Zeeta, Azure, dan Arthur telah bersenang-senang di ibu kota, meskipun diawali oleh kejadian yang tak diduga. Mereka juga telah mengenali berbagai macam cendera mata dan Arthur juga telah memberikan dua anak-anak itu pelajaran bagaimana trem dengan sihir itu bekerja. Tidak berlebihan jika mengatakan, bahwa mereka menghabiskan setengah hari mereka sampai puas.
Haripun sudah gelap, ibu kota kini telah diterangi lampu-lampu jalan dan penerangan dari toko-toko serta rumah warga. Trem sihir sudah memberhentikan layanannya setelah delapan belas jam menjadi jasa transportasi. Dilihat secara kasat mata, ibu kota mendadak seperti menjadi kota tak berpenduduk. Tetapi tenang saja, mereka semua akan kembali esok hari dan menjalankan aktivitas mereka seperti biasa.
Sayangnya, hal itu tidak berlaku pada sang Tuan Putri. Ia telah berjanji pada sebuah suara yang ingin berbicara padanya malam ini. Ia tak bisa berhenti gugup sekaligus penasaran... siapa identitas suara tersebut? Apa yang ingin dibicarakan olehnya? Disaat yang sama, ia juga merasa khawatir ... mungkin saja ia tidak mampu menerima sebuah kebenaran baru tentangnya dari sosok tersebut.
......................
Saat ini Zeeta tengah melipat kakinya ke belakang di atas kasur queen-size di kamar besar yang sebelumnya ia pakai. Posisi duduknya menunjukkan betapa tegangnya Zeeta—kaku. Tak lama kemudian, ia mendengar suara yang sama seperi saat ia makan siang sebelumnya.
“Jadi, bagaimana kesanmu terhadap orang-orang di kerajaan Aurora ini? Mereka adalah orang-orang yang busuk, bukan?” kata suara perempuan tersebut, yang masih belum menunjukkan sosok aslinya.
"Busuk...? Apa maksudnya...?" batin Zeeta belum paham apa yang suara tersebut maksud. “A-anu... maaf kalau aku tidak sopan, tapi jika kita akan berbicara, bisakah kau menampakkan sosokmu? A-aku sedikit takut...," lanjut Zeeta meminta.
“Ah ... ahahahaha! Begitu ya, begitu ya! Uhm. Kau benar, aku juga tidak seharusnya menyembunyikan diriku seperti ini!” terdengar dari gelak tawanya, sepertinya suara itu mulai menunjukkan ketertarikannya pada Zeeta.
Sosok bola putih bercahaya tiba-tiba muncul di depan Zeeta. Bola putih tersebut perlahan-lahan menunjukkan sosok perempuan yang tingginya tidak jauh lebih tinggi dari Zeeta. Zeeta juga berpikir bahwa sosok di hadapannya saat ini sudah pernah ia lihat sebelumnya.
Rambut putih sepanjang punggung, poni yang menutupi kening, mata kanan berwarna cokelat terang dan mata kiri berwarna biru, telinga yang runcing, memakai jepit rambut berbentuk bunga cukup besar berwarna biru, serta memakai gaun panjang berenda berwarna biru. Sosoknya yang mencolok itu tak bisa Zeeta lupakan dengan cepat.
“Ah... kau...?” gumam Zeeta setelah mengingat sosok anak perempuan berambut putih di depannya ini dengan apa yang ia lihat di "mimpi"-nya.
“Hmm? Apa kau pernah melihatku sebelumnya?”
“Ti-tidak, tapi iya, aku pernah....”
“Ahahaha! Kau lucu sekali, ya! Tidak atau iya, mana yang benar?”
“Ehmm... sebelum aku bangun tadi pagi, aku seperti melihat dirimu di mimpiku. Tapi aku tidak melihatmu di sini, tetapi di suatu hutan ... ehm, rerumputan yang luas, dan dikelilingi bintik-bintik cahaya biru yang cantik dan indah, kau sedang tersenyum melihatku....” ketika perempuan berambut putih itu mendengar lokasi yang dijelaskan Zeeta, wajah senangnya berubah serius, tetapi tak lama ia tersenyum kembali.
“Heehh ... jadi kita sudah ditakdirkan ya?” katanya dalam senyum.
“U-uhm, aku pikir begitu juga.”
“Oh ya, aku belum memperkenalkan diri, ‘kan?”
“A-aku juga bel—“ niat Zeeta yang ingin memperkenalkan diri, dibisukan oleh lawan bicaranya.
“Aku tahu siapa kau. Aku selalu mengawasimu sejak kau sampai di kediaman Rowing."
“Hmmm?” Zeeta tak mengerti. Ia memiringkan kepalanya.
“Namaku adalah Bellaria, kaubisa memanggilku Aria!”
“U-uhm. Salam kenal, ya, Aria!” Zeeta melempar senyumnya.
“Ini dia! Senyum yang memiliki sihir!” Perempuan berambut putih itu mendadak duduk sehingga menyebabkan pantulan dari kasurnya. Ia sepertinya tampak terkesan dengan senyum Zeeta.
“Eh? Senyumku memiliki sihir?”
“Tidak tidak, tidak seperti itu. Senyummu yang jelita itu membuat orang-orang yang melihatnya juga ikut senang.”
“A-apa benar begitu?” rona merah terlihat di pipi Zeeta.
“Ya, dan aku yang seorang Elf pun merasakannya!”
“E-Elf? Apa itu...?”
“Sudah kuduga kau tidak tahu apa itu Elf ... aaah, membosankan.”
“Ma-maaf, sebelumnya aku dari desa, jadi aku tidak terlalu banyak tahu tentang kehidupan di luar desa....”
“Yah, apa boleh buat, akan kujelaskan, jadi dengar baik-baik, ya!”
“Uhm!” Zeeta memasang wajah seriusnya.
“Bwahahaha! Apa-apaan wajah itu? Kau benar-benar ingin tahu siapa aku?” Aria menertawai wajah serius Zeeta.
Zeeta menanggapinya dengan sedikit cemberut. “Jika aku tidak bisa mengenalmu secara jelas, aku tak akan mengerti mengapa kau tertarik kepadaku. Aku tahu kalau kau memiliki rencana tersembunyi yang ingin kaulakukan padaku.”
Aria tersenyum. “Hehe. Kau benar. Yah, aku malah dimarahi oleh anak ingusan sepertimu, malu aku, hahaha!"
“Kau tidak perlu membuat-buat senyummu. Aku merasakannya, kau merasakan kesedihan di dalam hati kapanpun kau melihatku....”
“Heee... kau merasakannya?”
“E-eh, ti-tidak... aku hanya berpikir jika tawa dan senyummu bukanlah dirimu yang sebenarnya.... jadi, jika kau merasa benci padaku, meski aku tidak tahu alasannya, aku tidak akan marah.”
Aria mendadak berhenti tersenyum kembali setelah mendengarnya.
“Kau ini ... untuk seorang Manusia, cukup aneh, ya?” raut wajah yang tidak senang sama sekali muncul dari Aria. Ia merangkak menuju pangkal kasur yang memiliki bantalan dan bersandar di sana. Ia juga mengundang Zeeta untuk duduk di sebelahnya. Tampaknya ia akan bercerita.
“Kau benar. Aku benci manusia, tapi ... setelah melihat sendiri bagaimana caramu berbicara denganku, aku tak memiliki alasan untuk membencimu.
"Tapi, aku memiliki alasan lain untuk menemuimu, Zeeta.”
Kemudian, Ariapun memulai ceritanya. Ia memperkenalkan rasnya serta apapun yang perlu diketahui Zeeta dari apa yang sudut pandangnya. Seperti ucapannya, Aria yang merupakan Elf, adalah sosok yang menyamar menjadi Peri diantara Sylva, Falmus, dan Yuuvi sebelumnya. Aria pun menjelaskan bagaimana masa lalunya, dan mengapa ia membenci Manusia dan Peri.
......................
“Kerajaan Aurora ini tidak hanya berisi Peri dan Manusia saja. Menjadi Tuan Putri, juga membuatmu memiliki tanggung jawab atas kehidupan kami. Tapi kutegaskan satu hal ini, keberadaan kami ada bukan karenamu, jika kami lenyap juga bukan salahmu. Suatu kehidupan takkan bisa dipikul oleh satu kehidupan saja. Jika kau benar-benar ingin menjadi Tuan Putri, dan menanggung tanggung jawab besar itu, aku AKAN membantumu.”
Isi kepala dan hati Zeeta semakin kacau. Berdasarkan cerita Aria, Elf adalah makhluk hidup baru yang tercipta atas menyatunya mana Manusia dan Peri. Aria terus bercerita kepada Zeeta, sehingga dia jadi tahu siapa-siapa saja sosok yang ia temui di dalam mimpinya.
Burung hantu berukuran manusia, sosok yang menjaga bola air raksasa di kedalaman gua, serta Ratu Peri yang tinggal di hutan yang memiliki warna dominan merah muda, Elf, serta bintik-bintik cahaya yang merupakan perwujudan dari Roh, adalah sosok-sosok lain yang hidup berdampingan dengan Manusia. Sosok-sosok tersebut, termasuk Ratu Aurora, merupakan sosok yang terus menjaga keseimbangan mana.
Menurut Aria, akar raksasa di istana merupakan akibat dari tidak seimbangnya mana. Kerajaan Aurora yang membuat teknologi tanpa sihir, polusi yang muncul akibat teknologi tersebut, membuat alam menyerang istana. Sehingga, apa yang diucapkan Aria kepada Zeeta saat ini, menurutnya sama seperti menyalahkan ibunya.
Keraguan kembali muncul di benak Zeeta. Mengapa, mengapa tanggung jawab besar ini harus diberikan kepadanya? Ini terlalu besar untuknya. Kehidupan makhluk-makhluk itu menjadi tanggung jawabnya, jika tubuh anak kecilnya ini dipercayai tanggung jawab seperti ini, ia tak mampu menanggungnya.
Zeeta senyap. Ia terdiam seribu bahasa. Semuanya terlalu berat. Tetapi, tak lama kemudian seekor Peri pun mengunjungi mereka.
“Soal itu, kau salah, Aria," kata Peri tersebut.
Kedatangan kepakan delapan helai sayap yang menjatuhkan butiran merah muda, rambut pendek merah muda yang memakai mahkota, serta warna mata merah gelap menyambut mereka.
“Ra-Ratu Peri?!” Aria terkejut.
“Sosok yang selalu mengawasi bukanlah Elf saja. Seperti kata ayahmu, Zeeta, kau juga harus mendengar pendapat orang lain. Tetapi, alasan kemunculan akar raksasa itu ada jauh lebih dekat dari apa yang kalian pikir.”
“Si-siapa kau? Kenapa aku merasa seperti tahu mana ini?” tanya Zeeta.
“Soal itu tidak penting sekarang, Nak. Saat ini, aku datang untuk membawamu pada jawaban yang sedang kalian bicarakan. Alasan kemunculan akar raksasa itu adalah....”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments