"Kau tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya!" Suara yang dingin dan angkuh menyentakkan telinga mereka.
Mereka menoleh ke arah pria yang mengeluarkan aura menyeramkan. Sehingga membuat mereka beranjak berdiri secara serentak. Suasana semakin mencekam saat pria yang tak lain ialah Zayn, semakin berjalan mendekat. Rolando, Marlin dan Angela bergidik ngeri karena pria itu tengah mengayunkan sebilah pisau.
Angela tak melepaskan pandangannya dari Zayn, pun sebaliknya. Sebilah pisau yang di genggam oleh Zayn menjadi pusat perhatian mereka bertiga, menatap benda yang tidak diketahui akan digunakan untuk apa. Angela, Rolando dan Marlin sudah dapat mengukur seberapa tajam benda tersebut jika mengenai kulit salah satu dari mereka.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Zayn bertanya bersamaan dengan kening yang berkerut karena bingung. Ia belum menyadari sesuatu yang membuat mereka terlihat sangat ketakutan. Zayn pun mengikuti arah pandang ketiga keluarga Wilson tersebut, tak lama kemudian tergelak geli. Sontak membuat Angela, Rolando dan Marlin terlonjak kaget karena tiba-tiba saja pria itu tertawa.
"Hahaha apa kalian takut dengan ini?" Zayn menjulurkan benda tajam itu kepada mereka. Ketiganya semakin menjauhkan tubuhnya dari Zayn. Namun Zayn semakin tertarik untuk menakut-nakuti mereka.
"Jauhkan pisau itu dari kami!" ucap Angela saat Zayn mengasah pisau itu di telapak tangannya.
Zayn menatap ke arah Angela, sungguh tatapan yang sangat tajam seperti pisau yang pria itu genggam. Angela menelan salivanya dengan susah payah.
Melihat ketakutan di wajah mereka, Zayn menarik sudut bibirnya. "Sudahlah! Aku tidak akan melakukan apapun!" ucapnya seraya berjalan menjauhi Angela, Rolando dan Marlin.
Zayn membuang pisaunya dengan asal. Ia memang tidak sengaja membawa pisau itu saat tengah memotong buah apel di dalam ruangannya, namun karena mendengar suara Angela yang setengah berteriak, membangun rasa penasarannya dan mencoba mendengar apa yang tengah keluarga Wilson bicarakan. Tanpa sadar, Zayn membawa pisau itu di tangannya. Dan membuatnya tertarik untuk bermain-main karena benda tajam itu dapat menakuti keluarga Wilson. Ingin Zayn tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah pucat pasi yang terpancar di wajah mereka, namun sebisa mungkin ia menahan tawanya itu.
"Kau sudah tau bukan, yang dikatakan oleh kedua orang tuamu?" tanya Zayn pada Angela sesaat, setelah mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
"Iya," jawab Angela singkat.
"Lalu? Apa kau masih ingin menolaknya disaat kedua orang tuamu sudah menyetujui kau menikah denganku?!"
Angela terbungkam sesaat. "Kau pasti mengancam kedua orang tuaku sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya!" Rolando menahan lengan putrinya seraya menggeleng pelan, tatapan matanya mengisyaratkan putrinya untuk tidak memancing kemarahan Tuan Jasper.
"Apa menurutmu seperti itu? Kalau memang itu yang ada dipikiran mu maka itulah kenyataannya. Aku tidak mengancam, hanya saja memberikan pilihan dengan mudah. Kau menikah denganku atau Daddy kesayangan mu itu harus membayar setidaknya 2 miliyar dan mungkin ingin menginap di balik jeruji besi yang dingin itu." Lagi-lagi Zayn dengan sengaja mengatakan hal seperti itu sebagai ancaman. Dan ucapan Zayn itu mengundang kebencian di hati Angela.
"Aku tidak ingin menikah denganmu!" Angela bersikeras menolaknya dengan tegas.
Menyaksikan penolakan Angela. Zayn berdecak kesal, menggertakan gigi menahan kesal. Ia beranjak berdiri. "Ku rasa sudah cukup dramanya!" Melangkah ke arah Angela, Zyan menatap wanita itu dengan tajam.
Perhatian Zayn beralih pada Roy. "Roy, antarkan mereka keluar dari sini!"
Roy mengangguk paham. Berjalan mendekati Rolando dan Marlin. "Tuan dan Nyonya Wilson, saya akan mengantarkan kalian."
