Langit biru membentang luas. Awan menari-nari diiringi angin, membawa kesejukan dan kedamaian untuk makhluk di daratan. Burung-burung pun tak ingin kalah. Layaknya terbebas dari penjara yang biasa disebut sangkar, mereka terbang dengan sangat meriah. Sementara, burung-burung di rindang pepohonan, siulnya menggema bersama-sama meyambut hari dengan kicauan merdu.
Sungai yang membentang panjang tanpa deru tangis yang kencang, menambah kedamaian pada suatu desa bernama Lazuli. Pagi hari ini masyarakat desa tengah memancing, ditemani para wanita yang tengah memetik hasil perkebunan mereka di seberang sungai. Hasil perkebunan itu adalah apel, buah berbentuk jeruk berwarna merah muda yang disebut renjie, yang kaya akan air dan sangat manis, serta berbagai jenis sayuran.
Dari kelompok yang memancing tersebut, ada satu orang pria yang memancing dengan cara tak biasa. Sementara kawan-kawannya harus memakai pancingan, pria itu memakai tangan kosong.
Tidak, tidak.
Dia tidak mengambil ikan-ikannya dengan tangan kosong, namun dengan mengeluarkan sesuatu seperti serpihan-serpihan berwarna merah dari telapak tangannya.
Serpihan ini disebut mana. Dengan imajinasinya, pria itu menarik keluar para ikan akibat sihir yang tercipta dari mana-nya tanpa perlu menunggu ikan untuk terpancing umpan. Hal tersebut membuat ikan tangkapannya lebih banyak dari kawan-kawannya.
Mana merupakan kekuatan yang sangat dibutuhkan ketika seorang manusia ingin mengeluarkan sihir. Setiap individu memiliki mana, tetapi kapasitas mereka berbeda-beda. Tanpa mana, keberadaan sihir akan sirna.
“Hei, Arthur! Meskipun kau memiliki mana yang lebih banyak dari kami, sisakanlah ikannya untuk kami!” seru seorang pria berambut merah cepak dan bermata hitam yang tidak terima melihat hasil tangkapannya lebih sedikit dari pria bernama Arthur tersebut.
Arthur tersenyum. “Hei, hei, santai saja, Recko! Aku sudah selesai, kok. Lagi pula aku juga harus segera membuka kedaiku."
Ia kembali menggunakan sihirnya untuk mengangkat seluruh ikan tangkapannya. Jika tanpa bantuan sihirnya, ikan-ikan itu akan memiliki berat hampir sepuluh kilogram.
Arthur memiliki rambut lurus berwarna cokelat kehitaman yang panjang. Ia mengikat rambutnya ke belakang seperti ekor kuda. Hidungnya terlihat seperti ingin berpisah dari wajahnya. Janggut tipis menghiasi wajahnya dimulai dari tepi telinga, matanya berwarna kuning kejinggaan.
Arthur merupakan pria terkenal di desa Lazuli. Tidak hanya diantara kalangan wanita karena perawakannya yang tinggi, cukup berotot, dan wajah yang tampan, Arthur juga terkenal dikalangan pria sebab kemampuannya dalam pekerjaan. Hampir tidak ada yang tidak bisa dia lakukan dengan sihirnya. Selain itu, Arthur adalah satu-satunya orang di desa Lazuli yang memiliki mana besar, sehingga ia termasuk orang-orang yang langka di antara rakyat jelata.
Ketika ia akan beranjak dari sisi sungai, ia melihat sesuatu dari sudut kiri pandangannya—sebuah keranjang piknik yang hanyut.
Tentu saja hal tersebut menceletukkan rasa penasaran Arthur. Ia kembali berimajinasi agar sihir yang membawa seluruh ikan ini, sampai dengan selamat di kediamannya. Kemudian ia segera bergegas mendekati keranjang tersebut.
Semakin ia mendekat ke keranjang, semakin sadar pula dirinya bahwa keranjang yang seharusnya untuk piknik itu berisi makhluk yang tak seharusnya ada di sana. Ia segera mengangkat keranjangnya dari sungai, lalu memeriksa apakah makhluk itu baik-baik saja.
