Beberapa puluh menit sebelum Zeeta menemui Azure, di ibu kota kerajaan Aurora, kehidupan masyarakat di sana berjalan dengan meriah sebab festival yang sedang berlangsung saat ini. Festival tersebut selalu diadakan setiap tiga bulan sekali dan festival ini tidak terlalu melibatkan kemewahan. Hanya dengan pernak-pernik seperti bendera kerajaan, toko-toko yang memberi diskon, dan bermacam-macam acara kefestivalan. Delapan tahun terakhir, festival ini diadakan secara minimalis. Biasanya, festival ini begitu besar dan merata sampai pedesaan. Setelah kehilangan Ratu dan Raja-nya, pemimpin baru sementara mereka, Grand Duchess Ashley Alexandrita, tetap menghormati tradisi kerajaan.
Para penduduk ibu kota tetap menikmati festival ini meskipun rasanya berbeda. Senyuman yang terukir di masing-masing orang menghiasi hati redup sang Grand Duchess. Di malam yang seharusnya meriah secara minimalis, Ashley yang memutuskan untuk tetap berada di kediamannya yang besar dengan model khas bangunan kuno dengan batu bata berwarna hitam dan berbagai furnitur unik di dalamnya, bertemu dengan sosok yang sudah lama tak ia lihat, yaitu Peri.
Peri, seperti yang telah disebutkan oleh Sylva kepada Zeeta, selalu berhubungan dengan keluarga kerajaan. Setelah apa yang terjadi di antara Peri sejak lima hari yang lalu, situasinya berubah, dan kini Sylva akan menjelaskannya kepada Ashley.
Sylva yang telah masuk ke dalam kediaman Alexandrita, menemukan begitu banyak botol yang berisikan serbuk sihir, mirip seperti butiran yang jatuh dari kepakan sayapnya atau butiran mana yang keluar dari setiap Manusia. Serbuk sihir yang tersimpan aman dalam botol-botol itu berwarna-warni, ada yang biru gelap, merah muda, putih, dan warna lainnya. Tak hanya serbuk sihir, kediaman ini juga memiliki kupu-kupu dan tumbuhan hias yang memiliki mana unik terpajang di berbagai sudut ruang.
Furnitur yang ia saksikan di dalam rumah bak tower melebar ini cukup membuatnya terkesan. Selain botol berisi serbuk sihir, kupu-kupu dan tumbuhan, ada buku-buku yang tersimpan rapi di rak layaknya perpustakaan, dan ada juga botol-botol kimia di atas meja yang tampak digunakan untuk meracik serbuk sihir. Tempat ini tambah unik nan klasik dengan chandelier yang menggantung hampir di tiap atap ruangan, dan terdapat mangkuk transparan yang menyemburkan api kecil yang tak kalah terang dari chandelier-nya di pilar-pilar ruangaan.
Oh, ada satu hal lagi yang dapat membuatnya terkesan, Ashley memiliki peliharaan, yaitu sepasang kucing anggora berbulu putih. Mereka tampak tenang menikmati lelapnya di atas sofa karet berwarna merah marun di ruang yang sama dengan majikannya.
......................
Saat ini Ashley sedang menatap aktivitas festival melalui jendela model pintu berukuran besar dan lebar. Kaca jendela itu didesain memiliki banyak potongan di dua sisinya. Dari pantulan jendelanya, hanya tampak wajah lesu dari Ashley. Ia merasa begitu kosong ketika melihat festival tanpa adanya Ratu dan Raja. Ketika ia sedang gusar akan hal itu, ia mendengar ucapan selamat malam dari seseorang. Ia menolak menolehkan kepalanya lalu berkata, “Siapa kau malam-malam begini? Ikutilah festival itu dan biarkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin diganggu."
“Lihatlah dulu kepada siapa kau berbicara, dasar Manusia.” Ucapan ini langsung berpengaruh kepadanya.
Rambut pirang panjang sepunggung, mata cokelat, dan sedikit kerutan di sekitar bibir dan dahinya akhirnya tampak. Ashley, memakai one-piece warna merah gelap berkancing cokelat yang dilapisi blazer hitam.
“Pe-Peri?!” Ashley terkejut ada Peri sedekat dua puluh senti dari kepalanya.
“Ya. Ini darurat, dengarkan aku baik-baik.”
Ashley berdeham, “Ehem. Baiklah.”
“Langsung ke intinya. Kami para Peri hanya mengizinkan keluarga kerajaan melihat sosok kami sejak tiga ratus tahun yang lalu, apa kautahu itu?” Sylva memulai percakapan dan tetap terbang di tempatnya.
“Ya, aku tahu. Karena muridku adalah seorang keluarga kerajaan, aku pernah beberapa kali melihat sosok kalian yang tengah berbicara dengannya. Dan aku juga tahu, mereka mengizinkanku melihat karena diminta oleh muridku. Lalu, ada apa dengan hal itu?”
“Bagus, ini mempersingkat waktu. Sebenarnya situasi tersebut telah berubah sejak lima hari yang lalu. Meski aku tahu ini mendadak, Ratu Peri mengatakan keputusan ini diambil untuk langkah antisipasi.
"Setelah keputusan itu dibuat, Ratu Peri mengutus tiga Peri kepada tiga bangsawan utama, yaitu Cloxzar, Ophenlis, dan Dormant dengan alasan keselamatan seluruh makhluk hidup.” Sylva melanjutkan percakapannya.
Kening Ashley mengernyit. “Ha... hah? Apa maksudmu dengan keselamatan seluruh makhluk hidup?”
“Aku pun belum tahu dengan jelas mengapa Ratu Peri mengubahnya secara mendadak, tapi Ratu Peri juga bilang itu berkaitan dengan ramalannya tiga ratus tahun yang lalu.”
“Oh, ramalan itu....” Ashley tampak menangkap apa yang dibicarakan Sylva.
“Ratu Peri bilang, 'Percaya tidak percaya, meskipun semua keluarga kerajaan sampai saat ini telah melakukan banyak hal untuk mencegah ramalan itu terjadi, tetapi akhirnya selalu berujung di titik yang sama. Oleh karena itu, keputusan ini diambil meskipun mendadak.'"
“Begitu... lalu, apa yang membuatmu ke sini? Tidak mungkin kau hanya ingin memberitahuku itu.”
“Ya. Kau benar sekali. Untuk dua bangsawan lain, Rowing dan Alexandrita, menurut Ratu Peri, tidak memerlukan kami karena Alexandrita akan selalu setia terhadap Aurora, dan Rowing akan berakhir saat mereka bertemu keturunan Aurora yang kedua puluh satu, dan akulah yang diutus untuk bersama keturunan itu.” Mendengar bahwa ada keturunan dari Aurora, Ashley merasa dihantam petir.
“Tunggu tunggu tunggu!” tukas Ashley. Matanya terbelalak.
“Apa?”
“Keturunan Aurora?!”
“Ya. Karena itulah aku bilang ini berkaitan dengan ramalan Ratu Peri!”
"...." Ashley terdiam sejenak setelah mendengar ungkapan Sylva.
Beberapa saat kemudian dengan tatapan yang dibuang ke bawah, Ashley berkata, “Maaf ... aku masih belum bisa fokus. Bahkan aku saja tidak tahu apa yang terjadi di dalam istana, semuanya terlalu membingungkanku dan membuatku tidak tahu harus berbuat apa.”
“Yah, kau ada benarnya juga.” Sylva mengangguk, tetapi wajahnya acuh. “Tapi itu tidak penting, aku ada di sini untuk memberitahumu adalah bukti paling kuat dia adalah Aurora yang kedua puluh satu, dan dia saat ini butuh bantuanmu, Nyonya Penguasa Sementara.” Kali ini dia serius.
“Apa maksudmu?” dahi Ashley mengerut lagi.
Mendengarnya, membuat Sylva mengundang emosi. “Hei, kau tidak tahu apapun? Kau serius?! Rowing itu telah membunuh puluhan nyawa di Wilayah Selatan! Apa yang kaulakukan selama ini?!”
Mimik wajah Ashley berubah musam. “Cloxzar, Ophenlis, Dormant, termasuk Rowing, tidak terlalu senang kepada caraku memerintah sejak setelah tiga tahun aku jadi penguasa. Mereka juga telah membuat penghalang sihir melalui Buku Sihir mereka di tiap pintu masuk menuju wilayah kekuasaan mereka. Tanpa adanya seseorang yang benar-benar mampu menghilangkan sihir dari Buku Sihir, aku takkan bisa melakukan apapun. Jujur saja, hanya tinggal menunggu waktu kerajaan Aurora akan berakhir....” Ashley tampak pasrah terhadap keadaan yang sama sekali tidak mendukungnya.
Mendengar omong kosong dari Ashley, Sylva merasa kecewa. “Cih. Inikah yang harus kuharapkan pada seorang guru sihirnya Ratu? Jika kau hanya takut tidak bisa menghilangkan sihir dari Buku Sihir, maka kau kalah dari seorang anak kecil berusia delapan tahun yang masih melangkah maju demi kewajibannya sebagai Tuan Putri meskipun dia tidak ingin!”
Seketika, Ashley merasa campur aduk. Di dalam hatinya ia merasa senang bahwa seorang penerus tahta kerajaan masih hidup, namun disaat yang sama ia juga merasakan aneh. Ia merasa heran dengan dirinya sendiri, apa yang telah ia perbuat selama ini sampai keberadaan anak dari penguasa kerajaan itu lolos dari pengawasannya sebagai guru sihir seorang ratu? Embel-embelnya sebagai guru sihir tak cocok untuk dirinya yang sekarang. Jika ia memang seorang guru sihir seorang Ratu, Zeeta tidak akan harus melewati apa yang ia hadapi saat ini tanpanya. Dia terlalu galau dengan keselamatan keluarga kerajaan sampai mengentengkan tugas yang paling utama untuknya.
Meskipun Ashley merupakan wanita berusia empat puluhan tahun dan merupakan seorang Grand Duchess dengan tanggung jawab yang besar, ia tetaplah seseorang yang berperasaan. Kehilangan orang yang sudah dianggap anak sendiri olehnya secara tiba-tiba terlalu berat untuknya. Hal itu juga berlaku untuk sebagian rakyat kerajaan, tetapi dampak yang paling besar dirasakan oleh Ashley.
Setelah mengetahui bahwa anak dari muridnya itu selamat, ia bertekad ingin kembali menjadi dirinya sebelum saat ini. Menjadi diri dimana ia selalu dihormati oleh semua orang karena kharisma, keputusan, kekuatan, kecerdasan, dan kasih sayangnya. Ia ingin menjemput dan segera memastikan keamanan dan kesehatan Zeeta.
“Maaf, bisakah kaututup telingamu? Ini akan sedikit mengganggu,” kata Ashley, “aku akan membenahi diriku sendiri.”
“O-oke....” Sylva sedikit menjauh dari Ashley dan menutup telinganya.
Ashley menarik napasnya dalam-dalam, lalu berteriak. “APA YANG KAULAKUKAN DASAR ASHLEY?! Kau menjadi seseorang yang tidak berguna! Jadilah dirimu yang dulu lagi! Jadilah dirimu yang selalu dihormati orang-orang!” kemudian ia menampar pipinya berkali-kali hingga memerah. Apa yang ia lakukan sama sekali tak mencerminkan seorang Grand Duchess dan usianya yang telah menginjak empat dekade.
“Beritahu aku apa yang terjadi selama ini,” katanya meski ia menahan rasa sakit dari pipinya yang memerah.
Sylva pun menceritakan kepada Ashley saat pertama kali ia bertemu dengan Zeeta di Hutan Peri, sampai ke titik ia diambil paksa oleh Rowing.
......................
“Peri, aku akan bilang ini sekali lagi. Buku Sihir adalah sihir khusus milik seorang individu. Untuk seorang bangsawan sekali pun, membatalkan sihir dari Buku Sihir tidak semudah yang dibayangkan. Untuk membatalkannya, seseorang butuh imajinasi dan kejelian yang sangat jelas,” seru Ashley setelah menangkap apa yang terjadi selama delapan tahun ini di Wilayah Selatan.
“Kau terus saja menyebut Buku Sihir, memangnya sebegitu hebatkah buku itu?” tanya Sylva yang dibuat bertanda tanya.
“Buku Sihir adalah buku yang mencatat semua sihir yang pernah dibuat oleh seseorang, sekaligus memperkuat sihirnya. Saat kau menggunakan sihir yang ada di Buku Sihir, kau tidak perlu membayangkannya lagi—cukup buka saja halaman yang diinginkan.
"Dulu, ketika Buku Sihir pertama kali dicetuskan oleh Aurora Kesembilan, kegunaannya tidak untuk hal-hal seperti ini, dan kurasa Buku Sihir tidak akan berpengaruh pada sosok selain Manusia setelah tahu bahwa kau bisa keluar dari Wilayah Selatan.” Ashley menjelaskan lebih lanjut tentang merit dan demerit dari Buku Sihir kepada Sylva.
“Grrr... karena itulah aku masih memiliki benci terhadap Manusia!” gerutu Sylva.
“Jadi, apakah bisa kaupastikan desa Lazuli benar-benar lenyap?” tanya Ashley.
“Ya dan tidak,” jawab Sylva, “desanya lenyap, tetapi orang-orangnya selamat.”
Ashley mengerutkan dahinya. “Kenapa bisa begitu? Apakah Zeeta yang melakukannya?”
“Tidak, aku yang melakukannya. Sebelum Bastanil bertemu dengan Zeeta, aku menyamar menjadi Manusia, lalu masuk ke dalam mobil yang nantinya dimasukinya. Ketika Bastanil akan melancarkan serangannya, saat itulah sihirku kupakai. Tidak mungkin kubiarkan Manusia-Manusia berharga itu mati begitu saja di depan mataku.”
......................
Kilas balik ketika Sylva menyamar menjadi prajurit Bastanil....
Setelah Sylva meninggalkan Zeeta sendirian di kedai A n’ Z, Sylva yang juga telah melihat kedatangan rombongan Bastanil, mengepakkan sayapnya menuju mobil kodok perak. Setelah Sylva masuk, ia mendapati ekspresi yang dibuat sang supir kosong. Dia tampak hanya akan mengangguk apapun yang diperintahkan kepadanya.
“Hmmm... jadi begitu. Inilah yang tidak kusukai dari Manusia. Tapi, kali ini kubiarkan karena ini akan sedikit mempermudah peranku,” kata Sylva. Ia berbicara sendiri setelah melihat ekspresi si supir.
Sylva menyentuh bahu si supir dengan tangan kirinya, kemudian ia memposisikan tangan kiri itu ke bawah sayapnya. Setelah itu, ia sengaja mengepakkan sayapnya beberapa kali untuk menjatuhkan butiran sihir, lalu ia menggosok butiran sihir itu dengan kedua tangannya. Terakhir, ia melempar butiran sihir itu ke atas, dan ia menjadi kembaran si supir.
Setelah Sylva menyamar menjadi supir, ia menyihir kembali mobil ini agar berjalan sendiri dengan kecepatan yang tetap seperti sebelumnya. “Aku yang akan menyetir, kau beristirahatlah di sebelah,” kata Sylva dari jok penumpang.
“Baik,” jawab si supir tanpa sadar kepada siapa ia berbicara.
Tak lama setelah si supir berpindah tempat ke kursi sebelah, Sylva menggantikan tempatnya. Ketika rombongan telah sampai di desa, ia menyuruh si supir untuk pergi meninggalkan desa Lazuli, sementara Sylva mempersiapkan mana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan desa sampai Zeeta melihat sendiri bola api menghanguskan desanya.
Saat rombongan Bastanil telah pulang ke kediaman Rowing, tanpa disadari Zeeta, Sylva mengembalikan wujudnya dan lekas terbang menuju kediaman Grand Duchess.
......................
“Hmm? Jika kau berbuat sejauh itu ... tapi, bukankah kau benci Manusia?” Ashley bertanya-tanya atas tindakan Sylva.
“A-aku benci, tapi mereka pengecualian! Ketika kau berada di sana, kau tidak akan resah seseorang akan keterlaluan padamu.”
“Begitu ya ... kembali ke pembahasan utamanya, jika Zeeta saat ini ada di kediaman Rowing, kauperlu memberi tahunya bahwa orang-orang desa itu selamat. Saat aku tahu Rowing semakin gila ketika kondisi kerajaan sedang seperti ini, aku semakin khawatir tentang keselamatan Zeeta.”
“Kau ada benarnya. Tapi apa aku harus segera ke Wilayah Selatan? Dengan sayapku pun, butuh waktu setengah jam, lo!”
“Tidak. Itu tidak perlu. Ucapkan pesanmu ke serbuk di dalam botol ini, aku akan mengutus seseorang dan mengirimnya lewat sihirku. Aku juga harus bertindak di tempat lain.” Ashley memberikan Sylva botol berserbuk sihir ungu gelap.
Ketika Sylva sudah menyampaikan pesannya dan memberikan botol berisi serbuk sihir itu kepada Ashley, Ashley segera bergegas ke jendela dan membukanya lebar-lebar. Ia membuat lingkaran sihir di depan mulutnya, lalu mulai mengucapkan sesuatu yang membuat semua orang terdiam dan menjadikan Ashley sebagai pusat mata.
“Semuanya, hentikan festivalnya dan dengarkan aku!” serunya dengan suara yang jadi membesar bak melalui toak.
“Delapan tahun yang lalu, ketika kita dihantui oleh akar raksasa yang tiba-tiba menyelimuti istana, kita dibuat khawatir akan keselamatan Raja dan Ratu kita....” Ashley sengaja memberi jeda.
“Hari itu benar-benar gila....” kata pria A yang langsung melesu.
“Padahal Ratu Alicia adalah Ratu yang begitu cantik dan baik, begitu juga dengan Raja... apa yang sebenarnya terjadi?” wanita A ikut menanggapi.
“Aku rindu dengan suasana saat Ratu Alicia memerintah... semuanya begitu menyenangkan!” wanita B yang di sebelah wanita A selaras.
Banyak respons dari penduduk yang masih mengingat sosok Ratu Alicia. Sesuai dugaannya.
“TAPI!” suaranya yang begitu lantang membuat semua orang terkejut. “Malam ini adalah malam membahagiakan untuk kita! Baru saja, aku mendengar kabar bahwa penerus tahta Aurora, selamat dari kejadian itu!”
“Paling itu hanya rumor belaka....” pria A memalingkan wajahnya.
“Tapi mungkin saja Nyonya Duchess benar....” wanita B melihat ke pria A.
“Kalian berdua!” Ashley menunjuk dua orang yang baru berkomentar itu. “Kabar ini tidak berasal dari sembarang orang, tapi dari Peri!”
“Peri?!” keduanya terkejut.
“Oleh karena itu, sekali lagi akan kukatakan. Malam ini adalah malam membahagiakan, di saat bulan purnama ini, Tuan Putri akan pulang ke rumahnya. Kalian yang sudah tahu Ratu Alicia, pasti tidak bisa membiarkan Tuan Putri kita merasa tidak nyaman di sini. Selagi kalian mempersiapkan ini dan itu, aku akan menjemputnya!”
