Api yang tersulut di desa Lazuli telah menyebar dan membesar begitu cepat akibat angin dan material desa yang mudah terbakar. Rombongan Rowing yang sebelumnya datang dengan dua mobil, telah beranjak dari Lazuli layaknya tak terjadi apa-apa. Tetapi atas ketidakpeduliannya itu, Bastanil tak akan mengira bahwa tindakannya akan tersampaikan begitu cepat ke orang yang sangat diwaspadai ayah dan dirinya, sang Grand Duchess—penguasa kerajaan untuk sementara.
Zeeta yang berada dalam mobil kodok perak telah berhenti menangis. Tidak karena ia ingin, air matanya hanya berhenti keluar saja. Ia masih merasakan sedih yang begitu dalam. Tatapannya kosong, matanya pun sembab dan memerah, ia tak mengira bahwa keluarga yang selalu menghabiskan waktu bersamanya justru berakhir tragis seperti itu.
“Apanya yang Tuan Putri? Kalau keluarga saja tidak bisa kulindungi...,” kata Zeeta bergumam. “Ayah terlalu menaruh harapan tinggi padaku... aku tidak mungkin bisa jadi Tuan Putri....” Zeeta menekuk kaki lalu mendekapnya.
Beberapa saat kemudian, rombongan itu kembali ke kediamannya. Zeeta merasa tak percaya atas apa yang ia lihat dari kaca mobil. Mewah, tetapi seperti tak ada kehidupan. Ia dapat melihat kolam air mancur yang kental estetikanya, namun alamnya tak menunjukkan kehidupan yang manis. Pepohonan, rumput dan tumbuhan lain yang ada di sana memang tampak dirawat dengan baik, tetapi ia merasakan sesuatu yang beda dari sekitarnya. Ketika ia turun dari mobil, ia baru bisa mendapat jawabannya.
Saat Zeeta menginjakkan kakinya di paving kediaman Rowing, ia segera melihat sekelilingnya. Aneh, itulah hal pertama yang terpintas di kepalanya. Hawa dingin serasa menusuk tubuhnya, ini berbeda jauh ketika ia berada di desa Lazuli. Jika disana, ia merasa disambut dan merasa tenang sekaligus ceria. Lantas, ia pun paham... tempat ini tak memiliki apa yang disebut cinta.
Di saat itu jugalah, ia baru benar-benar bisa melihat raut wajah empat prajurit yang ikut bersama Rowing, bahwa mereka tak menunjukkan rasa senang sama sekali, berbanding terbalik dengan tuan mereka. Bahkan tatapannya kosong, seolah-olah mereka sudah tak memiliki harapan.
Semua prajurit yang melayani keluarga bangsawan ini memakai setelan jas yang sama dengan majikannya. Diantaranya ada yang tidak memakai jas agar menyesuaikan kondisi lingkungan pekerjaannya. Seperti para prajurit yang menjaga penjara, mereka hanya memakai rompi putih dan kemeja hitam panjang bergaris putih.
Zeeta menyadari sesuatu yang ganjil. Ketika masih ada di Lazuli, ia merasa ada lima prajurit yang ikut bersama Rowing, satu di antaranya hanya melihat dan diam saja dari dalam mobil kodok. Ketika ia mengingat dengan lebih jelas lagi, ia sadar bahwa sang supir itulah prajurit yang ke lima. Namun, ia tak mendapatinya dimana pun. Ia bahkan tak tahu dimana dan bagaimana prajurit itu menghilang.
“Hah... untuk apa aku memikirkan orang-orang yang telah menghabisi keluargaku?” batin Zeeta.
Zeeta melihat Bastanil memasuki salah satu bangunan bersama dua prajuritnya, sementara dirinya dituntun ke bangunan di sebelahnya oleh dua prajurit lain.
“Gara-gara borgol ini, aku tidak bisa mengeluarkan sihirku... tanpa sihir, kurasa aku bukanlah siapa-siapa. Bahkan keluargaku tak bisa kuselamatkan," batin Zeeta, “meskipun aku bisa mengeluarkan sihir, tidak tahu kenapa... aku tidak bisa membiarkan orang-orang di sini begitu saja. Ada sesuatu yang terjadi....”
Ketika Zeeta masuk ke bangunan tersebut, ada seekor burung pipit berbulu kuning kejinggaan yang seharusnya sudah terlelap memandangi Zeeta di atas sebuah pohon.
......................
Setelah sampai di penjara bawah tanah, sepanjang mata memandang hanya ada lorong dengan puluhan sel yang diterangi lampu ber-mana di lorongnya. Zeeta merasa ganjil kembali, dengan banyaknya sel di bawah tanah ini, tak ada tanda-tanda kehidupan orang. Jika begitu, maka tindakan Rowing yang ia dengar bahwa keluarga bangsawan itu terus menculik anak dengan potensi mana yang tinggi tidak akan selaras.
Ia didorong masuk ke sel yang sama dengan seorang anak perempuan yang telah ada disana sejak tiga tahun yang lalu. Dia adalah Azure, meskipun kini ia tampak tidak begitu sehat dengan tubuh yang kurus dan bibir yang kering. Yang ada di sel itu hanyalah jerami untuk dia tidur, tanpa ada bekas makanan atau minum setetes pun. Sudah bisa dibilang sebuah keajaiban untuknya bahwa ia masih bertahan hidup selama tiga tahun di sana.
Selain kondisi Azure yang kesehatannya sudah menurun, begitu juga dengan penampilannya. Yang ia kenakan di dalam sel itu hanyalah kain lusuh panjang bernoda tanah di seluruh bagiannya. Bagi Azure, semua itu hanyalah bayaran kecil sampai ia bisa menuntaskan apa yang ia inginkan selama ini di sel yang penuh bisu itu.
“Hei, sudah waktunya ganti jam jaga,” kata seorang lelaki berambut ikal cokelat kehitaman panjang dan bermata cokelat yang baru datang ke penjara, bersamaan dengan masuknya Zeeta ke penjara serta perginya dua prajurit tadi.
“Oh, begitu ya...,” jawab si penjaga yang ada di depan sel Zeeta dan Azure. Ia menjawab si pria dengan seadanya lalu memberikan kunci sel dan pergi begitu saja. Lelaki itu tampak memerhatikan Zeeta dan Azure dalam diam.
Ketika Zeeta masuk ke dalam sel, Azure tengah terbaring di atas jerami. Azure hanya mendengar suara kunci sel terbuka lalu ditutup kembali dengan segera. Ia tahu, bahwa lagi-lagi ada anak kecil lain (Zeeta), yang bernasib sama dengannya.
“Setelah tiga tahun... Rowing bajingan itu masih mengincar nyawa orang yang tak bersalah lagi? Hah!" seru Azure, "sudah jadi yang keberapa anak kecil ini?” kemudian ia duduk.
“Hei, Dik! Kemarilah, biar kulepaskan borgol sialan itu!” ujar Azure pada Zeeta. Azure tidak bisa melihat anting bulan Zeeta dengan jelas karena bayangan tembok yang menutupi wajah sebelah kirinya.
“Ta-tapi ini menghalangi aliran mana, jadi kupikir tidak akan bisa dibuka....”
“Buka saja tanpa sihir, apa kau bodoh?” Azure mengambil segaris kawat yang ia sembunyikan di balik jeraminya.
“Uhm ... maaf....” Saat ia akan membuka borgol dan mendengar maaf dari Zeeta, Azure terhentak.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena aku... bodoh?”
“Heh." Azure tersenyum kecut. "Dasar aneh....” Azure berhasil membuka borgolnya. “Sudah kubuka, jika kau mau pergi dari sini, sekaranglah kesempatanmu. Semua penjaga di sini tak akan ada yang peduli jika ada tahanan yang kabur, bahkan penduduk kotanya juga. Itu pun kalau kau BENAR-BENAR selamat saat keluar dari sini, sih, hahaha!”
