Sebelum memulai bab ini, saya mau memperkenalkan desain karakter utama di novel ini. Akhirnya, ya? Hehe. Gambar ini akhirnya bisa saya taruh di sini dan saya merasa sangat senang! Shout out to my friend Kalista who drew this character! Thank you so much!)
......................
Birunya langit tanpa awan yang menemani, hembusan angin di hamparan rumput tak berujung, serta dedaunan yang ikut menari terbawa arus angin, mengisi lembaran baru di pagi hari Zeeta. Saat ini, ia memakai gaun putih berenda sepanjang lutut dan menutupi lengannya, gaun tersebut dilapisi oleh rompi tebal nan hangat seperti yang digunakan ibunya. Rompi tersebut memiliki model kancing bertali berwarna biru gelap, gaun tersebut juga ditemani syal berwarna biru, ia juga memakai stocking berwarna putih hingga pangkal pahanya. Ia sedang menikmati suasana di suatu bukit sambil tidur telentang dan memandangi langit.
“Mengakhiri dunia, ya...?” gumamnya sendiri. “Anak kecil sepertiku ... mengakhiri dunia? Ahahaha....” Zeeta menyampingkan tubuhnya. “Tapi, seperti kata ayah... setiap orang memiliki potensi mana-nya sendiri, jika potensiku berakhir untuk mengakhiri dunia, rasanya ... aku jadi seorang penjahat terbesar sepanjang sejarah kerajaan, ya? Dan bahkan, penjahat ini calon Ratu selanjutnya? Yang benar saja....” Zeeta terus-menerus berbicara sendiri, seolah ingin menumpahkan segala apa yang ia pikirkan.
“Ramalannya Ratu Peri....” Zeeta mengingat apa yang mereka bicarakan tiga malam yang lalu.
......................
“Alasan kemunculan dari akar raksasa itu adalah ... dirimu, Zeeta,” kata Ratu Peri dengan mimik yang serius.
“A-aku?!” Zeeta terkejut bukan main.
"Elf, Roh, Raksasa, Peri, dan Manusia, memang seperti kata Aria, adalah sosok yang menjaga keseimbangan mana. Tetapi, tidakkah kautahu bahwa tanpa dijaga pun, alam akan bekerja?”
"A-aku tahu, tapi apa hubungannya denganku?”
"Beberapa dari Elf, Raksasa, Peri, dan Manusia, telah kuperlihatkan tentang ramalan yang kulihat sejak tiga ratus tahun yang lalu. Aku belum bisa mendapatkan jawaban mengapa ramalan itu bisa tiba-tiba saja kulihat, tapi saat ini....”
"A-Anda tahu penyebab dari Zeeta yang mengakhiri dunia?!” Aria menebak-nebak, sementara Zeeta semakin terkejut atas ucapan Aria.
"Tu-tungg—aku mengakhiri dunia?! A-apa lagi yang kulakukan sampai seperti itu?” titik air mata tampak dari Zeeta.
“Tenanglah, Nak. Aku datang untuk membicarakannya satu per satu, ja—“
“Bagaimana aku bisa tenang?! Satu demi satu kejadian selalu menakutiku. Pertama, ada Rowing, jika tanpa bantuan Sylva, keluargaku pasti tidak akan selamat, lalu ketika aku merasa benar-benar marah terhadap Rowing, aku tidak tahu apa yang kulakukan, tetapi ketika aku sadar semua orang tergeletak, kukira mereka mati karena aku!
“Tapi semuanya selamat, aku senang, tapi aku masih takut! Bagaimana jika nanti justru ada yang mati?! Bagaimana jika hidup seseorang yang berharga malah kurebut tanpa kusadari?!
“Tidak berhenti sampai situ saja, aku semakin tidak mengerti, mengapa aku sangat rindu ibuku padahal aku belum pernah bertemu dengannya, tapi jika aku ingin bertemu, aku harus melakukan sesuatu terhadap akar itu?! Tapi kini, kaubilang akar itu ada gara-gara aku?! Lalu tiba-tiba Aria bilang dunia berakhir gara-gara aku?!” air mata meluncur dari matanya.
“Jadi ... jadi....” air mata itu jatuh semakin deras hingga menimbulkan air hidung.
“Jadi alasan aku ada di dunia ini ... apa? Mengakhiri dunia seperti ... kata Aria? Apa aku ... jadi penjahat hanya karena ingin bertemu ibu?
"Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti!
"Kenapa semuanya jadi begini?! Aku hanya ingin hidup bersama keluargaku, tapi ini semua terjadi!”
Isak tangis Zeeta semakin menjadi-jadi. Tak ada yang bisa dikatakan oleh Aria dan Ratu Peri, keduanya terdiam seribu bahasa.
“Kami semua tahu bahwa ini terlalu cepat untukmu," ujar Ratu Peri, "aku yang sudah tahu beberapa bagian di masa depanmu, sudah berusaha semampuku untuk menghalangi agar ramalanku itu terjadi. Sylva, Falmus, Yuuvi, dan Aria yang menyamar menjadi Peri adalah salah satu caraku membantumu.
"Tapi, sepertinya yang kulakukan justru sebaliknya, ya? Aku malah membuatmu tersakiti. Maafkan aku, Nak.”
Ratu Peri mendekati wajah Zeeta dan menghapus titik air mata yang akan jatuh menuju pipinya dengan tangan kirinya.
“Zeeta, aku ... aku merasa malu pada diriku sendiri. Kau hanyalah seorang anak-anak tapi aku justru mempermainkanmu.
"Kautahu? Aku juga sudah mencoba membantumu untuk tidak masuk ke dalam kediaman Rowing di malam itu, tapi kau justru mengabaikanku ... yah, ini juga bisa dibilang termasuk salahku. Meskipun kau tidak menyalahkanku, aku tetap bersalah, seharusnya aku bisa berbuat lebih daripada hanya memperingatimu.”
Aria menggenggam tangan kanan Zeeta dengan dua tangannya.
“Nak, aku tahu ini belum bisa kauterima dengan cepat, tapi kita bisa bertemu dengan ibumu. Ramalan itu ... sudah berubah haluan sedikit.”
“A-apa maksudmu?” tanya Zeeta yang masih terisak.
“Pertama, aku akan menjelaskan kepadamu bagaimana ramalanku itu terjadi dan apa yang kulihat di ramalan itu.”
......................
"Hari itu, tiga ratus tahun yang lalu ... setelah Ratu Clarissa Aurora IX memiliki tiga keturunan, aku melihat ramalannya. Dunia terbakar api, kebencian tersebar di mana-mana. Peri, Elf, Manusia, dan makhluk sihir lain berperang... alasan perang itu, adalah untuk menjatuhkanmu dari tahta Ratu Aurora XXI, Zeeta.
“Tiga ratus tahun yang lalu, aku hanya bisa melihat sebagian kecil ramalan itu saja. Leluhurmu, Clarissa dan suaminya, telah mencoba segala hal untuk mencegah hal itu terjadi. Bahkan, anak pertama yang seharusnya menjadi calon Ratu berikutnya, memisahkan diri dari keluarga kerajaan dan membuat keluarga bangsawan baru yang khusus mengajar calon Ratu dan menjadi pimpinan pasukan keamanan, Alexandrita.”
“E-eh? Ja-jadi ... leluhurnya guru Ashley adalah ... leluhurku juga?” Zeeta terkejut.
“Ya, itu benar. Hal itu dilakukan demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan dari seorang Tuan Putri. Saat itu, yang bisa kuingat sampai hari ini adalah, Iris, anak pertama dari Clarissa, memiliki alasan seperti ini.
"'Jika anak kecil sepertinya malah memicu perang, tidak seharusnya kita mengatasinya dengan kekuatan sihir, tetapi dengan cinta. Ada sesuatu yang terjadi pada anak itu sehingga terlintas pikiran untuk mengakhiri dunia. Sejak awal, keturunan Aurora akan selalu memiliki kekuatan yang besar, bukan? Untuk mengajari Tuan Putri selanjutnya, aku akan menjadi guru pribadi mereka!'”
Zeeta terdiam. Ia mulai sedikit tenang. Ia jadi teringat apa yang Arthur sering katakan padanya, “meskipun kau tidak bisa mahir menggunakan sihir, kau punya bakat untuk memasak! Kau tidak perlu fokus pada satu tujuan, jika kau mau menjadi koki seperti ayah, ayah akan mendukungmu!”
“Setelah itu, keturunan demi keturunan terus berlanjut untuk mengantisipasi agar ramalanku tidak terjadi, dan sedikit demi sedikit kelanjutan dari ramalanku terus muncul. Salah satu langkah yang diberikan mereka adalah kemunculan Elf.”
“Ha... Hah?!” Aria yang kini terkejut bukan main.
“Elf, makhluk baru yang tercipta atas menyatunya mana Manusia dan Peri. Itu tidak salah, tetapi tujuan utama terbentuknya Elf pada awalnya adalah untuk menjembatani manusia dan Peri hidup bersama. Dengan cara itu, diharapkan Zeeta tidak terlalu memikirkan bahwa hanya dirinya seoranglah yang bisa melihat Peri.
“Tetapi hal itu justru membuat kalangan bangsawan tidak setuju, dan singkatnya, malah memicu pertumpahan darah antara Peri, Manusia dan Elf. Aku sudah mencoba segala hal yang kubisa dengan memberi hutan yang Elf tinggali sebuah sihir agar mereka dapat tersembunyi, tetapi masalah terus saja berdatangan....”
Aria terdiam, tak mau membahas masalah itu untuk saat ini. "Jangan bercanda denganku, dasar bajingan!"
“Hingga akhirnya sampai di titik ini. Perjalanan panjang tiga ratus tahun akhirnya membawaku ke jawaban mengapa kau memutuskan untuk mengakhiri dunia. Aku melihatnya ketika kau berhadapan dengan akar raksasa di istana, Nak.”
“Seperti kataku di awal, tanpa dijaga pun, alam akan bekerja melakukan perannya. Sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sejak lamq, membuatku menggelengkan kepala.
"Meskipun Peri dan beberapa orang dari keturunan kerajaan dapat menggunakan mana dari alam, alam tetap akan bekerja dengan sendirinya. Tanpa disihir, hujan tetap akan datang. Tanpa sihir, bencana alam akan datang. Tanpa sihir, badai salju akan datang. Semua itu adalah alam yang bekerja, jadi apa yang ingin kukatakan...
“akar raksasa itu, merupakan cara alam mengantisipasi agar ramalanku tidak terjadi.”
“Hah...? Apa maksudnya?” sesenggukan Zeeta sudah hilang.
“Sejak awal bertemu denganmu, aku cukup terkejut dengan aliran mana yang ada di sekitar tubuhmu. Meskipun kau sedikit samar-samar mengingatnya, tapi aku pernah bertemu denganmu. Ketika itu kau masih lima tahun, dirimu yang pingsan setelah panik atas kemunculan Falmus, Sylva, dan Yuuvi, membuat mereka membawamu ke atas pohon. Pohon itu melindungimu dengan memanjangkan rantingnya agar kau tidak terjatuh.
"Itu artinya, aliran mana yang kulihat merupakan mana alam. Dengan kata lain, kau dicintai oleh alam.” Ucapan akhir Ratu Peri membuat Zeeta akhirnya ingat sepenuhnya kejadian lima tahun yang lalu.
“Ah, aku ingat!” jerit Zeeta.
“Jadi, akar di istana itu muncul dengan tujuan untuk melindungimu.” Ratu Peri menunjukkan senyumnya.
“Tapi, Ratu Peri ... aku masih tidak mengerti, kenapa Zeeta memutuskan mengakhiri dunia?” tanya Aria, yang berusaha menahan amarahnya. Ia tahu beberapa hal yang dikatakan Ratu Peri tidak sinkron dengan pengetahuannya secara bersama dengan Elf lain.
“Alasan itu adalah kebenciannya.”
“Sudah kuduga!” Suara seseorang dari luar pintu kamar terdengar. Ashley menguping.
“Gu-Guru Ashley?! Sejak kapan...?” Zeeta terkejut atas kedatangan mendadak Ashley.
“Sejak aku merasakan mana aneh yang tiba-tiba muncul di kamarmu, tahu! Duh, kalau soal penting begini, ceritakan padaku, Nak! Kau membuatku jantungan!” Ashley berjalan masuk. “Salam kenal, Aria sang Elf, dan Ratu Peri ... ehm....” Ashley menanyakan nama Ratu Peri.
"Aku Feline,” jawab Ratu Peri.
“Salam kenal, Ratu Feline.” Ashley menunjukkan hormat bungkuknya pada Feline.
“Ya.” Feline tersenyum lembut.
“Kembali ke bahasan, baru-baru ini aku terpikirkan alasan mengapa Zeeta, orang sebaik dan cengeng seperti dia, bisa mengakhri dunia,” kata Ashley ikut duduk di kasur mewah.
“A-aku tidak cengeng!” Zeeta menggembungkan pipinya.
“Saat dia berjalan-jalan di ibu kota, aku bertemu dengan anakku Albert. Kami berbicara mengenai pertumbuhan Zeeta yang harus selalu ditemani agar tidak menuju ke akhir dunia. Yah, sebenarnya prajuritku Marcus yang memikirkan alasan ini, sih.”
“Jadi, Nak....” Ashley memeluk Zeeta dengan erat. “Kita pasti akan bertemu dengan ibumu. Jadilah Tuan Putri—tidak, jadilah anak yang dapat membanggakan orang tua, ya.
"Kau tidak mau ibumu bersedih jika melihatmu begitu tersakiti dengan semua kebencian-kebencian yang kaupikirkan, bukan?” Ashley mengelus lembut rambut Zeeta.
Tangis kembali menetes. “Uhm! Aku tidak ingin membuat siapapun bersedih!” Zeeta membalas pelukan Ashley.
Setelah merasa cukup berpelukan, Ashley menghapus air mata Zeeta. “Langkah pertamamu adalah menunjukkan kepada negeri bahwa Tuan Putri Zeeta sudah kembali. Tenang saja, apapun yang terjadi kami akan ada di sisimu!” Ashley tersenyum lima jari.
......................
Rona merah muncul di pipi Zeeta yang sedang menikmati hembusan angin. “Wahai diriku ... kuharap kau tidak lagi dengan mudah meneteskan air mata....” Zeeta bangun dari telentangnya. “Ibu, aku akan berjuang, jadi tunggu aku dan tetaplah sehat, ya!” Zeeta memegangi anting bulannya. "Ta-tapi aku juga tidak tahu ibu masih hidup atau tidak.... Haaah...."
Tak lama kemudian, seseorang datang menjemput Zeeta. “Ah! Di sini kau rupanya! Duh, aku mencarimu kemana-mana, lo!”
“Oh? Gerda, ada apa?”
“Jangan 'ada apa?' padaku, dasar bodoh! Sudah waktunya dirimu menunjukkan diri!”
“Ah! Aku benar-benar lupa! Ba-bagaimana ini.... Oh iya... teleportasi!”
“Te-teleportasi?! A-apa kau akan mengajakku juga?!”
“Tentu saja!” Zeeta segera menggandeng tangan Gerda lalu berteleportasi menuju kediaman Alexandrita tanpa memberi waktu Gerda untuk berbicara.
Ketika mereka sampai di kediaman Alexandrita....
“Zeeta! Tuan Putri macam apa yang terlambat begini, ha?! Sepuluh menit sudah lewat, rakyat sudah mempertanyakan kebenaran Tuan Putri sudah pulang atau tidak! Kemana saja kau?!” Ashley mengomeli Zeeta habis-habisan.
“Ma-maaf Guru... a-aku akan mendengarkan nasihatmu nanti, jadi aku akan menyapa rakyatku dulu.” Zeeta meninggalkan Ashley yang sedang emosi.
“Hei, jangan abaikan gurumu!” Ashley menyusul.
“Ya ampun, ini pemandangan baru untuk kita, ‘kan, Tuan Will?” kata Porte tersenyum melihat kelakuan mereka.
“Hohoho, kau benar. Wanita itu sudah merawat Tuan Putri kita dengan baik!” Willmurd juga tersenyum.
“Tetap saja, emosi anak kecil memang tidak pasti, jadi sebagai orang dewasa kita harus selalu mengawasinya. Tapi, aku jadi memikirkan, apa yang terjadi dengannya sampai kebenciannya adalah alasan mengakhiri dunia?” kata Hellen.
