Musim Semi yang Pedih

Tiga tahun berlalu semenjak kebakaran di desa Lapis. Desa Lazuli bisa merasakan angin sepoi sedikit lebih lama ... begitulah pikir warganya. Setidaknya, angin sepoi itu terus berhembus sampai musim semi tahun ini.

Musim sebelumnya yang setiap hari selalu dingin dan beberapa kali dihujani salju, kini telah menggantikan tugasnya kepada musim yang lebih hangat darinya. Sungai yang telah berubah menjadi bentangan es, dan salju yang ikut menutupi hampir setiap jalan dan rumah mulai mencair.

Pepohonan siap menumbuhkan daun barunya, para hewan yang berhibernasi pun mulai terbangun dari tidur lelapnya, manusia juga tak kalah cerianya dari mereka. Mereka tak perlu lagi menghabiskan kebanyakan waktu di dalam rumah karena tak banyak aktivitas yang bisa dikerjakan. Terutama untuk anak-anak, mereka bersorak gembira.

Musim semi kali ini diawali kemeriahan sekaligus haru untuk desa Lazuli, sebab Zeeta telah menginjak usianya yang ke delapan pada bulan ini, yaitu bulan Maret. Dirinya sudah tumbuh sedikit lebih tinggi dan ia tetap menjaga model potongan pendek pada rambut violetnya. Ia juga semakin baik dalam memasak, baik dengan sihir atau pun tanpa sihir. Tentu saja, latihan sihir selama tiga tahun belakangan ini bersama ayah angkatnya membuahkan hasil yang manis. Sudah ada sihir tertentu yang hanya bisa dilakukan olehnya.

Tampaknya, dugaan Arthur tiga tahun lalu tentang kekuatan Zeeta belum bangkit adalah benar. Semakin Zeeta bertambah usia, Arthur menyadari bahwa mana milik Zeeta semakin menguat dan kemampuannya ketika menyihir jauh lebih mudah. Berbeda jauh saat dia gagal menyihir buah renjie kala itu.

Tenggat waktu yang dituliskan ibu kandung Zeeta pada suratnya adalah bulan ini. Oleh karena itu, warga desa harus mengucapkan salam perpisahan pada Zeeta. Meski begitu, teman-teman seusia Zeeta telah diberi persiapan beberapa bulan lebih awal. Orang tua mereka telah mengungkapkan identitas dan apa yang harus dilakukan Zeeta. Hal ini dilakukan agar anak-anaknya tidak menjaga jarak dengan Zeeta secara mendadak, dan menghindari kekhawatiran Zeeta dengan gelagat mereka yang aneh.

Tidak ada yang tahu jika malam bulan purnama yang sunyi dan sejuk setelah pesta ulang tahun Zeeta yang ke delapan akan menjadi malam terakhir desa Lazuli untuk menghabiskan waktu bersamanya. Malam sebelum kekacauan itu, Arthur sudah mengungkap identitas Zeeta.

......................

Pesta ulang tahun Zeeta yang ke delapan telah berakhir beberapa menit yang lalu. Riasan ruang seperti balon angka delapan dan pita dengan berbagai macam warna dan bentuk masih melekat di dinding dan langit-langit kedai. Meja dan kursi pelanggan masih pada tempatnya yang disesuaikan menjadi tempat perayaan ulang tahun.

Saat ini, Zeeta sedang menunggu Arthur di kedai sendirian. Ia diberitahu ayahnya jika mereka akan membicarakan sesuatu yang sangat penting. Ia gugup—penasaran apa yang akan dibicarakan ayahnya. Rasa gugup itu semakin kuat saat ia melihat Arthur turun dari lantai dua membawa keranjang piknik yang hanyut delapan tahun lalu ke hadapannya.

“Apa ini, Yah?” tanya Zeeta mengerutkan alisnya.

“Sekali lagi Ayah tegaskan padamu. Apa yang akan Ayah beritahu adalah hal yang nyata, bukan dongeng atau legenda yang sering kuceritakan. Jadi, dengarkanlah baik-baik.” Arthur mempersiapkan dirinya dengan memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya kembali.

"U-uhm....” Zeeta merasa sedikit cemas.

“Zeeta ... delapan tahun yang lalu ... aku menemukanmu hanyut dalam keranjang ini.” Arthur melihat ke keranjangnya.

“Eh...?" Zeeta terbelalak. "A-apa maksud Ayah?”

Rasa cemas dan gugup itu seolah menyetrum sekujur tubuh Zeeta. Ia kaget, sekaligus tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.

“Ketika kau bertanya tentang ibumu, aku sering beralasan bahwa dia sudah meninggal sesaat setelah melahirkanmu. Tapi sebenarnya... aku juga tidak tahu apakah ibu kandungmu masih hidup atau tidak.” Arthur mengambil secarik surat yang masih terjaga dengan baik dari keranjang.

“A-apa, sih, maksud Ayah?” Zeeta semakin tidak mengerti. Semuanya terlalu mendadak untuknya.

“Bacalah ini dulu.” Arthur memberikan suratnya.

Setelah membaca suratnya, Zeeta dapat melihat nama penuh dari pengirim surat di ujung kanan bawah suratnya. "Tertanda, Ratu Kedua Puluh Kerajaan Aurora, Alicia Aurora XX."

Zeeta sedikit meremas surat itu dengan jemarinya. “Aku... tidak mengerti ini....” rintik air matanya mulai berjatuhan.

“Aku sudah pernah memberitahumu tentang kondisi istana Aurora, dan aku juga sudah memberitahumu siapa nama Ratu negeri ini.

"Zee... kau adalah Tuan Putri Aurora yang kedua puluh satu.

“Nak, kendati Aurora adalah kerajaan, namun sistem pemerintahannya adalah matrinial. Pemimpin tertingginya adalah perempuan, jadi kau adalah penerus tahta ibumu.”

“A-aku... aku... aku ini anak Ayah!" mata Zeeta tak berhenti berkaca-kaca.

"Aku....

"Aku ini BUKAN Tuan Putri!” Zeeta semakin meremas suratnya, air matanya juga semakin deras. Ia tidak bisa menerimanya begitu saja. Tanda tanya dibalik kepala dan hatinya semakin membesar.

“Ingat impianmu yang ingin mahir menggunakan sihir? Waktu itu aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Biarkan aku perbaiki itu sekarang. Tentu saja... tentu saja kau bisa, soalnya kau adalah Tuan Putri—bangsawan penguasa negeri ini!

"Buktinya, kau yang sekarang sudah bisa menyihir sesuatu yang bahkan aku tidak bisa.”

Zeeta yang terus menangis mulai sesenggukan. “Kalau begitu aku tidak ingin mahir menggunakan sihir! Aku TIDAK MAU menjadi Tuan Putri! Aku hanya ingin bersama kalian, aku TIDAK MAU berpisah dari kalian!”

Melihat ekspresi Zeeta yang begitu menderita dengan isak tangis dan air matanya, hati Arthur merasa teriris, tapi ia mengerti bahwa ia harus tetap mengatakannya. “Zee... kami semua dari desa Lazuli sayang padamu dan kami pun merasakan hal yang sama denganmu... tak ada yang mau berpisah denganmu. Tapi seperti yang telah kaubaca dari suratnya, kau memiliki kewajiban yang harus kau tuntaskan."