Merasa ingin menggali lebih dalam atas apa yang baru saja ia dengar, lantas Zeeta pun bertanya. “Memangnya ada apa?”
“Semua orang di kota kecil yang terletak di sebelah kediaman Rowing sudah dicuci otak oleh sihirnya Garren Rowing, kepala keluarga mereka. Apapun yang diperintah keluarga bajingan itu, akan selalu dituruti mereka,” jawab Azure yang membuat Zeeta sedikit terkejut.
“Cuci otak...? Apa sihir bisa melakukan itu?”
“Apa kau bercanda?! Aku benci mengatakannya tapi mereka adalah bangsawan! Potensi sihir mereka lebih tinggi dari kita yang hanya rakyat jelata!”
“Oh ya... kau benar....” Zeeta merenung. Ia merasakan gundah di dalam hati dan juga kepalanya. “Ayahku selalu berkata jika bangsawan adalah orang-orang yang jahat, tapi tak kusangka sampai sejahat ini....”
“Apa kau ini tak tahu apa-apa, ha? Semua manusia itu selalu punya niat jahat, hanya kebetulan saja niat jahat itu selalu muncul pada bangsawan. Aku pernah memilikinya dan aku yakin kau juga pasti pernah.”
Zeeta mengingat sihir serangannya yang ditargetkan pada kediaman Rowing pernah dihentikan oleh Arthur.
“Kau benar. Maaf ya, aku tidak tahu apa-apa... aku tidak pernah keluar dari desaku."
Azure tersenyum kecil. “Meh. Santai saja, kebanyakan orang desa di Wilayah Selatan begitu, kok. Tidak banyak yang mereka tahu selain berkebun, bertani, dan berburu. Semua karena si Rowing itu.”
Diam terjadi di antara mereka beberapa saat.
“Apa kaupikir akan ada orang yang menghukum Rowing?” tanya Zeeta masih dalam raut wajah yang gundah.
Azure menunjukkan wajah seriusnya, kemudian ia menepuk bahu kiri Zeeta. “Dik, sudah tiga tahun aku di penjara ini. Belasan anak-anak sudah kehilangan keluarganya seperti aku dan mereka juga sudah berusaha kabur dari sini. Tentu saja aku membantu apa yang mereka inginkan ... tapi....” Tatapan Azure dialihkan ke lantai. Ketika Zeeta tahu alasan mengapa sel-sel itu kosong, ia semakin gundah.
“Tapi semua anak-anak itu kehilangan nyawanya akibat Rowing. Selama tiga tahun ini, puluhan jiwa sudah melayang karena perbuatannya. Dan selama itu juga aku belum pernah melihat harapan untuk terselamatkan dari bangsawan lain. Aku tidak tahu alasannya, tetapi aku tetap ingin ada orang yang menghukum setimpal dengan dosanya.
“Perlu kuberi tahu, aku belum ingin keluar dari sini karena aku belum bisa lihat pembalasanku terhadap Rowing pada desaku dengan tanganku sendiri!
"Aku mengutuk kehidupan Garren dan istrinya, Emma, agar selalu tersiksa. Aku tidak akan tenang dan bisa keluar dari sini tanpa melihat hasil yang jelas dari sihirku. Tampaknya, Bastanil selalu mencari seseorang yang benar-benar bisa mengangkat kutukanku. Karena itu aku berpikir... di satu sisi aku senang Rowing tersiksa, tetapi di saat yang sama, karena kutukankulah puluhan nyawa melayang....”
“Begitu ya...” Zeeta terdiam sesaat dan memejamkan matanya.
“Aku mulai mengerti kenapa ayah menyuruhku bertemu dengan Rowing. Memang benar, Rowing adalah bangsawan yang harus bisa kuhadapi ... aku adalah Tuan Putri, kalau seperti itu aku harus bertanggung jawab!” dalam benaknya, ia sudah membulatkan keputusannya. Ketika ia membuka matanya kembali, ia tampak serius. “Apakah aku boleh menanyakan namamu, Kak?” tanyanya.
“Oh, ya. Namaku Azure.”
“Hmm.... Kak, aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu meskipun kita baru saja berkenalan, boleh?”
“Yeah, tentu saja!”
“Aku baru merayakan ulang tahunku yang ke delapan bersama keluarga desaku. Tidak lama setelah itu, ayahku berkata kalau aku bukanlah anak kandungnya. Dan ternyata ... aku adalah seseorang yang istimewa dan memiliki tanggung jawab serta kewajiban yang besar.
"Karena isi sepucuk surat dan sosok Peri yang tak bisa orang lain lihat disaat hanya aku yang bisa melihatnya, aku semakin tidak tahu siapa aku sebenarnya.
“Disaat yang sama aku juga tidak tahu sama sekali seperti apa tanggung jawab dan kewajibanku itu. Tapi setelah aku bertemu Kak Azure, aku jadi sedikit tahu ... bahwa dunia asing yang telah kupijak hari ini... adalah tanggung jawabku. Orang-orang tak bersalah yang kehilangan nyawanya juga merupakan kesalahanku, jadi aku harus bertanggung jawab.”
“Hei... apa maksudmu? Apa yang ingin kaukatakan?” Azure tak mengerti.
Zeeta berdiri menuju area yang tak tertutupi bayangan. “Aku adalah Zeeta Aurora XXI, keturunan Alicia Aurora XX sekaligus penerus tahtanya.” Zeeta memperkenalkan dirinya. Ia membuat senyum paksaan di bibirnya.
Azure terbelalak dan mengerutkan dahinya. “Tidak mungkin... gadis kecil sepertimu... tapi... tunggu dulu. Bukankah istana kerajaan diserang akar raksasa itu delapan tahun yang lalu? Tapi anting bulan purnama itu... kau ... kau benar-benar Tuan Putri?!” bersama dengan perasaan bingung dan urutan kronologis yang ia ketahui, Azure mendapatkan jawabannya sendiri.
“Ya, meskipun aku baru saja mengetahuinya beberapa jam yang lalu....” Zeeta tersenyum kecut.
“Kalau begitu, cepatlah lari dari sini! Rowing hanya akan memanfaatkanmu untuk tujuannya yang tidak-tidak!”
“Aku tidak bisa. Jika aku melakukannya, aku meninggalkan kewajibanku sebagai seorang Tuan Putri. Aku tidak akan mendengar tolakan lagi darimu, Kak Azure. Sekarang, biar aku yang bicara. Duduk dan diamlah sebentar, ini perintah dari Tuan Putri!”
“A-ah... uhm. Baik, Ya-Yang Mulia....” Azure memperbaiki posisi duduknya dengan melipat dua kakinya miring ke samping.
“Bagus.” Zeeta ikut duduk melipat kakinya di depan Azure.
Zeeta memejamkan matanya lalu mengumpulkan butiran mana warna-warninya di kedua telapak tangan. Setelah terkumpul layakya bola, ia memasukkan bola itu ke dalam tubuh Azure.
“Tu-tu-tunggu dulu! Ka-kau baru saja menyihirku?! Apa yang ... kau...?” Azure yang disertai perasaan terkejut ketika Zeeta tiba-tiba saja menaruh bola sihirnya ke dalam tubuhnya—was-was apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Tapi was-was itu langsung menghilang ketika ia merasa dirinya kembali sehat, dan tubuhnya perlahan terisi kembali.
“Supaya badanmu tetap bugar, jangan lupa makan makanan yang asli dan minum minuman yang sungguhan, bukan dari sihirmu sendiri lagi, ya, Kak Azure. Kalau kau mau, aku bisa kok memasak untukmu, aku cukup jago lho kalau memasak, hehe....” Zeeta menunjukkan senyumnya.
Tanpa berkata apapun lagi, Azure memeluk erat Zeeta.