“Siapa, sih, di zaman seperti ini yang masih menghanyutkan bayi ... tega sekali,” katanya menggerutu. Ia tak menyangka apa yang baru saja ia temukan.
Seorang bayi tampak hangat karena diselimuti lampin berlapis-lapis dari balik hingga atas tubuhnya. Selain lampin, ia juga dihangatkan oleh selimut. Di atas selimutnya terdapat sebuah anting berwarna ungu yang masih terlalu besar untuk dipakainya. Pola bulan purnama yang terukir pada anting tersebut mengejutkan Arthur. Selain anting, terdapat secarik kertas di sebelahnya.
Mengesampingkan pola anting yang ia kenal tersebut, ia lekas memberitahu orang-orang yang ada di sekitarnya. Betapa terkejutnya orang-orang di sana setelah mendengar Arthur. Merekapun lantas mendekati Arthur untuk melihat secara langsung. Memang seperti ucapannya, ada bayi di keranjang. Mereka juga tampak kaget saat melihat anting berpola bulan purnama tersebut.
“Hei, dia ini...,” kata seseorang dari kerumunan itu.
“Masalah anting itu kesampingkan dulu. Seseorang tolong bacakan isi suratnya, tanganku sibuk untuk membawa keranjang ini,” pinta Arthur.
Recko yang ada di dekatnya pun membantunya. Ketika telah dibuka, Recko segera membacakan apa yang tertulis di sana.
..."Siapapun yang menemukan bayi ini, aku yakin kalian semua terkejut atau mungkin marah padaku. Tetapi, ada alasan kuat mengapa kulakukan ini terhadap darah dagingku sendiri. Aku, Alicia, ibu dari bayi bernama Zeeta ini, secara terpaksa menghanyutkan anak perempuanku....”...
Mendengar ini, semua orang yang ada di sana terkejut. “Alicia? Bukankah dia…,” gumam orang-orang. Mereka seperti tahu siapa wanita bernama Alicia tersebut.
“Teruskan,” pinta Arthur dengan wajah serius.
...“Seperti yang kalian ketahui, keberadaan keluarga kami dalam kondisi yang rumit saat ini. Ketika aku menulis surat ini, tak begitu banyak waktu yang kami miliki. Untuk itu, kumohon rahasiakan tentang identitas anakku, sampai anakku berumur delapan tahun dan saat bulan purnama tiba pertama kalinya di tahun itu. Ada suatu kewajiban yang anakku harus selesaikan dan kalian tahu apa itu … tolong, rawat anakku dengan baik. Dialah satu-satunya harapan.......
"Pesan berakhir," tutup Recko sekaligus melipat lagi kertas yang dipegang ke bentuk awal.
Semua orang di sana terdiam. Raut wajah mereka seakan memberi empati terhadap bayi cantik ini.
Arthur pun membuat keputusan. “Mari kita beritahu Kepala Desa."
Mereka yang ada di sana setuju dan bergegeas ke rumah Kepala Desa.
......................
Arthur tengah duduk bersebelahan bersama dua tetangganya yang merupakan pasangan suami-istri di sebuah sofa berwarna cokelat. Pasutri tersebut adalah Recko dan Grilda.
Grilda memiliki rambut pirang panjang sepanjang punggung dan bermata hijau permata. Pasutri ini mewakili kelompok orang sebelumnya untuk berdiskusi dengan Kepala Desa tentang bayi bernama Zeeta ini.
Suasana hening melanda mereka disaat Kepala Desa membaca surat yang terhanyut bersama keranjang itu. Seperti pria di atas setengah abad pada umumnya, Kepala Desa telah memiliki beberapa rambut putih di sekitar kening dan telinganya.
Ditemani suara radio yang telah sedikit disunyikan di sudut kanan atas meja, Kepala Desa juga terkejut ketika membaca nama ibu dari Zeeta. Ia sedikit melirik ke arah bayinya. “Jika dia memang punya anting itu... tunjukan padaku,” katanya meminta.
Arthur yang sibuk menggendong bayi perempuan itu diwakili oleh Grilda. Ia mengambil anting dari keranjang yang dibawa oleh Recko. “Ini….” Grilda menunjukkan antingnya.
“Tempelkan anting itu ke telinganya, jika itu bersinar, maka dia memanglah harapan kita."
Grilda segera mengikuti arahan Kepala Desa. Beberapa saat setelah ditempelkan, pola bulan purnama itu bersinar biru. Tanpa mengerti situasi yang terjadi di ruangan itu, Zeeta mulai aktif seperti bayi pada umumnya dengan menunjukkan senyum polosnya dan gerakan tangan serta kakinya. Ia seperti bereaksi terhadap antingnya.
Kepala Desa memejamkan matanya, kemudian berkeputusan, “Jika hanya menambah seorang bayi, tidak akan jadi masalah, bukan? Arthur, apa kaubisa merawat bayi ini?”
“Hah? Aku?” Arthur mengerutkan alisnya.
“Ya, tentu saja dirimu. Hanya kaulah satu-satunya orang di desa yang memiliki mana yang besar. Jika sedari
kecil dia sudah dirawat oleh orang sepertimu, maka ketika dia besar nanti, dia tidak akan kesulitan dalam menggunakan mana-nya.”
“Yah… soal itu kau benar, Kepala Desa... aku tak menyangkalnya! Tapi aku tidak pernah merawat anak, bahkan menikah saja belum!” Arthur bersikeras untuk menolaknya.
“Lagipula, jika masalahnya ada pada mana, Recko dan Grilda bisa merawatnya sementara aku jadi gurunya. Iya, ‘kan?” sambung Arthur meminta dukungan.
Recko yang memandangi tingkah Zeeta yang tidak bisa diam sejak antingnya bersinar berkata, “Arthur ada benarnya, Kepala Desa."
Mendengarnya, Arthur lantas memberikan Zeeta kepada Grilda. Namun, baru beberapa saat digendong olehnya, Zeeta mulai menangis.
“Cup cup cup … tenang, sayang … tenanglah ….” layaknya seorang ibu yang telah berpengalaman, Grilda berusaha menenangkan Zeeta dengan mengayunkan gendongannya ke kanan dan kiri, tetapi usahanya tidak berbuah. Lantas, Grilda mengembalikan Zeeta pada Arthur dan ia segera tenang kembali diikuti senyumnya yang begitu manis.
Grilda, Recko, dan Kepala Desa juga ikut tersenyum karenanya. “Sudah ditentukan,” kata Grilda menyeringai.
“Haah… aku tidak percaya akan jadi orang tua sebelum menikah … kalau begitu, mohon bantuannya, orang tua yang sudah berpengalaman….” Dengan berat hati, mau tidak mau Arthur mengadopsi Zeeta.
“Serahkan saja pada kami!” balas Recko memberi jempol kiri serta senyum lima jarinya.
“Jika kau kesulitan, akan ada kami yang membantu. Soalnya semuuua orang di desa adalah keluarga, fufufu...” Grilda terkikih, ia menganggap hari-harinya akan semakin terhibur.
“Ya, karena dia adalah satu-satunya harapan, kita harus benar-benar merawatnya.” Kepala Desa mengakhiri percakapan.
......................
Lima tahun telah berlalu sejak hari dimana Arthur mengadopsi Zeeta. Zeeta telah tumbuh cantik dengan rambut sudah sepanjang tengkuk. Kala itu, warna rambutnya belum nampak jelas, namun kini, warna violet terpampang jelas. Dengan sebagian rambutnya diikat satu ke arah samping menggunakan jepit berbentuk bola berwarna merah, itu menambah kesan imut padanya. Anting ungu yang sebelumnya terlalu besar ia pakai, telah menghiasi telinga kirinya. Satu hal yang berbeda, pola di anting yang sebelumnya berbentuk bulan purnama, kini berubah jadi bulan sabit. Tidak diragukan lagi, anting itu adalah anting yang spesial.
Saat ini ia memakai piyama beruang ber-hoodie yang sedikit kebesaran untuknya. Piyama itu berwarna dominan putih dengan corak cokelat di sisi lengan, hoodie, kantung, serta celana.
Dari tempat duduknya yang berada di meja pelanggan, Zeeta menatapi secara serius sosok ayahnya yang sedang memasak. Tanpa melewati sedikit pun langkah-langkahnya, mata birunya berbinar-binar tatkala ayahnya hanya sibuk menggerakkan tangan dan jemarinya kesana dan kemari untuk menyiapkan bahan-bahan sambil memasak, serta menyiapkan piring saji secara bersamaan. Ditemani serpihan-serpihan merah yang keluar dari tangannya, Zeeta semakin terpaku memandanginya.
“Ayah keren sekali...,” gumam Zeeta yang terpukau.
Kedai ini memiliki desain dapur terbuka. Apa yang dimasak dan dibuat oleh koki dapat dilihat langsung oleh pelanggan. Kedai ini tidaklah mewah, namun bisa dibilang elegan, sebab kedai ini memiliki pernak-pernik unik seperti lentera kecil yang dipasang di setiap sudut langit-langit ruangan.
Lenteranya sendiri berwarna hitam pucat, lentera-lentera itu tetap dibiarkan menyala meskipun tidak gelap dengan api kecil berwarna biru. Tetapi jika malam telah menyambut, apinya akan dibesarkan. Dengan letaknya yang ada di desa, meski ini adalah kedai, tempat ini adalah rumah bagi Arthur. Meski begitu, ia tidur dan melakukan keseharian lainnya bersama Zeeta di lantai dua.
“Zeeta, apa kau haus?” tanya ayahnya yang membuat Zeeta sedikit tersentak sebab ia terlalu fokus.
“U-uhm. Sedikit...,” balas Zeeta.
“Apa kau mau cokelat? Atau kau lebih memilih jus?” tanya Arthur kembali untuk memastikan.
“Ehm …." Zeeta bimbang. "Aku pilih cokelat!” setelah memantapkan apa yang ia mau, Zeeta menjawabnya dengan semangat sambil mengangkat tangan kanannya. Ketika ia mengangkatnya, hoodie dari piyamanya menutup wajahnya.
“Baiklah … pegang gelasnya dengan erat ya!” Arthur meninggalkan sebentar tumis di wajannya dan menjentikkan jemarinya. Setelah itu, sebuah gelas khusus anak-anak dan sebotol cokelat dari kulkas terangkat dari tempatnya menuju meja di mana Zeeta berada.
Ketika gelasnya sampai di tangan Zeeta yang kecil melalui serpihan yang sama dari ayahnya, Zeeta memegang erat gelas tersebut seperti kata ayahnya. Tak lama kemudian, sebotol cokelat yang merupakan hasil olahan desa, tertuang dengan cara yang sama. Senang melihat cara kerja sihir yang menurutnya hebat, ia lekas meminum cokelatnya sampai habis.
"Pwah!" suara yang terdengar dari Zeeta menunjukkan betapa puas dirinya dengan disertai sisa cokelat di sekitar bibirnya.
Menyaksikan keseluruhan kejadian wholesome itu, membuat para pelanggan Arthur tersenyum hangat dengan kepolosan Zeeta dan betapa imut tingkah lakunya.
“Haahh… selain masakanmu yang lezat, aku jadi ingin semakin sering datang kemari jika bisa terus melihat keseharianmu bersama Zeeta yang seperti ini ….” Seorang pria yang membawa keranjang untuk berkebun belum bisa menghilangkan senyumnya untuk Zeeta. Tempat dia duduk saat ini berada tepat di depan Arthur yang sedang memasak.
“Asal kau tahu saja, aku tidak bermaksud mempertontonkan putriku sendiri untuk mempromosikan kedaiku, aku hanya tidak punya pilhan lain selain membawanya ke sini agar bisa sekalian mengawasinya!” sahut Arthur yang kemudian menyajikan santapan ke pria itu.
Pria itu menyambut makanannya. “Oh, terima kasih!
"Aku tahu kok, semua orang di Lazuli juga tahu hal itu, tenang saja!” pria itu segera menyantap santapannya. “Uuuhh… lezat sekali!"
“Hei, Arthur! Aku tambah birnya!” Recko yang juga menjadi pelanggan Arthur harus berteriak untuk memesan karena ia ada di meja dekat pintu masuk.
Zeeta menolehkan kepalanya ke Recko. “Kenapa Paman tambah birnya? Ini, kan masih pagi! Ayah bilang kalau seseorang terlalu banyak minum begitu, tidak baik untuk tubuh!” ia menggembungkan pipinya tanda cemberut.
“Ahahaha… baiklah. Bagaimana jika jus, apa aku boleh?” tanya Recko dengan senyum kecut.
“Uhm! Tentu saja!” senyum manisnya tampak kembali dengan natural.
“Seperti yang kaudengar, kali ini aku akan mengurangi kebiasaanku,” sahut Recko.
“Hahaha, bahkan Recko si Pemburu kalah dari Zeeta, ya!” tukas seseorang berkomentar yang kemudian menjadi gelak tawa seisi kedai.
Arthur merasakan tarikan di celemeknya dari bawah. Ia menoleh dan mendapati Zeeta. “Ada apa?” tanyanya.
“Aku ingin bantu!” balas Zeeta dengan binar di mata biru cantiknya.
“Tidak apa, Ayah bisa melakukannya sendiri. Lagi pula Ayah akan menggunakan sihir, jadi tidak terlalu merepotkan." Jawaban Arthur yang disertai senyum itu justru mendapatkan cemberut dari Zeeta.
“Aku ingin bantu!” ia menggoyangkan kembali celemeknya.
Melihat kegigihannya, Arthur menghela napas. Ia menyerah. “Baiklah, bisa kaubawa ini ke meja Paman Recko?” Arthur menyiapkan satu gelas penuh berisi jus jambu di atas nampan.
“Baik!”
“Kalau begitu, pegang nampannya dengan erat dan bawalah perlahan. Oke?” Arthur menyerahkan nampannya pada Zeeta sambil berjongkok.
“Oke. Serahkan padaku!” Zeeta pun membawa nampan itu selangkah demi selangkah untuk sampai ke tujuan. Ketika sampai, Recko mengambil gelasnya dan berterima kasih pada Zeeta.
“Sama-sama. Setelah ini, semangat berburunya ya, Paman Recko!” Zeeta sekali lagi menunjukkan senyumnya.
Rona merah tampak sedikit di pipi Recko. “Y-ya, tentu saja! Aku kan si Pemburu, Recko!” ia terpesona oleh senyum Zeeta. Ia merasa diberi semangat dan kekuatan oleh senyum itu.
“Recko?!” tatapan sinis dari Arthur terasa oleh bulu kuduk Recko.
“A-apa boleh buat, 'kan?! Jangan tiba-tiba marah!” tukas Recko yang lalu menjadi gelak tawa kembali di kedai itu. Zeeta hanya bisa ikut tertawa bersama mereka.
......................
Arthur yang sebelumnya bersikeras menolak untuk merawat Zeeta, telah menjadi sosok ayah yang bisa diandalkan. Demi merawat Zeeta, ia tak keberatan meski harus kurang tidur sehingga menimbulkan kehitaman di sekitar matanya. Nama kedainya pun telah ia ubah menjadi "A n’ Z", meski terkesan tidak menarik, ia memutuskan untuk merubahnya atas cintanya pada Zeeta.
Kesehariannya yang sebelumnya hanyalah bujangan yang membuka kedai lalu mengumpulkan bahan-bahan, telah berubah menjadi sosok yang lebih sibuk. Membeli peralatan yang diperlukan anak-anak seperti buku dongeng, alat makan, pakaian, makan dan minum, serta mengumpulkan saran-saran seperti apa saja yang harus ia lakukan sebagai single parent. Tak lupa juga ia menyisihkan waktunya untuk melatih Zeeta dalam menggunakan sihir.
Arthur berpikir bahwa hidup barunya tidaklah begitu buruk meski pada awalnya ia cukup kesulitan. Ia bersumpah untuk terus merawat dan menyayanginya sebagai ayah hingga waktu yang ditangguhkan ibu kandung Zeeta telah tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Chou12999
Alur ya dipercepat aja bayak yang Bosen
biasanya
Lima tahun kemudian atau gmna
2021-09-07
4
hyunka
awalan yang bagus sangat menarik!
arthur jadi ayah tanpa menikah
2021-06-27
2
anggita
awal pembukaan yg mnarik.,👏
2021-06-26
2