Para penduduk diam. Mereka masih belum bisa percaya sepenuhnya. Merupakan hal yang wajar jika para penduduk tidak langsung percaya.
Bagaimana tidak, bangsawan-bangsawan utama yang sebelumnya selalu memihak Aurora memisahkan diri semenjak Ashley memerintah. Tapi hal tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, ratu Alicia dan Ashley sudah seperti kerabat dekat. Kegalauannya terhadap ratu Alicia di balik istana membuat Ashley tidak begitu bijak dalam memerintah. Namun kini, hal itu tidak akan Ashley ulangi lagi, ia sudah membulatkan tekadnya.
“Ini adalah hasil dari kegagalanku memerintah kerajaan. Di saat aku galau sedangkan Zeeta sedang berjuang, aku tidak boleh kalah. Aku memiliki gelar Grand Duchess, dan aku merupakan guru sihir ratu Aurora kedua puluh. Menghancurkan penghalang sihir dari Buku Sihir seharusnya tidaklah sulit untukku!” batin Ashley setelah ia mendengar keraguan penduduk.
“Cih. Apa kalian tidak dengar?! AKU. AKAN. MENJEMPUTNYA!” Ashley mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan mengeluarkan aliran mana berwarna kuning di kepalannya. Ia memejamkan matanya dan fokus agar ia bisa memecah penghalang yang dipasang di gerbang menuju Wilayah Selatan, yang letaknya kebetulan ada tepat di depannya.
“HAA!!” teriaknya sembari meninjukan kepalannya menuju penghalang itu. Tak lama, muncul retakan di penghalangnya lalu perlahan penghalang itu hancur berkeping-keping dan kembali menjadi aliran mana berwarna merah.
Ashley segera melompat dari jendela itu lalu melakukan roll depan untuk mendarat. “Aku serius.” Serunya dengan wajah yang sudah lama tak mereka lihat.
“SEMUANYA, TUAN PUTRI KITA TELAH PULANG! Kita harus menyambutnya!” ujar seseorang yang telah melihat raut wajah Ashley.
“YA!!” balas semuanya serentak dan bersemangat.
Ashley melihat ke sekitar dan mendapati prajuritnya yang sedang bertugas menjaga festival. “Marcus! Kemarilah!” serunya memanggil dengan nada tegas seorang prajurit yang ada di belakangnya.
“I-ia, Nyonya Duchess!” Marcus segera berlari mendekat ke Ashley.
“Kita tak memiliki banyak waktu. Kau akan ke penjara bawah tanah Rowing, di sana ada Tuan Putri. Kau harus memberikan ini pada Tuan Putri dan jangan lupa bilang padanya bahwa ini dari Sylva, dia masih delapan tahun dan dia butuh pertolongan kita. Aku akan menyusul,” Ashley memberikan botol berisi serbuk sihir ungu gelap.
“Ta-tapi bagaimana aku bisa ke sana dengan cepat?”
“Tentu saja dengan sihirku!” Ashley mengarahkan tangannya ke kaki Marcus dan muncul lingkaran sihir di bawah kakinya. Dengan sekejap ia berpindah tempat ke dalam penjara bawah tanah kediaman Rowing.
“Uegh... langsung dipindah ke tempat menegangkannya?” gumam Marcus setelah melihat sekitarnya. Tak lama kemudian, ia melihat Zeeta digiring dua prajurit. Sama seperti reaksi Zeeta ketika melihat prajurit itu, Marcus merasa aneh. Tatapan dua prajurit itu kosong.
Sebelum mengikuti Zeeta dari belakang, ia mengganti kaus panjang putih berlapis rompi kulit tebal, sepasang sarung tangan cokelat, dan sepatu boots sewarna dengan sarung tangannya menjadi setelan prajurit Rowing dengan sihirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments