Tengah malam. Waktu yang seharusnya menandakan bahwa semua anak-anak sudah terlelap di atas kasur mereka, di suatu sel penjara seorang bangsawan yaitu Rowing yang bergelar Count, Zeeta dan Azure masih berbincang dengan seorang pria yang mengaku adalah prajurit dari keluarga bangsawan Alexandrita, yang wewenangnya ada dibawah keluarga kerajaan. Dia adalah Marcus.
Setelah Marcus memberikan botol sihir yang berisi pesan dari Sylva, Zeeta menerimanya dengan senang hati. Di dalam benak Zeeta, ia mengharapkan sedikit saja harapan. Baik itu untuk keluarga desanya, atau setidaknya untuk dirinya sendiri. Mungkin ... Zeeta berharap mungkin saja Sylva mau melakukan sesuatu terhadap mereka.
“Baiklah. Terima kasih, Marcus!” Zeeta menunjukkan senyumnya saat menerima botol sihir yang ukurannya hanya segenggaman tangan itu. Kini, ia tersenyum tulus, berbeda ketika ia memperkenalkan dirinya yang merupakan Tuan Putri kerajaan pada Azure. Senyuman bocah ini membuat remaja lelaki itu merona merah karena manisnya senyum yang ia terima.
“Terima kasih kembali, Yang Mulia!” balas Marcus bersemangat.
“Jika Sylva yang dibicarakan ini penting, apa ini ada hubungannya dengan keluargamu?” tanya Azure memandangi botol sihir berisi serbuk berwarna ungu gelap yang dipegang Zeeta.
“Uhm. Sylva adalah Peri yang selalu menguntitku," jawab Zeeta sangat jujur.
“APA?! Peri?! Menguntit?!” mendengar ada Peri yang menguntit seorang bocah, Azure tak habis pikir sehingga ia melantangkan begitu keras suaranya.
“Ssst! Aku tahu maksudmu, tapi ssst dulu, ya, Kak.” Zeeta menaruh telunjuk kanannya di bibir Azure.
“E-ehm,” balas Azure tanpa membuka mulutnya.
Zeeta kemudian membuka tutup botolnya, lalu menebar isi botol tersebut. Tak ada yang dapat didengar oleh Azure dan Marcus, tapi Zeeta dapat mendengar suara Sylva dengan lantang dan jelas.
“Desamu selamat. Tidak, lebih tepatnya orang-orangnya selamat. Aku menggunakan sihirku untuk memindahkan mereka ke dimensi lain saat bola api dari Manusia bernama Bastanil itu akan mengenai mereka. Untuk saat ini, tak usah mencemaskan keluargamu. Fokuslah kepada apa yang sedang kauhadapi, sementara itu aku akan membantumu di tempat yang berbeda.”
Setelah mendengar pesan Sylva, ia kembali menghujani pipinya dengan tangis bahagianya. Ia tak menyangka keluarganya masih bisa selamat setelah apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Harapan yang ia inginkan ... ternyata terkabul. Ia tak dapat menunjukkan betapa lega dan bersyukur dirinya mendengar pesan tersebut.
Zeeta mengambil liontin yang menghiasi tengkuk lehernya, kemudian membukanya. “Syukurlah...,” ucapnya kecil.
“Tampaknya sesuatu yang bagus telah terjadi, ya?” tanya Azure menunjukkan simpatinya melihat ekspresi Zeeta.
“Uhm. Dengan begini, aku bisa fokus untuk apa yang akan kulakukan selanjutnya... tapi....” Zeeta terlihat memikirkan sesuatu setelah menghapus air matanya.
“Tapi apa?”
“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku baru saja tahu jika aku merupakan seorang Tuan Putri beberapa jam yang lalu. Jika urusan kebangsawanan, aku sama sekali tidak tahu apa-apa...." Wajah muram tampak lagi kesekian kalinya di wajah Zeeta.
“Soal itu mudah, kok. Saat ini kau adalah orang yang memiliki status paling tinggi di seluruh negeri, karena itulah, satu perintah darimu, mereka akan segera mematuhimu!” Azure bertolak pinggang, berlagak bahwa dia pintar.
“Kupikir tidak akan semudah itu...,” ujar Marcus menyela dengan wajah serius.
“Ha?! Apa katamu?!” Azure segera membentaknya sekaligus tatapan lebarnya.
“Ya-Yang Mulia, izinkan aku memperjelas situasi kebangsawanan di negeri saat ini.” Marcus mengabaikan bentakan Azure.
“Baiklah, aku juga harus mengetahuinya. Tolong bantuannya ya, Marcus.” Zeeta memasang telinganya baik-baik.
“Ya, Yang Mulia. Kalau begitu, apakah Anda tahu jika negeri ini memiliki enam bangsawan utama?” Marcus duduk berlutut selagi ia menjelaskan.
“Ya. Aku tahu.”
“Enam bangsawan itu adalah keluarga kerajaan Aurora, Grand Duchess Alexandrita, Marchioness Cloxzar, Count Ophenlis, Count Dormant, dan Count Rowing. Tentu saja, seperti yang diucapkan Dik Azure, Aurora adalah bangsawan dengan status tertinggi. Tetapi, kekuasan Anda kini sudah berubah sementara untuk alasan waktu dan keadaan.”
“Hmmm? Apa maksudnya?” Zeeta tidak terlalu paham apa yang baru ia dengar.
“Keluarga Alexandrita adalah keluarga bangsawan yang khusus melayani Ratu Aurora sejak masanya Ratu Aurora ke sepuluh. Alexandrita juga diberi wewenang tinggi oleh Ratu untuk mengatur pasukan kerajaan, dengan kata lain Alexandrita adalah Jendral-nya kerajaan ini.
“Empat bangsawan lainnya, sejak awal sudah memerintah wilayah kekuasaan mereka masing-masing, tetapi mereka tetap harus tunduk kepada peraturan pemerintahannya Ratu. Tetapi, semenjak kerajaan Aurora kehilangan Raja dan Ratu-nya, atas wewenang Grand Duchess, ia memberikan hak pemerintahan penuh ke masing-masing bangsawan itu.
"Selain itu, mereka juga bersepakat agar ketika satu wilayah terdapat masalah, bangsawan selain yang ada di wilayah tersebut tidak ikut campur kecuali terjadi hal yang sangat mendesak. Apalagi, Tuan Putri belum cukup usia untuk memegang hak penuh atas kekuasaan negeri ini. Meskipun Anda memang seorang Tuan Putri yang segera menjadi penerus tahta, jika belum dinobatkan di depan rakyat, Anda tak bisa berbuat banyak.
"Jadi artinya, meskipun Anda ingin menghentikan Rowing atas perintah langsung Anda, itu takkan berhasil sebab Anda belum memiliki hak penuh atas kuasa Anda.” Mendengar semua penjelasan Marcus, wajah Azure berubah jadi bad mood.
“Tunggu! Biar aku memrosesnya terlebih dahulu, ini masih terlalu berat untukku....” Zeeta menekan kepalanya dengan dua tangannya.
“Zee, ini sama sekali tidak bagus. Apa yang dimaksud Marcus secara singkatnya, kau tidak bisa menghukum atau memerintah apapun pada Rowing tanpa persetujuan lima bangsawan utama itu, dan kau tidak bisa melepas perjanjian mereka sebab kau belum memiliki wewenang atas negeri ini karena usiamu belum cukup untuk menjadi penguasa negeri,” tukas Azure membantu Zeeta memahaminya.
“Benar sekali.” Marcus mengangguk.
“Aggghhh. Negeri ini jadi semakin kacau saja. Bangsawan-bangsawan itu akan semakin menggila kalau seperti ini!” Azure mengacak-acak rambut hitam-birunya karena kesal.
"Tapi, empat bangsawan lain itu kan tak memiliki saksi, boleh saja dong jika kita 'membungkam' mereka?" Azure memberi saran sekaligus bertanya.
Marcus menggelengkan kepalanya.
"Eh? Kenapa?" tanya Azure.
"Ya, kenapa?" Zeeta juga ingin tahu alasannya.
"Memang, secara strategi dan kondisi Anda saat ini, membungkam Rowing secara langsung adalah langkah yang bisa dilakukan dan cepat menyelesaikan masalah. Hanya saja, masalah lain yang lebih rumit akan timbul setelahnya."
"Hah? Apa maksudnya?" Azure masih kebingungan.
"Dik Azure, Yang Mulia Zeeta adalah Tuan Putri... sekaligus calon Ratu kerajaan ini. Apabila Yang Mulia Zeeta melakukan kekerasan terhadap bangsawan lain, dikala Beliau hanya seorang anak-anak, itu tak akan berpengaruh baik bagi nama baiknya di mata rakyat.
"Katakan saja Yang Mulia Zeeta membungkam Rowing dan tak mendapatkan masalah dari rakyat. Lalu, apakah bangsawan lain akan merasa sama?
"Yang ingin kukatakan, jika Yang Mulia ingin bertindak, jangan gegabah. Jika Anda melakukan apa yang disarankan Dik Azure, secara sederhananya, Anda hanya akan menambah musuh dari lingkungan bangsawan Anda. Dan aku sangat tidak merekomendasikannya."
"Cih, bangsawan memang menyebalkan sampai ke akar-akarnya. Di sini kami mempertaruhkan nyawa tahu! Dan dia ini adalah Tuan Putri, apa, sih, yang dipikirkan otak kecil mereka sampai memusuhi Tuan Putri mereka sendiri!?" Azure yang sebal teriak-teriak melampiaskan emosinya.
"Begitu, ya... jadi Tuan Putri sepertinya akan membuatku sangat kesulitan...." Zeeta memaksakan senyumnya.
"Zeeta...." Azure memandangi Zeeta yang tampak tabah itu.
Zeeta memejamkan matanya sejenak untuk memikirkan apa yang setidaknya ia bisa lakukan dengan caranya sendiri tanpa harus mengandalkan wewenang atau kekerasan.
......................
Setelah memejamkan matanya dan berpikir keras dengan caranya sendiri, Zeeta menumbuhkan sebuah solusi.
“Aku tahu. Aku akan menemui mereka dan bernegosiasi dengannya,” ucap Zeeta.
“HAH?! Bernegosiasi?! Apa kau bodoh?!” Azure berteriak tepat di telinga Zeeta.
“Di-dik Azure, beliau Tuan Putri lho, lancang sekali!” Marcus merasa Azure tidak sopan karena seenaknya memanggil Zeeta bodoh.
“Tidak apa, Marcus. Aku senang Kak Azure bersikap seperti ini. Justru aku masih tidak terbiasa dipanggil Yang Mulia, hehe....” Zeeta terkikih kecil bersama dengan garis miring kecil di bibirnya.
“A-ah, baiklah jika itu keinginan Anda, Yang Mulia....”
“Aku tahu Rowing adalah bangsawan yang licik. Tapi aku memang harus melakukannya. Dengan kondisi ayah dan ibu Basta—, maksudku Tuan Bastanil yang disihir oleh Kak Azure, aku percaya aku bisa mengangkat kutukannya,” ungkap Zeeta, "dengan begitu, Marcus, apa kautahu apakah lima bangsawan utama lain itu ada di pihakku atau tidak?”
“Maksud Anda?” Marcus memiringkan sebelah alisnya.
“Ketika Tuan Bastanil membawaku, dia sempat bilang ingin menguasai negeri ini. Itu artinya....”
“Kudeta, kah?” Azure menyela. Mendengar kata kudeta, membuat Marcus tampak tak senang.
“A-aku tidak tahu istilahnya apa tapi sepertinya memang itu... Marcus, bagaimana?”
“Tentu saja Alexandrita selalu setia kepada Anda, Yang Mulia. Tetapi mohon maaf, aku tidak tahu dengan yang lain....” Wajah senang darinya tampak melayang begitu saja.
“Ya sudah, tidak apa. Marcus, aku akan bertanya satu hal lagi.”
“Baik!”
“Apakah aku bisa mempercayai Alexandrita?”
“Tentu saja bisa! Soalnya Nyonya Ashley Alexandrita merupakan guru sihir Ratu Alicia!”
“Eh?! Guru sihirnya ibu?”
“Ya!”
“Hmmm... begitu, kah. Yah, memikirkannya takkan membuatku tahu lebih jelas tentang ibuku. Marcus, ketika urusanmu di sini bersama kami sudah selesai, kembalilah ke Alexandrita dan laporkan apa yang telah dibahas.”
“Baik!” Marcus memberi hormat kepada Zeeta.
“Zeeta, tak kusangka ... tak kusangka kau bisa paham tentang situasi kita saat ini dan bisa memerintah dengan sigap meskipun kau baru delapan tahun...,” kata Azure tak habis pikir.
“Eh? Itu tidak benar kok, Kak Azure... ayahku adalah satu-satunya orang yang memiliki mana besar di desa, bisa dibilang dia sekaligus menjadi guru sihir anak-anak di sana, jadi aku hanya meniru ayahku.” Zeeta tersenyum.
Azure membalas senyum Zeeta. "Begitu, ya."
“Baiklah, sekarang aku perlu tahu apa saja yang bisa kulakukan dan kuwaspadai di sini....” Zeeta kembali berbicara hal yang serius bersama Marcus dan Azure.
Sementara mereka berdiskusi, beberapa jam sebelum Zeeta bertemu Azure, di dalam kediaman Alexandrita, terjadi sesuatu yang menghebohkan sekitar....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
2021-06-15
1