Sebuah bangunan yang sudah nampak tua masih berdiri kokoh di tengah-tengah hutan dan lereng bukit. Bangunan itu merupakan markas Red Dragon yang berada di Los Angeles. Red Dragon merupakan kelompok mafia yang sudah terbentuk selama puluhan tahun di Italia dan sudah terkenal di berbagai kota dan beberapa negara. Meskipun semenjak peperangan yang terjadi antara Red Dragon vs Black Lion yang mengharuskan kelompok itu kehilangan banyak anak buah.
Namun seiring berjalannya waktu, Zayn yang merupakan ketua dari kelompok mafia Red Dragon mampu membentuk anak buah baru. Kini jumlah anak buah yang sudah tersebar di beberapa kota mencapai 3000 lebih. Mereka dilatih dengan sangat baik dan memiliki kemampuan khusus.
Zayn berada di salah satu ruangan penyiksaan yang berdominasi warna abu-abu dan putih itu tengah mengamati anak buahnya yang sedang mengintrogasi seseorang yang sebelumnya memata-matai mansion. Ia belum mendapatkan informasi apapun dari pria itu karena pria itu tetap bungkam.
"Apa kau benar-benar tidak ingin mengatakan siapa yang memerintahkan mu untuk memata-matai ku?" tanya Zayn dengan dingin. Kedua matanya menajam.
"Bahkan jika aku harus mati pun aku tetap tidak akan mengatakannya pada kalian!" Meskipun pria itu sudah babak belur dan salah satu tangannya patah akibat dipukuli dengan brutal, namun masih dapat bersikap angkuh.
Zayn berdecak kesal. Berjalan mendekat, Zayn menekan bahu pria itu dengan salah satu kakinya. "Aku bukan pria yang berbelas kasih. Kalau kau sudah mengetahui tentang ku, kau pasti tau aku pria yang seperti apa!" tukasnya sinis. Siapapun yang sudah mengenal dirinya, maka akan berpikir ribuan kali untuk bermain-main dengan kelompok Red Dragon.
"Aku tau! Kau adalah bos mafia yang dikenal kejam dan mengalami depresi berat," sahutnya dengan terkekeh. Tak ada guratan ketakutan di wajah pria itu. Tatapan matanya meledek Zayn, dan hal itu memancing kemarahan Zayn.
Bug
Zayn menendang dada pria tersebut, sehingga darah segar menyembur dari mulutnya. "Kau benar-benar sudah bosan hidup!" Rahang dan wajahnya mengeras, menahan amarah.
"Siksa dia sampai dia mengatakan siapa yang menyuruhnya. Jangan biarkan dia mati lebih dulu!" perintahnya kemudian. Zayn pun berlalu dari ruangan penyiksaan.
Informasi mengenai dirinya yang mengalami depresi pun sudah tersebar di berbagai organisasi lain. Tak jarang organisasi lain tidak ingin berurusan dengan organisasi miliknya.
Zayn melangkah cepat, melewati beberapa anak buah yang berlalu lalang di sebuah lorong. "Dimana Jeff dan Roy?" tanyanya pada salah satu dari anak buahnya.
"Di atap bos."
Setelah sudah mengetahui keberadaan Jeff dan Roy. Zayn bermaksud menghampiri mereka yang berada di atap. Tempat itu biasa mereka bersantai menikmati udara segar.
Angin yang bertiup kencang sore itu menyapu wajah tampan Zayn saat sudah berada di atap. Menghentikan langkahnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa. "Apa yang informasi kalian dapatkan?" tanya Zayn. Tangan kanan meraih botol cocktail yang sudah tersedia di atas meja, lalu meneguknya.
Jeff menoleh begitu mendengar suara Zayn, tangan kiri memegang minumannya. "Yang aku sampaikan, entah sesuatu yang membuatmu senang atau tidak," sahutnya santai. Jeff memang salah satu anggota yang berani bersikap kurang ajar terhadap Zayn selain Roy.
"Katakan saja!" Zayn mendengkus kesal.
"Baiklah!" Jeff menyahut seraya mendaratkan tubuhnya di kursi. Membuka kaca mata hitamnya dan melempar asal.
"Sepertinya kau sudah di duakan. Karena wanita yang sudah menjadi istrimu itu bertemu dengan seorang pria tampan!" lanjutnya kemudian penuh ledekan.
Zayn tak bergeming mendengar laporan itu. "Benarkah?"
"Tidak seperti biasanya kau masih bersikap tenang, master?" ujar Jeff tak percaya. Karena yang dia pikirkan, masternya akan meledak-ledak jika mendengar laporan darinya.
"Dia masih dalam masa pendekatan, Jeff." Roy yang sedari tadi diam saja tiba-tiba angkat bicara.
Perkataan Roy membuat Jeff tercengang. "Apa kau pria remaja yang masih harus melakukan masa pendekatan!"
Gelak tawa Jeff dan Roy membuat Zayn berdecak kesal. Rasanya ia ingin sekali membungkam kedua orang itu. "Sialan! Kalian benar-benar ingin mati!" hardik Zayn kesal.
"Kau tidak akan sanggup membunuh kami, master!" Jeff terkekeh seraya menantang Zayn. Mereka mengetahui bahwa Zayn tak mungkin melakukan sesuatu pada mereka, kecuali jika dirinya dan Roy berkhianat.
Menahan emosinya, Zayn mengabaikan ucapan Jeff. Ia hanya meneguk habis minumannya. Menciptakan hening beberapa saat disana.
"Aku akan membiarkan dia melakukan sesuka hatinya," sahut Zayn datar.
Jeff dan Roy mengangguk kepala berulang kali. "Kalau begitu, aku akan mencarikan informasi mengenai pria yang dekat dengan istrimu itu!" Jeff memang memiliki kemampuan sebagai hacker. Mencari informasi dan meretas adalah hal yang mudah baginya.
"Apa aku memintamu untuk mencari informasi tentang pria itu, Jeff?" Zayn mengulas senyumnya, namun senyum yang dipenuhi hawa menyeramkan. Dengan melayangkan tatapan tajam pada Jeff.
Jeff terkekeh. "Tidak. Tapi matamu yang berbicara seperti itu!"
Zayn melemparkan botol kosong ke arah Jeff dan botol itu tepat mengenai kepala Jeff hingga membuat pria itu memekik namun tak lama tergelak.
Masternya memang benar-benar pria yang mudah tersulut emosi. Tak hanya Jeff yang menikmati kekesalan Zayn, Roy pun tergelak.
"Aku akan mengirim kalian ke neraka!" Ancaman Zyan membuat Roy dan Jeff terdiam bersamaan.
Mereka tidak ingin membuat Zayn tersulut emosi karena akan berdampak pada penyakit pria itu yang sejak dulu mengalami depresi berat.
***
Langit sudah berubah gelap. Cahaya lampu Mobil yang dikendarai oleh Roy sudah tiba di pelataran mansion, hingga menyoroti beberapa anak buah Zyan yang masih berjaga disana silau akan cahaya dari lampu mobil. Zayn keluar dari dalam mobil lebih dulu dan disusul oleh Roy.
Melangkah cepat ke dalam kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Tak lama setelahnya, Zyan memanggil Molly, maid yang sebenarnya ia tugaskan untuk mengawasi Angela mengatasnamakan Roy.
"Ada apa Master?" tanya Molly tertunduk takut.
"Dimana dia?"
Molly sudah paham siapa yang dimaksud oleh master nya. "Sepertinya sudah tidur, Master."
Jawaban Molly membuat kening Zayn berkerut heran. "Baru pukul 8 malam dan dia sudah tertidur?" Zayn berucap dengan kesal.
"I-iya master." Tubuh Molly mendadak gemetar mendengar suara kekesalan masternya.
Meninggalkan Molly, Zayn melangkah menuju kamar Angela. Pasti wanita itu sengaja menghindari dirinya, pikirnya.
Zayn membuka pintu kamar Angela dengan kasar. Kekesalan yang sejak tadi hinggap di roda dada, perlahan menyurut saat melihat wanita itu sudah terlelap dengan menutupi sebagian tubuhnya.
"Hei wanita! Kali ini aku akan membiarkanmu. Tapi tidak untuk lain kali," ucapnya dalam hati, seraya menatap Angela di atas ranjang dengan seringai kecil.
Lengkungan sudut bibirnya semakin tertarik saat melihat pergerakan dari tubuh wanita itu. Sebelum kemudian, berjalan mendekat ke arah ranjang. "Aku tau kau belum tidur. Bangun sekarang juga atau aku akan melakukan sesuatu padamu sekarang juga!"
Mendengar perkataan Zayn, kedua mata Angela terbuka sempurna, dan beranjak duduk. "Jangan macam-macam!" Angela menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hanya menyisakan kepalanya yang terlihat menyembul.
Tatapan Zayn menajam. "Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanyanya dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.
"Ti-tidak ada," ucap Angela berusaha bersikap tenang.
"Wanita bodoh. Jangan kau pikir aku tidak tau kau bertemu dengan siapa!"
Gawat. Dia benar-benar mengetahuinya!
Angela menelan salivanya, kedua tangannya meremmas selimut. "Aku sudah menduganya kalau anak buah mu tidak mungkin diam saja," sahutnya berdecak kesal. "Dia hanya temanku!" Angela memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam Zayn. Meskipun tubuhnya yang berada di balik selimut itu bergetar hebat.
"Mulai besok kau tidak diizinkan keluar mansion, walaupun hanya ke perusahaan!"
"Apa? Kenapa begitu?" Angela tak terima. Kebebasan yang baru ia rasakan selama dua hari, mendadak hilang begitu saja. Dan ia harus dikurung lagi di dalam mansion.
"Apa kau punya pilihan untuk membatah ucapan ku!"
Bentakan Zayn membuat Angela tertunduk ketakutan. "Ti-tidak!" Dirinya memang tidak punya pilihan untuk membatah semua ucapan Zayn.
"Bagus. Kau harus ingat siapa dirimu. Jangan berani-beraninya menggoda pria lain saat kau masih menjadi istriku!" Suara Zayn begitu dingin dan tak ingin dibantah.
Menggoda? Apa dia berpikir aku wanita yang seperti itu!
Angela hanya mampu berucap dalam hati dan mengatupkan rapat mulutnya, rasanya ia tidak pernah menang jika berdebat dengan pria di hadapannya itu. Setelah keheningan beberapa saat memenuhi ruangan, Zayn tak lagi berbicara. Hanya menatap tajam ke arah Angela selama beberapa saat, sebelum kemudian meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan kasar.
"Dasar pria menyebalkan!" umpat Angela kesal. Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Kenapa dia harus marah?
Pertanyaan itu terus berputar di otaknya. Hingga rasa kantuk menyergap Angela. Dan tak lama kemudian, wanita itu terlelap menyambut alam mimpi.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Hai hai... jangan lupa, dukung terus Bang Zayn ya... Like, komentar dan vote kalau berkenan.. terima kasih banyak 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
hadech bang jika sudah cinta bilang aja dan bersikap lah yang manis jangan galak" napa
2022-06-27
0
Ainun Dunggio
wah cmbru tu
2022-06-02
0
Maia Mayong
knp Dy hrus mrh. Krn Dy cmburu x angel
2022-03-10
0