Cahaya rembulan malam ini tampak perkasa dengan bentuk sabitnya. Suatu desa yang berjarak tempuh dua puluh menit dari desa Lazuli, tampak mengenaskan setelah lenyap dilalap Si Jago Merah. Meski begitu, sebuah limusin berwarna perak dan sebuah mobil kodok dengan warna yang sama terparkir mencolok tanpa noda hitam dari asap sedikitpun.
Beberapa orang kembali dari sebuah rumah yang masa hidupnya telah habis terbakar—nasib yang sama dengan rumah-rumah lainnya. Orang-orang tersebut terdiri atas empat orang dewasa yang memakai setelan jas putih dengan pin besar berbentuk bunga mawar di kantung jasnya.
Seorang diantara mereka memakai dasi berwarna merah, tiga lainnya berwarna putih. Empat orang dewasa tersebut membawa seorang anak perempuan dari rumah yang baru saja mereka tinggalkan.
Anak perempuan tersebut berambut hitam pendek, di balik rambut belakangnya terdapat warna biru tua dan bermata biru. Tubuhnya penuh dengan lecet dan noda hitam, baik itu dari asap ataupun dari tanah. Mereka membawanya masuk ke dalam mobil kodok. Tak lama kemudian, dua mobil tersebut segera meninggalkan desa bernasib tragis tersebut begitu saja.
......................
Sementara itu, keesokan harinya di desa Lazuli....
Para petani kebun sedang menggosip atas kebakaran yang melanda desa tetangganya. Mereka masih dapat melihat asapnya.
“Si Rowing itu... kudengar dia membuat ulah seenaknya lagi...!” kata wanita A.
“Apa itu ada hubungannya dengan kebakaran semalam?” tanya wanita B.
“Tentu saja! Mana besar miliknya itu... dan desa Lapis sebagai targetnya... siapa lagi kalau bukan Rowing?!” balas pria A dengan intonasi yang tinggi. Ia juga mencengkeram erat tangannya.
“Sekarang dia berani membakar desa? Apa ada korban dari desa Lapis?” tanya pria B.
“Apa kau serius? Yang kita bicarakan si Rowing, lo!” tukas pria A naik pitam.
“Jangan-jangan....” wanita B menduga-duga.
“Ya. Ada kerabatku yang tinggal di sana... ketika aku menyusulnya setelah merasakan mana milik Rowing....” air mata dari pria A menetes dan ia jatuh tersungkur. “Dia membakar seisi desanya! Semuanya habis... tak ada orang yang selamat! Kecuali....”
Pria A yang mengingat kejadian semalam menceritakan bahwa ada seorang anak perempuan dibawa oleh orang bernama Rowing itu.
“Anak perempuan, katamu?! Apa-apaan dia ini... meskipun dia bangsawan, perbuatan dia sudah terlalu kelewatan!” sahut wanita A berkomentar.
“Ya... semenjak istana Aurora dihantam akar besar itu... bangsawan-bangsawan di negeri ini semakin gila!” balas wanita B.
“Sebaiknya kita bicarakan ini lebih lanjut dengan Kepala Desa.” Pria B menutup percakapan dan mereka kembali bertani.
......................
Siang hari yang tidak cerah sama sekali menghiasi suasana rapat di kediaman Kepala Desa. Para perwakilan keluarga yang hadir di sana terdiri sekitar lima belasan orang, ada pria dan wanita paruh baya, ada juga pria dan wanita yang masih muda. Arthur dan Recko tak luput dari kehadiran rapat tersebut. Mereka sama-sama ingin membicarakan kejadian yang menimpa desa Lapis, desa tetangga terdekat mereka.
“Rowing sudah pasti sedang merencanakan sesuatu, Pak Kepala Desa!”
“Apa yang harus kita lakukan?”
Berbagai macam pendapat terdengar dari peserta.
Kepala Desa mengangkat tangan kanannya, sebagai tanda ja hendak bicara. Semuanya lekas diam. “Waktu kita semakin menipis. Kita sudah tak bisa merahasiakan lebih lama lagi keberadaan Zeeta. Para bangsawan sudah mulai mengincarnya."
“A-apa maksudmu, Kepala Desa?” tanya Arthur.
“Anak perempuan yang dibawa Rowing semalam adalah anak yang memiliki mana besar.... Mereka adalah anak-anak yang memiliki potensi khusus dari kalangan rakyat jelata.
"Namanya adalah Azure, aku pernah diberitahu Kepala Desa Lapis sedikit tentangnya.”
Kepala Desa kemudian memejamkan matanya.
“Lalu... apa yang harus kita lakukan saat dia datang ke sini?” tanya seorang pria.
“Arthur... apakah benar jika mana Zeeta belum bangkit seutuhnya?” tanya Kepala Desa.
“Y-ya... itu benar.” Arthur mengangguk.
“Perbedaan mana kita dengan Rowing terlalu jauh. Meskipun ada Arthur bersama kita, jika Rowing membawa orang lebih, sama saja dengan bunuh diri. Karena itulah....” Kepala Desa menarik napasnya, lalu menghelanya. “Selama kekuatannya belum bangkit, kita harus membuat dia memiliki kenangan berharga untuknya sebelum waktunya tiba. Hal ini sudah wajar kita lakukan sebagai bagian dari keluarganya. Kalian mengerti maksudku?”
Keheningan terjadi di satu ruangan ini. Mereka berwajah sedih... pasrah akan apa yang menanti mereka.
“Tentu saja! Ini demi Zeeta, keluarga kita!” sahut seorang pria.
“Uhm. Zeeta masih anak-anak... jika kita hanya berdiam diri saja, Zeeta akan terus bersedih!” celetuk seorang wanita.
“Kau juga, Arthur! Selama waktunya belum tiba, lakukanlah apa yang kau bisa sebagai keluarganya!” Recko mengaitkan lengannya di leher Arthur dan menunjukkan senyumnya.
“Ya... terima kasih semuanya.” Arthur menunjukkan senyumnya yang tampak seperti dipaksakan.
......................
Malam harinya, Arthur mengajak Zeeta berbicara hangat di kedainya sambil minum cokelat panas untuk Zeeta, dan kopi susu untuknya.
“Zeeta, apa kau telah mendengar rumor tentang bangsawan yang dibicarakan semua orang di desa?” tanya Arthur memulai percakapan.
“Uhm. Aku jadi tahu kenapa Ayah bilang bangsawan itu jahat. Tapi aku tidak mengerti ... kenapa Rowing melakukan hal kejam itu?” jawab Zeeta. Ia berwajah muram.
“Itulah alasan mengapa aku mengajakmu berbicara di sini. Aku akan menunjukkanmu suatu kondisi di ibu kota kerajaan kita, Aurora.” Arthur mengeluarkan butiran mana merahnya dalam jumlah segenggam tangan lalu melemparnya ke udara. Dari butiran tersebut, perlahan mulai tampak gambar kondisi istana yang sempat dibicarakan petani kebun tadi pagi.
“Apa ini...?” tanya Zeeta tak paham dengan gambarnya.
“Ini adalah istana kerajaan. Sosoknya yang megah dan kokoh telah ditelan oleh akar-akar raksasa yang melilit seluruh istana.”
Arthur menunjukkan dari berbagai macam arah istana yang telah menjadi lilitan akar raksasa. Tak ada sedikitpun sisa dari istana yang nampak. Sebesar itulah akarnya.
“Kejadian ini terjadi lima tahun yang lalu. Secara mendadak ibu kota digemparkan dengan akar raksasa yang secara cepat mengurung istana. Meski penduduk di sana telah mencoba berbagai hal dengan sihirnya, termasuk bangsawan yang ada di dekatnya, akar itu tidak tergores sama sekali....” Arthur mengganti-ganti gambarnya dengan gambar yang berkaitan dengan apa yang ia jelaskan.
“Karena tidak ada yang tahu bagaimana kondisi Ratu Aurora—Alicia Aurora XX, maka para bangsawan pun mengambil tindakan darurat untuk mengatur negeri ini.
Di negeri ini, terdapat enam bangsawan utama yang diberi hak untuk mengatur setiap wilayah yang ada. Salah satunya adalah Rowing, dia berkuasa atas Wilayah Selatan Aurora
"Wilayah Selatan memiliki sekitar seribu dua ratus jiwa, yang terbagi atas puluhan desa, termasuk desa Lapis dan desa Lazuli. Karena Rowing memiliki status penting sebagai pemerintah Wilayah Selatan, kami rakyat jelata tidak bisa berbuat banyak saat dia melakukan sesuatu yang buruk kepada kami. Selain itu, dia memiliki mana yang jauh lebih besar dari kami.”
“Ayah juga kalah besar?”
“Bisa dibilang seperti itu. Oleh karena itu Zee, ketika nanti kau sudah besar dan seandainya kau bertemu Rowing, selalu ingatlah ini. Dia adalah orang yang licik, apapun akan dia lakukan agar tujuannya tercapai. Karena kelicikannya itu juga banyak desa tetangga kita yang tersiksa, bahkan hancur karena perbuatannya... berhati-hatilah, oke?” di akhir kalimatnya, Arthur mengenggam bahu Zeeta.
“Uhm. Aku mengerti....” Zeeta masih tampak muram.
“Sampai waktu itu tiba, jalanilah hidupmu seperti biasa. Bermain dengan teman-temanmu, berlatih sihir, apapun yang ingin kaulakukan, lakukanlah selagi kaubisa. Jujur saja... aku juga tidak tahu kapan Rowing datang ke desa ini dan apa yang akan dia lakukan....”
“Uhm... baiklah.” Tatapan muram darinya tetap tidak beranjak.
......................
Sementara itu, di saat yang sama, di sebuah penjara bawah tanah....
“Tak bisa kumaafkan... tak bisa kumaafkan... TAKKAN PERNAH KUMAAFKAN!
"Akan kubalas perbuatanmu, Garren Rowing! Akan kukutuk kau agar merasakan apa yang selama ini kami rasakan!”
Azure, anak perempuan dari desa Lapis itu mengumpulkan mana berwarna ungu gelapnya dalam jumlah yang banyak. Agar bisa menuntaskan apa yang hendak dirinya lakukan, ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Di saat yang sama, di atas penjara tersebut, terdapat kediaman yang begitu megah, mewah, dan luas. Halaman kediaman tersebut memiliki kolam air mancur berukiran batang mawar yang penuh dengan duri. Airnya terdapat butiran mana berwarna merah cerah yang setiap airnya naik ke atas, butiran mana tersebut merubah bentuk airnya menjadi mawar dan mewarnai air menjadi merah akibat butirannya.
Terdapat tiga bangunan megah di halaman yang luas ini. Satu di antaranya adalah kediaman milik Garren Rowing. Ia merupakan keturunan Rowing yang kesebelas. Kini, ia sedang berbicara dengan anaknya di balkon.
Garren Rowing XI memiliki rambut pirang lurus bermata merah dengan wajah yang sudah dihinggapi kumis dan janggut yang dibentuk meruncing. Ia adalah salah satu orang yang membawa Azure sekaligus membakar seluruh desa Lapis.
Sedangkan anaknya, Bastanil Rowing XII, adalah lelaki kecil berusia delapan tahun berambut sama, namun pendek, dengan mata yang berwarna kuning cerah.
“Lihatlah pemandangan malam ini, Bastanil...." Garren tersenyum, menikmati suasana malam ini. "Bukankah indah jika kau memandangnya dari ketinggian ini?”
