Mobil yang dikemudikan oleh Zayn dan para anak buahnya memasuki pelataran mansion mewah yang terletak tidak jauh dari perbukitan sehingga mansion mewah itu dikelilingi oleh pemandangan pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Mobil sport Zayn lebih dulu terparkir sempurna. Pria itu langsung turun dari mobil dan melihat beberapa anak buahnya mulai menggendong Angela. Zayn tidak ingin direpotkan dengan menggendong wanita itu, sehingga ia hanya bersikap acuh.
"Baringkan dia di kamar yang berada di lantai 2, dan kunci pintu kamarnya." Setelah mengatakan hal itu, Zayn melenggang masuk begitu saja.
Para anak buah melakukan apa yang diperintahkan oleh master mereka. Membawa masuk ke dalam mansion menuju kamar lantai 2. Dibaringkan tubuh wanita itu ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh Angela. Ketiga anak buah Zayn keluar dari kamar, sebelum kemudian mengunci pintu kamar.
Zayn yang merasa tubuhnya tidak nyaman, ingin segera membersihkan diri. Berjalan menuju kamar mandi, pria itu melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya begitu saja. Selama 15 menit berada di dalam kamar mandi, Zayn keluar dengan mengenakan handuk. Ia berjalan menuju walk in closet dan meraih pakaian tidurnya.
Keluar dari walk in closet, langkah Zayn terhenti seketika saat melihat sebuah bingkai foto yang terpajang di atas nakas, tepatnya persis di samping ranjang. Foto itu menampakkan wajah seorang wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya selama ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Elleana. Zayn tersenyum saat melihat foto Elleana yang masih terpajang di kamarnya.
"Selamat malam, Elle. Semoga kau baik-baik saja disana." Seperti biasanya, Zayn selalu mengucapkan ucapan selamat tidur pada seseorang yang berada di foto, sebelum kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
***
Keesokan paginya di kediaman Keluarga Wilson, Marlin dan Rolando begitu cemas karena putri mereka tidak kembali pulang sejak tadi malam. Bahkan mereka sudah menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Angela.
Tasya yang mendengar kabar dari Marlin pun langsung datang ke mansion keluarga Wilson, wanita itu pun tak kalah cemas.
"Kami akan berusaha untuk mencari putri kalian. Tapi harus sesuai dengan prosedur kami, kami akan mulai mencari Nona Angela dalam kurun waktu 24 jam." Mendengar ucapan salah satu petugas kepolisian, Rolando berubah menjadi geram.
"Bagaimana kalian bisa berpikir seperti itu! Seharusnya mendapatkan laporan seperti ini, kalian bergerak cepat! Aku akan membayar berapapun, jadi cepat temukan keberadaan putri kami!" Perkataan yang dilontarkan oleh Rolando seperti sebuah perintah. Mau tidak mau kedua polisi tersebut hanya bisa menghela napas. Kasus seperti itu memang bukan pertama kalinya bagi mereka.
"Tapi Tuan...."
"Aku tidak ingin dengar apapun yang kalian katakan!" Ucapan salah satu dari petugas kepolisian terputus karena Rolando lebih dulu menyelanya. "Kalian bisa pergi dari sini. Dan aku harap kalian akan memberikan kabar baik!"
Marlin dan Tasya hanya mendengarkan berdebatan Rolando dengan kedua polisi tersebut. Mereka berdua terlalu lemah hanya untuk sekedar berbicara.
"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan dan Nyonya." Kedua polisi tersebut beranjak dari duduknya, berpamitan untuk menjalankan tugas mereka. Terlebih lagi yang menghilang adalah putri dari seorang pengusaha yang cukup sukses di Kota Los Angeles.
"Sayang, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan putri kita?" Air mata Marlin kembali berhamburan di wajahnya. Wanita paruh baya itu tak hentinya menangis memikirkan putrinya yang entah berada dimana.
Tasya yang melihat kesedihan Marlin langsung memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. "Angel pasti akan baik-baik saja Bibi." Tasya memberikan ketenangan untuk Bibi Marlin seraya mengusap lengan Bibi Marlin dengan lembut.
Rolando tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan putrinya. Merasakan ponselnya yang berada di atas meja bergetar, ia segera meraihnya, berharap jika pesan itu dari Angela.
From : Unknown Number
Apa sekarang kau sedang mencari putrimu? Tenang saja, putrimu baik-baik saja bersama ku. Tapi aku tidak menjaminnya kalau kau berani melibatkan polisi. -Jasper-
Memiliki banyak mata membuat Zayn dapat mengetahui apa yang dilakukan oleh Rolando. Rolando hanya mengeram kesal saat menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal namun ia melihat sebuah nama Jasper. Ia tahu Jasper yang tak lain ialah Zayn adalah seorang bos mafia yang selama ini membantu dirinya, bahkan meminjamkan begitu banyak uang.
Drrt... Drrtt..
Ponselnya kembali bergetar dan menandakan pesan masuk. Rolando membuka pesan itu dengan cepat.
Aku harap kau berpikir cerdas dengan tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Karena kalau tidak, aku akan melukai putri kesayangan mu ini.
Tubuh Rolando bergetar hebat saat membaca pesan kedua. Ia tidak ingin Angela terluka. Mengepal kuat-kuat ponsel yang berada di genggamannya, sebelum kemudian beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Marlin yang sejak tadi memperhatikan perubahan raut wajah suaminya.
"Aku hanya ingin menghubungi pihak kepolisian." Setelah mengatakan hal itu, Rolando berlalu pergi dari ruang tamu. Menyisakan pertanyaan dibenak Marlin dan Tasya, namun kedua wanita itu tak menaruh curiga sedikitpun.
Rolando berjalan tergesa-gesa menuju ruangan kerjanya. Jemarinya dengan cepat menekan nomor seseorang. "Halo Tuan," ucapnya saat panggilannya sudah diangkat oleh seseorang diseberang sana.
"Aku mohon, jangan melukai putriku. Dia tidak bersalah. Aku akan menuruti semua perintah mu, tapi tolong jangan melakukan hal yang buruk pada putriku." Rolando memohon penuh pada seseorang di sambungan teleponnya.
"Baiklah. Tapi aku memberikan waktu satu minggu untuk kau mengembalikan uang ku. Kau tau, aku bukanlah pria yang penyabar."
"A-aku akan membayarnya tapi tidak dalam satu minggu. Dari mana aku mendapatkan uangnya?" ucap Rolando. Otaknya berputar untuk mencari alasan kepada pria yang ia kenal sebagai Jasper.
"Itu urusanmu, bukan urusanku!" sahut Zayn. "Ingat, hanya satu minggu. Lebih dari itu, kau akan tau apa yang bisa aku lakukan kepada putrimu!"
"Tapi..." Ucapan Rolando menggantung karena terdengar sambungan telepon terputus. "Halo, halo? Tuan Jasper?" Ronaldo masih berusaha memanggil Zayn, berharap panggilannya masih tersambung.
Rolando menjadi gusar. Pria paruh baya itu menjangkau sofa untuk mendudukkan tubuhnya di atas sofa karena tubuhnya mendadak lemas. "Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" Mengusap wajahnya gusar, Rolando mengingat wajah putrinya yang tersenyum padanya.
"Maafkan Daddy, sayang," lirihnya. Ia pun segera mengubungi polisi untuk membatalkan laporannya. Seperti perintah Zayn, bahwa dirinya tidak akan melibatkan polisi atau siapapun.
***
Sementara itu di mansion mewah, Zayn yang tengah berdiri menatap keluar jendela menyunggingkan senyum. Pria itu sehabis mandi, hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada. Ia mengingat perkataan Rolando yang meminta dirinya untuk tidak melukai putrinya.
"Ck, rupanya pria tua itu menyayangi putrinya," gumamnya.
Terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan Roy berjalan ke arahnya, dan Zayn melirik dengan kedua ekor matanya.
"Bagaimana? Apa wanita itu sudah sadar?" tanyanya. Zayn mengambil rokok yang tergeletak di atas nakas, membakar rokok tersebut dengan pemantik.
"Dia belum sadar. Mungkin Jeff terlalu banyak menuangkan obat bius," sahut Roy.
Zayn menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Ck, apa wanita itu mati?"
"Tidak mungkin," Roy menjawab cepat. "Obat itu hanya membuat seseorang yang menghirupnya tertidur, bukan membuat mati." Roy menjelaskan tentang obat yang ia dan Jeff gunakan.
"Apa kau begitu tidak sabar ingin bermain dengannya?" sambungnya kembali dengan sengaja mengejek Zayn. Dengan santainya Roy duduk di kursi yang tidak jauh dari posisi Zayn yang berdiri di depan jendela.
"Ck, bermain seperti apa yang kau maksud? Aku tidak suka menyentuh wanita!" Zayn menekankan perkataannya. Selama ini dirinya memang tidak bermain-main dengan wanita. Baginya sangat menjijikkan bermain dengan wanita-wanita murahan di luar sana.
"Ya ya ya, terserah kau saja." Roy beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju pintu. Namun berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya. "Tunggulah sampai dia sadar, kau boleh melakukan apapun padanya!" Dengan cepat Roy berlari keluar kamar, karena sudah dapat dipastikan akan menerima makian dari Zayn.
"Roy, apa kau sudah bosan hidup??" teriak Zayn mendengkus kesal.
"Ck, aku bahkan sudah tidak berselera lagi terhadap wanita." Zayn membuang rokok dengan asal.
Kedua matanya kembali menatap pemandangan keluar jendela. "Tidak ada siapapun yang bisa menggantikan mu, Elle." Bergumam kecil dan meyakinkan dirinya bahwa tidak ada wanita lain yang mampu mengisi hatinya yang sudah dipenuhi akan wanita yang bernama Elleana.
BERSAMBUNG
.
.
Hai hai kalau kalian suka dengan cerita bang Zayn jangan lupa ya.. Like, komentar, follow dan vote kalau berkenan. Terima kasih banyak 🤗
Jangan lupa bahagia 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Ainun Dunggio
cinta buta ni
2022-06-02
0
Maia Mayong
wahhh Zayn Uda ga selera ma wnita lgi , Zayn selera ny ma wnita jadi2an . 🤣🤣🤣🤣
2022-03-10
0
NADIRAH
tinggal nunggu bang zayen bucin akut...
2022-01-07
0