Malam ini mulai kukemas seluruh barang-barangku. Tak enak rasanya menumpang cukup lama di kontrakan Mas Gun. Memang, ia tak pernah mempermasalahkan berapa lama kutinggal di sana, apa saja yang kulakukan. Tapi, kurang nyaman kalau harus terus menumpang.
"Mas, suwun yo," ujarku singkat sembari merapikan beberapa lembar pakaianku.
"Apaan sih Di, lebay amat." jawabnya singkat dengan hisapan rokoknya dalam.
"Gue maunya lo bareng kost di sini sama gue. Eh, malah mau kost sendiri." sambungnya.
"Kan udah gue bilang mas, nggak enaklah. Temen sampeyan tiap hari banyak yang datang ke sini." jawabku.
"Ya kalau nggak enak, kasih kucing aja Di. Hehehehe." Mas Gun terkekeh.
Mas Gun memang seniorku paling baik sejak nyantren dulu. Aku ingat sewaktu di pondok dulu, dia melindungiku dari senior iseng yang hendak membully. Mas Gun adalah murid ayahku saat di bangku sekolah dasar dulu. Info tentang kuliah dan kampus pun kudapat darinya.
drrrttt drrrttt
Ponselku bergetar. Mbak Ani?
"Assalamu'alaikum mbak." aku menjawab telpon mbak-ku.
"Waalaikumsalam. Kamu sehat Di?" tanyanya di sana.
"Alhamdulillah sehat mbak. Mbak sendiri sehat?"
"Sehat alhamdulillah. Gimana kuliahnya? Lancar?"
"Ya begitu mbak, masih lancar saja karena masih awal semester belum banyak kendala sih. Ayah ibu sehat mbak?" tanyaku.
"Bagus kalau lancar. Ayah sehat, cuma ibu lagi kurang enak badan. Biasalah, masuk angin," jawab Mbak Ani.
"Gimana, kamu sudah dapat kost-an belum Di? Ndak enak kalau numpang terus sama Guntur"
"Sudah mbak, baru tadi sore dapat harga yang cocok. Iya mbak, aku juga sudah bilang sama Mas Gun, ndak enak kalau numpang terus di sini." jawabku.
"Alhamdulillah kalau sudah dapat. Yowes, mbak cuma mau tanya kabar kamu saja. Inget pesan ayah ya, shalat jangan di tinggal."
"Nggih mbak, nggak di tinggal dong"
"Yasudah, salam buat Guntur. Bilang makasih sudah mau nampung Adi selama dua minggu. Assalamu'alaikum."
"Nggih mbak, nanti di sampaikan salamnya. Waalaikumsalam mbak."
Setelah percakapan singkat dengan Mbak Ani, aku kembali membereskan barang-barangku. Mas Gun sedang asik dengan game di ponselnya. Setelah selesai membereskan barang, aku membuat secangkir kopi dan duduk di depan kamar.
Kontrakan Mas Gun terletak di padat pemukiman dekat kampus. Banyak kost berjejer dan bertingkat-tingkat. Jam di ponselku menunjukkan pukul 22:41, suasana di sini tak begitu sepi. Masih banyak motor lalu lalang. Beberapa penjual makanan gerobak pun sesekali masih lewat.
Aku bersandar pada dinding depan kost Mas Gun, sesekali kuseruput kopi. Kupandangi suasana sekitar, namun mataku tertuju kepada sebuah bayangan tak asing. Kupicingkan mataku tajam, agar lebih jelas terlihat. Bayangan itu seperti sosok kakek tua yang berpapasan denganku tadi. Bayangan itu ada di samping sebuah kontrakan, dekat dengan sebidang tanah tempat pembuangan sampah.
Kuusap mataku berkali-kali, agar yakin dengan apa yang kulihat. Bayangan itu kini lebih jelas terlihat sebagai sosok kakek tua dengan blangkon dan baju hitamnya. Aku bangun dari dudukku, kuperhatikan si kakek. Matanya tajam melihatku. Separuh wajahnya gelap tak terpancar sinar, namun tatapannya jelas.
"Kek, kek! Kakek!" panggilku.
Si kakek tak menjawab. Ia hanya diam dan masih menatapku. Kupakai sandal, dan berjalan pelan menuju tempat si kakek berdiri.
"Wooii Di!" panggil Mas Gun dari dalam.
"Ya mas!" jawabku.
"Mau kemana? Ke warung ya?" tanya Mas Gun.
Aku kembali ke kamar dan menghampiri Mas Gun.
"Enggak kok," jawabku.
"Lah, terus lo mau kemana kalau bukan ke warung?"
"Em, itu. Anu mas," aku tergagap.
"Anu anu aja. Ini gue nitip rokok." Mas Gun memberikan selembar uang.
"Iya mas."
Aku berjalan menuju tempat si kakek tua berdiri. Sosoknya sudah tidak ada. Cukup lama aku berdiri dekat tempat pembuangan sampah, mencari sosok kakek tua. Namun tidak ada. Hanya segerombolan tikus sedang mengacak-acak seonggok plastik sampah. Aku pun berlalu, menuju warung membeli rokok.
"Beli rokok dimana Di?" tanya Mas Gun, dua jempolnya masih menari di layar ponselnya.
"Biasa mas, di warung Teh Kokom." jawabku sembari melempar sebungkus rokok pesanan Mas Gun.
"Oh di Teh Kokom, kirain beli di Kudus,"
"Hehehehehe, emang kenapa mas?" tanyaku.
"Lama banget pergi ke Teh Kokom doang. Gue kirain lo ke Kudus."
"Eh mas, masa tadi gue lihat kakek-kakek yang tadi deh." ucapku.
"Kakek-kakek yang mana?" tanya Mas Gun.
"Itu lho, kakek-kakek yang papasan sama gue di lapangan sana. Yang tadi gue cerita di tukang pecel. Lupa?"
"Iya inget. Terus kenapa?"
"Tadi pas gue samperin, udah ilang masa!" ujarku.
"Aaahh mati lagi! Sial!" Mas Gun teriak. Ia meletakkan ponselnya.
"Di, gue tanya sekali lagi ya," Mas Gun berkata. Aku mengangguk.
"Lo yakin mau kost di daerah sana?" tanyanya.
"Kenapa mesti nggak yakin mas?"
"Yeee ni anak, di tanya malah balik nanya. Jawab dulu!" sungut Mas Gun.
"Yakinlah mas. Masa nggak yakin, cuma ngekost doang kok." jawabku.
"Bukan itu masalahnya. Kalau cuma ngekost doang semua orang juga yakin-yakin aja. Di, di sana itu daerah sepi, banyak yang bilang disana itu daerah serem. Lo yakin masih mau kost di sana?" tanya Mas Gun meyakinkanku.
"Mas, bukannya gue nggak dengerin saran lo. Tapi, cuma di sana gue dapat harga lumayan murah, terus suasananya gue seneng. Gue yakin kok." jelasku.
"Menurut lo, kakek-kakek yang lo temuin tadi itu pertanda apa cuma kebetulan aja?" tanya Mas Gun kembali.
"Hahahahaha, ketemu kakek-kakek doang mas. Pertanda apaan? Hahahahaha." ledekku.
"Idiiihh, malah becanda ni anak."
"Lagian lo lebay mas. Masa ketemu kakek-kakek di bilang pertanda. Pertanda apaan mas?" ujarku.
"Gue nggak tau pertanda apa. Kan lo sendiri yang cerita, papasan sama kakek-kakek terus tiba-tiba tuh kakek hilang. Tadi juga, lo liat kakek yang tadi, pas di samperin hilang. Menurut lo itu pertanda apa kebetulan?" Mas Gun berkata.
"Oke mas, oke. Emang aneh sih, tapi menurut gue itu cuma kebetulan aja. Atau cuma halusinasi gue aja kali." ujarku.
"Oke, berarti kebetulan ya. Mudah-mudahan cuma kebetulan atau halusinasi lo aja ya." tanggap Mas Gun.
"Santai aja mas. Gue yakin nggak ada yang aneh-aneh." aku menenangkan Mas Gun.
"All right, that's your bussiness." gumam Mas Gun.
"Oalaahh, mulai deh gaya songongnya nih. Hahahahaha." ucapku sembari menonjok bahu Mas Gun pelan, ia pun tertawa.
Malam itu aku berbincang hingga larut dengan Mas Gun, ini adalah malam terakhirku di kontrakannya. Kebetulan juga, besok tidak ada jadwal kuliah. Mas Gun bilang, lusa akan ikut membantuku pindahan ke Kost Pak Thamrin. Baguslah, semoga semua berjalan lancar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
IG: _anipri
selalu hati-hati lho Di
2023-01-30
1
IG: _anipri
apa kakek itu pengen Adi nggak tinggal di kamar 11B ya?
2023-01-30
0
IG: _anipri
betul itu.. wkwkwk
2023-01-30
0