Marlin menjadi kecewa, karena dirinya masih merindukan putri mereka. "Tapi-"
"Jangan mempersulit keadaan Nyonya. Zayn tidak akan berbicara baik-baik untuk yang kedua kalinya." Roy memperingati mereka. Karena dirinya sudah mengenal watak Zayn, sebelum Zayn lebih kasar lagi pada kedua paruh baya tersebut, Roy harus mengusir mereka segera mungkin dari mansion.
Rolando dan Marlin menatap Angela. Mereka saling menatap sendu selama beberapa saat, hingga Rolando dan Marlin berlalu meninggalkan mansion. Angela hanya melihat kepergian kedua orang tuanya tanpa dapat melakukan apapun.
"Kau dengar, kau tidak punya pilihan lain. Hanya aku satu-satunya yang bisa menyelamatkan kau dan keluarga mu!" Zayn menyentuh dagu runcing Angela. Memberikan peringatan agar tidak membantah ucapannya.
Angela menatap sinis, sebelum kemudian menepis tangan Zayn yang menyentuh dagunya. "Apa kau mengancam ku?"
"Benar. Jadi menurutlah!"
Angela dapat merasakan hembusan napas Zayn yang menyapu wajahnya. Jarak mereka begitu dekat. Jika saja pria dihadapannya itu tidak begitu kejam dan pemaksa, mungkin Angela sudah jatuh cinta pada wajah tampan pria itu.
Angela mengepal kedua tangannya karena tak mampu membantah ataupun melawan Zayn. Tatapan matanya sinis, membuat Zayn tertarik menatap wajah cantik yang dipenuhi amarah itu.
"Kembalilah ke kamar, sebentar lagi kau akan menjadi pengantin ku!" ucapnya dengan menyunggingkan senyum. Berjalan menuju ruangannya dan meninggalkan Angela yang masih diliputi amarah.
Dasar brengsek! Kurang ajar! Seenaknya saja, kau ingin menikahi ku!
Angela hanya dapat mengumpat dalam hati, kedua manik matanya menatap tubuh tegap Zayn dari belakang. Suaranya tak dapat ia lontarkan dan hanya membiarkan umpatan itu tercekat di kerongkongannya.
Berlari menuju kamarnya, Angela membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menumpahkan rasa kesal yang bercampur rasa sedihnya dengan menangis. Sebagai seorang wanita, siapa yang tidak ingin menikah, namun tidak dengan cara yang kejam seperti terpaksa dan sebuah ancaman.
Tanpa Angela sadari, Zayn berada di balik pintu kamarnya. Pria itu menyandarkan punggung di balik dinding kamar Angela, tak ada ekspresi apapun saat mendengar isak tangis di dalam kamar tersebut. Tatapan mata Zayn kosong, dan menampakkan raut wajah yang datar, sebelum kemudian tersenyum getir.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan seorang wanita menolak ku lagi!
Zayn menghembuskan napas berat, dirinya benar-benar tidak mengerti seorang wanita. Meskipun selama ini, ia selalu berusaha mengerti Elleana hingga membiarkan wanita itu memilih kebahagiaannya, dan membiarkan dirinya yang terluka.
Mengingat hal itu, Zayn terkekeh kecil seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat. Sepertinya cinta memang tidak cocok untuknya. Zayn meninggalkan kamar Angela, mengusap rambutnya dengan gusar. Ia menuju ruangan yang terdapat banyak minuman disana, melampiaskan kekesalan hatinya dengan minum.
***
Keesokan paginya. Mansion tampak dipadati beberapa petugas dekorasi atas perintah Zayn. Para anak buah Zayn pun turut ikut serta. Besok adalah hari pernikahan Zayn dengan Angela, wanita yang belum ia cintai. Ia sudah memberitahukan Rolando dan Marlin untuk menjadi wali dari mempelai wanita. Rasa terhadap Angela pun hanya sekedar untuk memiliki wanita itu, wanita yang hampir mirip dengan wanita cinta pertamanya.
Zayn dan Roy tengah duduk di halaman seraya memperhatikan para anak buahnya dan beberapa petugas dekorasi yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Zayn menyeruput kopi yang masih panas dengan perlahan, asap yang mengepul dari cangkirnya menyapu sebagian wajahnya.
"Sepertinya kau terlihat bahagia akan melepaskan masa lajang mu, Zayn." Roy mengamati raut wajah Zayn.
Perkataan Roy, seperti sebuah ejekan di telinganya. Menghiraukan ucapan Roy, Zayn meletakkan cangkir kopi miliknya. "Apa aku terlihat seperti pria yang bahagia karena akan menikah?" tanyanya tak percaya.
Roy membenarkan posisinya yang duduk di samping Zayn. Tangan kanannya menumpu dagu, pria itu berpura-pura berpikir menelisik penuh wajah Zayn. "Kau memang terlihat bahagia," ucapnya tak melepaskan pandangan dari wajah Zayn yang terdapat lengkungan senyum tipis di sudut bibir Zayn. Roy dapat melihatnya, walaupun Zayn tidak menyadari itu.
Zayn hanya berdecak saat mendengar perkataan Roy yang cukup menggelitik. Ia hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Namun Roy tetap menelisik pria di sampingnya itu. "Kau tau, kenapa aku berbicara seperti itu?" ucap Roy kembali.
Salah satu alis Zayn terangkat satu dan menoleh ke arah Roy. "Kenapa?"
"Hehehe...." Roy menjadi terkekeh melihat Zayn yang begitu serius menunggu jawabannya.
"Sialan kau!" Zayn mendengkus kesal karena Roy mengerjai dirinya.
Seketika Roy menghentikan tawa kecilnya. Raut wajahnya berubah serius kembali. "Mungkin kau tidak menyadarinya, belakang ini kau tidak banyak minum. Tidak berbuat sesuka hati dengan orang-orang yang belakangan ini membuat mu kesal. Bahkan kau melepaskan Tuan Wilson begitu saja. Jika itu bukan Tuan Wilson, kau tidak akan peduli bagaimana orang itu akan membayar seluruh hutangnya atau bahkan kau membiarkan orang itu mendekam di penjara."
Karena sudah mengenal baik siapa Zayn, sehingga Roy dapat berkata demikian. Semenjak bertemu dengan Elleana, banyak perubahan di dalam diri Zayn namun tetap saja tidak membuat pria itu berhenti dari minum dan mengurangi rasa frustasinya. Bahkan sering kali, mendapati Zayn yang selalu marah-marah tidak jelas jika teringat akan cinta pertamanya tersebut.
Dan sejak kedatangan wanita yang bernama Angela, Roy pun sedikit melihat perubahan dalam diri Zayn. Namun hanya dirinya yang menyadari, sedangkan pria bodoh itu, selalu menyangkal akan perasaannya sendiri.
Kening Zayn berkerut dalam. Ia gagal mencerna ucapan Roy. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" Zayn mengabaikan ucapan Roy, ia meneguk kembali kopinya.
Roy hanya menghela napas. Begitulah jika berbicara dengan pria bodoh seperti Zayn. "Entah kapan, kau akan menyadarinya sendiri." Roy beranjak berdiri, meninggalkan Zayn dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam pikirannya.
"Kenapa dia?" gumamnya heran.
Sedangkan sejak tadi, Angela memperhatikan mereka dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Wanita itu memperhatikan beberapa petugas dan anak buah Zayn yang tengah sibuk mendekorasi untuk pernikahan mereka besok. Ia juga melihat Zyan tengah bersama dengan Roy di bawah sana. Tak dapat di pungkiri jika Zayn memiliki wajah yang sangat tampan. Namun di balik wajah tampannya, pria itu juga sangat menyeramkan.
Angela tersenyum kecut, pada akhirnya ia tidak bisa menolak pernikahan itu. Mau tidak mau, ia harus tetap menikah dengan pria yang belum ia kenal dengan baik. Jika tahu akan seperti itu, sejak awal dirinya akan menerima Samuel dan menikah dengan temannya, dari pada harus menikah dengan pria seperti Zayn.
Nasi sudah menjadi bubur. Ia meratapi nasibnya, seorang Direktur Perusahaan Wilson yang selama ini dapat mengatasi beberapa masalah perusahaannya, kini tak dapat melakukan apapun. Dirinya begitu terlihat kecil di hadapan pria yang memiliki segalanya seperti Zayn. Kedua mata Angela terpejam, ia mengusap air mata yang sudah merambat di wajahnya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Jangan lupa dukungannya ya.. Like, komentar dan vote kalau berkenan.. terima kasih banyak 🤗
Jangan lupa bahagia 💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
jen
sukaaa... selalu ada visualnya .. nambah gmn gtu bayanginya senyum senyum hehehe
2024-09-16
0
Andri
bahagia ** angel jangan kwater
2024-01-16
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
Zain tuh sudah punya perasaan tapi masih menepis rasa ke Angela
2023-11-05
0