“E-eh, Kak Azure? Ada apa tiba-tiba? Apa aku berbuat salah lagi kepadamu? Kalau iya, aku minta maaf....”
“Apa kau ini bodoh? Kau tidak salah, jangan minta maaf!”
“U-uhm ... maaf....”
“Dasar....” Azure sedikit tersenyum. “Terima kasih ya, Zeeta.”
“Ya. Sama-sama, Kak.” Zeeta membalas pelukan Azure.
Azure melonggarkan pelukannya. “Zee... apa aku boleh memanggilmu begitu?”
“Y-ya, tentu. Ada apa?”
“Aku ingin meluruskan apa yang kaukatakan tadi.” Azure melepas pelukannya dan memasang wajah seriusnya.
“Baik.” Zeeta siap mendengarkannya.
“Kau tidaklah salah atas hilangnya puluhan nyawa itu. Kau juga tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri atau orang-orang di desamu karena ketidaktahuanmu tentang dirimu yang merupakan Tuan Putri. Masih ada banyak misteri antara kau dan keluarga kerajaan yang ada di istana. Kesalahan Rowing adalah salahnya sendiri, termasuk aku.
“Untuk sekarang, jangan pikirkan tanggung jawabmu atas nyawa-nyawa itu. Pikirkanlah dulu keselamatanmu disini. Jika kau tidak selamat, bisa kaubayangkan negeri ini akan semakin kacau. Apa aku salah?”
Zeeta tampak memikirkannya dalam-dalam. “Ya... Kakak benar. Terima kasih, Kak.”
“Ya!” Azure menunjukkan senyum lima jarinya.
Ketika pembicaraan mereka berakhir, si lelaki berambut ikal mendekatkan dirinya ke sel Azure dan Zeeta. “Permisi....” katanya dengan suara yang tak begitu manly.
“Ha?! Mau apa kau?! Kalau kau berjalan selangkah lagi, kau takkan selamat! Asal kau tahu, aku adalah bodyguard-nya Tuan Putri Zeeta!” bentak Azure sambil memeluk Zeeta dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia persiapkan untuk sihir serangan jika terjadi yang tidak-tidak.
“Eh? Apa yang Kakak—“
“Sudah kaudiam saja!”
“Aku dari tadi menunggu waktu yang pas untuk memperkenalkan diriku dan memberitahu Tuan Putri suatu hal penting, ini dari Sylva!”
“Sylva?!” Zeeta lekas terkejut dan melepas paksa dekapan Azure.
“Dia memberikanku botol yang berisi serbuk sihir ini. Katanya, jika Yang Mulia menebarkan serbuk sihirnya, Yang Mulia bisa mendengar pesannya." Si penjaga mengeluarkan botol yang disebutnya dari kantung yang ada di pinggangnya. Botol tersebut berisi serbuk sihir berwarna ungu gelap
“Uhm, tapi... siapa kau? Apa kita pernah bertemu?” Zeeta mengerutkan dahinya.
“A-ah, maafkan kelancanganku. Aku hanya seorang prajurit biasa dari keluarga Grand Duchess Alexandrita, namaku Marcus. Aku tidak tahu detilnya seperti apa, tapi nyonya Duchess bilang agar aku menyampaikan pesan bahwa Sylva telah mendatangi nyonya Duchess kepada Anda, lalu beliau juga memerintahkanku untuk membawakan Anda botol pesan ini, Yang Mulia.”
Sebenarnya apakah pesan Sylva yang ditujukan pada Zeeta? Apa yang dibicarakan sang bangsawan tertinggi setelah ratu, Grand Duchess Alexandrita bersama dengan Sylva?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Ayay Nya Yuda
hahaha tiba2 jadi patuh ya
2025-02-02
0
Nur
lah klo bisa gitu kenapa gak dari awal sylva ngasih tau ke dukenya itu!! zeeta ku
2023-12-24
1
anggita
kya sedikit ada unsur Harry potter.,😊 tpi keren👌
2021-06-26
2