Suatu tempat di Wilayah Utara kerajaan Aurora, terdapat bangunan yang dibuat kokoh menggunakan semen dan batu bata dengan model layaknya rutan, namun memiliki sentuhan gaya barat seperti benteng. Bangunan ini persis dari tampak luarnya, memang adalah penjara. Namun karena para tahanan adalah orang-orang yang menggunakan sihir, ada suatu aturan yang harus ditegakkan pada mereka.
Sistem keamanan di penjara ini cukup rumit, ketika satu tahanan datang, mereka akan dibawa ke suatu area yang disebut sebagai Zona Netral, dimana kapasitas mana mereka akan dilemahkan sampai titik terendahnya. Pada titik itu, setiap manusia akan sekarat, oleh karenanya kemudian para tahanan akan "ditahan" di dalam tabung air berisi herbal yang telah diperkuat melalui proses kimia. Tabung air ini hanya akan memulihkan daya hidup mereka.
Meskipun pada dasarnya mana bisa kembali pulih setelah memakan waktu yang lama, bukan berarti para tahanan bisa leluasa menggunakan sihir di sana. Layaknya memberi jatah makan, mereka juga tetap dibawa kembali ke Zona Netral secara rutin.
Tetapi tetap saja, dimana ada kesempatan, disitulah ruang untuk bebas nampak. Para penjaga penjara bukan berarti tidak bisa diajak bekerja sama oleh para tahanan. Dengan demikian, melalui prinsip yang sama seperti kamera pengawas yang diletakkan di sudut langit-langit, terdapat sihir yang digunakan untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Orang yang memiliki hak untuk melihat itu semua hanyalah sang kepala penjara, yaitu Count Willmurd Louis de Dormant. Atas izin dari Ashley, ia diizinkan untuk menghukum siapapun penjaga penjara sesuai dengan kesalahannya, bahkan jika harus dieksekusi mati di tempat.
......................
Satu hari setelah kejadian yang menimpa keluarga Rowing, keluarga bangsawan utama tersebut dipenjara di dalam sel tahanan yang sama. Dengan kondisi Garren dan Emma masih dalam bentuk yang tidak sedap dipandang, satu keluarga tersebut duduk tak berdaya dengan tangan dan kaki diborgol.
"Sial ... padahal tinggal sedikit lagi langkahku agar mencapai puncak... kenapa malah berakhir seperti ini?" Garren menggumam.
"Ssst. Diamlah, Ashley dan Willmurd sedang ke sini!" kata Emma berbisik.
Tak lama kemudian, Ashley datang bersama Willmurd. Ashley tampak kesal tepat setelah ia melihat tiga orang bangsawan itu.
"Tuan Will, segera siapkan tempat eksekusinya lalu beritahu publik. Tak perlu lagi ada sidang pengadilan untuk mereka, karena aku masih melihat mereka tidak juga kapok setelah semua perbuatannya pada Tuan Putri."
Willmurd melirik ke arah Ashley, kemudian melirik ke Rowing. Lantas, ia pun paham. Ia juga bisa merasakan jika Emma menggunakan sihir dengan penggunaan mana-nya yang tipis.
"Baik, Grand Duchess." Willmurd segera meninggalkan tempat dan melaksanakan perintah.
Ashley memelototi keluarga bangsawan tersebut. "Aku tahu, meskipun kalian terluka atas sihir milik Tuan Putri dan sihir kutukan Nak Azure, kalian masih bisa mendengar dan memahami apa yang terjadi pada kalian. Ya, aku berbicara tentangmu, Nyonya Emma Rowing....
"Jangan lupakan bahwa aku tahu seluk beluk sihir kalian. Kau pikir aku siapa mau mencoba-coba menipuku, hmm? Tapi aku bisa mengesampingkan hal itu, karena aku juga paham kau dan suamimu memanglah orang macam itu." Ashley membuat sesuatu dengan sihirnya sambil berbicara.
"Baiklah, kalian tetap saja seperti itu. Meskipun tubuh Tuan Garren dan dirimu sudah seperti orang mati, aku tahu kalian masih bisa bernapas dengan baik. Jadi... mari kita berbicara dengan intens, ya?
"Jika ... aku tahu satu jari saja bergerak untuk menggunakan sihirmu lagi, Nyonya Emma, aku takkan segan untuk menyiksa, menyembuhkan kalian kembali, lalu mengulanginya lagi ... lagi ... dan lagi, sampai kalian benar-benar menyesali perbuatan kalian. Apa aku jelas?
"Oh, tapi, aku sudah bilang jika kalian akan segera dieksekusi, jadi terima saja nasib kalian. Sesalilah perbuatan kalian di alam sana." Ashley duduk di sebuah bangku yang ia buat dari sihir sebelumnya.
"Nyonya Emma, sihirmu bisa membuatmu tahu siapa orang dan apa yang orang itu lakukan meskipun kau berjarak ratusan meter, bukan? Awalnya, aku menganggap sihirmu adalah sihir yang impresif dan ingin menjadikanmu sebagai kepala anggota intelku. Yah, bicara tentang masa lalu kita lewati saja....
"Gelarmu sebagai bangsawan tampaknya bukan isapan jempol semata, meskipun mana-mu sudah berada di titik terendahnya, kau masih mampu menggunakan sihirmu... tidak ... biar kuralat. Sihirmu adalah sihir yang bisa dilakukan bahkan oleh rakyat jelata yang sering kalian hina dan kalian habisi nyawanya. Apa aku salah?"
Ucapan Ashley membuat Emma menggertakkan giginya.
"Bastanil, katakan padaku, Nak. Mengapa kau memiliki keinginan kuat untuk menghabisi nyawa orang-orang tak bersalah di Wilayah Selatan? Apakah kau memiliki keinginan yang sama dengan Ayahmu yang ingin menduduki tahta kerajaan?"
Tanpa diduga Garren dan Emma, Bastanil angkat bicara dengan mudah.
"Ketika itu, Tuan Putri mengingatkanku bahwa aku harus lebih menyayangi nyawa orang tersayangku. Tapi, aku mengabaikannya sebab aku percaya Ayah akan melakukan sesuatu dengan sihirnya....
"Saat itu, aku merasakan ada kekuatan lain yang sangat mengerikan tiba-tiba saja muncul tepat setelah aku melukai Azure, bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tapi ada juga kebencian...."
Ashley mengernyit mendengarnya.
"Aku... aku memilih lawan yang salah.... Jika... jika saja aku tahu hal ini akan terjadi padaku, lebih baik aku memihak pada Tuan Putri dan dengan begitu Ayah dan Ibuku bisa selamat...," lanjut Bastanil yang masih tertunduk.
"Nyonya Grand Duchess, aku mengakui kesalahanku. Aku telah menghabisi begitu banyak nyawa rakyatku yang tak bersalah demi tujuan tak realistis Ayahku. Aku tak keberatan jika aku harus dieksekusi."
Ketika Bastanil mengangkat kepalanya, tampak wajah yang begitu ketakutan seakan melihat sesuatu yang sangat-sangat mengerikan.
"A-apa yang kaukatakan Bastanil?! Kau mengkhianati Ayahmu sendiri?!" tegas Garren, yang termakan emosi.
"Diamlah! Apa selama kau melayani Ratu Alicia kau tidak paham seberapa tak mungkinnya kau menduduki tahta kerajaan?! Aurora ini tidak hadir hanya untuk Manusia tetapi makhluk sihir lainnya juga! Dimana letak otak udangmu itu, dasar Ayah bodoh?!
"Aku mengotori tanganku dengan darah demi membantumu mencapai mimpimu, tetapi aku juga bodoh karena menelan mentah-mentah bahwa rakyat jelata adalah penghalang seperti yang kaukatakan. Lalu, jika kau memang bisa membuktikan bahwa mereka hanyalah halangan bagimu, mengapa kaubisa dalam kondisi seperti itu sekarang?!
"Katakan padaku, Ayah... kenapa kau tak mampu melakukan apapun...?" perlahan air mata mengalir dari Bastanil.
Garren yang tak mampu membalas pertanyaan Bastanil hanya bisa terdiam. Emma yang berada di tengah mereka, ikut menitikkan air matanya.
"Grand Duchess...," panggil Bastanil.
"Apa, Nak?" tanya Ashley.
"Apakah Anda pikir aku bisa berbicara dengan Tuan Putri?"
"Tidak." Ashley menjawabnya dengan singkat.
"Begitu, ya... bagaimana dengan Azure?"
"Apa yang ingin kaukatakan?"
"Aku hanya... ingin meminta maaf padanya telah banyak melukainya."
"Kau hanya akan membuatnya semakin membencimu."
"Tak apa, lagipula aku akan mati."
"Baiklah, kuizinkan." Ashley mengambil handphone-nya lalu menelepon Hellen untuk membawa Azure ke tempatnya.
......................
Sekitar lima menit kemudian, Azure datang melalui teleportasi yang diberikan oleh Hellen.
"A-ada apa Anda memanggilku, Nyo-Nyonya Duchess...?" tanya Azure gugup.
"Dia ingin bicara denganmu." Ashley menunjuk Bastanil.
Tatapan benci seketika tampak dari wajah Azure tepat setelah ia melihat keluarga bangsawan itu, tetapi ia tetap menahan emosinya.
"Mau apa?" tanya Azure dengan nada jutek.
Bastanil pun mengerahkan seluruh penyesalannya pada Azure, ia juga meminta maaf atas semua tindakannya selama ini.
"Jadi, kau sudah sadar betapa berharganya sebuah nyawa?" tanya Azure memejamkan mata.
"Uhm." Bastanil mengangguk.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Azure kembali pada Garren dan Emma. Tak ada jawaban dari mereka.
"Begitu. Bastanil, maafmu takkan pernah bisa kuterima dan apa yang kau perbuat takkan bisa kulupakan. Hanya saja, aku berharap kau bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik."
Mendengarnya, Bastanil merasakan sesuatu yang hangat di dalam hatinya.
"Terima kasih." Bastanil mengatakannya dengan pelan.
"Apa aku sudah boleh pergi, Nyonya Duchess?" Azure meminta izin.
"Ya." Kemudian Ashley pun menteleportasi Azure kembali ke kediaman Hellen.
"Hari itu adalah hari terakhirku menghabisi waktu bersama keluargaku. Namun sayangnya, hingga akhir hayat kami, mereka tak mengucapkan sepatah katapun padaku. Bahkan untuk kata maaf, atau terima kasih. Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat kecewa pada mereka."
......................
Hari menjelang tengah hari, publik telah ramai mengisi alun-alun kerajaan yang mempertontonkan eksekusi Rowing melalui tayangan sihir. Sihir yang menyerupai layar lebar itu cukup untuk dilihat ratusan orang, juga ditambah layar-layar kecil yang tersebar di tempat yang sama. Mengingat hari ini adalah hari eksekusi, anak-anak ditinggal dalam rumah mereka.
Bastanil, Garren, dan Emma, ketiga kepala mereka telah ditempatkan di guillotine dengan algojo yang bersiaga di tempatnya masing-masing. Publik sadar bahwa Garren dan Emma masih dalam ekspresi yang tak terima mereka akan dieksekusi sementara Bastanil justru tersenyum.
Berbagai tanggapan pun muncul dari masing-masing orang. Ada yang menanggapinya senyum itu adalah dirinya ikhlas bahwa dia akan mati, sementara ada juga yang menganggap kepribadian Bastanil sudah rusak. Tetapi keributan itu hening seketika ketika layar sihir itu menampilkan Ashley yang akan membacakan kesalahan-kesalahan yang telah dilakulan oleh bangsawan utama ini.
"Sejak delapan tahun yang lalu, aku telah memutuskan bahwa masing-masing bangsawan utama memiliki hak penuh atas wilayah masing-masing. Dengan rasa percaya bahwa mereka akan melakukannya dengan baik setelah melihat hasil kesetiaan mereka pada Ratu, aku terbutakan apa yang menjadi kelemahan terhadap rasa percaya ini.
"Tak akan kupungkiri bahwa secara tidak langsung aku terlibat atas kejadian nahas ini. Jika aku tidak memberikan hak kekuasaan penuh, mungkin saja tragedi ini bisa terhindari. Jika kalian benar-benar menginginkan agar aku bertanggung jawab atas pembunuhan massal ini, aku tak keberatan.
"Siapa saja bisa menggantikanku untuk memimpin kerajaan ini. Tapi, perlu kuingatkan pada kalian, jika aku melepas jabatanku sekarang, kerajaan akan dilanda kekacauan yang amat sangat rumit, dan itu akan membuatku sangat tidak bertanggung jawab.
"Kuharap kalian juga tidak melupakan bahwa kita masih memiliki garis keturunan Ratu yang sedang dalam masa pemulihannya setelah disandera para tersangka."
Setelah mendengar pembukaan itu, rakyat yang berada di alun-alun ataupun mereka yang mendengar dari rumah dan wilayah lain, memperdebatkan masalah tersebut. Tapi, bukan berarti mereka tidak mengerti maksud Ashley. Toh, jika Ashley benar-benar turun jabatan atau dieksekusi atas keinginan mereka, tak ada bangsawan yang pantas duduk sebagai Grand Duchess. Selain Tuan Putri mereka yang masih anak-anak, untuk percaya kembali pada bangsawan utama, akan membutuhkan waktu. Oleh karenanya, mereka membuat keputusan. Mereka akan membiarkan kesalahan Ashley hanyut terbawa air.
"Baiklah, akan kubacakan kesalahan apa saja yang telah kuperoleh datanya melalui Count Porte serta saksi sekaligus korban selamat yang berada di lokasi kejadian yang sama dengan Tuan Putri, yaitu Azure." Layar sihir memperlihatkan Azure.
"Hei, dia hanyalah anak kecil! Apa yang dipikirkan Rowing itu?!"
"Apa-apaan ini, kejam sekali...."
Berbagai tanggapan negatif terdengar dari publik.
Kemudian, Ashley membacakan laporan dari Porte melalui kertas. "Pertama, sejak delapan tahun yang lalu, Emma Rowing mencari tahu di mana saja anak yang memiliki mana besar hidup di Wilayah Selatan. Rencana awal mereka adalah untuk mengumpulkan anak-anak tersebut agar dilatih menjadi prajurit pribadi mereka supaya anak-anak tersebut memiliki ketahanan dan kekuatan sihir tak terkalahkan.
"Kemudian, demi melancarkan rencana mereka, Garren Rowing menggunakan Buku Sihir untuk mencuci otak seluruh penduduk kota Moko yang berada di sebelah kediamannya sekaligus prajurit dan para pelayannya agat menuruti segala perintah yang diberikan, bahkan jika itu harus menghabisi nyawa."
Publik semakin terkejut mendengarnya.
"Garren Rowing juga mewajibkan pajak yang tidak realistis terhadap kondisi pedesaan yang mengharuskan mereka membayar tiga puluh lima perak satu bulan, atau setara dengan hasil panen dan berburu selama tiga bulan. Itupun, jika hasil panen dan buruan mereka lancar. Dengan demikian, di Wiayah Selatan saat ini banyak orang-orang tak memiliki rumah dan kehilangan pekerjaannya.
"Menanggapi hal ini, Alexandrita, Cloxzar, Dormant, dan Ophenlis akan menangani masalah ekonomi tersebut."
"Selanjutnya, lima tahun kemudian, Emma Rowing yang telah menandai siapa-siapa saja anak-anak yang memiliki potensi mana besar, menemukan mana tak biasa yang besarnya tak pasti. Terkadang itu besar, dan kadang pula mana itu mengecil. Melalui polanya yang tak biasa, tersangka sadar bahwa mana tersebut adalah milik Tuan Putri. Sesuatu yang sangat tidak diduga oleh siapapun, setelah menyaksikan sendiri apa yang telah terjadi pada istana.
"Oleh karenanya, Garren mendatangi setiap desa yang ditandai oleh Emma untuk merebut setiap anak tersebut dengan tujuan menyandera Tuan Putri dan melakukan kudeta."
"Kudeta?! Berani-beraninya mereka! Apa dia tidak tahu seberapa damainya kita hidup saat Ratu Alicia ada?! Jika dia merebut kekuasaan, habislah kita! Eksekusi saja orang itu saat ini juga!" publik semakin emosi mendengar pernyataan Ashley.
"Azure adalah korban pertama Rowing atas kejadian itu. Azure, aku akan menggunakan sihirku untuk melihat ingatanmu dan memperlihatkannya pada publik agar mereka tahu seberapa kejamnya mereka." Ashley mempersilakan Azure mendekatinya.
"Baik, Nyonya Grand Duchess," jawab Azure kemudian berdiri di sebelah Ashley.
Kemudian Ashley memegang kepala Azure. Tampaklah kilas balik yang memperlihatkan kejadian saat dimana desanya dibakar habis dan ia dibawa ke penjara bawah tanah lalu mengutuk Garren dan Emma.
Wajah takut, panik, terheran-heran, muncul di masing-masing publik. Bagaimana bisa anak kecil sepertinya bisa seperti itu? Begitulah pikir mereka.
"Rakyat Aurora sekalian. Kupikir siapapun yang terdesak oleh situasi dan amarah serta kebencian akan melakukan apa yang Azure lakukan. Bukan berarti aku bilang bahwa yang dilakukannya adalah benar, namun dia takkan bisa selamat jika ia tidak melakukannya.
"Saat itulah, Azure bertemu dengan Tuan Putri kita, dan dia menyelamatkan Azure yang bertahan hidup dengan sihirnya saja."
"Tu-Tuan Putri? Mana? aku ingin melihatnya!"
"Sayangnya, Tuan Putri nyaris mengalami hal yang sama dengan Azure. Anak dari Garren dan Emma, Bastanil, membakar habis seisi desa Tuan Putri tinggal, yaitu desa Lazuli."
"A-apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang itu?!"
"Ketika itulah Peri yang telah kusebut pada malam festival itu, mendatangiku dan menjelaskan situasinya padaku. Salah seorang prajuritku turun ke lapangan untuk memeriksanya langsung, dan memang sesuai kesaksian Azure yang mengatakan bahwa Tuan Putri mendengar Rowing ingin merebut tahta kerajaan, hal itu adalah benar.
"Dengan demikian, dengan kesalahan tertinggi yang telah menyebabkan nyawa Tuan Putri terancam, serta keinginan untuk kudeta dengan bukti yang nyata, masing-masing dari keluarga Rowing akan dieksekusi mati."
"Ya, mati saja kalian bangsawan sialan!"
"Berani-beraninya kalian mengkhianati kerajaan!"
"Cepat matilah!"
"Rowing, apa kalian punya kata terakhir?" Ashley yang bertanya tak dianggap oleh Garren dan Emma.
"Aku ... ingin bereinkarnasi ... jadi makhluk yang lebih baik." Seraya dengan senyumnya, Bastanil menjawab Ashley.
Azure yang berada di seberang mereka, hanya bisa melihat dengan bersimpati. Ia tak merasa baru lagi melihat hal seperti ini. Berapa puluh orang yang nyawanya telah melayang di depan matanya...?
"Algojo, turunkan pisaunya!" begitu perintahnya didengar, para algojo memotong tali yang mengikat pisau guillotine tersebut.
'SPLLAAATT!!'
Begitulah akhir dari perjalanan keluarga pengkhianat itu. Diawali dari rasa percaya seorang Ratu, kemudian mewarisi rasa percaya dari Grand Duchess, mereka berakhir di jalan buntu dari jalan pikir yang serakah dan ingin menang sendiri.
Inilah kerajaan Aurora, meskipun sihir bisa digunakan setiap hari, mereka tetap menjunjung tinggi keadilan. Tanpa pandang bulu, siapapun yang berbuat kelewat batas, pasti akan berakhir seperti Rowing.
Kisah Rowing hanyalah bab pertama dari tajamnya perjalanan Zeeta menjadi seorang Ratu yang diramalkan menghancurkan dunia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
anggita
like👍 menancap dari 13 pembunuh.,
2021-06-26
1