"Ini barang-barang lo udah semua Di?" tanya Mas Gun sembari menyeka keringat di dahinya.
"Udah kok mas. Barang-barangku nggak banyak kok. Cuma koper baju, sama dua tas aja." jawabku.
"Iya cuma koper, tapi ini koper jama'ah haji. Cuma dua tas, tapi ini tas naik gunung. Heran gue, baju lo banyak amat sih Di?" tanya Mas Gun.
"Masih lebih banyak baju lo mas," jawabku.
"Yuk ah! Udah siang nih" ajakku ke Mas Gun.
Mas Gun menyalakan motornya, satu tasku di letakkan di pangkuan Mas Gun, sedangkan satu lagi kugendong. Koper jama'ah haji kutinggal, nanti akan kuambil setelah membereskan kamar baruku. Motor Mas Gun melaju menuju Kost Pak Thamrin.
"Mas, inget janji sampeyan nggak?" tanyaku.
"Janji apa ya?"
"Sampeyan mau nginep di kamarku nanti. Inget nggak?"
"Oalah Di Di, beres-beres kamar aja belum. Udah nagih janji. Hahahahaha."
"Ya tapi lo udah janji mas. Hahahaha." tawaku terkekeh.
"Oke, malam minggu besok deh." jawab Mas Gun seraya memutar gas motor lebih cepat.
Jam di ponselku menunjukkan pukul 11:20 siang. Aku sudah menghubungi Nek Iyah semalam, siang ini aku akan menempati kamar tersebut. Darahku mengalir cepat, saking senangnya. Tak sabar ingin menempati kamar baru.
Perjalanan dari kontrakan Mas Gun menuju Kost Pak Thamrin hanya memakan waktu sekitar 15 menit mengendarai motor. Kami sampai di depan gerbang rumah Nek Iyah. Aku turun dan membuka gerbang lebar-lebar. Kemudian Mas Gun memacu motornya masuk ke dalam pekarangan rumah, dan berhenti tepat di depan rumah Nek Iyah.
"Assalamualaikuuumm." aku mengucap salam.
Nek Iyah membuka pintu depan rumahnya. Alisnya mengernyit, matanya dipicingkan menatapku.
"Adi nek, yang semalem telpon Nek Iyah," ucapku.
Nek Iyah masih terdiam menatapku.
"Yang hari ini mau tempatin kamar 11b nek." lanjutku.
"Ooh kamu, iya saya ingat. Motornya langsung saja ke belakang lewat samping situ. Tahu kan?" suruh Nek Iyah.
"Iya nek, makasih nek. Yuk mas!" aku berjalan menuju garasi mobil sedan tua terparkir, Mas Gun mengikuti di belakang.
"Parkir di sini aja mas." pintaku. Mas Gun memarkir motornya tepat di depan kamar no.11b, kamarku. Ia melihat suasana sekitar.
"Gimana mas, enak nggak suasananya?" tanyaku.
"Lumayan lah, adem di sini." jawab Mas Gun singkat.
Tak lama Nek Iyah datang membawa serenceng kunci, kemudian membuka kamar 11b.
"Silakan dek," Nek Iyah mempersilakan dengan senyum terukir di wajahnya.
"Assalamualaikum" aku mengucap salam sebelum masuk ke dalam kamar, di ikuti Mas Gun membawa tasku. Nek Iyah menunggu di depan kamar.
"Oiya nek. Maaf saya mau bayar uang kost yang tempo hari saya janjiin." aku menghampiri Nek Iyah di depan kamar. Setelah memberikan sejumlah uang sewa kamar, Nek Iyah memberikan kunci kamar.
"Dek, ada yang mau saya kasih tahu ke adek soal peraturan di kost ini." ujar Nek Iyah.
"Oh iya nek."
"Disini nggak boleh berisik-berisik ya, terus nggak boleh bawa pasangan ke dalam kamar, nggak boleh bawa minuman keras apalagi narkoba ya dek." jelas Nek Iyah.
"Iya nek, kalau narkoba saya jelas nggak nyentuh sama sekali." tanggapku.
"Bagus, memang harus jauh-jauh dari narkoba. Terus, jam 12 malam gerbang sudah di kunci. Jadi nggak bisa pulang malam atau keluar malam ya," sambung Nek Iyah.
"Iya nek."
"Kalau mau kuliah atau keluar, kran air tolong di matiin. Terus, disini ada pantangan dek,"
"Pantangan? Pantangan apa tuh nek?" tanyaku.
"Nggak boleh bakar-bakar!"
"Bakar-bakar? Maksudnya?" tanyaku heran.
"Bakar ayam, bakar ikan atau bakar sate. Pokoknya bakar-bakar daging. Di sini nggak boleh ya." jawab Nek Iyah.
"Lho, emang kenapa nek?" tanyaku kembali.
"Pokoknya kalau nggak boleh ya nggak boleh. Nggak harus saya jelasin." jawab Nek Iyah dengan nada sedikit tinggi.
"Iya nek." jawabku sambil memendam rasa penasaran.
"Sudah paham sama peraturannya ya?" tanya Nek Iyah sembari menyerahkan dua buah kunci kamar kepadaku.
"Paham nek. Paham banget."
"Ya sudah, saya tinggal ya. Oh iya satu lagi, kunci kamarnya tolong jangan sampai hilang ya dek."
"Iya nek. Makasih banyak nek." jawabku, kemudian Nek Iyah berlalu meninggalkanku.
Aku merapikan baju di lemari, Mas Gun membantu menyapu lantai kamar.
"Di, lo belum punya kasur?" tanya Mas Gun.
"Iya mas, rencananya sih nanti mau beli. Habis beres-beres kamarlah." jawabku.
Setelah merapikan baju dan membersihkan kamar, aku dan Mas Gun duduk di ruang depan. Mas Gun nampak diam sejak datang ke kost ini.
"Sampeyan kenapa mas? Kok tumben nggak banyak omong." tanyaku.
"Hah? Eh, nggak apa-apa Di." jawabnya singkat.
"Ayo kita ambil koper, sekalian beli kasur!" ajak Mas Gun.
"Ayo!"
Bantuan Mas Gun hari ini amat berarti. Setelah membeli kasur dan mengantarku ke kost, Mas Gun segera pamit pulang, ia bilang badannya agak kurang enak sejak pagi tadi.
Tak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Sudah pukul 17:15, dan aku belum sempat melaksanakan shalat ashar. Setelah mandi dan melaksanakan shalat ashar, aku keluar mencari warung nasi. Perutku perih, ternyata sejak siang aku belum makan.
Sinar matahari nampak memudar, warna jingga melukis langit sore ini. 17:50, jam di ponselku. Sebentar lagi maghrib. Aku berjalan cepat melewati garasi, kemudian melewati halaman rumah Nek Iyah, kubuka gerbang kemudian kututup kembali. Eh, ada Nek Iyah sedang duduk di teras.
"Permisi nek," sapaku dari luar gerbang.
Nek Iyah tak menjawab. Kulihat Nek Iyah sedang asik menyisir rambut panjangnya. Wajahnya tertutup rambut. Ia mengenakan daster berwarna merah.
Tak kupedulikan, aku pun berlalu.
Adzan maghrib berkumandang. Langit sudah mulai gelap. Aku mempercepat langkahku menuju kamarku. Benar kata Mas Gun, daerah sini memang agak sepi. Warung nasi saja jaraknya lumayan jauh dari gang masuk ke kost.
Aku menyusuri jalan menuju kost, gelap dan sepi. Dari kejauhan kulihat seorang wanita berdiri di depan pintu rumah seperti tempo hari lalu. Rumah kecil dekat kost-ku ini memang terlihat tak terurus. Aku berjalan melewati depan rumah tempat si wanita berdiri.
"Permisi mbak," aku menyapa si wanita dengan suara cukup pelan.
Belasan ekor kucing bahkan mungkin puluhan, berkumpul di depan rumah tersebut, menatapku sinis.
"Iyaaaa," jawab si wanita dengan suara parau. Nampak daster putih yang ia kenakan kotor dan kusam. Aku pun berlalu.
Kubuka gerbang kost, menutupnya kembali. Dari depan gerbang kost, rumah kecil itu memang terlihat. Saat kulihat ke arah rumah itu si wanita sudah tak ada. Kuacuhkan.
Lampu teras rumah Nek Iyah terlihat redup. Eh, Nek Iyah masih menyisir rambutnya. Posisinya tak berubah sejak kulihat tadi. Aku berjalan pelan melewati halaman sambil melirik ke arah Nek Iyah yang duduk di kursi teras. Nek Iyah menyisir rambut panjangnya pelan.
"Permisi nek," sapaku. Nek Iyah tak menjawab. Tak ambil pusing, aku berjalan menuju kamarku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Aeyma Rahma
Si Adi jg masa bodoh banget jadi orang, sudsh banyak hal aneh didepan mata masih diacuhkan. Heran!!!
2023-05-30
1
IG: _anipri
aku curiga kalau kost an itu yang tinggal hantu semua kecuali Adi
2023-01-30
0
IG: _anipri
hii, serem nih pasti
2023-01-30
0