“Ya, iya, ini indah, aku tahu. Lalu, apa pentingnya sampai memintaku mendengarkan Ayah?” tanya Bastanil. Tampaknya ia tak begitu tertarik dengan apa yang akan dikatakan ayahnya.
“Haha, itu baru Putraku, yang tidak mau berbasa-basi dan segera ingin langsung ke poin pembicaraan....
"Baiklah.”
Garren lalu menatap serius Bastanil.
“Apa kauingat kejadian di istana lima tahun yang lalu?” tanya Garren.
“Ya. Tentu saja. Semua orang gempar saat itu.” Bastanil yang masih tak tertarik hanya memandangi langit malam.
“Tampaknya, ada orang yang selamat dari istana....”
Bastanil mengganti pandangannya ke mata ayahnya. “Hoo ... lalu?” ia tersenyum.
“Saat kita menemukan orang itu, kita bisa memanfaatkannya untuk menjalankan rencana kita merebut tahta kerajaan....” Garren juga tersenyum seraya menunjuk ke arah istana.
“Hmmm....” Bastanil tidak menghilangkan senyumannya, tetapi ia seperti ingat sesuatu. “Tapi masih ada Grand Duchess yang berpotensi menghalangi kita. Memanfaatkan orang selamat itu takkan menjadi jaminan rencana kita akan berhasil!”
“Tenang saja. Orang yang selamat ini bukanlah orang biasa....” Garren membisikkan sesuatu pada anaknya. Setelah mendengar bisikannya, Bastanil tersenyum jahat.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita tinggal menghabisi semua desa lalu memancing orang itu keluar, ‘kan?” tanya Bastanil.
“Tidak semudah itu, Putraku. Jika kita melakukannya, empat bangsawan lainnya akan curiga dan pada akhirnya Grand Duchess akan menghabisi kita. Tidak perlu tergesa-gesa, karena pada akhirnya dia sendiri yang akan mengunjungi kita....”
Tak lama setelah Garren mengatakan itu, dia tiba-tiba saja terbelalak. “Aghk?! A-apa yang...?! Tubuhku...!”
Tubuh Garren mendadak kaku setelah ia terbelalak. Tak lama kemudian, ia jatuh tersungkur di depan Bastanil.
“A-Ayah? Ada apa?!” Bastanil panik melihat ayahnya jatuh tiba-tiba.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita datang tergesa-gesa untuk memberitahu sesuatu kepada Bastanil. “Tu-Tuan Bastanil! Nyo-nyonya Rowing...!” serunya dengan berkeringat, “nyonya Rowing tiba-tiba saja terjatuh! Ada yang aneh dengan tubuhnya!”
“Apa katamu?! Segera panggil kepala kelayan, suruh dia bawa Ayah dan Ibu ke ranjangnya, lalu panggilah dokter!”
“B-baik Tuan!” pelayan itu segera pergi dari tempatnya.
“A-apa-apaan ini?!” ketika Bastanil melihat tubuh ayahnya, ia semakin terkejut saat mengingat apa yang baru dikatakan pelayan tadi terhadap ibunya.
"A-apa yang...?!" kejadian mengejutkan bagi Bastanil tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuh ayahnya yang cukup besar itu perlahan-lahan menyusut bersamaan dengan asap ungu gelap yang keluar dari tubuhnya. Penyusutan ini begitu drastis hingga hanya terlihat kulit dan tulangnya saja, warna rambutnya juga memudar. Tampaknya hal ini juga terjadi pada ibu Bastanil.
“Jangan-jangan... ini ulah rakyat jelata yang Ayah bawa tadi pagi?!” Bastanil segera berlari menuju penjara bawah tanah untuk menemui Azure.
......................
Ketika Bastanil sampai di depan ruang sel Azure, ia melihat gadis kotor di matanya itu sedang terengah. Ia pun bisa melihat sisa-sisa dari butiran mana ungu gelap di kedua tangannya.
“Jadi benar kau...! Kuperintahkan kau untuk segera lepaskan sihirnya!” teriak Bastanil.
“Tak kusangka...." Azure menyeringai. "Tak kusangka masih ada orang yang selamat dari Rowing....
"Hahahah! Percuma, Bangsat! Bahkan jika aku bisa melepasnya ... aku takkan sudi! Ahahaha!”
“Apa katamu...?! Berani-beraninyab ka—“ Bastanil berniat mengomeli Azure, tapi dipotong oleh lawan bicaranya.
“BERANI-BERANINYA KALIAN MENGHABISI WARGA DESA LAPIS! Apa salah kami dengan kalian?! Tidak hanya membuat kami tersiksa dengan pajak yang tinggi, sekarang kalian mengincar nyawa kami? Apa yang ingin kalian lakukan?!”
Sedikit terguncang atas teriakan tak terduga itu, Bastanil mengucurkan setetes peluh. “Heh." Bocah ini justru tersenyum kecut. "Tak ada untungnya kuberitahu kau yang seorang rakyat jelata. Yang lebih penting lagi, karena kau telah melakukan tindak kejahatan pada bangsawan, jangan pikir kau akan selamat....” Bastanil mengancam.
“Hahaha... sudah kuduga kau akan bilang itu. Silakan! Silakan saja eksekusi aku! Bahkan sekarang pun tak
masalah, tapi biar kuberitahu... jika aku tewas, dua orang sialan yang telah kukutuk itu juga akan ikut tewas!” Azure tampak menjadi orang yang benar-benar berbeda. Ia bahkan tak takut mati saat itu juga. Sesuatu yang tak akan terpikirkan oleh anak seusianya dalam kondisi normal.
“Apa kaubilang?!”
“Aku tidak bisa membatalkannya, tapi aku bisa mempercepatnya. Semua keputusan ada di tanganmu... tapi apapun keputusanmu, semuanya tetap akan berjalan sesuai rencanaku....”
“Kau hanyalah anak seusiaku, tapi sudah berani melakukan hal semacam ini... memang, rakyat jelata adalah makhluk yang kotor!”
Ucapan Bastanil membuat Azure semakin naik pitam, ia membanting besi penjara dengan tangannya hingga membuat Bastanil jatuh terkejut. Dia melihat Azure tak memperdulikan darah yang keluar dari tangannya.
“Dengar, ya! Jika kau berbicara sepatah kata pun denganku lagi, aku tak akan segan membawamu ke neraka bersama dengan orang tuamu!” Azure membuka matanya lebar-lebar hingga menampakkan urat di bola matanya. Emosi dan kebenciannya tak dapat ia pendam lagi.
Azure berhasil membuat Bastanil ciut dan mengangkat kakinya dari penjara sambil berteriak, “Sialan kaaauu!”
“Benar. Sayangilah nyawa orang tuamu selagi kau bisa! Dan jangan pernah ... JANGAN PERNAH dekati aku lagi!” Tak lama, Azure terjatuh lemas, memegangi tangannya yang berdarah. Ia menahan tangisnya.
“Meski sihirku telah mengutuk mereka, tetap saja ini tidaklah mutlak. Aku bahkan hanya menggertak aku bisa mempercepat kutukannya. Aku juga tidak tahu sihirku bisa langsung dilepas oleh mereka atau tidak... tapi setidaknya, aku membalas perbuatan keji mereka....”
"Ayah ... ibu... semuanya...." Azure tetap menahan tangisnya sambil menahan rasa sakit di tangannya. Setelah ini, Azure pun kehilangan kesadarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Nur
gak sadar diri, padahal mereka lebih kejam tapi klo di lawan malah tanya "punya perasaan gak melakukan ini"
2023-12-24
1
paska
Tujuh like Thor.. Salam dari Nona Louisa dari Lembah Angin
2021-06-23
2