Azan subuh terdengar sayup di kejauhan, sedangkan mataku tak dapat terpejam sejak bangun pukul tiga tadi. Aku beranjak dari kasurku menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah melaksanakan shalat subuh, kubangunkan Bagas.
"Gas, udah subuh Gas. Bangun Gas." aku menggoyang-goyang tubuh Bagas.
Bagas bangun dan melaksanakan shalat subuh.
"Cepet banget udah subuh aja ya, perasaan gue baru tidur sebentar." gumam Bagas setelah shalat.
"Habis shalat doa dulu Gas." ujarku.
"Oh iya, gue lupa Di. Hehehehe."
Hari ini jadwal perkuliahan kelasku di mulai pukul delapan pagi. Aku merasa kurang bersemangat hari ini, karena kurang tidur. Setelah mandi dan membereskan kamar, aku dan Bagas berangkat kuliah. Tak lupa kukunci pintu kamar.
"Lo kenapa Di? Lesu amat, semangat dong!" ucap Bagas.
"Kurang tidur gue Gas. Nggak bisa tidur habis mendusin semalam." jawabku.
"Yee kenapa nggak bisa tidur? Padahal enak lho tidur di kamar lo. Adem, nggak perlu kipas angin."
"Nggak tau kenapa. Udah gue coba, cuma tetep nggak bisa."
Kami berjalan melewati garasi. Kembali kulihat Nek Iyah sedang menyapu halaman.
"Eh Dek Adi, mau berangkat kuliah?" sapa Nek Iyah.
"Iya nek." jawabku sambil tersenyum.
"Oh iya, kran airnya masih rusak?" tanya Nek Iyah kembali.
"Masih nek, kadang suka copot sendiri kran airnya."
"Yasudah, nanti di benerin sama Ujang. Kunci kamarnya titip di saya aja." Nek Iyah berkata.
"Eh, nggak apa-apa nek? Nggak tunggu saya pulang kuliah aja?" tanyaku.
"Nggak apa-apa, aman kok. Ujang memang orang yang kerja di sini. Nggak bakal ada yang hilang." jelas Nek Iyah.
Aku pun memberi kunci kamarku ke Nek Iyah.
"Oh iya nek, ada yang mau saya tanyain."
"Tanya apa?"
"Di sekitar sini memang ada bayi yang baru lahir ya?" tanyaku.
Nek Iyah diam. Bagas juga diam.
"Sudah dua malam saya denger bayi nangis tiap jam tiga malam. Dan suaranya kenceng banget, dan kedengerannya deket banget." sambungku.
"Eh, kamu denger bayi nangis? Perasaan kamu aja kali." ucap Nek Iyah.
"Nggak mungkin nek, saya denger jelas banget kok." jawabku.
"Udah udah, nggak ada bayi baru lahir kok di sekitar sini. Sudah berangkat saja, nanti telat. Saya masuk dulu ya." jawab Nek Iyah sedikit salah tingkah.
Nek Iyah berlalu meninggalkan aku dan Bagas di halaman.
"Emang perasaan lo aja kali Di." gumam Bagas.
"Kuping gue masih sehat Gas, gue yakin sama yang gue denger." sambutku.
"Yaudah yuk berangkat. Matkul Pak Yono nih, dosen killer. Yuk ah!" ajak Bagas.
Kami berjalan meninggalkan halaman. Tapi ada yang aneh dengan jawaban Nek Iyah, seperti ada yang di sembunyikan. Atau memang ia tahu sesuatu, namun tak mau kasih tahu. Dan gelagatnya pun tak biasa.
Aku membuka gerbang kemudian menutupnya kembali.
"Di, mbak yang punya rumah ini nggak keliatan lagi ya?" tanya Bagas sembari menunjuk rumah mungil di depan gerbang.
"Mana gue tahu Gas. Emang kenapa?" tanyaku.
"Nggak apa-apa sih. Saran gue, lo deketin dia Di. Kalo udah deket kan enak."
"Enak apa?" tanyaku.
"Yee lo jangan mikir macem-macem. Enak maksudnya lo bisa makan gratis, secara lo kan mahasiswa perantau. Harus banyak cari kawan Di." jelasnya.
"Iya nanti kalo ketemu gue ajak ngobrol." jawabku.
"Eh, ajak gue ya kalo mau ketemu." Bagas senyum-senyum.
"Aaahh gue tahu nih, ini akal-akalan lo aja nih. Nyuruh gue deketin, biar lo bisa deketin juga. Iya kan? Ngaku lo?"
"Hahahaha, pikiran gue kebaca ya? Hahahahaha." Bagas tertawa.
"Lo tahu nggak Di, semalem pas gue lanjutin tidur lagi. Pas tidur gue mimpiin si mbak di rumah itu Di. Hehehehe."
Langkahku terhenti.
"Ngapain berenti jalan sih? Sambil jalan aja gue ceritanya Di, nanti telat." Bagas menepuk lenganku.
"Terus?" tanyaku.
"Emang sih, mukanya nggak terlalu jelas. Tapi senyumnya manis banget. Di mimpi itu dia duduk di lantai atas rumahnya, kakinya sambil uncang-uncang gitu Di. Lo tahu kan uncang-uncang?"
"Uncang-uncang itu goyang-goyang kan?" jawabku.
"Iya, semacam itu lah pokoknya. Dia pakai baju putih bagus banget, kayak bahan sutera gitu. Dia senyumin gue terus, senyum kayak malu-malu gitu Di. Lo tahu kan?" Bagas kembali bertanya.
"Iya gue tahu." jawabku yang sudah agak malas menanggapinya.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Bagas membahas mimpinya bertemu mbak rumah mungil depan Kost Pak Thamrin. Bahkan saat sampai di depan kelas, Bagas terus nyerocos soal si mbak.
Dia bilang, akan menginap lagi di kost-ku kapan-kapan. Ia pun bilang ingin sesekali mengobrol dengan si mbak. Puncaknya, ia ingin sekali mengajak si mbak jalan, walau hanya sekedar makan.
Dasar gila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Mariana Frutty
✅
2024-06-18
0
IG: _anipri
udah kemakan Ama cinta tuh. wkwkwk
2023-01-30
0
IG: _anipri
ouh, baru tahu. wkwkwk
2023-01-30
0