananmu, setelah itu aku akan berbicara."
"Baiklah." Angela mengangguk patuh.
Keduanya menghabiskan makanan mereka dalam waktu 15 menit saja tanpa ada perbincangan apapun.
"Aku sudah selesai. Kau bisa mengatakannya sekarang." Angela mendesak penuh seraya mengusap mulutnya dengan kain lembut yang tersedia di atas meja.
Samuel berdecak saat Angela terus saja mendesaknya. "Kau ini selalu saja tidak sabar." Pria itu minum lebih dulu untuk menghilangkan dahaganya, sebelum kemudian menatap dalam wajah wanita di hadapannya.
"Aku punya berita baik untukmu," sambung Samuel saat sudah meletakkan kembali gelas berisi air mineral ke atas meja.
Kedua alis Angela saling bertautan. "Berita baik?"
"Hm, perusahaan ku akan berinvestasi di perusahaan milikmu." Samuel mengamati wajah Angela. Ia penasaran, bagaimana wajah wanita itu jika tahu perusahaannya akan berinvestasi di perusahaan Wilson.
Angela terkejut mendengar ucapan Samuel. "Apa kau serius?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda," sahut Samuel dengan kesal.
Angela terkekeh saat melihat guratan kesal di wajah Samuel. Wanita itu memang tidak menemukan sesuatu kebohongan di wajah Samuel.
"Aku tau kau akan selalu serius dengan ucapanmu. Tapi apa kau yakin berinvestasi di perusahaan Wilson? Aku masih belum tau bagaimana perkembangannya nanti, bagaimana jika semuanya tidak berjalan lancar dan justru membuat perusahaan mu rugi besar."
Sejujurnya Angela sangat senang karena dapat menemukan jalan keluar perusahaannya. Perusahaan Thomas akan berinvestasi di perusahaan Wilson, namun yang membuatnya khawatir adalah perusahaan yang belum berjalan dengan stabil dan akan merugikan perusahaan Thomas. Jika itu terjadi maka perusahaan miliknya tidak akan sanggup membayar kerugian besar itu.
"Kau tenang saja. Aku sangat percaya dengan kemampuan mu dan juga Paman Rolando. Kalian akan bisa mengatasi permasalahan yang ada di perusahaan." Samuel menggenggam erat tangan Angela, memberikan keyakinan pada Angela.
Angela mengulas senyumnya. Perkataan Samuel mampu menenangkan kegundahannya. Namun meskipun pria itu sangat baik padanya beserta keluarganya, entah mengapa dirinya tidak merasakan ada getaran apapun dihatinya.
"Kau bodoh, Angel. Di hadapanmu ini adalah pria yang sangat baik tapi justru kau tidak memiliki perasaan apapun padanya." Angela berucap dalam hati. Ia berusaha untuk tetap tersenyum, meski senyum yang terkesan di paksakan. Di lubuk hatinya, ia hanya tidak ingin membuat Samuel kecewa karenanya.
"Sudah hampir terlambat. Aku akan membayar pesanannya lebih dulu, kau tunggulah di mobil." Samuel beranjak berdiri dan berjalan menuju kasir.
Sedangkan Angela berjalan keluar cafe, dan bermaksud menunggu di luar mobil. Namun ia menoleh ke arah lain saat merasakan seperti ada yang memperhatikan dirinya. "Apa perasaanku saja, seperti ada yang sedang mengawasi ku."
Samuel yang baru saja keluar dan berdiri di samping Angela mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Ah, tidak ada apa-apa." Angela tersenyum dan tidak memberitahukan apa yang dirasakannya.
"Masuklah," ucap Samuel. Sebelum kemudian masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Angela.
Samuel menghidupkan mesin mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran cafe.
Yang dirasakan Angela benar adanya. Dua orang pria memang tengah memperhatikan dirinya. "Ck, wanita itu cukup peka."
Pria yang tak lain ialah Zayn berdecak tak percaya. Ia sempat bersembunyi ke sisi mobil karena Angela dapat menyadari keberadaan mereka.
"Sebaiknya kita kembali ke mansion, Zayn. Apa kau sadar, kalau kita telah beralih profesi menjadi penguntit," seloroh Roy terkekeh kecil. Ia masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Tak dapat di pungkiri oleh Zayn, pria itu pun terkekeh karena perkataan Roy yang cukup menggelitik perutnya.
"Penguntit? Tidak buruk juga!" Zayn berucap seraya masuk ke dalam mobil.
Tak lama setelahnya, Roy melajukan mobilnya kembali dan meninggalkan cafe.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
haii haii.. jangan lupa like, komentar dan kalau berkenan kalian bisa vote juga ya.. terima kasih banyak..🤗
Jangan lupa bahagia💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Ainun Dunggio
lnjut pnsaran ap yg Zain lakukan
2022-06-02
0
Ainun Dunggio
ha...ha...cinta gtu Lo...
2022-06-02
0
Mas Brenz
Aduh zayn ganteng maksimal
2022-02-21
0