“Apa memangnya kewajiban itu?! Kenapa tidak dia saja yang menyelesaikannya? Kenapa harus aku? Aku... tidak ingin....

"Aku tidak ingin menjadi Tuan Putri....” Zeeta membanting surat itu ke meja di sebelahnya.

“Kenapa...?” Arthur bertanya dengan nada yang lembut.

“Karena itu bukanlah aku! Aku orang biasa... aku hanyalah anak dari desa... tidak mungkin aku bisa menjadi Tuan Putri!”

Arthur mendekatkan dirinya ke Zeeta, ia memegang kedua bahunya. “Nak... kau adalah Tuan Putri yang memiliki keluarga di desa Lazuli. Sekalipun kau menjadi Tuan Putri, tidak berarti kau akan selalu berpisah dengan kami. Kau bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama kami. Tapi, Nak... penuhi terlebih dahulu kewajibanmu sebagai Tuan Putri.

“Pergilah ke ibu kota, di sana ada bangsawan yang mungkin bisa membantumu. Kami disini sudah membesarkanmu dan sudah saatnya bagimu untuk bisa mandiri.”

Apa yang baru saja diucapkan mulut ayahnya membuat Zeeta semakin tak karuan. “TIDAK! Aku tidak mau! Bangsawan itu ... mereka pasti orang-orang yang jahat!” Zeeta menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang.

Arthur menghela napasnya. “Nak... ayo ikut aku ke luar.” Ucapannya membuat Zeeta menghapus air matanya. Matanya sembab dan sekitar matanya memerah. Meskipun ia telah menghapus air matanya, sesenggukannya masih tertinggal dalam tenggorokannya.

Setelah mereka keluar, mereka menyihir tubuh mereka agar bisa melayang di udara.

“Lihatlah kondisi sekitar desa.” Permintaan ayahnya segera Zeeta lakukan. Lantas, ia terbelalak.

Zeeta melihat jumlah desa di sekitar Lazuli semakin berkurang dengan kondisinya yang telah hangus. Sementara itu, karena terlalu mencolok, ia dapat melihat bangunan megah dan kota kecil di dekat desa-desa yang hangus. Ia segera paham, bahwa bangunan megah itu adalah kediaman milik keluarga bangsawan yang dibenci semua desa, Rowing.

Zeeta segera merasakan amarah yang besar dalam benaknya. Ia belum pernah merasa semarah ini. Ia tampak ingin melancarkan sihir serangan ke kediaman Rowing, tetapi ia segera dipeluk oleh Arthur.

“Nak... sebagai orang tua yang sudah membesarkanmu sendirian... aku tidak ingin kau menjadi bangsawan macam Rowing. Kau adalah Tuan Putri, karena itu kau harus lebih baik darinya. Kau boleh marah, tetapi janganlah gegabah, apalagi dendam karenanya.

“Dendam antar manusia akan membawa negeri ini ke kondisi yang mengerikan. Kau sudah tahu, bukan? Semua orang di negeri ini punya sihir, jika mereka saling dendam... perang akan terjadi. Aku tidak membesarkanmu untuk jadi orang yang seperti itu. Bisakah kau berjanji padaku agar tidak dendam dengan orang lain?”

“Aku... tidak tahu." Zeeta menunduk. "Rowing sangat jahat. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja....”

“Hei. Aku menyuruhmu untuk tidak dendam, bukan berarti aku ingin kau melepaskannya. Kaubisa memberikannya hukuman berat karena kau adalah Tuan Putri! Kau lebih berkuasa darinya!”

“Oh ... benar juga.” Zeeta sedikit linglung karena masih merasa kacau.

Masih dalam dekapan Arthur, Zeeta merasa kepalanya dielus. “Aku tahu perjalananmu di luar sana tidak akan mudah. Disaat kau tidak bisa melewati sebuah masalah, seorang teman akan membantumu. Aku tahu kaupasti bisa.

“Kaupasti akan menjadi Tuan Putri yang hebat untuk negeri ini. Kau akan menjadi kebanggaan desa Lazuli, dan ketika saat itu tiba... aku akan berteriak paling keras sampai suaraku habis untuk memberimu selamat!”

Mendengarnya, akhirnya Zeeta bisa menenangkan dirinya. Ia mendekap erat tubuh ayahnya yang besar. “Uhm. Baiklah....” dalam dekapan itu, Zeeta tersenyum.

“Hei, Ayah?” Zeeta memanggil.

“Hmm?”

“Aku sayang Ayah,” katanya dikala ia tersenyum.

Arthur balik tersenyum lalu berkata, “aku juga, Nak... aku juga.” Ia mengelus kepala Zeeta sekali lagi. Beberapa detik kemudian, ia melepas dekapannya untuk mengambil sesuatu dari kantung celananya.

Arthur mengambil sebuah liontin berwarna ungu yang sewarna dengan anting di telinga kirinya. Liontin tersebut adalah liontin yang bisa dibuka. Isi liontinnya adalah foto semua warga desa, menempatkan Arthur dan Zeeta di tengah foto, keluarga Recko di samping kanan dan kiri keduanya.

“Ini adalah hadiah ulang tahunmu dari kami. Kami harap ini akan berguna untukmu.” Arthur memakaikan liontin itu pada Zeeta.

Melihat liontin serta isinya, membuat Zeeta merasa sedikit kesal. “Iih ... Ayah!” geramnya seraya dengan menggembungkan pipi.

“A-apa? Kau tidak suka?” Arthur kaget sekaligus takut dan cemas bahwa hadiah itu justru membuat mood anaknya semakin kacau.

“Ih, bukan! Ayah membuat aku ingin menangis lagi!” Zeeta memeluk ayahnya kembali. “Terima kasih... aku akan menjaganya dengan baik.” Zeeta tersenyum.

Tak berselang lama, awan yang menghalangi cahaya bulan purnama itu secara kebetulan menyinari mereka. Dengan cepatnya, pola bulan hampir penuh di anting Zeeta, berubah purnama dan langsung bercahaya biru. Melihat cahayanya, ia terkejut.

“A-apa tadi itu? Kenapa antingku....”

Tidak hanya Zeeta yang terkejut, begitu juga dengan Arthur. Namun, ia memiliki alasan yang berbeda dari Zeeta. Tanda-nya sudah tiba. “Cih... aku harus cepat....” Arthur menarik Zeeta masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. “Diamlah dulu disini, aku akan segera kembali!”

......................

Sementara Arthur pergi, Zeeta didatangi seseorang yang sudah ia lupakan bertahun-tahun yang lalu... tidak, lebih tepatnya adalah seekor. Seekor Peri. Peri itu bersayap dan berambut hijau. Sayapnya mengepakkan butiran berwarna hijau, matanya berwarna kuning cerah. Dia adalah Peri yang waktu itu menjadi korban keisengan Zeeta di Hutan Peri, dia adalah Sylva.

“Jadi, waktumu sudah tiba, ya, Wahai Penerus Aurora,” ujarnya yang terlalu mendadak, membuat Zeeta kaget setengah mati.

“Kyaaa! Bi-bikin kaget saja....” ia lalu menenangkan diri dengan menghela napas panjang. Kemudian, ia cemberut. “Hei! Apa kau tidak punya sopan santun?! Kalau mau bertamu, ketuk dulu pintunya!”

“Hah...? Untuk apa? Lagian tidak ada yang bisa melihatku selain kau.” Sylva mendekatkan diri pada wajah Zeeta.

“Hmm? Tidak ada yang bisa melihatmu? Apa maksudmu?”

“A-apa kau tidak tahu siapa aku?” Sylva menaikkan alis sebelah kirinya.

“Aku tahu, kau Peri, 'kan?”

“Terus, kenapa kau hanya kaget? Tidakkah kau penasaran kenapa Peri itu ada?”

“Hmm... soalnya aku ingat secara samar jika aku pernah melihat Peri.

"Oh, tentu saja, saat kau mengawasiku dari kejauhan saat latihan sihir, serta saat menguping apa yang ayahku diskusikan dengan Kepala Desa, aku tahu kok.”

“A-apa...?” secara mendadak, Sylva merasa malu. “Dan selama ini ... selama tiga tahun ini... kau hanya diam saja?!”

“Soalnya ... kukira mereka tahu tentangmu tapi mereka mengabaikanmu. Jadi ... kuikuti saja mereka. Apa itu salah?”

“SALAH! Mereka bahkan tidak yakin kalau Peri itu ada dan yang bisa melihatku saat ini hanyalah kau!”

“Hummm...." Zeeta mengangguk-angguk. "Loh? Eeeh?! Ja-jadi ... kau ini penguntit?! Hampir setiap hari kau selalu melihatku dari jarak jauh....” Zeeta melihat Sylva dengan lirikan jijik.

“Bu-bukan! Jelas bukan! Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah saat ini kau sedang sedih?!”

Zeeta hanya diam, berjalan menuju dapur, lalu tersenyum. “Hehehe... maaf ya, tadi aku hanya bercanda saja. Aku hanya belum bisa menerima apa yang baru saja kudengar dari ayah. Aku tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja terjadi. Pesta ulang tahunku baru saja selesai, lalu ayahku berkata aku bukanlah anaknya dan aku sebenarnya seorang Tuan Putri... lalu antingku ini ...."

Zeeta memegangi anting dengan telunjuk dan ibu jarinya.

"Siapa sebenarnya aku?

“Ketika aku tahu kalau hanya aku yang bisa melihat Peri, aku jadi paham. Aku memanglah Tuan Putri. Ayah selalu bilang dalam dongengnya, hanya orang-orang terpilihlah yang bisa melihat kalian. Dan kalau menjadi Tuan Putri adalah menjadi orang terpilih, maka aku harus terima bahwa aku adalah Tuan Putri.”

Sylva mendekati Zeeta. “Jawaban itu separuh benar, separuh salah. Itu bukanlah dongeng, melainkan kenyataan, dan menjadi Tuan Putri memanglah takdirmu.

"Ibumu adalah Ratu negeri ini, aku bisa menjaminnya, karena para keluarga kerajaan selalu berhubungan dengan kami. Tapi membahas itu nanti saja, aku memiliki hal penting yang harus dikerjakan. Selama itu, berpisahlah dengan bahagia.” Kemudian Sylva segera pergi begitu saja lewat ventilasi.

......................

Disaat yang sama....

Arthur bertemu dengan Kepala Desa dan menjelaskan situasinya. “Aku akan membunyikan loncengnya, kaulihatlah keadaan. Mana-nya tidak akan bisa disembunyikan lagi jika sudah bangkit total.” Kepala Desa berlari keluar dan menuju tower lonceng sebagai tanda bahwa Rowing akan segera datang.

Arthur kembali melayangkan dirinya ke udara dan menyaksikan dua mobil—limusin dan kodok berwarna perak—sedang menuju perjalanan ke desa Lazuli. “Cih... sekitar lima belas menit lagi, kah?” gumamnya.

Setelah penduduk desa mendengar lonceng penanda Rowing akan datang, langit masih dalam lelapnya. Perasaan campur aduk dirasakan semua orang, apalagi untuk Danny dan Gerda. Ketika mereka berkumpul, mereka saling bergandeng tangan—saling menguatkan diri. Sementara itu, Arthur kembali ke rumahnya untuk menjemput Zeeta.

.

.

.

.

“Zee, Rowing telah merasakan mana milikmu sudah bangkit. Kita tidak memiliki banyak waktu, tapi ingatlah... ketika kau berhadapan langsung dengan mereka, jangan terbawa arus percakapan mereka, karena mereka adalah orang yang licik.

"Apapun yang terjadi pada kami, jangan dendam pada mereka, kaubisa menghukum mereka nanti. Mengerti?” Arthur berlutut di depan Zeeta sambil memegang bahunya. Air mata tampak akan menghujani pipi Zeeta, tetapi ia berhasil menahannya.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Zeeta. Tapi ia paham, situasinya tidak mendukung, jadi ia hanya menanyakan sebuah pertanyaan.

“Ayah, aku ingin tanya satu hal,” kata Zeeta dengan nada yang tegar.

“Apa?”

“Kenapa aku harus bertemu dengan Rowing?”

Meskipun Zeeta tahu dirinya adalah Tuan Putri, ia tidak mengerti kenapa ia harus dipertemukan dengan bangsawan itu. Jika apa yang harus dilakukannya adalah menuju ibu kota, ia tidak harus menemui Rowing.

“Rowing adalah rintangan pertama yang akan kau hadapi ketika menjadi Tuan Putri. Suka tidak suka, masalah seperti Rowing, atau bahkan lebih buruk darinya akan menghalangimu. Kau adalah Tuan Putri, tetapi kau masih muda. Selama ini kautumbuh bersama kami tanpa tahu kehidupan bangsawan. Setelah kaubelajar dari Rowing, kami percaya kau bisa lebih baik darinya.”

“Jujur, Yah... aku tidak siap dengan semua ini....”

“Aku tahu. Kami semua tahu kau tidak akan siap, tapi kami percaya... aku percaya jika kaubisa melakukannya. Seperti kata Recko, meskipun kita adalah anak desa, kita harus bangga karena bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan para bangsawan. Ketika kau sedang bersedih, kami harap liontin itu bisa sedikit membantumu di luar sana.”

Zeeta mengatur napasnya agar ia tenang. “Baiklah. Aku siap menemui Rowing.” Ia sudah membulatkan perasaannya.

Arthur menggandeng Zeeta menuju gerbang masuk desa. Ketika mereka dalam perjalanan, mereka dapat mendengar teriakan orang dengan nada yang begitu sombong.

“Dengar, ya! Jika aku tidak mendapatkan apa yang kalian sembunyikan disini, aku tidak akan segan menghanguskan kalian seperti desa kotor yang lain!” kesombongan dan ketamakan ini bersumber dari Bastanil.

“Tunggu, Tuan Rowing, aku sudah membawanya!” teriak Arthur dari belakang kerumunan. Para penduduk desa pun memberi jalan kepada Zeeta dan Arthur, mereka melihat tatapan Zeeta sudah mantap, meski matanya masih sembab.

“Hoo... jadi ini ya, orang selamat yang dibicarakan ayah. Hahahaha... kuhahahaha!” gelak tawa jahatnya menggelegar.

“Selama tiga tahun pencarian kami, ternyata orang itu hanyalah anak kecil! Tapi tak apa... rencana kami justru semakin sempurna....” Senyumannya tampak menyeramkan. Tak ada warga desa yang mengerti apa maksud Bastanil.

Zeeta berjalan mendekati Bastanil yang terpaut usia tiga tahun diatasnya. “Se-senang bertemu denganmu, Tuan Rowing... a-aku Zeeta. Zeeta Aurora XXI.” Zeeta memperkenalkan dirinya secara hormat dengan mengangkat sedikit roknya ke atas. Ia tahu cara memperkenalkan diri ala bangsawan karena ia sering membaca itu dari buku dongeng dan bermain Putri-Putrian bersama Gerda.

Melihat gelagat Zeeta, Bastanil merasa tak suka. “Cih!” Bastanil mendorong Zeeta hingga terjatuh. “Tidak usah berlagak layaknya bangsawan sungguhan! Kau hanyalah anak desa yang kotor! Kau tidak pantas memakai anting keluarga kerajaan itu!” sambung Bastanil yang emosi tanpa sebab yang jelas.

Para penduduk terkejut atas tindakan Bastanil. Apalagi dengan Danny yang ada di barisan depan dan dekat dengan Zeeta.

“Apa-apaan kau itu?!” teriak Danny emosi yang hampir memukul Bastanil tetapi ditahan oleh Kepala Desa.

“A-apa maksud Anda, Tuan Rowing? Zeeta adalah Tuan Putri Aurora, bagaimana bisa Anda mengatakan itu kepada Tuan Putri kita?” Kepala Desa membantu Zeeta bangun.

“Ha...?! Kau juga tidak pantas berkata itu kepadaku! Agh, semuanya membuatku kesal saja. Hei kalian, borgol dia dan bawa anak ini masuk ke penjara, aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan pada mereka sejak awal....” Lekukan seram di bibir Bastanil kembali terukir. Ia memerintahkan dua pasukannya untuk membawa Zeeta masuk ke dalam mobil kodok dan memasukannya ke penjara.

Salah seorang dari empat prajurit yang ikut bersama Bastanil mengeluarkan borgol dari pinggangnya.

“A-apa yang akan kaulakukan, Tuan Rowing?!" jerit Zeeta histeris. "A-aku sudah ada disini, mau kau apakan keluargaku?!” ia juga berontak ketika tangannya diborgol.

“Anak kecil tak tahu sopan sepertimu tidak perlu tahu!” Bastanil mengangkat tangan kanannya. Ketika Zeeta melihatnya, ia terbelalak.

“HENTIKAN! Tuan Rowing, HENTIKAN...!”

Zeeta yang tahu maksud dari tangan itu berusaha melepaskan dirinya. Namun, ia kalah kuat dan tangannya telah berhasil diborgol. Kemudian ia dipaksa masuk ke dalam mobil kodok dan dikunci dari luar. Zeeta terus memukul-mukul kaca belakang mobilnya sambil berteriak untuk menghentikan apa yang akan dilakukan Bastanil, tetapi ... semuanya percuma.

“Aku harus melakukan sesuatu!” Zeeta memfokuskan pikirannya untuk membayangkan sihir serangan untuk menghentikan Bastanil. Namun....

“Ke-kenapa mana-ku tidak keluar?” Zeeta mencobanya kembali, tetapi hasilnya tetap sama. “Borgol ini menghalangi aliran mana­-ku...,” batinnya. Lalu, ketika Zeeta mengalihkan bola mata birunya ke arah Bastanil, ia semakin mengencangkan teriakannya.

“TIDAK! Kumohon jangan lakukan itu! JANGAN REBUT KELUARGAKU! Kumohon ... jangan!” tangis Zeeta mulai menghujani deras pipinya. Air hidungnya juga sampai keluar.

“Kumohon... jangan lakukan itu....” Zeeta yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat para penduduk desa saling berpelukan, siap untuk menerima serangan bola api besar di atas mereka tanpa perlawanan.

“Hahahaha! Karena inilah aku suka melakukan ini! Tatapan mengenaskan kalian tidak pernah membuatku bosan! Tapi bersuka citalah, karena kami Rowing... akan menjadi penerus tahta selanjutnya dan tidak akan mengizinkan satu pun rakyat yang tinggal dalam sarang kotoran macam kalian! Hahaha... huhahaha!

Bastanil melepaskan bola apinya. Tidak ada teriakan ataupun tangis dari penduduk Lazuli, tetapi hati Zeeta... hatinya berteriak sekencang mungkin dan tidak tahan terhadap Bastanil. Keluarganya telah lenyap begitu saja sementara ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Di dalam mobil kodok itu, sang supir yang ikut membantu memborgol tangannya memegangi topi seragamnya. Matanya bercahaya kuning cerah sambil melihat ke arah kaca tengah mobil. Tatapannya sama sekali tidak bersahabat. Zeeta yang terpacu akan keinginannya menyelamatkan keluarganya, gagal menyadari keberadaan sang supir dengan tatapan tajam itu....

Terpopuler

Comments

Nur

Nur

kok gitu sih, kenapa gak di biarin di urus peri atau pergi dari desa itu!!!zeeta ku nanti di siksa

2023-12-24

1

나의 햇살

나의 햇살

bapak mu mana??? udah sekarat ya karena kutukan itu 😏😏

2022-06-25

1

anggita

anggita

Licia Aurora XX.,🤔

2021-06-26

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Kehidupan Baru
3 Sihir
4 Peri
5 Impiannya
6 Buah dari Kerja Keras
7 Keinginan yang Muncul dari Kesempatan
8 Musim Semi yang Pedih
9 Dunia Asing
10 Wewenang atau Kekerasan?
11 Malam Sebelum Badai (1/2)
12 Malam Sebelum Badai (2/2)
13 Bangsawan Meja Bundar
14 Negeri yang Indah nan Kotor
15 Kewajiban Sang Putri (1/2)
16 Kewajiban Sang Putri (2/2)
17 Tuan Putri ke Ibu Kota
18 Sang Elf, Aria
19 Zeeta Aurora XXI
20 Eksekusi Mati
21 Langkah Awalnya
22 NAMAKU ADALAH ZEETA!
23 Rumor dan Fakta
24 Bibit Kejahatan
25 Ingatan Manis Hellenia (1/2)
26 Ancaman
27 Ambang Keputusasaan
28 Ingatan Manis Hellenia (2/2)
29 Kekuatan yang Hanya Dimiliki Manusia
30 Layaknya Nenek, Layaknya Cucu
31 Bertemu dengan Keluarga
32 Ikatan yang Terbentuk dari Kesan
33 Mana
34 Kengerian yang Merangkak Keluar
35 Sumbu dari Sebuah Legenda
36 Yang Akan Menuntunnya
37 Catastrophe Seal
38 Hutan Misterius
39 Benih Yggdrasil
40 Misi Selanjutnya
41 Sang Roh Yggdrasil, Luna
42 Sekutu
43 Rencana Sang Putri
44 Vivid Party
45 Rencana Penyelamatan Alicia (1/2)
46 Rencana Penyelamatan Alicia (2/2)
47 Rapat Keluarga Darurat
48 Kemampuan Sihirnya Tak Terbatas
49 [Bab Pengumuman] Kedudukan Kebangsawanan Kerajaan Aurora
50 Keberadaan Ras Lain
51 Kekalahannya
52 Manusia dan Makhluk Sihir yang Bentrok
53 Kekuatan Bangsawan Utama
54 Apa yang Menjadi Janjinya
55 Eclipse, Sekutu yang Tak Terduga
56 Sebuah Misteri yang Terkuak
57 Babak Baru
58 Kerja Sama Antar Ras
59 Melangkah ke Depan (1/2)
60 Melangkah ke Depan (2/2)
61 Klutzie dan Siren
62 Latihan untuk Menyusulnya
63 Percikan Api
64 Amarah dari Sebuah Kekonyolan
65 Pertanda?
66 Kegelapan yang Melindungi
67 Peran Keluarga
68 Teman dan Cinta
69 Kunci Kotak Harta Karun
70 Sebuah Kebenaran
71 Langkah Menuju Kebebasan
72 Bersama dengan Ibu, Mendengarnya
73 Ibu dan Ayah
74 Kebebasan
75 Kerajaan yang Berlibur
76 Azure dan Desa Lapis
77 Keluarga Baru
78 Waktu Bersama Keluarga
79 Karma yang Kejam
80 Dia yang Mengawasi
81 Zeeta dan Azure
82 Kekuatan Penuh Ashley 1
83 Willmurd Louis de Dormant
84 Kekuatan Penuh Ashley 2
85 Menuju Masa yang Diramalkan
86 Dunia yang Diramalkan
87 Bersiap Diri
88 Keputusan Azure
89 Layaknya Kotak Pandora
90 Awal dari Sang Pembalas Dendam, Marianna Aurora
91 Latihan yang Keras
92 Volten Sisters
93 Latihan Bersama Volten Sisters
94 Langit di Atas Langit
95 Tanah Ephemeral
96 "Mengakhiri Dunia"
97 Ketakutan yang Dibalut oleh Harapan
98 (Bab Pengumuman) Disclaimer - Sebelum Membaca Chapter (Arc) Selanjutnya
99 (Bab Pengumuman) Daftar Rune
100 Sihir Kuno Rune
101 Kekuatan Maisie
102 Bencana Besar yang akan Menghantam
103 Pertarungan yang Sudah Dimulai
104 Segel yang Dilepas Setelah Sekian Lama
105 Bala Bantuan
106 Janji Seorang Lelaki
107 Baru Dimulai
108 Tekad Kuat Gerda
109 Sampai Tetes Darah Terakhir
110 Wasiat Ratusan Tahun
111 Harta Karun untuk Masa Depan
112 Crescent Void
113 Kepercayaan yang Tulus
114 Menuju Perjalanan Selanjutnya
115 Bertekadlah Layaknya Kupu-Kupu
116 Arti dari Seorang Pemimpin
117 Penyihir Harapan
118 Sesuatu yang Berhasil Dilindungi
119 Dia yang Kembali Beraksi
120 Kepulangannya
121 Perbedaan Level
122 Tiada Waktu 'tuk Bersantai
123 Rapat Keluarga Darurat 2
124 Kunjungan
125 Pulangnya Tuan Putri ke Rumah
126 Luka di Hati
127 Hubungan Adik dan Kakak
128 Arti Sebuah Kerajaan
129 Menuju Kerajaan Nebula 1/3
130 Menuju Kerajaan Nebula 2/3
131 Menuju Kerajaan Nebula 3/3
132 Kedatangan Azure
133 Masa Lalu Suzy
134 Gugurnya Sebuah Harapan
135 Cinta Seorang Kakek
136 Perjuangannya
137 Ifrit Sang Api
138 Amarah
139 Ifrit vs. Ashley 1
140 Ifrit vs. Ashley 2
141 Jötunnheim dan Fyrriheim
142 Terdampar di Dunia Lampau, Fyrriheim
143 Klutzie vs. Jewel
144 Si Pelayan Klasik, Asteria
145 Identitas Sang Pria Misterius yang Mematikan, L'arc Darnmite
146 Rahasia Fyrriheim, Sebuah Dunia Lampau
147 Turning Point 1
148 Arti dari Hidup, Sebuah Awal dari Aurora
149 Sirkuit Sihir
150 Rencana Para Elf
151 Pertahanan Seluruh Tenaga demi Rakyat
152 Menuju Babak Selanjutnya
153 Pohon Chronos
154 Pertanggungjawaban yang Pantas
155 Penyesalan
156 Janji dalam Pelarian
157 Kebencian yang Terkunci Selama 200 Tahun
158 Bersama Senyum, Ditemani Oleh Senyum
159 Kembalinya Scarlet
160 Kepercayaan Diri
161 Pertarungan yang akan Mengubah Dunia
162 Guru dan Murid yang Menanggung Kebencian Besar
163 Para Penyintas
164 Kekuatan Tersembunyi Azure
165 Gelombang Pasang
166 Saksi Hidup Sejak Ribuan Tahun Silam
167 Harapan yang Berkilau
168 Zeeta vs. Marianna 1/4
169 Menguak Paksa Masa Lalu yang Pahit
170 Ketragisan yang Harus Diakhiri
171 Menerobos Kemustahilan
172 Zeeta vs. Marianna 2/4
173 Keadilan yang Tak Disesali
174 Zeeta vs. Marianna 3/4
175 Zeeta vs. Marianna 4/4
176 Keseharian Aurora yang Kembali Damai
177 Makhluk yang Kuat pun Lemah
178 Rekan Baru
179 Tamu Pembawa Teror
180 Dinding yang Tak Mudah Dihancurkan
181 Misi Baru Aurora
182 Tersirat
183 Penyusup
184 Keberadaan Masing-Masing Tim Ekspedisi
185 Serina dan Gerda
186 Keyakinan
187 Dalam Hitungan Detik
188 Masalahnya Masing-Masing
189 Kedatangan yang Tidak Diduga
190 Kecurigaan Pandang Pertama
191 Meremehkan Lawan yang Salah
192 "Belas Kasih"
193 Menantang Kemustahilan
194 Wajah Aurora yang Tercermin dari Sang Putri
195 Kemunculan Seseorang yang Tidak Diduga
196 Mau Tidak Mau
197 Sayap Menuju Esok
198 Yang Meyakinkannya
199 Ketika Tiada yang Menyadarinya
200 Menuju Tanah Kematian
201 Tanah Tanpa Kehangatan (1/2)
202 Tanah Tanpa Kehangatan (2/2)
203 Kambing Hitam
204 Sang Pelintas Waktu
205 Amarah Lloyd
206 Gadis yang Menyembunyikan Tujuannya
207 Demi Menjawab Harapan Sang Penyihir Harapan
208 Ancaman yang Dipatahkan
209 Roh Kuno Angin, Zephyr
210 Rahasia Dunia dan Ambisi untuk Menang
211 Alasan Belle
212 Dari Kematian, Menuju Kematian, Berakhir pada Kematian
213 Persiapan Menantang Kematian
214 Harapan Palsu
215 Trauma Zeeta
216 Kemunculan Tellaura, Sang Penyihir Pengutuk Dunia
217 Dark Elf yang Tak Segan Membunuh, Jourgan
218 High Elf Maniak Pertarungan, Bellaria
219 Pertanda Ragnarok
220 Gadis Seiryuu yang Bernasib untuk Mati
221 Rahasia Dibalik Senjata Suci
222 Turning Point 2
223 Pandangan Salah Seorang Dark Elf Pada Manusia
224 Titania, Sang Keturunan Raksasa
225 Sang Raksasa Teladan, Jeanne
226 Waktunya untuk Serius!
227 Pertempuran yang Singkat
228 Dunia Impian di Dalam Dunia Terkutuk
229 Dariku, 300 Tahun yang Lalu
230 Bersama-sama
231 Datangnya Perubahan Dunia
232 Burung yang Tersangkar dan Burung yang Terburu
233 Bangsawan, Pelayan, dan Rakyat Jelata
234 Merelakan Yang Tersayang
235 Kejamnya Dunia pada Mereka
236 Awal dari Semuanya 1
237 Alasan Seorang Tellaura Hidup
238 Gigih
239 Mereka yang Hidup di Dunia yang Berbeda
240 Ketakutan
241 Jiwa yang Tersesat
242 Ingatan yang Kembali
243 Keinginan Sang Raksasa
244 Kakak-Adik dan Putri-Pembunuh
245 Malam Sebelum Petaka
246 Jebakan
247 Bulan Darah
248 Pembalasan
249 Awal dari Semuanya 2
250 Tipu Muslihat
251 Menghilangkan Siklus Kebencian
252 Dua Gadis Berambut Perak
253 Sebelum Semuanya Tak Bisa Lagi Digenggam
254 Mimpi yang Tak Lagi Dapat Digapai
255 Putri Duyung dan Penyihir Harapan
256 Penyihir Harapan dan Penyihir Bintang
257 Menuju Hari Akhir 1
258 Lautan yang Marah
259 Masa Lalu Penyihir Bintang
260 Gadis yang Kuat
261 Malam yang Gila 1
262 Permintaan Roh Kuno Air
263 Malam yang Gila 2
264 Tirta Amarta 1
265 Tirta Amarta 2
266 Tirta Amarta 3
267 Aku dan Aku yang Lain
268 Ozy dan Jeanne
269 Keseriusan Zeeta
270 Bertemunya Dua Zeeta
271 Arata Akihiro
272 Menyeret ke Dalam Lubang Berbilah Tajam
273 Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 1
274 Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 2
275 Mereka yang Menyayanginya
276 Kedatangan Sosok yang (Pernah) Berharga Untuknya
277 Dua Gerbang yang Terbuka
278 Melodi dari Neraka
279 Turning Point 3
280 Kartu Truf
281 Bangkit
282 Jatuh dalam Kegelapan
283 Secercah Harapan
284 Sejarah Nebula 1
285 Sejarah Nebula 2
286 Jangan Remehkan Gadis yang Sedang Jatuh Cinta!
287 Barghest yang Misterius
288 The Power of Love
289 Gadis yang Menjadi Dunianya
290 Cermin Seorang Penguasa yang Dikagumi
291 Pangeran Cupu (?)
292 Putri Keemasan yang Dikutuk
293 Sejarah yang Saling Terhubung
294 Pertanyaan Demi Pertanyaan
295 Kerajaan Gala
296 Mereka yang Bangkit dari Keterpurukan
297 Menciptakan Legenda
298 Hati Baja yang Tidak Dimiliki Semua Orang
299 Catastrophe Seal dan Vanadust
300 Secercah Cahaya dari Dunia
301 Apakah Ini Sebuah Tekad? Atau Hanya Tegar?
302 Buah Perjuangannya
303 Tujuan Akhir Zeeta
304 Sahabat
305 Petunjuk
306 Negeri Para Raksasa
307 Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 1
308 Fana
309 Jawaban
310 Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 2
311 Zeeta dan Luna
312 Rapat Keluarga (Bangsawan)
313 (Bab Pengumuman) Desain Karakter Zeeta (Delapan Tahun)
314 Pengorbanan Tidaklah Selalu Buruk
315 (Bab Pengumuman) Desain Karakter Danny & Gerda (9/8 Tahun)
316 Hubungan dan Ikatan
317 Wejangan
318 Keroco Kuat yang Buta Tujuan
319 Terbukanya Dua Gerbang
320 Syarat
321 Angin Zephyr
322 Ragnarok, Pertempuran Akhir Dunia
323 Tujuan Tiga Dunia yang Berbeda
324 Demi Hari Esok
325 Sang Raksasa Alpha, Fenrir
326 Seiryuu dan Penyangganya
327 Masalah Hati Arata Akihiro
328 Naga Pengecut, Nidhogg
329 Menerima Apa Adanya dan Mencintainya
330 Naga yang Nyaris Kehilangan Arahnya
331 Pengkhianatan yang Tak Bisa Dimaafkan
332 Kegelapan yang Menerangi
333 Luluh Lantaknya Bumi
334 Bala Bantuan
335 Kehancuran
336 Dirimu yang Bagaikan Cahaya Untukku
337 Pertolongan Alam Kematian
338 Pengorbanan
339 Tombak Suci Rhongomyniad
340 Pertempuran Akhir 1
341 Yang Mengerti Dirinya
342 Mewujudkan Lagi Tír na nÓg
343 Cahaya Dari Bintang
344 Naga Dan Manusia
345 Keheningan Sebelum Badai
346 Jawaban Sang Penentu Dunia
347 Zeeta Alter vs. Si Kembar Levant
348 Mereka yang Mengutuk Dunia
349 Peran Terakhir Crescent Void
350 Quaternity Grandeur
351 Rival Gadis Itu
352 Tirai Penutup
353 Sang Penyihir Harapan [END]
354 Bab Bonus - True (Happy) Ending
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prolog
2
Kehidupan Baru
3
Sihir
4
Peri
5
Impiannya
6
Buah dari Kerja Keras
7
Keinginan yang Muncul dari Kesempatan
8
Musim Semi yang Pedih
9
Dunia Asing
10
Wewenang atau Kekerasan?
11
Malam Sebelum Badai (1/2)
12
Malam Sebelum Badai (2/2)
13
Bangsawan Meja Bundar
14
Negeri yang Indah nan Kotor
15
Kewajiban Sang Putri (1/2)
16
Kewajiban Sang Putri (2/2)
17
Tuan Putri ke Ibu Kota
18
Sang Elf, Aria
19
Zeeta Aurora XXI
20
Eksekusi Mati
21
Langkah Awalnya
22
NAMAKU ADALAH ZEETA!
23
Rumor dan Fakta
24
Bibit Kejahatan
25
Ingatan Manis Hellenia (1/2)
26
Ancaman
27
Ambang Keputusasaan
28
Ingatan Manis Hellenia (2/2)
29
Kekuatan yang Hanya Dimiliki Manusia
30
Layaknya Nenek, Layaknya Cucu
31
Bertemu dengan Keluarga
32
Ikatan yang Terbentuk dari Kesan
33
Mana
34
Kengerian yang Merangkak Keluar
35
Sumbu dari Sebuah Legenda
36
Yang Akan Menuntunnya
37
Catastrophe Seal
38
Hutan Misterius
39
Benih Yggdrasil
40
Misi Selanjutnya
41
Sang Roh Yggdrasil, Luna
42
Sekutu
43
Rencana Sang Putri
44
Vivid Party
45
Rencana Penyelamatan Alicia (1/2)
46
Rencana Penyelamatan Alicia (2/2)
47
Rapat Keluarga Darurat
48
Kemampuan Sihirnya Tak Terbatas
49
[Bab Pengumuman] Kedudukan Kebangsawanan Kerajaan Aurora
50
Keberadaan Ras Lain
51
Kekalahannya
52
Manusia dan Makhluk Sihir yang Bentrok
53
Kekuatan Bangsawan Utama
54
Apa yang Menjadi Janjinya
55
Eclipse, Sekutu yang Tak Terduga
56
Sebuah Misteri yang Terkuak
57
Babak Baru
58
Kerja Sama Antar Ras
59
Melangkah ke Depan (1/2)
60
Melangkah ke Depan (2/2)
61
Klutzie dan Siren
62
Latihan untuk Menyusulnya
63
Percikan Api
64
Amarah dari Sebuah Kekonyolan
65
Pertanda?
66
Kegelapan yang Melindungi
67
Peran Keluarga
68
Teman dan Cinta
69
Kunci Kotak Harta Karun
70
Sebuah Kebenaran
71
Langkah Menuju Kebebasan
72
Bersama dengan Ibu, Mendengarnya
73
Ibu dan Ayah
74
Kebebasan
75
Kerajaan yang Berlibur
76
Azure dan Desa Lapis
77
Keluarga Baru
78
Waktu Bersama Keluarga
79
Karma yang Kejam
80
Dia yang Mengawasi
81
Zeeta dan Azure
82
Kekuatan Penuh Ashley 1
83
Willmurd Louis de Dormant
84
Kekuatan Penuh Ashley 2
85
Menuju Masa yang Diramalkan
86
Dunia yang Diramalkan
87
Bersiap Diri
88
Keputusan Azure
89
Layaknya Kotak Pandora
90
Awal dari Sang Pembalas Dendam, Marianna Aurora
91
Latihan yang Keras
92
Volten Sisters
93
Latihan Bersama Volten Sisters
94
Langit di Atas Langit
95
Tanah Ephemeral
96
"Mengakhiri Dunia"
97
Ketakutan yang Dibalut oleh Harapan
98
(Bab Pengumuman) Disclaimer - Sebelum Membaca Chapter (Arc) Selanjutnya
99
(Bab Pengumuman) Daftar Rune
100
Sihir Kuno Rune
101
Kekuatan Maisie
102
Bencana Besar yang akan Menghantam
103
Pertarungan yang Sudah Dimulai
104
Segel yang Dilepas Setelah Sekian Lama
105
Bala Bantuan
106
Janji Seorang Lelaki
107
Baru Dimulai
108
Tekad Kuat Gerda
109
Sampai Tetes Darah Terakhir
110
Wasiat Ratusan Tahun
111
Harta Karun untuk Masa Depan
112
Crescent Void
113
Kepercayaan yang Tulus
114
Menuju Perjalanan Selanjutnya
115
Bertekadlah Layaknya Kupu-Kupu
116
Arti dari Seorang Pemimpin
117
Penyihir Harapan
118
Sesuatu yang Berhasil Dilindungi
119
Dia yang Kembali Beraksi
120
Kepulangannya
121
Perbedaan Level
122
Tiada Waktu 'tuk Bersantai
123
Rapat Keluarga Darurat 2
124
Kunjungan
125
Pulangnya Tuan Putri ke Rumah
126
Luka di Hati
127
Hubungan Adik dan Kakak
128
Arti Sebuah Kerajaan
129
Menuju Kerajaan Nebula 1/3
130
Menuju Kerajaan Nebula 2/3
131
Menuju Kerajaan Nebula 3/3
132
Kedatangan Azure
133
Masa Lalu Suzy
134
Gugurnya Sebuah Harapan
135
Cinta Seorang Kakek
136
Perjuangannya
137
Ifrit Sang Api
138
Amarah
139
Ifrit vs. Ashley 1
140
Ifrit vs. Ashley 2
141
Jötunnheim dan Fyrriheim
142
Terdampar di Dunia Lampau, Fyrriheim
143
Klutzie vs. Jewel
144
Si Pelayan Klasik, Asteria
145
Identitas Sang Pria Misterius yang Mematikan, L'arc Darnmite
146
Rahasia Fyrriheim, Sebuah Dunia Lampau
147
Turning Point 1
148
Arti dari Hidup, Sebuah Awal dari Aurora
149
Sirkuit Sihir
150
Rencana Para Elf
151
Pertahanan Seluruh Tenaga demi Rakyat
152
Menuju Babak Selanjutnya
153
Pohon Chronos
154
Pertanggungjawaban yang Pantas
155
Penyesalan
156
Janji dalam Pelarian
157
Kebencian yang Terkunci Selama 200 Tahun
158
Bersama Senyum, Ditemani Oleh Senyum
159
Kembalinya Scarlet
160
Kepercayaan Diri
161
Pertarungan yang akan Mengubah Dunia
162
Guru dan Murid yang Menanggung Kebencian Besar
163
Para Penyintas
164
Kekuatan Tersembunyi Azure
165
Gelombang Pasang
166
Saksi Hidup Sejak Ribuan Tahun Silam
167
Harapan yang Berkilau
168
Zeeta vs. Marianna 1/4
169
Menguak Paksa Masa Lalu yang Pahit
170
Ketragisan yang Harus Diakhiri
171
Menerobos Kemustahilan
172
Zeeta vs. Marianna 2/4
173
Keadilan yang Tak Disesali
174
Zeeta vs. Marianna 3/4
175
Zeeta vs. Marianna 4/4
176
Keseharian Aurora yang Kembali Damai
177
Makhluk yang Kuat pun Lemah
178
Rekan Baru
179
Tamu Pembawa Teror
180
Dinding yang Tak Mudah Dihancurkan
181
Misi Baru Aurora
182
Tersirat
183
Penyusup
184
Keberadaan Masing-Masing Tim Ekspedisi
185
Serina dan Gerda
186
Keyakinan
187
Dalam Hitungan Detik
188
Masalahnya Masing-Masing
189
Kedatangan yang Tidak Diduga
190
Kecurigaan Pandang Pertama
191
Meremehkan Lawan yang Salah
192
"Belas Kasih"
193
Menantang Kemustahilan
194
Wajah Aurora yang Tercermin dari Sang Putri
195
Kemunculan Seseorang yang Tidak Diduga
196
Mau Tidak Mau
197
Sayap Menuju Esok
198
Yang Meyakinkannya
199
Ketika Tiada yang Menyadarinya
200
Menuju Tanah Kematian
201
Tanah Tanpa Kehangatan (1/2)
202
Tanah Tanpa Kehangatan (2/2)
203
Kambing Hitam
204
Sang Pelintas Waktu
205
Amarah Lloyd
206
Gadis yang Menyembunyikan Tujuannya
207
Demi Menjawab Harapan Sang Penyihir Harapan
208
Ancaman yang Dipatahkan
209
Roh Kuno Angin, Zephyr
210
Rahasia Dunia dan Ambisi untuk Menang
211
Alasan Belle
212
Dari Kematian, Menuju Kematian, Berakhir pada Kematian
213
Persiapan Menantang Kematian
214
Harapan Palsu
215
Trauma Zeeta
216
Kemunculan Tellaura, Sang Penyihir Pengutuk Dunia
217
Dark Elf yang Tak Segan Membunuh, Jourgan
218
High Elf Maniak Pertarungan, Bellaria
219
Pertanda Ragnarok
220
Gadis Seiryuu yang Bernasib untuk Mati
221
Rahasia Dibalik Senjata Suci
222
Turning Point 2
223
Pandangan Salah Seorang Dark Elf Pada Manusia
224
Titania, Sang Keturunan Raksasa
225
Sang Raksasa Teladan, Jeanne
226
Waktunya untuk Serius!
227
Pertempuran yang Singkat
228
Dunia Impian di Dalam Dunia Terkutuk
229
Dariku, 300 Tahun yang Lalu
230
Bersama-sama
231
Datangnya Perubahan Dunia
232
Burung yang Tersangkar dan Burung yang Terburu
233
Bangsawan, Pelayan, dan Rakyat Jelata
234
Merelakan Yang Tersayang
235
Kejamnya Dunia pada Mereka
236
Awal dari Semuanya 1
237
Alasan Seorang Tellaura Hidup
238
Gigih
239
Mereka yang Hidup di Dunia yang Berbeda
240
Ketakutan
241
Jiwa yang Tersesat
242
Ingatan yang Kembali
243
Keinginan Sang Raksasa
244
Kakak-Adik dan Putri-Pembunuh
245
Malam Sebelum Petaka
246
Jebakan
247
Bulan Darah
248
Pembalasan
249
Awal dari Semuanya 2
250
Tipu Muslihat
251
Menghilangkan Siklus Kebencian
252
Dua Gadis Berambut Perak
253
Sebelum Semuanya Tak Bisa Lagi Digenggam
254
Mimpi yang Tak Lagi Dapat Digapai
255
Putri Duyung dan Penyihir Harapan
256
Penyihir Harapan dan Penyihir Bintang
257
Menuju Hari Akhir 1
258
Lautan yang Marah
259
Masa Lalu Penyihir Bintang
260
Gadis yang Kuat
261
Malam yang Gila 1
262
Permintaan Roh Kuno Air
263
Malam yang Gila 2
264
Tirta Amarta 1
265
Tirta Amarta 2
266
Tirta Amarta 3
267
Aku dan Aku yang Lain
268
Ozy dan Jeanne
269
Keseriusan Zeeta
270
Bertemunya Dua Zeeta
271
Arata Akihiro
272
Menyeret ke Dalam Lubang Berbilah Tajam
273
Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 1
274
Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 2
275
Mereka yang Menyayanginya
276
Kedatangan Sosok yang (Pernah) Berharga Untuknya
277
Dua Gerbang yang Terbuka
278
Melodi dari Neraka
279
Turning Point 3
280
Kartu Truf
281
Bangkit
282
Jatuh dalam Kegelapan
283
Secercah Harapan
284
Sejarah Nebula 1
285
Sejarah Nebula 2
286
Jangan Remehkan Gadis yang Sedang Jatuh Cinta!
287
Barghest yang Misterius
288
The Power of Love
289
Gadis yang Menjadi Dunianya
290
Cermin Seorang Penguasa yang Dikagumi
291
Pangeran Cupu (?)
292
Putri Keemasan yang Dikutuk
293
Sejarah yang Saling Terhubung
294
Pertanyaan Demi Pertanyaan
295
Kerajaan Gala
296
Mereka yang Bangkit dari Keterpurukan
297
Menciptakan Legenda
298
Hati Baja yang Tidak Dimiliki Semua Orang
299
Catastrophe Seal dan Vanadust
300
Secercah Cahaya dari Dunia
301
Apakah Ini Sebuah Tekad? Atau Hanya Tegar?
302
Buah Perjuangannya
303
Tujuan Akhir Zeeta
304
Sahabat
305
Petunjuk
306
Negeri Para Raksasa
307
Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 1
308
Fana
309
Jawaban
310
Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 2
311
Zeeta dan Luna
312
Rapat Keluarga (Bangsawan)
313
(Bab Pengumuman) Desain Karakter Zeeta (Delapan Tahun)
314
Pengorbanan Tidaklah Selalu Buruk
315
(Bab Pengumuman) Desain Karakter Danny & Gerda (9/8 Tahun)
316
Hubungan dan Ikatan
317
Wejangan
318
Keroco Kuat yang Buta Tujuan
319
Terbukanya Dua Gerbang
320
Syarat
321
Angin Zephyr
322
Ragnarok, Pertempuran Akhir Dunia
323
Tujuan Tiga Dunia yang Berbeda
324
Demi Hari Esok
325
Sang Raksasa Alpha, Fenrir
326
Seiryuu dan Penyangganya
327
Masalah Hati Arata Akihiro
328
Naga Pengecut, Nidhogg
329
Menerima Apa Adanya dan Mencintainya
330
Naga yang Nyaris Kehilangan Arahnya
331
Pengkhianatan yang Tak Bisa Dimaafkan
332
Kegelapan yang Menerangi
333
Luluh Lantaknya Bumi
334
Bala Bantuan
335
Kehancuran
336
Dirimu yang Bagaikan Cahaya Untukku
337
Pertolongan Alam Kematian
338
Pengorbanan
339
Tombak Suci Rhongomyniad
340
Pertempuran Akhir 1
341
Yang Mengerti Dirinya
342
Mewujudkan Lagi Tír na nÓg
343
Cahaya Dari Bintang
344
Naga Dan Manusia
345
Keheningan Sebelum Badai
346
Jawaban Sang Penentu Dunia
347
Zeeta Alter vs. Si Kembar Levant
348
Mereka yang Mengutuk Dunia
349
Peran Terakhir Crescent Void
350
Quaternity Grandeur
351
Rival Gadis Itu
352
Tirai Penutup
353
Sang Penyihir Harapan [END]
354
Bab Bonus - True (Happy) Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!