Peri perempuan yang sebelumnya bersama Falmus, Yuuvi, dan Sylva, terus mengepakkan empat helai sayapnya menuju kediaman Rowing. Selama perjalanannya, ia mengingat berbagai macam kejadian yang terjadi dalam kehidupannya.
“Manusia dan Peri ... mereka hampir tak memiliki perbedaan. Peri menganggap diri mereka hebat karena mana yang dimiliki besar, sedangkan manusia sombong dengan kedudukan sekaligus kapasitas mana mereka.
"Tapi, harus kuakui, tidak semua Manusia seperti itu. Ada yang terlahir tanpa atau dengan sedikit mana. Mereka yang hidup di balik kejamnya payung kekuatan tirani yang disebut sihir itu tidak akan bebas dalam hidupnya. Mereka akan selalu ditindas oleh orang yang memiliki mana besar.
"Meski begitu, aku tahu. Di situlah letak keistimewaan manusia. Manusia yang ditindas itu akan berjuang lebih keras hanya untuk menyetarakan kedudukan mereka. Aku menyaksikan sendiri perkembangan Manusia yang membuat mesin demi kesetaraan itu.
"Kini, perlahan-lahan kesetaraan itu mulai terwujud. Aku senang melihat perkembangan itu. Manusia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik.
"Sayangnya, hal sebaik itu tidak dialami oleh Peri. Peri akan selamanya menjadi Peri.
“Peri tidaklah sebaik yang dipikirkan Manusia. Mereka adalah makhluk yang sombong atas kekuatan mereka. Banyak dari mereka yang menganggap mereka berderajat lebih tinggi dari semua makhluk hidup. Tanpa adanya mereka, kehidupan di dunia tidak akan berjalan mulus."
.
.
.
"Hahaha ... serius?"
"Aku benci Peri. SANGAT membencinya. Mereka yang mengaku sebagai makhluk berderajat tinggi, tidak memedulikan keberadaan kami, padahal kami juga bagian dari Peri. Kami bertahan hidup dengan kekuatan kami sendiri di saat manusia dan Peri menghunuskan sihir mereka pada kami. Untung saja, salah seorang leluhurku berhasil membuat penghalang yang menyembunyikan keberadaan kami dari mereka.
"Sebenarnya aku tidak bisa memberat-sebelahkan kebencianku ini hanya kepada Peri. Manusia juga menjadi pemicu kebencianku muncul. Tapi... di balik persembunyian kami ini, kami selalu mengamati. Kapan dunia akan aman? Kapan kami bisa menunjukkan keberadaan kami tanpa memicu pertumpahan darah?
“Jawaban itu tiba dua generasi yang lalu. Perlahan, kami mulai melangkah memasuki negeri manusia, dan mereka menerima kami. Mereka bilang, 'masa lalu memang tidak bisa dilupakan, tetapi bisa dijadikan pelajaran. Mereka yang hidup saat ini bukanlah manusia yang hidup di masa lalu. Meski kebencian masih ada, bukan berarti pertemanan mustahil diikat.'"
“Beberapa di antara kami, hidup melalui penyamaran yang merupakan sihir keahlian kami. Aku juga termasuk dalam angka beberapa itu. Meskipun kubilang itu keahlian, itu hanyalah senjata kami ketika kami takut oleh dunia.
“*Zeeta ... merupakan Manusia yang selalu diisukan setiap Manusia dan Peri.
"Mengapa, kautanya? Itu karena dia pembawa akhir dunia.
"Atau setidaknya itulah ramalan dari Ratu Peri. Meski aku tidak menyukainya, Ratu itu benar. Kami bisa merasakannya*."
“Tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan dunia berakhir dalam ramalan itu. Bahkan sang Ratu Peri sekalipun. Dalam ramalannya, dunia akan berakhir ketika Zeeta menjadi Ratu. Ketika aku tahu Ratu Peri akan turun tangan saat kekuatan Zeeta bangkit, aku memutuskan untuk ikut campur. Alasannya sederhana, dan mungkin tidak semua makhluk memiliki alasan yang sama denganku.
“Alasan itu adalah... aku penasaran."
“Aku penasaran... apa yang menyebabkan Zeeta seperti itu? Apakah dia mengalami sesuatu sehingga dia memutuskan dunia ini berakhir? Ataukah dia memiliki alasan tersendiri mengapa ia mengambil keputusan itu?
“Tentu saja, setelah ratusan tahun kami mengamati Manusia dan Peri, aku tahu. Aku tahu beban yang dipikul oleh seorang Ratu di kerajaan itu. Tapi bagaimana dengan Manusia yang lain? Bagaimana dengan Peri? Apakah mereka paham beban dari seorang Ratu?
“Aku penasaran tentang banyak hal dari satu Manusia itu. Karena itu, aku akhirnya memutuskan ... lebih tepatnya, setelah aku bertemu langsung dengannya nanti, dan jika aku cocok dengannya, aku akan tetap melibatkan diriku dengannya. Jika aku tidak cocok, aku tetap melibatkan diriku secara tidak langsung. Bagaimana? Yah, kupikirkan itu nanti saja.”
......................
Ketika Zeeta dan Azure masuk ke dalam kediaman Rowing bersama Bastanil yang memimpin jalan dari depan, pandangan mereka disambut oleh sesuatu yang tidak sedap. Garren Rowing si Count dan Emma Rowing si Countess, duduk berdampingan di atas kursi mewah empuk berisi kapuk dan sandaran yang cukup besar dan nyaman untuk orang yang mengalami "penyakit" seperti mereka.
Tubuh yang tampak seperti tengkorak hidup, rambut putih yang telah menipis, aura ungu yang keluar bak miasma dari tubuh mereka disaksikan mata ketiga anak itu. Melihat pemandangan yang sebenarnya tidak pantas dilihat oleh anak-anak, justru membuat Azure tersenyum puas lalu terbahak-bahak.
“HAHAHAHA! Ahahaha! Rasakan itu! Rasakan penderitaan yang terus menyiksa kalian!
"Sekarang kalian mengerti betapa tak mampunya kami hidup ketika kami harus disiksa dengan pajak tinggi! Banyak desa yang menjadi sangat miskin, dan bahkan jadi pemulung dan gelandangan karena pajak itu!
“Pajak setinggi itu hanya dipakai untuk kemewahan hidup kalian dan kota sebelah?! Jangan bercanda! Kejahatan kalian tidak hanya berhenti sampai di situ, kalian bahkan tidak segan menghabisi nyawa puluhan orang hanya demi menemukan Tuan Putri?! Bangsawan macam apa kalian ini?!”
Azure mengatakan banyak umpatan yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Tak ada respon yang diberikan dari Garren atau Emma, tetapi Bastanil menggantikan mereka.
“Apa kau sudah cukup mengocehnya, dasar rakyat jelata kotor?” tanya Bastanil, "kejahatan, kaubilang?"
“Apakah otak udangmu tidak tahu, bahwa apa yang kami lakukan adalah bentuk penyelamatan?” ucapan Bastanil membuat urat kepala Azure membesar kembali.
“Penyelamatan? Menghabisi nyawa ... adalah penyelamatan, katamu?” Azure menundukkan kepalanya, mencengkeram erat-erat kedua tangannya, berusaha menahan emosi.
“Ya, penyelamatan! Kerajaan ini tidak memerlukan orang-orang dengan mana lemah seperti mereka. Dengan lenyapnya mereka dari kehidupan ini, mereka tidak perlu lagi ditindas, dan negeri ini akan jadi damai! Hal semudah itu, tidakkah kaupaham?!
"Hah! Itulah yang kubenci dari rakyat jelata!”
Azure tak bisa lagi menahahan emosinya, ia akan mengangkat kakinya mendekat ke Bastanil tetapi tangan kanannya ditahan oleh Zeeta.
“Sudah cukup, Tuan Bastanil. Apakah kaulupa bahwa kami datang untuk bernegosiasi?” Zeeta bertanya dengan nada yang tenang dan ekspresinya yang serius, namun menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Cih. Padahal kau hanya seorang rakyat jelata... kau bangsawan palsu!” seru Bastanil, yang emosi tanpa alasan jelas.
“Nyawa orang tuamu, atau negosiasinya batal?”
“Sialan. Baiklah-baiklah. Apa yang ingin kau negosiasikan?”
“Hmm? Aku tidak akan bernegosiasi denganmu, kau bahkan hanya seorang anak bangsawan tanpa gelar atau jabatan. Biar kuperjelas, Tuan Bastanil. Kau merasa kau melanjutkan tugas Ayahmu, tapi apakah kau memiliki hak tersebut? Siapa yang memerintahmu? Semua keinginan ganas itu muncul dari dalam benakmu, bukan?”
Bastanil sedikit terkejut mendengarnya, Zeeta terdengar seperti orang yang berbeda.
Zeeta melangkah maju mendekat ke Bastanil. “Tuan Bastanil, apakah kausayang orang tuamu?” tanyanya dikala ia berjalan.
“Jika tidak, untuk apa aku mengizinkan kalian masuk ke sini?!” Bastanil menjawab bersama dengan perasaan yang mulai panik.
“Yah, kau benar. Lalu, bagaimana jika nyawa mereka dihabisi tanpa alasan yang jelas?”
“Ke-keparat, apa maksudmu menanyakan itu padaku?!” Bastanil gelagapan sambil berjalan mundur.
“Tuan Putri Aurora Kedua Puluh Satu sedang berbicara kepadamu. Jawablah aku!” Ketika Zeeta mengatakannya, dari pandangan Bastanil, mata biru Zeeta yang kini telah menjatuhkan air matanya tampak menyala dan ia dibuat tersungkur ketakutan.
“A-aku pasti akan marah! A-aku akan merasa dendam!” Bastanil menjawabnya dengan menutupi kepalanya dengan lengan kanan dan menutup matanya. Waspada dengan Zeeta.
Zeeta terdiam di tempat, memandangi sejenak orang yang ada di hadapannya ini. Beberapa saat kemudian, ia menghela napasnya.
“Nah, ternyata otak udangmu mengerti, ya? Apa kau sudah tenang sekarang, Tuan Bastanil?” Bastanil yang tersungkur itu mendangakkan kepalanya, lalu saat tatapannya bertemu dengan mata Zeeta kembali, ia tersadar bahwa mata yang mengancamnya tak lagi tampak.
Dikala itulah, Bastanil mengukir jelas di dalam hatinya, bahwa Tuan Putri yang ada di hadapannya bukanlah bangsawan palsu seperti yang selalu ia ucapkan. Tuan Putri itu ... berada jauh di atasnya.
“Y-ya, Nona! A-aku tidak akan menganggu diskusi Anda dengan Ayahku. Ji-jika perlu, aku akan keluar dari sini!”
Mendengar cara bicara Bastanil yang berubah, membuat Azure terdiam seribu bahasa. Azure tak mengerti, apakah Zeeta benar-benar berusia delapan tahun? Apa yang membuat Bastanil tiba-tiba ketakutan? Apa yang baru saja terjadi membuatnya bertanda tanya besar.
“Itu tidak perlu. Dampingilah Ayah dan Ibumu. Mereka penting bagimu, bukan? Gunakan kesempatan ini untukmu belajar.” Zeeta tersenyum.
“Baik, Yang Mulia.” Bastanil kemudian melangkahkan kakinya menuju sebelah kiri ayahnya.
“Kak Azure, aku akan meringankan sedikit kutukanmu dari mereka. Apabila kau merasa mereka melakukan hal yang mencurigakan, kuatkanlah kutukan itu kembali.”
“Aku mengerti.” Azure mengangguk.
......................
“Dia ... dia memanglah seorang Tuan Putri! Jika Tuan Putri tidak mengeluarkan aura dan aliran mana yang seperti itu, maka tidak akan ada artinya dia dijadikan sandera!” dibalik tubuhnya yang berjalan mendekati ayahnya, Bastanil tersenyum jahat.
Setelah Bastanil berdiri tepat di sebelah ayahnya, Zeeta mengacungkan tangan kanan dan membuka telapak tangannya kemudian memejamkan mata.
“Semakin kuat dan jelas imajinasi, semakin kuat sihir dan efek yang akan dikeluarkan... jadi, aku hanya perlu sedikit melemahkan bayanganku agar mereka dapat berbicara,” batinnya.
Zeeta membuka matanya, tak lama kemudian anting di telinga kirinya bercahaya biru lalu mengalirkan aura sewarna yang menyelimuti tubuhnya. Perlahan tapi pasti, tubuh tengkorak Count dan Countess Rowing kembali terisi, dan memungkinkan mereka untuk berbicara.
Tetapi, tepat setelah Count terisikan kekuatan untuk berbicara, ia menggunakan kekuatan itu untuk menggunakan Buku Sihirnya. Buku Sihir itu keluar dari kepalan tangan kiri yang ia buka, lalu sihir yang ia pakai adalah untuk merantai kaki dan tangan Azure sampai ia terjatuh terpelungkup. Semua itu terjadi begitu cepat bahkan untuk seorang Zeeta.
“Fufufu... kerja bagus, Anakku.” Sosok Garren yang belum pulih seutuhnya dengan penampilan rambut berwarna pirang pucat, ditambah senyuman yang diukir bibirnya, membuatnya tampak kejam dan jahat dari lubuk hati di mata Azure dan Zeeta, sementara perasaan Garren yang sebenarnya, ia sangat puas.
“Tuan Putri Aurora, kudengar Anda sangat menyayangi sebuah nyawa. Sebagai seorang bangsawan utama sekaligus penerus tahta, Anda tidaklah harus merasa bertanggung jawab atas nyawa-nyawa rakyat jelata itu!” sambung Garren masih dengan senyum puasnya.
“Sejak awal aku membawa anak itu ke kediaman indahku ini, aku memang telah berencana untuk melenyapkan segala sesuatu yang menghalangi keinginanku, termasuk nyawa orang sekalipun. Untuk mencapai ambisi besarku menjadi seorang Raja, rintangan ini hanyalah bayaran kecil!
“Seperti yang telah putraku ucapkan pada Anda, rakyat jelata itu tidak dibutuhkan untuk kerajaan Aurora yang kaya akan mana dan sihir ini!” senyum dan tatapan ambisius dari Garren membuat Zeeta terpatung. Ia tak tahu harus berbuat apa.
“Aghk!” rintihan sakit dari Azure menyadarkan Zeeta.
“A-apa yang kaulakukan pada Kak Azure? Lepaskan dia!” Zeeta panik, ia berkeringat dingin.
“Lepaskan? Anda serius? Anak lusuh bernama Azure ini telah mengutuk kami! Tentu saja dia harus dihukum ... tunggu, setelah membuat kami menderita setengah mati selama tiga tahun ini, dia harus mati!" Emma ikut menimbrung pembicaraan, juga dengan raut wajahnya yang mengerikan dengan mata yang melotot.
“Rantai itu akan terus menyerap mana-nya hingga habis! Aku belajar dari apa yang ia lakukan pada kami. Tapi aku tidak akan senaif dia, aku akan segera menghabisinya!” ucap Garren dengan nada tinggi.
“Tidak... hentikan ... jangan rebut apapun lagi dari sisiku!” emosi Zeeta telah memuncak setelah ucapan demi ucapan yang ia dengar dari Garren. Emosi itu membuat dirinya lupa bahwa keluarga desanya selamat.
“Aku harus melakukan sesuatu dengan sihirku... aku tidak bisa hanya diam lagi di saat orang terdekatku butuh pertolongan!” batin Zeeta.
“Ingin melakukan sesuatu dengan sihirmu, hmm, Tuan Putri?” Bastanil mengagetkan Zeeta dengan senyum menakutkannya.
“Meskipun kau adalah penerus tahta, kau tidak akan bisa membatalkan sihir dari Buku Sihir Ayahku,” kata Bastanil, "menyerahlah dan ikuti semua keinginan kami, dengan begitu anak jelata itu....”
Kini kedudukan Zeeta dan Rowing telah berbalik. Zeeta yang tak bisa berpikir lurus segera mengiyakannya, tapi ia masih diselimuti kabut pertanyaan mengapa mereka sekejam ini. Lantas, dengan kepalanya yang tertunduk, ia pun menanyakannya.
“Aku akan menuruti keinginan kalian, tapi biarkan aku tahu satu hal. Mengapa kalian harus menghabisi nyawa-nyawa orang tak bersalah itu? Aku tidak mengerti mengapa kalian tidak menghargai nyawa orang. Mereka yang hidup di desa juga menginginkan kehidupan nyaman seperti yang kalian dambakan. Apa sebenarnya salah mereka?”
Pertanyaan Zeeta membuat raut wajah Garren dan Emma berubah musam. “Salah mereka?” Emma tampak terheran dari pertanyaan Zeeta.
“Salah mereka ada banyak, Tuan Putri,” sambung Garren, “mereka tidak memiliki mana seperti kita para bangsawan, kehidupan mereka membuat pandangan kerajaan indah ini menjadi kotor! Kerajaan ini tidak seharusnya memiliki orang-orang semacam Azure! Mereka merusak kehidupan damai kami!”
“Zee ... Z-Zeeta!” Azure yang bermandikan keringat karena berusaha menahan sakit serta tampangnya yang pucat pasi, membuat Zeeta segera menolehkan kepala ke arahnya.
“Jangan dengarkan apa mau mereka! Ingat ... mereka ingin melakukan kudeta!” dengan segenap tenaganya, Azure berusaha meraih Zeeta dengan tangan kanannya. Namun....
‘DORRR!’
Tiba-tiba dari pandangan Zeeta, terdapat lubang kecil di perut Azure. Lubang tersebut meninggalkan asap dan segera menghilangkan kesadaran Azure. Panik, Zeeta menoleh ke arah dari mana lubang itu bisa muncul.
Bastanil adalah pelakunya, terdapat bekas asap di jarinya. Dengan jari telunjuknya, ia menembakkan sihir apinya untuk melubangi perut Azure.
“Mulutmu terlalu banyak bicara, dasar rakyat jelata!” ujar Bastanil dengan tatapan merendahkan.
"Sialan ...."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Orang-orang ini benar-benar keterlaluan ...!"
Zeeta tak kuasa lagi. Ia benar-benar tidak paham kelakuan bangsawan ini. Jawaban yang diberikan kepadanya, dan tindakan yang baru saja dilakukan kepada Azure serta pembunuhan yang telah terjadi menghilangkan kontrol mana-nya. Mata biru langit Zeeta yang terbelalak itu tiba-tiba kembali bercahaya, Bastanil yang ada tepat di depannya kaget setengah mati, aura birunya juga ikut muncul dan meledak tinggi secara tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, atap dan pilar di sekitarnya hancur berkeping-keping. Tak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi setelah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
anggita
kadang yg terlihat indah blum tentu bagus.
2021-06-26
2