“Apa kau bodoh? Tentu saja orang-orang busuk seperti kalian yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak memberikan bantuan pada anak kecil seperti dia, ditambah dia kehilangan keluarganya gara-gara bangsawan seperti kalian, tentu saja kebenciannya akan menumpuk!” hardik Aria yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
“Mana ini, ‘kan....” Hellen menebak-nebak. “Kau Peri perempuan itu?!”
“Peri?! Jangan samakan aku dengan mereka, aku ini Elf, tahu! E-L-F!” Aria tersulut emosi.
“Elf? Hmm, Tuan Putri kita benar-benar sesuatu, ya!” Porte tampak terkejut namun terkesan.
"Hmm. Pantas saja, kukira ada yang aneh dengan tubuh yang menyerupai manusia namun dengan telinga runcing itu. Aku tak menduga akan benar-benar bertemu Elf...." Hellen tak habis pikir.
"Sudahlah, sanjungan darimu takkan mempan untukku, Manusia Rendahan!" Aria mengatakannya dengan nada sok.
"A-apa katamu?!" Hellen tersulut emosi.
"Sudah sudah, bertengkarnya nanti saja! Penobatan Zeeta menjadi Tuan Putri akan segera dimulai!" Porte memperingati mereka.
"Huh. Jika ini bukan untuk Zeeta, aku takkan segan padamu, Manusia Rendahan!" Aria masih dalam nada soknya.
"Ho? Boleh saja, maju sini!" Hellen pun tak mau kalah dengan Aria. Tak lama, mereka yang setidaknya masih punya akal, menenangkan diri mereka dan mendampingi Zeeta, tak lupa juga bersama Porte.
Sementara itu, Gerda yang diseret ke kediaman Ashley, hanya bisa menatap diam dirinya yang terlupakan.
“Eh... hanya aku yang ditinggal di sini? Aku juga ingin bersorak menyambut Zeeta, tahu....” Gerda lesu. Tetapi...
“Prajurit Alexandrita, Marcus, telah datang untuk menjalankan perintah Tuan Putri!” suara pria mengagetkan Gerda. Marcus datang tanpa memakai seragam prajuritnya.
“E-eh? Apa ini?” tanya Gerda yang sedikit cemas.
“Tuan Putri memberikanku perintah melalui sihir telepatinya agar mengawalmu menuju keramaian di mana keluargamu berada!”
“Telepati?! Sejak kapan anak itu... ugh... apa kita tidak akan mencolok?” mendengar Zeeta bisa menggunakan telepati, ia merasa tidak kaget tetapi kesal, juga merasa senang.
“Serahkan saja padaku!”
Marcuspun membawa Gerda menuju keramaian.
......................
“Hei, kaupikir seperti apa Tuan Putri kita, ya?”
“Pasti dia mirip dengan Ratu Alicia!”
“Kuharap dia tidak seperti Rowing....”
“Agh, aku tak sabar melihatnya!”
Berbagai tanggapan terdengar dari keramaian sembari menunggu kedatangan Zeeta di depan kediaman Ashley. Tak lama, Ashley menampakkan diri di beranda. Sihir pengeras suara diaktifkan di depan mulutnya.
“Maaf telah membuat kalian menunggu. Mengingat Peringatan Darurat Satu telah dapat kupastikan berakhir setelah berjalan tujuh hari, bersamaan dengan berakhirnya hal tersebut, Tuan Putri kita, Zeeta Aurora XXI telah pulih total dan siap menjalankan perannya sebagai Tuan Putri!” kata Ashley memberi sambutan dengan nada semangat.
“Zeeta, kah? Nama yang bagus, ya!”
“Uuuuh, dari namanya saja membuatku tahu kalau dia adalah Tuan Putri yang baik!”
“Zeeta!”
"Zeeta!!”
“Zeeta!!”
Sorakan demi sorakan menanti kedatangan Tuan Putri mereka.
Langkah kaki yang mendekat, membuat sorakan itu berhenti. Sosoknya yang jelita dengan rambut violet pendek dipadu pakaian khusus Tuan Putrinya, terlihat sangat cocok untuknya. Apa yang mereka lihat pertama kali adalah senyuman manis yang tulus diberikan sang Tuan Putri.
“Melihat semangat kalian, aku berterima kasih karena kalian berharap kepadaku. Seperti yang kalian ketahui, aku adalah Zeeta Aurora, anak dari Alicia Aurora. Selama delapan tahun terakhir, aku menjalani hidupku di desa di Wilayah Selatan bernama Lazuli. Mereka adalah keluarga bagiku dan aku tumbuh besar bersama mereka. Mungkin aku tidak akan bisa menjawab harapan kalian, tapi aku ingin kalian tahu....
“bahwa diriku yang tumbuh di desa, membuatku belajar tentang banyak hal yang tidak akan kuketahui jika aku tumbuh di kalangan bangsawan. Baik menjadi orang desa ataupun menjadi Tuan Putri, dua hal itu, merupakan hal yang sangat penting untukku.
“ayah angkatku dari desa pernah mengatakan ini. 'Tidaklah salah bagiku, seorang anak yang tumbuh dari desa, menjadi Tuan Putri yang memiliki tanggung jawab yang besar...' karena itulah, mungkin aku tidak akan sama dengan bangsawan lain, dan aku masih belajar bagaimana menjadi Tuan Putri yang baik untuk kalian, dan selama itu....
“Kuharap kerajaan ini dapat berjalan dengan senyuman!” Zeeta kembali melemparkan senyumnya kembali.
“WOOOOGGHH ZEETA! PUTRIKU ZEETA! AKU BANGGA PADAMU! SELAMAT TELAH MENJADI TUAN PUTRI!!” teriakan Arthur yang begitu menggema membuat semua orang terkejut. Zeeta jadi terkikih kecil melihat janji ayahnya telah dipenuhi.
Menyusul sorakan yang begitu heboh dari Arthur, rakyat ternyata memikirkan hal yang sama dengan Arhur. Mereka senang dengan kehadiran Tuan Putri mereka yang seperti ini. Sorakan kembali terdengar dari mereka.
“Kerja bagus, Nak!” Ashley menepuk kepala Zeeta.
Dengan begini, Zeeta, seorang anak perempuan dari desa berumur delapan tahun, resmi menjadi Tuan Putri yang memikul tanggung jawab besar di bahunya. Seharusnya seperti itu, namun....
‘DDUUMM’
‘DDUUMM’
'DDUUUMM’
Dentuman demi dentuman mengguncang sekitar mereka.
“A-apa yang terjadi?!” orang-orang mulai panik. Melihat kepanikan mereka, Zeeta segera melakukan sesuatu.
“Semuanya, jangan panik dan ikutilah perintahku! Percayalah padaku, dan kalian akan baik-baik saja!” Zeeta mengeluarkan sihirnya. Ia membuat suatu lapisan yang tembus pandang di atas seluruh orang yang berkumpul.
“Tetaplah di tempat kalian berdiri. Jika sesuatu akan jatuh menghampiri kalian, sihirku akan melindungi!” Zeeta kembali melakukan sesuatu dengan sihirnya. Angin sejuk terus berhembus di seluruh bagian keramaian untuk mencegah dehidrasi.
“Apa ada seseorang yang bisa melihat dentuman apa itu?” tanya Zeeta.
“A-aku sudah melihatnya, Tuan Putri....” Porte berbicara sambil memegang teropong kristalnya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Zeeta kembali.
“I-itu... Raksasa!”
“Eh?! Raksasa?!”
Mendengar Porte, orang-orang kembali cemas. Disaat yang sama, dentuman itu semakin mendekat dan semakin mendekat, tampaklah raksasa yang memiliki tubuh batu. Saking besarnya ukuran tubuh tersebut, masih memungkinkan beberapa pilar batu menjulang tinggi di bagian bahunya. Tubuh batu raksasa tersebut juga memiliki garis bercahaya biru yang sewarna dengan matanya yang juga bercahaya. Lumut dan rerumputan yang tumbuh di beberapa bagian tubuhnya, tampaknya raksasa itu sudah hidup dalam jangka waktu yang sangat-sangat lama.
“Guru, apa memang ibuku pernah berinteraksi dengan makhluk-makhluk seperti mereka?!” Zeeta panik.
“Ju-jujur... bahkan akupun belum pernah melihat Raksasa, tidak... bahkan aku tidak tahu ada Raksasa di kerajaan kita!” Ashley juga panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments