Tiga tahun berlalu semenjak kebakaran di desa Lapis. Desa Lazuli bisa merasakan angin sepoi sedikit lebih lama ... begitulah pikir warganya. Setidaknya, angin sepoi itu terus berhembus sampai musim semi tahun ini.
Musim sebelumnya yang setiap hari selalu dingin dan beberapa kali dihujani salju, kini telah menggantikan tugasnya kepada musim yang lebih hangat darinya. Sungai yang telah berubah menjadi bentangan es, dan salju yang ikut menutupi hampir setiap jalan dan rumah mulai mencair.
Pepohonan siap menumbuhkan daun barunya, para hewan yang berhibernasi pun mulai terbangun dari tidur lelapnya, manusia juga tak kalah cerianya dari mereka. Mereka tak perlu lagi menghabiskan kebanyakan waktu di dalam rumah karena tak banyak aktivitas yang bisa dikerjakan. Terutama untuk anak-anak, mereka bersorak gembira.
Musim semi kali ini diawali kemeriahan sekaligus haru untuk desa Lazuli, sebab Zeeta telah menginjak usianya yang ke delapan pada bulan ini, yaitu bulan Maret. Dirinya sudah tumbuh sedikit lebih tinggi dan ia tetap menjaga model potongan pendek pada rambut violetnya. Ia juga semakin baik dalam memasak, baik dengan sihir atau pun tanpa sihir. Tentu saja, latihan sihir selama tiga tahun belakangan ini bersama ayah angkatnya membuahkan hasil yang manis. Sudah ada sihir tertentu yang hanya bisa dilakukan olehnya.
Tampaknya, dugaan Arthur tiga tahun lalu tentang kekuatan Zeeta belum bangkit adalah benar. Semakin Zeeta bertambah usia, Arthur menyadari bahwa mana milik Zeeta semakin menguat dan kemampuannya ketika menyihir jauh lebih mudah. Berbeda jauh saat dia gagal menyihir buah renjie kala itu.
Tenggat waktu yang dituliskan ibu kandung Zeeta pada suratnya adalah bulan ini. Oleh karena itu, warga desa harus mengucapkan salam perpisahan pada Zeeta. Meski begitu, teman-teman seusia Zeeta telah diberi persiapan beberapa bulan lebih awal. Orang tua mereka telah mengungkapkan identitas dan apa yang harus dilakukan Zeeta. Hal ini dilakukan agar anak-anaknya tidak menjaga jarak dengan Zeeta secara mendadak, dan menghindari kekhawatiran Zeeta dengan gelagat mereka yang aneh.
Tidak ada yang tahu jika malam bulan purnama yang sunyi dan sejuk setelah pesta ulang tahun Zeeta yang ke delapan akan menjadi malam terakhir desa Lazuli untuk menghabiskan waktu bersamanya. Malam sebelum kekacauan itu, Arthur sudah mengungkap identitas Zeeta.
......................
Pesta ulang tahun Zeeta yang ke delapan telah berakhir beberapa menit yang lalu. Riasan ruang seperti balon angka delapan dan pita dengan berbagai macam warna dan bentuk masih melekat di dinding dan langit-langit kedai. Meja dan kursi pelanggan masih pada tempatnya yang disesuaikan menjadi tempat perayaan ulang tahun.
Saat ini, Zeeta sedang menunggu Arthur di kedai sendirian. Ia diberitahu ayahnya jika mereka akan membicarakan sesuatu yang sangat penting. Ia gugup—penasaran apa yang akan dibicarakan ayahnya. Rasa gugup itu semakin kuat saat ia melihat Arthur turun dari lantai dua membawa keranjang piknik yang hanyut delapan tahun lalu ke hadapannya.
“Apa ini, Yah?” tanya Zeeta mengerutkan alisnya.
“Sekali lagi Ayah tegaskan padamu. Apa yang akan Ayah beritahu adalah hal yang nyata, bukan dongeng atau legenda yang sering kuceritakan. Jadi, dengarkanlah baik-baik.” Arthur mempersiapkan dirinya dengan memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya kembali.
"U-uhm....” Zeeta merasa sedikit cemas.
“Zeeta ... delapan tahun yang lalu ... aku menemukanmu hanyut dalam keranjang ini.” Arthur melihat ke keranjangnya.
“Eh...?" Zeeta terbelalak. "A-apa maksud Ayah?”
Rasa cemas dan gugup itu seolah menyetrum sekujur tubuh Zeeta. Ia kaget, sekaligus tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
“Ketika kau bertanya tentang ibumu, aku sering beralasan bahwa dia sudah meninggal sesaat setelah melahirkanmu. Tapi sebenarnya... aku juga tidak tahu apakah ibu kandungmu masih hidup atau tidak.” Arthur mengambil secarik surat yang masih terjaga dengan baik dari keranjang.
“A-apa, sih, maksud Ayah?” Zeeta semakin tidak mengerti. Semuanya terlalu mendadak untuknya.
“Bacalah ini dulu.” Arthur memberikan suratnya.
Setelah membaca suratnya, Zeeta dapat melihat nama penuh dari pengirim surat di ujung kanan bawah suratnya. "Tertanda, Ratu Kedua Puluh Kerajaan Aurora, Alicia Aurora XX."
Zeeta sedikit meremas surat itu dengan jemarinya. “Aku... tidak mengerti ini....” rintik air matanya mulai berjatuhan.
“Aku sudah pernah memberitahumu tentang kondisi istana Aurora, dan aku juga sudah memberitahumu siapa nama Ratu negeri ini.
"Zee... kau adalah Tuan Putri Aurora yang kedua puluh satu.
“Nak, kendati Aurora adalah kerajaan, namun sistem pemerintahannya adalah matrinial. Pemimpin tertingginya adalah perempuan, jadi kau adalah penerus tahta ibumu.”
“A-aku... aku... aku ini anak Ayah!" mata Zeeta tak berhenti berkaca-kaca.
"Aku....
"Aku ini BUKAN Tuan Putri!” Zeeta semakin meremas suratnya, air matanya juga semakin deras. Ia tidak bisa menerimanya begitu saja. Tanda tanya dibalik kepala dan hatinya semakin membesar.
“Ingat impianmu yang ingin mahir menggunakan sihir? Waktu itu aku tidak bisa menjawabnya dengan benar. Biarkan aku perbaiki itu sekarang. Tentu saja... tentu saja kau bisa, soalnya kau adalah Tuan Putri—bangsawan penguasa negeri ini!
"Buktinya, kau yang sekarang sudah bisa menyihir sesuatu yang bahkan aku tidak bisa.”
Zeeta yang terus menangis mulai sesenggukan. “Kalau begitu aku tidak ingin mahir menggunakan sihir! Aku TIDAK MAU menjadi Tuan Putri! Aku hanya ingin bersama kalian, aku TIDAK MAU berpisah dari kalian!”
Melihat ekspresi Zeeta yang begitu menderita dengan isak tangis dan air matanya, hati Arthur merasa teriris, tapi ia mengerti bahwa ia harus tetap mengatakannya. “Zee... kami semua dari desa Lazuli sayang padamu dan kami pun merasakan hal yang sama denganmu... tak ada yang mau berpisah denganmu. Tapi seperti yang telah kaubaca dari suratnya, kau memiliki kewajiban yang harus kau tuntaskan."
“Apa memangnya kewajiban itu?! Kenapa tidak dia saja yang menyelesaikannya? Kenapa harus aku? Aku... tidak ingin....
"Aku tidak ingin menjadi Tuan Putri....” Zeeta membanting surat itu ke meja di sebelahnya.
“Kenapa...?” Arthur bertanya dengan nada yang lembut.
“Karena itu bukanlah aku! Aku orang biasa... aku hanyalah anak dari desa... tidak mungkin aku bisa menjadi Tuan Putri!”
Arthur mendekatkan dirinya ke Zeeta, ia memegang kedua bahunya. “Nak... kau adalah Tuan Putri yang memiliki keluarga di desa Lazuli. Sekalipun kau menjadi Tuan Putri, tidak berarti kau akan selalu berpisah dengan kami. Kau bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama kami. Tapi, Nak... penuhi terlebih dahulu kewajibanmu sebagai Tuan Putri.
“Pergilah ke ibu kota, di sana ada bangsawan yang mungkin bisa membantumu. Kami disini sudah membesarkanmu dan sudah saatnya bagimu untuk bisa mandiri.”
Apa yang baru saja diucapkan mulut ayahnya membuat Zeeta semakin tak karuan. “TIDAK! Aku tidak mau! Bangsawan itu ... mereka pasti orang-orang yang jahat!” Zeeta menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang.
Arthur menghela napasnya. “Nak... ayo ikut aku ke luar.” Ucapannya membuat Zeeta menghapus air matanya. Matanya sembab dan sekitar matanya memerah. Meskipun ia telah menghapus air matanya, sesenggukannya masih tertinggal dalam tenggorokannya.
Setelah mereka keluar, mereka menyihir tubuh mereka agar bisa melayang di udara.
“Lihatlah kondisi sekitar desa.” Permintaan ayahnya segera Zeeta lakukan. Lantas, ia terbelalak.
Zeeta melihat jumlah desa di sekitar Lazuli semakin berkurang dengan kondisinya yang telah hangus. Sementara itu, karena terlalu mencolok, ia dapat melihat bangunan megah dan kota kecil di dekat desa-desa yang hangus. Ia segera paham, bahwa bangunan megah itu adalah kediaman milik keluarga bangsawan yang dibenci semua desa, Rowing.
Zeeta segera merasakan amarah yang besar dalam benaknya. Ia belum pernah merasa semarah ini. Ia tampak ingin melancarkan sihir serangan ke kediaman Rowing, tetapi ia segera dipeluk oleh Arthur.
“Nak... sebagai orang tua yang sudah membesarkanmu sendirian... aku tidak ingin kau menjadi bangsawan macam Rowing. Kau adalah Tuan Putri, karena itu kau harus lebih baik darinya. Kau boleh marah, tetapi janganlah gegabah, apalagi dendam karenanya.
“Dendam antar manusia akan membawa negeri ini ke kondisi yang mengerikan. Kau sudah tahu, bukan? Semua orang di negeri ini punya sihir, jika mereka saling dendam... perang akan terjadi. Aku tidak membesarkanmu untuk jadi orang yang seperti itu. Bisakah kau berjanji padaku agar tidak dendam dengan orang lain?”
“Aku... tidak tahu." Zeeta menunduk. "Rowing sangat jahat. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja....”
“Hei. Aku menyuruhmu untuk tidak dendam, bukan berarti aku ingin kau melepaskannya. Kaubisa memberikannya hukuman berat karena kau adalah Tuan Putri! Kau lebih berkuasa darinya!”
“Oh ... benar juga.” Zeeta sedikit linglung karena masih merasa kacau.
Masih dalam dekapan Arthur, Zeeta merasa kepalanya dielus. “Aku tahu perjalananmu di luar sana tidak akan mudah. Disaat kau tidak bisa melewati sebuah masalah, seorang teman akan membantumu. Aku tahu kaupasti bisa.
“Kaupasti akan menjadi Tuan Putri yang hebat untuk negeri ini. Kau akan menjadi kebanggaan desa Lazuli, dan ketika saat itu tiba... aku akan berteriak paling keras sampai suaraku habis untuk memberimu selamat!”
Mendengarnya, akhirnya Zeeta bisa menenangkan dirinya. Ia mendekap erat tubuh ayahnya yang besar. “Uhm. Baiklah....” dalam dekapan itu, Zeeta tersenyum.
“Hei, Ayah?” Zeeta memanggil.
“Hmm?”
“Aku sayang Ayah,” katanya dikala ia tersenyum.
Arthur balik tersenyum lalu berkata, “aku juga, Nak... aku juga.” Ia mengelus kepala Zeeta sekali lagi. Beberapa detik kemudian, ia melepas dekapannya untuk mengambil sesuatu dari kantung celananya.
Arthur mengambil sebuah liontin berwarna ungu yang sewarna dengan anting di telinga kirinya. Liontin tersebut adalah liontin yang bisa dibuka. Isi liontinnya adalah foto semua warga desa, menempatkan Arthur dan Zeeta di tengah foto, keluarga Recko di samping kanan dan kiri keduanya.
“Ini adalah hadiah ulang tahunmu dari kami. Kami harap ini akan berguna untukmu.” Arthur memakaikan liontin itu pada Zeeta.
Melihat liontin serta isinya, membuat Zeeta merasa sedikit kesal. “Iih ... Ayah!” geramnya seraya dengan menggembungkan pipi.
“A-apa? Kau tidak suka?” Arthur kaget sekaligus takut dan cemas bahwa hadiah itu justru membuat mood anaknya semakin kacau.
“Ih, bukan! Ayah membuat aku ingin menangis lagi!” Zeeta memeluk ayahnya kembali. “Terima kasih... aku akan menjaganya dengan baik.” Zeeta tersenyum.
Tak berselang lama, awan yang menghalangi cahaya bulan purnama itu secara kebetulan menyinari mereka. Dengan cepatnya, pola bulan hampir penuh di anting Zeeta, berubah purnama dan langsung bercahaya biru. Melihat cahayanya, ia terkejut.
“A-apa tadi itu? Kenapa antingku....”
Tidak hanya Zeeta yang terkejut, begitu juga dengan Arthur. Namun, ia memiliki alasan yang berbeda dari Zeeta. Tanda-nya sudah tiba. “Cih... aku harus cepat....” Arthur menarik Zeeta masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. “Diamlah dulu disini, aku akan segera kembali!”
......................
Sementara Arthur pergi, Zeeta didatangi seseorang yang sudah ia lupakan bertahun-tahun yang lalu... tidak, lebih tepatnya adalah seekor. Seekor Peri. Peri itu bersayap dan berambut hijau. Sayapnya mengepakkan butiran berwarna hijau, matanya berwarna kuning cerah. Dia adalah Peri yang waktu itu menjadi korban keisengan Zeeta di Hutan Peri, dia adalah Sylva.
“Jadi, waktumu sudah tiba, ya, Wahai Penerus Aurora,” ujarnya yang terlalu mendadak, membuat Zeeta kaget setengah mati.
“Kyaaa! Bi-bikin kaget saja....” ia lalu menenangkan diri dengan menghela napas panjang. Kemudian, ia cemberut. “Hei! Apa kau tidak punya sopan santun?! Kalau mau bertamu, ketuk dulu pintunya!”
“Hah...? Untuk apa? Lagian tidak ada yang bisa melihatku selain kau.” Sylva mendekatkan diri pada wajah Zeeta.
“Hmm? Tidak ada yang bisa melihatmu? Apa maksudmu?”
“A-apa kau tidak tahu siapa aku?” Sylva menaikkan alis sebelah kirinya.
“Aku tahu, kau Peri, 'kan?”
“Terus, kenapa kau hanya kaget? Tidakkah kau penasaran kenapa Peri itu ada?”
“Hmm... soalnya aku ingat secara samar jika aku pernah melihat Peri.
"Oh, tentu saja, saat kau mengawasiku dari kejauhan saat latihan sihir, serta saat menguping apa yang ayahku diskusikan dengan Kepala Desa, aku tahu kok.”
“A-apa...?” secara mendadak, Sylva merasa malu. “Dan selama ini ... selama tiga tahun ini... kau hanya diam saja?!”
“Soalnya ... kukira mereka tahu tentangmu tapi mereka mengabaikanmu. Jadi ... kuikuti saja mereka. Apa itu salah?”
“SALAH! Mereka bahkan tidak yakin kalau Peri itu ada dan yang bisa melihatku saat ini hanyalah kau!”
“Hummm...." Zeeta mengangguk-angguk. "Loh? Eeeh?! Ja-jadi ... kau ini penguntit?! Hampir setiap hari kau selalu melihatku dari jarak jauh....” Zeeta melihat Sylva dengan lirikan jijik.
“Bu-bukan! Jelas bukan! Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah saat ini kau sedang sedih?!”
Zeeta hanya diam, berjalan menuju dapur, lalu tersenyum. “Hehehe... maaf ya, tadi aku hanya bercanda saja. Aku hanya belum bisa menerima apa yang baru saja kudengar dari ayah. Aku tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja terjadi. Pesta ulang tahunku baru saja selesai, lalu ayahku berkata aku bukanlah anaknya dan aku sebenarnya seorang Tuan Putri... lalu antingku ini ...."
Zeeta memegangi anting dengan telunjuk dan ibu jarinya.
"Siapa sebenarnya aku?
“Ketika aku tahu kalau hanya aku yang bisa melihat Peri, aku jadi paham. Aku memanglah Tuan Putri. Ayah selalu bilang dalam dongengnya, hanya orang-orang terpilihlah yang bisa melihat kalian. Dan kalau menjadi Tuan Putri adalah menjadi orang terpilih, maka aku harus terima bahwa aku adalah Tuan Putri.”
Sylva mendekati Zeeta. “Jawaban itu separuh benar, separuh salah. Itu bukanlah dongeng, melainkan kenyataan, dan menjadi Tuan Putri memanglah takdirmu.
"Ibumu adalah Ratu negeri ini, aku bisa menjaminnya, karena para keluarga kerajaan selalu berhubungan dengan kami. Tapi membahas itu nanti saja, aku memiliki hal penting yang harus dikerjakan. Selama itu, berpisahlah dengan bahagia.” Kemudian Sylva segera pergi begitu saja lewat ventilasi.
......................
Disaat yang sama....
Arthur bertemu dengan Kepala Desa dan menjelaskan situasinya. “Aku akan membunyikan loncengnya, kaulihatlah keadaan. Mana-nya tidak akan bisa disembunyikan lagi jika sudah bangkit total.” Kepala Desa berlari keluar dan menuju tower lonceng sebagai tanda bahwa Rowing akan segera datang.
Arthur kembali melayangkan dirinya ke udara dan menyaksikan dua mobil—limusin dan kodok berwarna perak—sedang menuju perjalanan ke desa Lazuli. “Cih... sekitar lima belas menit lagi, kah?” gumamnya.
Setelah penduduk desa mendengar lonceng penanda Rowing akan datang, langit masih dalam lelapnya. Perasaan campur aduk dirasakan semua orang, apalagi untuk Danny dan Gerda. Ketika mereka berkumpul, mereka saling bergandeng tangan—saling menguatkan diri. Sementara itu, Arthur kembali ke rumahnya untuk menjemput Zeeta.
.
.
.
.
“Zee, Rowing telah merasakan mana milikmu sudah bangkit. Kita tidak memiliki banyak waktu, tapi ingatlah... ketika kau berhadapan langsung dengan mereka, jangan terbawa arus percakapan mereka, karena mereka adalah orang yang licik.
"Apapun yang terjadi pada kami, jangan dendam pada mereka, kaubisa menghukum mereka nanti. Mengerti?” Arthur berlutut di depan Zeeta sambil memegang bahunya. Air mata tampak akan menghujani pipi Zeeta, tetapi ia berhasil menahannya.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Zeeta. Tapi ia paham, situasinya tidak mendukung, jadi ia hanya menanyakan sebuah pertanyaan.
“Ayah, aku ingin tanya satu hal,” kata Zeeta dengan nada yang tegar.
“Apa?”
“Kenapa aku harus bertemu dengan Rowing?”
Meskipun Zeeta tahu dirinya adalah Tuan Putri, ia tidak mengerti kenapa ia harus dipertemukan dengan bangsawan itu. Jika apa yang harus dilakukannya adalah menuju ibu kota, ia tidak harus menemui Rowing.
“Rowing adalah rintangan pertama yang akan kau hadapi ketika menjadi Tuan Putri. Suka tidak suka, masalah seperti Rowing, atau bahkan lebih buruk darinya akan menghalangimu. Kau adalah Tuan Putri, tetapi kau masih muda. Selama ini kautumbuh bersama kami tanpa tahu kehidupan bangsawan. Setelah kaubelajar dari Rowing, kami percaya kau bisa lebih baik darinya.”
“Jujur, Yah... aku tidak siap dengan semua ini....”
“Aku tahu. Kami semua tahu kau tidak akan siap, tapi kami percaya... aku percaya jika kaubisa melakukannya. Seperti kata Recko, meskipun kita adalah anak desa, kita harus bangga karena bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan para bangsawan. Ketika kau sedang bersedih, kami harap liontin itu bisa sedikit membantumu di luar sana.”
Zeeta mengatur napasnya agar ia tenang. “Baiklah. Aku siap menemui Rowing.” Ia sudah membulatkan perasaannya.
Arthur menggandeng Zeeta menuju gerbang masuk desa. Ketika mereka dalam perjalanan, mereka dapat mendengar teriakan orang dengan nada yang begitu sombong.
“Dengar, ya! Jika aku tidak mendapatkan apa yang kalian sembunyikan disini, aku tidak akan segan menghanguskan kalian seperti desa kotor yang lain!” kesombongan dan ketamakan ini bersumber dari Bastanil.
“Tunggu, Tuan Rowing, aku sudah membawanya!” teriak Arthur dari belakang kerumunan. Para penduduk desa pun memberi jalan kepada Zeeta dan Arthur, mereka melihat tatapan Zeeta sudah mantap, meski matanya masih sembab.
“Hoo... jadi ini ya, orang selamat yang dibicarakan ayah. Hahahaha... kuhahahaha!” gelak tawa jahatnya menggelegar.
“Selama tiga tahun pencarian kami, ternyata orang itu hanyalah anak kecil! Tapi tak apa... rencana kami justru semakin sempurna....” Senyumannya tampak menyeramkan. Tak ada warga desa yang mengerti apa maksud Bastanil.
Zeeta berjalan mendekati Bastanil yang terpaut usia tiga tahun diatasnya. “Se-senang bertemu denganmu, Tuan Rowing... a-aku Zeeta. Zeeta Aurora XXI.” Zeeta memperkenalkan dirinya secara hormat dengan mengangkat sedikit roknya ke atas. Ia tahu cara memperkenalkan diri ala bangsawan karena ia sering membaca itu dari buku dongeng dan bermain Putri-Putrian bersama Gerda.
Melihat gelagat Zeeta, Bastanil merasa tak suka. “Cih!” Bastanil mendorong Zeeta hingga terjatuh. “Tidak usah berlagak layaknya bangsawan sungguhan! Kau hanyalah anak desa yang kotor! Kau tidak pantas memakai anting keluarga kerajaan itu!” sambung Bastanil yang emosi tanpa sebab yang jelas.
Para penduduk terkejut atas tindakan Bastanil. Apalagi dengan Danny yang ada di barisan depan dan dekat dengan Zeeta.
“Apa-apaan kau itu?!” teriak Danny emosi yang hampir memukul Bastanil tetapi ditahan oleh Kepala Desa.
“A-apa maksud Anda, Tuan Rowing? Zeeta adalah Tuan Putri Aurora, bagaimana bisa Anda mengatakan itu kepada Tuan Putri kita?” Kepala Desa membantu Zeeta bangun.
“Ha...?! Kau juga tidak pantas berkata itu kepadaku! Agh, semuanya membuatku kesal saja. Hei kalian, borgol dia dan bawa anak ini masuk ke penjara, aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan pada mereka sejak awal....” Lekukan seram di bibir Bastanil kembali terukir. Ia memerintahkan dua pasukannya untuk membawa Zeeta masuk ke dalam mobil kodok dan memasukannya ke penjara.
Salah seorang dari empat prajurit yang ikut bersama Bastanil mengeluarkan borgol dari pinggangnya.
“A-apa yang akan kaulakukan, Tuan Rowing?!" jerit Zeeta histeris. "A-aku sudah ada disini, mau kau apakan keluargaku?!” ia juga berontak ketika tangannya diborgol.
“Anak kecil tak tahu sopan sepertimu tidak perlu tahu!” Bastanil mengangkat tangan kanannya. Ketika Zeeta melihatnya, ia terbelalak.
“HENTIKAN! Tuan Rowing, HENTIKAN...!”
Zeeta yang tahu maksud dari tangan itu berusaha melepaskan dirinya. Namun, ia kalah kuat dan tangannya telah berhasil diborgol. Kemudian ia dipaksa masuk ke dalam mobil kodok dan dikunci dari luar. Zeeta terus memukul-mukul kaca belakang mobilnya sambil berteriak untuk menghentikan apa yang akan dilakukan Bastanil, tetapi ... semuanya percuma.
“Aku harus melakukan sesuatu!” Zeeta memfokuskan pikirannya untuk membayangkan sihir serangan untuk menghentikan Bastanil. Namun....
“Ke-kenapa mana-ku tidak keluar?” Zeeta mencobanya kembali, tetapi hasilnya tetap sama. “Borgol ini menghalangi aliran mana-ku...,” batinnya. Lalu, ketika Zeeta mengalihkan bola mata birunya ke arah Bastanil, ia semakin mengencangkan teriakannya.
“TIDAK! Kumohon jangan lakukan itu! JANGAN REBUT KELUARGAKU! Kumohon ... jangan!” tangis Zeeta mulai menghujani deras pipinya. Air hidungnya juga sampai keluar.
“Kumohon... jangan lakukan itu....” Zeeta yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat para penduduk desa saling berpelukan, siap untuk menerima serangan bola api besar di atas mereka tanpa perlawanan.
“Hahahaha! Karena inilah aku suka melakukan ini! Tatapan mengenaskan kalian tidak pernah membuatku bosan! Tapi bersuka citalah, karena kami Rowing... akan menjadi penerus tahta selanjutnya dan tidak akan mengizinkan satu pun rakyat yang tinggal dalam sarang kotoran macam kalian! Hahaha... huhahaha!
Bastanil melepaskan bola apinya. Tidak ada teriakan ataupun tangis dari penduduk Lazuli, tetapi hati Zeeta... hatinya berteriak sekencang mungkin dan tidak tahan terhadap Bastanil. Keluarganya telah lenyap begitu saja sementara ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Di dalam mobil kodok itu, sang supir yang ikut membantu memborgol tangannya memegangi topi seragamnya. Matanya bercahaya kuning cerah sambil melihat ke arah kaca tengah mobil. Tatapannya sama sekali tidak bersahabat. Zeeta yang terpacu akan keinginannya menyelamatkan keluarganya, gagal menyadari keberadaan sang supir dengan tatapan tajam itu....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Nur
kok gitu sih, kenapa gak di biarin di urus peri atau pergi dari desa itu!!!zeeta ku nanti di siksa
2023-12-24
1
나의 햇살
bapak mu mana??? udah sekarat ya karena kutukan itu 😏😏
2022-06-25
1
anggita
Licia Aurora XX.,🤔
2021-06-26
1