Klik. Si nenek menyalakan lampu.
Wow, kamar ini cukup luas dengan tiga ruangan. Ruang depan, ruang tengah untuk tidur, dan ruang belakang dapur dan kamar mandi. Ini yang aku cari.
"Kamarnya tiga skat. Disini sudah ada lemari, paling kamu tinggal bawa kasur saja," ucap si nenek.
"Gimana? Mau ambil?" si nenek lanjut bertanya.
Aku masuk ke dalam, melihat ruang tengah. Ada lemari kayu tak terlalu besar di sudut ruangan.
"Saya sewa kamar ini nek. Luas, saya suka." jawabku. Si nenek hanya tersenyum.
"Eh tapi kok lantai di ruangan ini agak landai ya nek. Kenapa ya?" ungkapku. Ya, lantai di ruang tengah ini agak landai. Aku takut nantinya lantai ini akan runtuh.
"Oh ini. Nggak masalah kalau lantai ini. Dari dulu udah seperti ini. Aman-aman saja." jawab si nenek.
Aku lanjut melihat ruang belakang, dapur dan kamar mandi. Biasa saja, ruangannya lebih kecil. Kamar mandinya cukup bagus untuk ukuran kamar kost. Lantainya tidak licin, dan lampunya terang. Kunci di pintu kamar mandi juga berfungsi dengan baik. Cocok.
"Kapan saya bisa pindah ke sini nek?" tanyaku.
"Kalau kamu mau sewa, besok akan saya bersihin. Lusa kamu udah bisa tempatin kamarnya." jelas si nenek.
"Oke nek. Soal pembayaran gimana?" tanyaku kembali.
"Kalau kamu ada uang sekarang boleh di lunasin. Atau nanti saja pas pindah kesini" si nenek memberi pilihan. Aku pun setuju, akan kulunasi saat pindah kesini lusa nanti.
Si nenek mengajakku keluar, lalu mengunci pintu kamar 11B.
"Kalau gitu saya permisi nek. Saya balik lagi lusa sekalian pindah kesini. Makasih nek." ucapku.
"Iya dek, sama-sama."
"Oiya, saya Adi nek. Maaf ini nenek siapa?" tanyaku.
"Orang-orang panggil saya Nek Iyah."
"Saya permisi Nek Iyah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku berlalu meninggalkan Nek Iyah. Melewati garasi dan mobil tua, menuju halaman. Kubuka gerbang lalu meninggalkan Kost Pak Thamrin.
Kulewati rumah kecil depan yang penuh kucing. Eh, ada seseorang di depan rumah. Ia berdiri menghadap pintu rumah, memakai daster putih. Rambutnya panjang. Kuperhatikan ia hanya diri mematung di depan pintu rumah.
"Permisiii.." sapaku pelan.
"Yaaaaa.." ia menjawab dengan suara parau dan hampir tak terdengar. Aku pun berlalu. Sampai di tiang lampu, aku menoleh ke arah rumah tadi. Si wanita sudah tak terlihat lagi, ah mungkin sudah masuk bersama segerombolan kucing miliknya pikirku.
Kulihat jam di ponselku, 19:18. Aku bergegas menuju kontrakan Mas Gun. Malam ini aku tidur sendiri lagi nampaknya. Sejak Mas Gun kecanduan game, ia sering keluar malam. Menghabiskan malam di warnet, dan pulang menjelang subuh. Ya, nantinya aku pun akan tidur sendiri terus. Bedanya, tidur di kamar pribadiku.
Aku berjalan melalui kebun di sisi kanan dan kiriku, jalannya agak menanjak dan gelap. Sepi dan tak ada seorangpun lewat. Bahkan, seekor kucing pun tak nampak.
Uhukk. Uhukk
Suara batuk? Langkahku terhenti, kutengok sekelilingku. Tak ada orang. Rumah pun tidak ada. Suara batuknya seperti suara seorang lelaki tua. Mataku masih jelalatan mencari sumber suara. Nihil. Aku pun melanjutkan langkahku.
Uhukk. Uhukk.
Baru tiga langkah berjalan, suara batuk kembali terdengar. Kuacuhkan.
Uhukk. Uhukk. Uhukk
Suara batuknya terdengar dekat, dan tak menjauh. Aku mempercepat langkahku, kini aku sampai di depan gang. Hei, sudah tak terdengar lagi. Siapa tadi yang batuk? Dan, dimana orangnya? Tanda tanya menggelayut di otakku.
drrrttt drrrrttt drrrrttt
Mas Gun kembali meneleponku.
"Ya mas!" aku menjawab telepon Mas Gun.
"Lo langsung pindahan, apa cuma lihat-lihat sih? Kok lama banget?" tanya Mas Gun.
"Cuma lihat-lihat mas, pindahannya kemungkinan lusa." jawabku.
"Lho, lusa langsung pindahan? Emang udah cocok?" tanya Mas Gun sedikit terperanjat.
"Iya mas, kamarnya gede ada tiga skat. Pokoknya lebih bagus kamarku nanti ketimbang kamar kost-mu mas. Hahahaha." aku meledek Mas Gun.
"Halaahh. Yasudah, aku tunggu ya."
"Lho, tunggu apa mas? Bukannya sampeyan mau ke warnet lagi malam ini?" tanyaku.
"Nggak jadi, males ah. Cepet balik, kita makan bareng yuk!" ajak Mas Gun.
"Ooh, oke mas" jawabku sembari mempercepat langkah, lalu Mas Gun menutup telepon.
Aku berjalan melintas melewati lapangan. Gelap. Di kejauhan kulihat bayangan seorang lelaki berjalan menuju ke arahku. Akhirnya kami berpapasan. Seorang lelaki paruh baya dengan blangkon di kepalanya, mengenakan baju hitam panjang dan celana yang juga berwarna hitam. Kumisnya lebat, memutih di makan usia. Kerutan di pipinya sangat jelas terlihat.
"Permisi pak" sapaku. Ia hanya mengangguk. Sorot matanya tajam. Lalu berlalu melewatiku.
Cuma anggukan saja, jawab apa kek! gumamku dalam hati.
"Hei kamu!" panggil si kakek dengan lantang. Aku menghentikan langkahku, lalu berbalik badan.
"Ya kek," jawabku.
Aku terperanjat, sosok si kakek sudah tidak ada. Mataku melirik ke semua arah, mencari sosok si kakek tadi. Sampai-sampai aku berjalan menuju pinggir lapangan yang gelap, barangkali kutemukan si kakek. Aneh. Kemana perginya si kakek tadi? Hanya beberapa detik kami berpapasan dan ia memanggilku, dan sekian detik kuberbalik namun si kakek sudah tidak ada.
Ah sial, udah halu nih gue! aku membatin.
Singkatnya, aku sudah sampai di kost Mas Gun. Ia sungut-sungut menungguku yang lama tak kunjung datang. Perutnya sudah melilit kelaparan menungguku ujarnya.
"Buruan Di, laper nih gue!" gerutunya.
"Iya mas. Aku lepas sepatu dulu," jawabku sembari melepas sepatu dengan cepat dan melempar tas kuliah ke dalam kamar.
"Nah, udah kelar nih. Yuk, berangkat makan kita!" ajakku.
"Ah lama lo! Nih, bawa motor!" ucapnya seraya melempar kunci motor ke arahku.
Kami makan pecel lele di sekitaran kampus. Di sela-sela makan, aku dan Mas Gun berbincang.
"Jadi dapet kost dimana Di?" tanya Mas gun sambil menjejalkan sesuap nasi ke mulutnya.
"Persis di belakang kampus mas. Deket lapangan bola." jawabku.
"Hah? Lapangan bola?" Mas Gun sedikit terkejut.
Mulutku berhenti mengunyah.
"Kenapa mas?" tanyaku.
"Itu daerah sepi banget Di. Masih banyak kebun kosong lagi. Emang lo berani?"
"Emang apa yang perlu di takutin? Lagian suasananya enak kok, adem. Lo harus nginep sekali-kali di sana mas." ujarku.
"Iya boleh. Mbak, tambah nasi dong!" saut Mas Gun, lalu menyerahkan piring nasinya ke mbak penjual pecel.
"Lagian disana katanya banyak maling Di" sambung Mas Gun sembari menjilati jarinya yang penuh sambal.
"Ah, itu kan katanya. Belum tentu bener toh" jawabku.
"Eh mas, tadi gue ngalamin kejadian aneh mas," tuturku.
"Kejadian aneh gimana?" saut Mas Gun.
"Tadi gue papasan sama kakek-kakek. Terus dia mangil gue. Pas gue balik badan udah nggak ada tuh kakek." ceritaku.
"...." Mas Gun tak menjawab, ia sibuk mengaduk nasinya dengan sambal.
"Mas. Woi!" aku menepuk pundak Mas Gun.
"Mending lo cari kost lain deh!" sarannya.
"Yeee, apaan sih ni orang. Ujug-ujug nyuruh orang cari kost-an lain." sungutku.
"Gue cuma saran Di. Terserah lo aja, kan lo yang bakal tinggal di sana. Tapi banyak gue denger dari anak kampus, daerah sana memang banyak yang aneh-aneh sih. Makanya sepi." jelas Mas Gun.
Aku tak menggubris saran Mas Gun. Aku sudah kepincut dengan kamar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Aris Setyawan
ne yg mau ngekost emg aneh juga,,sdh ada pertanda gtu kok masih ngebet aja../Shy//Sleep/
2024-06-24
1
YoonMinDef
lagian dah tau rumah itu ga berpenghuni, bisa"nya ga curiga sama cwe baju putih rambut hitam panjang😭
2023-11-22
0
Alice Crooper
jangan di cari kost yang lain aja di
2023-11-05
0