Langkah kaki kecil yang tergesa-gesa menimbulkan debu di sekitar kakinya. Pelakunya adalah Zeeta yang sedang menarik Gerda untuk segera meluncur ke rumah temannya tersebut. Ia mendapatkan suatu ide untuk mengganti semua rencana miliknya yang kacau hari ini.
Meskipun ia gagal membesarkan renjie, kendati ia telah melakukan apa yang Arthur ajarkan padanya semalam, ia belum ingin menerimanya begitu saja. Meskipun air matanya telah mengalir, ia berniat untuk mencoba sekali lagi.
“He-hei...! Pelan-pelanlah, Zee...!" seru Gerda yang kehabisan napas. "Apakah kita memang harus ... seburu-buru ini?” Dirinya juga bermandikan keringat.
“Tidak, sih... tapi, iya juga!
"Aku ingin segera mencobanya di rumahmu. Lihat, kita sudah dekat!” Zeeta mendapati kebun renjie milik keluarga Recko dari pandangannya.
Ketika mereka telah sampai di depan pintu rumah, Gerda yang terengah mencoba mengatur napasnya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Zeeta, ia sebenarnya terlalu bersemangat dan lebih terengah daripada Gerda.
“Lain kali ... kalau mau lari ... bilanglah dulu...!!!
"Aku harus ... menyiapkan ... napasku!"
Walau menggerutu, Gerda masih kehabisan napas.
“Hehehe ... maaf.” Zeeta hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
......................
Gerda mempersilakan Zeeta masuk ke dalam. Ketika itulah, mereka membahas apa yang akan mereka lakukan. “Jadi, apa yang sebenarnya harus kubantu?” tanya Gerda.
“Aku mau memasak!” jawab Zeeta singkat, padat, jelas. Matanya berbinar-binar, seolah ia dibakar api semangat.
“Eeh...? Memasak...? Kenapa tidak kaulakukan itu di rumahmu saja?” Gerda mengerutkan sebelah alisnya.
“Tentu saja aku tidak bisa. Hari ini kan kedai kami tidak libur!”
“Oh... iyaya. Maaf, aku lupa, hehe....” Gerda menggaruk pipinya. “Lalu, apa yang ingin kaumasak?”
“Lihat saja nanti!” Zeeta melemparkan senyum manis smug-nya.
Saat Zeeta dan Gerda memasuki dapur, mereka menemui Grilda yang tampak sedang memasak juga. Setelah menjelaskan apa yang terjadi dan apa rencana mereka, Grilda mengizinkan dua anak kecil ini untuk memakai dapur—dengan syarat bahwa dirinyalah yang akan memotong sesuatu bila mereka hendak menggunakan pisau.
Zeeta mengatur napasnya agar ia tidak gugup. Setelah semua yang terjadi padanya sejak kemarin, kemampuan memasaknya saat ini, resep apa saja yang telah ia kuasai, serta cuaca hari ini yang sedang panas, ia telah memutuskan apa yang akan dibuat.
“Baik. Aku telah memutuskan akan membuat apa. Bibi Grilda, bolehkah aku memakai dua buah renjie milikmu? Aku akan memakainya sebagai bahan utama,” pinta Zeeta setelah memakai celemek milik Gerda.
Grilda mengizinkannya, lalu ia lekas mengambil dua buah Renjie dari kebun pribadinya. Setelah diberikan kepada Zeeta, Zeeta mengirisnya menjadi dua bagian pada masing-masing buah, menyiapkan tepung, air, dan bahan-bahan lain di hadapannya.
......................
Satu jam telah berjalan sejak Zeeta mulai memasak. Grilda dibuat kagum dengan langkah-langkah yang Zeeta ambil begitu cepat dan tepat, termasuk langkah-langkah yang diinstruksikan kepada Gerda agar ia bisa membantunya.
Kini, di hadapan Zeeta dan Gerda terdapat satu loyang besar dengan jejeran kue-kue kering bermacam bentuk. Ada bentuk bulan sabit, beruang dan kelinci yang imut, bunga, dan lain-lain.
“Nah, kalau begitu tinggal kita panggang, lalu selesai!” kata Gerda yang akan memasukkan loyang ke dalam oven.
“Tunggu!” tukas Zeeta menghentikan Gerda. “Jika langsung dipanggang, itu tidak akan menjadi masakanku. Itu hanya akan jadi resep dari ayah yang aku buat. Langkah setelah inilah yang akan membuat kue ini jadi resep milikku!”
“Oh, kalau begitu silakan.” Gerda menaruh kembali loyangnya.
Zeeta lalu memfokuskan dirinya. Ia membuka telapak tangannya untuk memunculkan butiran mana warna-warninya, setelah itu ia taburkan butiran tersebut ke atas kuenya.
“Zee, apa kau mau kami memakan sihirmu?” tanya Gerda diselingi canda.
“Ehm, yah... mungkin iya, mungkin juga tidak. Ih, pokoknya kita tinggal memanggangnya, lalu selesai!”
“Haha, baiklah-baiklah.” Gerda memasukkan loyang ke dalam oven lalu memutar timer selama tiga puluh menit.
......................
Di atas loyang yang telah didiamkan selama lima belas menit, terhidangkan kue kering dengan bermacam bentuk imut dan unik. Dari luarnya kue ini hanyalah kue kering biasa, sehingga tidak mengherankan apabila Gerda bertanya-tanya, apa yang akan membuatnya berbeda setelah Zeeta memberikan sihir untuk kuenya?
“Kalau sepenasaran itu, cobalah! Apapun pendapat kalian tentang kuenya, meskipun tidak enak, bilang saja. Aku pasti akan mencoba lagi dan lagi!" tutur Zeeta yang sudah membulatkan tekad.
Menghargai ucapan dan hasil usaha Zeeta beberapa jam sebelumnya, Gerda dan Grilda masing-masing mengambil satu keping kue.
Setelah beberapa kunyah, mereka berdua terbelalak.
“A-apa ini?” batin Grilda yang merasa heran dengan rasanya. “Meskipun dia tidak memakai gula, tapi manisnya masih begitu terasa... tidak, ini rasa manis dari renjie! Selain itu... sensasi yang terasa di mulutku... dingin?” setelah mengomentari rasa dari kue dalam batinnya, Grilda menelan kuenya.
“Zee, Bibi ambil satu lagi, ya,” kata Grilda yang ketagihan.
“Uhm, silakan!” Zeeta menunjukkan wajah senyumnya. Ia merasa sedikit percaya diri tentang rasanya.
Ketika Grilda mengunyah kembali kuenya, ia kembali mendapatkan sensasi dingin di mulutnya. “Benar... sensasi dingin ini... ini sihirnya Zeeta. Jadi begitu....” Grilda membatin sambil memandangi Zeeta.
“Jadi... bagaimana menurut kalian?” tanya Zeeta. Ia penasaran dengan pendapat mereka tentang rasanya.
Gerda menepuk kedua bahu Zeeta.
“Gerda...? Ke-kenapa...?” Zeeta sedikit cemas saat Gerda menundukkan kepalanya tapi memegang bahunya.
“Kau....” Gerda memberikan jeda pada apa yang akan diucapnya. “Kau....”
“Kau hebat, Zeeta! Ini enak sekali!
"Ahh... aku suka rasanya. Kalau kue ini dijual di kedaimu, pasti akan sangat laku!”
Mata Zeeta berbinar. “He? Yang benar? Kuenya benar-benar enak?” Zeeta merasa tak percaya apa yang baru saja ia dengar langsung dari teman sepantarannya ini.
“Ya, tentu saja! Ya, ‘kan, Bu?” Gerda meminta pendapat ibunya.
Grilda mendekati Zeeta, ketika ia sudah dekat, ia berlutut lalu memeluknya.
“Kau sudah berjuang dengan keras, Nak. Setelah semua hal yang kau lakukan, latihan sihir, membantu ayahmu di kedai, tetapi kau gagal ketika teman-temanmu melakukan hal mudah itu, pasti sangat sulit untukmu, bukan?” Grilda mengatakannya sambil mengelus kepala Zeeta.
“Tapi kali ini kau berhasil, kue ini adalah buktinya. Aku setuju dengan Gerda, jika kue ini dijual oleh kalian, pasti akan laku.” Grilda melonggarkan pelukannya dan melihat sosok Zeeta yang sedikit mengeluarkan air matanya.
“Uhm. Terima kasih Bibi Grilda, terima kasih Gerda, tanpa kalian aku tidak akan berhasil...," balas Zeeta, sambil menahan air matanya.
“Kalau kaubutuh bantuan lagi, bilang saja ya Zee, dengan senang hati akan kubantu!” Gerda melemparkan senyum lima jarinya.
“Baiklah!” Zeeta juga melemparkan senyumnya. “Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Aku sudah janji dengan ayah untuk tidak pulang terlalu sore,” sambung Zeeta ingin melepas celemeknya.
“Tunggu!" seru Grilda menghentikan Zeeta. “Bawalah beberapa kuenya dan pamerkan kepada ayahmu, dia pasti akan terkejut."
Mata Zeeta berbinar kembali. Ia sangat berharap Arthur akan terkejut dan menyukai kuenya. “Uhm, baiklah!” dengan tergesa-gesa Zeeta mengambil beberapa keping kuenya lalu membungkusnya dalam sebuah kantung plastik.
“Bibi, Gerda, terima kasih atas hari ini ya..., aku pulang dulu!” Zeeta segera berlari menuju rumahnya. Ketika ia baru saja keluar dari pintu, ia berpapasan dengan Recko dan Danny. Ia tetap berlari dan hanya menyapa mereka.
“Kami pulang!” sapa Recko dan Danny saat masuk.
“Ada perlu apa Zeeta ke sini? Kulihat dia tampak bahagia.” Danny menaruh hasil buruan mereka di atas meja khusus buruan di sebelah dapur.
Untuk menjawab pertanyaan Danny, Grilda menjelaskan apa yang terjadi.
“Jadi... karena itulah dia memutuskan untuk membuat kue, dan kami pun membantunya,” pungkas Gerda. Ia menunjukkan setengah loyang kue berwarna merah dengan bermacam bentuk.
“Apa?! Jadi kue-kue itu buatan Zeeta?! Yahuuu!” Dengan begitu riangnya Danny mengambil sekeping kue dari loyang lalu melahapnya. Sesaat setelahnya, sama seperti reaksi Grilda dan Gerda, ia juga terbelalak.
“Ada apa sampai melotot begitu?” tanya Recko terheran melihat mimik anaknya.
“Diam dan cobalah,” Grilda mengambil satu keping kue lalu memasukkannya ke dalam mulut Recko. Reaksi yang ditunjukkannya juga sama dengan yang lain.
Recko mengunyahnya dengan saksama, sementara itu Danny heboh dengan rasa kuenya.
“ENNAAAKK!” teriak Danny sampai membuat Gerda menutup telinga dengan jemarinya.
“Apa-apaan sih, kau ini? Tidak perlu berteriak juga rasanya tidak akan berubah!” ujar Gerda emosi.
“Yah... hahah ... soalnya perasaanku begitu gembira saat memakan buatannya Zeeta!” wajah bodoh Danny tampak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ih, najis... lagi pula, aku dan Ibu juga membantu, jadi itu bukan masakannya Zeeta saja!” Gerda semakin emosi. “Uhh... kenapa kau ini selalu seperti ini kalau sudah membahas Zeeta, sih....” Gerda akhirnya pasrah terhadap kakaknya.
......................
Zeeta akhirnya sampai di rumahnya, tepatnya di kedai A n’ Z. Dengan semangat yang masih berkobar, ia mendobrak pintu yang lantas membuat seluruh pelanggan terkejut lalu terdiam.
“Ayah! Aku berhasil membuat masakanku sendiri!” Zeeta memamerkan kantong berisi kuenya.
Pelanggan di sana yang terkejut, mendadak terdiam dan menatap Arthur. Sementara Arthur yang kebetulan sedang menaruh pesanan ke meja pelanggan, menggaruk kepalanya lalu mendekat ke Zeeta.
“Hmm? Bukankah rencanamu hari ini adalah berlatih? Juga ... lain kali jangan mendobrak pintu seperti itu.”
Arthur menyambut Zeeta lalu berjongkok di hadapannya. “Tidak sopan terhadap pelanggan, oke?”
“Ah ... uhm. Maafkan aku semuanya....” Zeeta mengatakannya dengan menatap lantai. Para pelanggan A n' Z yang rata-rata pria, menjawab Zeeta dengan senyum sumringah, rona merah di pipi, serta sebuah jempol.
“Bagus, itu baru anak Ayah.” Arthur mengelus kepala Zeeta dengan lembut. “Lalu, katakan pada Ayah, ada apa dengan latihanmu?”
“Hmm..., inilah hasil latihanku!” Zeeta kembali mengangkat kantungnya.
“Jelaskan lebih detil sambil Ayah membuatkanmu cokelat dingin. Oke?”
“Waah ... uhm!” Zeeta mengangguk lalu melemparkan senyumnya.
Tentu saja senyumannya membuat para pelanggan yang didominasi oleh pria ikut tersenyum kembali karena merasakan suatu kehangatan di hati mereka.
“Haah... kue buatan Zeeta, kah...? Aku ingin mencicipinya...,” gumaman seorang pelanggan terdengar telinga Arthur.
Arthur lantas membanting meja dapurnya.
“Kalian para pria bau keringat... ingin makan kue buatan anakku yang masih wangi, cantik, dan jelita ini...? Lewati dulu mayatku!” Arthur tersulut oleh emosi.
“Apaan, dasar pelit! Kami juga manusia, tahu!” protes seorang pelanggan.
“Benar-benar!” sambung yang lain.
“Diam!” Arthur kembali membanting mejanya. Lantas semua pelanggannya pun ikut hening.
“Sudah sudah Ayah... jangan terlalu galak.... Tapi maaf ya semuanya, aku tidak punya cukup kue untuk kalian, jadi jika Ayah mengizinkan, aku akan membuatnya lagi lain kali... boleh?” Zeeta menatap bolak-balik Arthur dan pelanggannya.
“Ya!”
“Tidak!”
Arthur yang menolak dan para pelanggan yang menerima, menjawabnya bersamaan.
“Begitu ya... kalau kalian tidak bisa akur, lebih baik kumakan sendiri!” Zeeta beranjak ke lantai atas sambil membawa kantung kuenya.
“Haah...” Arthur menghela napasnya. “Tunggu, Zee. Karena ini hasil latihanmu, kau juga perlu pendapat orang lain....” Arthur menyerah dengan egonya.
“Hehe... aku sayang Ayah!” Zeeta berlari lalu memeluk ayahnya.
Sama seperti keluarga Recko, mereka yang ada di kedai saat ini, selain Zeeta, berkomentar hal yang sama, yaitu dingin dan enak, lalu rasa manis dari renjie-nya terasa begitu kuat. Tetapi, setelah Arthur mendengar bahwa Zeeta tetap gagal meskipun telah melakukan apa yang ia ajarkan, ia kembali dibuat heran.
“Tidak mungkin bisa begitu... bahkan anak-anak desa saja bisa menggunakan cara itu ... kalau dipikir-pikir, aku belum pernah melihat dia mengeluarkan sihir yang membutuhkan mana lebih banyak... aku harus cari tahu itu besok,” batin Arthur sambil memandangi kuenya.
“Ada apa, Yah? Apa rasanya memang tidak enak?” tanya Zeeta sambil memiringkan kepala.
“Tidak tidak... ini enak, kok. Kau berbakat untuk memasak, Nak.” Arthur tersenyum.
“Terima kasih, Ayah!” Zeeta membalasnya dengan senyuman juga.
Rasa manis dari kerja keras telah dirasakan oleh Zeeta. Dirinya yang sebenarnya mudah menyerah tetap merasakan keinginan kuat untuk bisa berhasil menuju apa yang benar-benar diinginkannya. Meskipun hasilnya tak benar-benar sesuai seperti apa yang diinginkannya, Zeeta sangat puas dan senang akan buah manis yang ia dapatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
anggita
Geilda,, Gerda,, 😱
2021-06-26
1