Usai Marcus disihir oleh Zeeta untuk pulang ke kediaman Alexandrita—tepatnya di ruang kerja Ashley—ia berhasil sampai dengan selamat. Kebetulan, ia membelakangi Grand Duchess yang menganga atas kedatangannya melalui sihir teleportasi yang persis dilakukan oleh orang nomor satu sekerajaan untuk sementara tersebut..
“Marcus!” pekik Ashley. Suaranya mengagetkan Marcus hingga terjatuh. “Bagaimana kau ... apa yang...?” Ashley kebingungan sendiri, dengan matanya yang menyipit.
Marcus segera berdiri lalu berhormat. “Y-ya, Nyonya Duchess! Aku telah kembali dari misi 'pemberian botol pesan kepada Tuan Putri' dan kembali membawa pesan darinya!”
“Pesan...? Yang lebih penting, apa si Tuan Putri juga yang menyihirmu untuk kembali ke sini?”
“Ya! Itu benar sekali, Nyonya Duchess!”
“Ini gila!" batin Ashley, "untuk melakukan sihir teleportasi, kejelian imajinasinya ketika membawa seluruh bagian tubuh seseorang menuju tempat satu ke tempat lain secara instan tidaklah mudah! Bisa saja Marcus salah tempat, atau yang terburuknya Marcus kehilangan bagian tubuhnya... dan yang melakukan ini hanyalah anak kecil usia delapan tahun? Anaknya Alicia? Tidak mungkin...."
Ashley memutari tubuh prajuritnya itu dengan mata yang jeli untuk memastikan ucapan batinnya sendiri.
“Jelaskan padaku bagaimana hasil pertemuan kalian!” sambung Ashley memerintah.
“Baik!” Marcuspun menceritakan semuanya.
......................
“Kudeta, ya... untunglah aku sudah menghubungi bangsawan utama lain dan mereka bersedia membuka penghalang sihirnya....
"Marcus, sampaikan kepada prajurit lain bahwa semua kepala keluarga bangsawan utama akan turun menjemput Tuan Putri. Ketika semuanya sudah tahu, katakan pada anakku agar sampaikan ini kepada rakyat. Kami akan segera bergegas.”
Ashley memakai sarung tangan berwarna putih dan bercorak pohon maple.
“Anu... Nyonya Duchess... bolehkah aku bertanya?"
“Apa itu?”
“Mengapa semua bangsawan utama harus turun?”
“Hahah. Apa kau serius menanyakan itu? Tentu saja untuk menghukum pengkhianat.” Ashley tersenyum kecil lalu pergi dengan sihir teleportasinya. Tanpa diketahui Marcus, Sylva yang sebelumnya baru saja berbincang dengan nyonya-nya, ikut pergi bersama.
Marcus menggumam, “Jika dipikir-pikir lagi, kejahatan yang dilakukan Rowing selama beberapa tahun ini hanya akan bisa ditebus dengan nyawanya sendiri... semua bangsawan utama sudah pasti akan mengambil keputusan untuk mengeksekusi satu keluarga itu. Tapi, mengingat Tuan Putri seperti itu... apakah beliau mampu untuk menjatuhkan hukuman seperti eksekusi?” selagi pergi meninggalkan kediaman Alexandrita menuju markas pasukan.
......................
Ashley menginjakkan kakinya di kediaman Ophenlis. Ophenlis merupakan salah satu dari enam bangsawan utama yang bertanggung jawab untuk memerintah masing-masing wilayah yang diwakilkannya.
Ophenlis sendiri bertanggung jawab pada Wilayah Timur. Tak kalah unik dari kediaman Alexandrita, Ophenlis memiliki kediaman yang mencintai kristal. Hampir seluruh furnitur sampai lantai dan dindingnya adalah kristal. Kristal-kristal ini terdiri dari berbagai macam bentuk. Ada yang prisma, segi empat, tongkat, bahkan ada juga yang berbentuk hati. Kristal ini tidak didapat melalui pertambangan, melainkan sihir milik Ophenlis sendiri, itu berarti kristal-kristal ini dapat dibentuk sesuka hati.
Kediaman Ophenlis sebenarnya sederhana, tidak ada yang begitu menarik selain furnitur dan keseluruhan rumahnya yang dibuat dari kristal. Kediamannya jauh lebih kecil daripada bangsawan utama lain, tanpa memiliki tingkatan lantai dan halaman rumah yang luas. Kediamannya hanya cukup untuk ditinggali keluarga dengan tiga anggota keluarga dan tiga sampai empat pelayan. Kristal yang menjadi rumahnya pun bermacam-macam warna. Ada yang berwarna ungu, merah, ataupun transparan.
Calon penerusnya akan mewarisi nama Ophenlis yang kesembilan. Kepala keluarganya adalah seorang pria berbadan kekar dengan rambut pirang kecokelatan dengan gaya dibelah tengah dan memiliki mata berwarna hijau gelap. Nama pria itu adalah Count Porte von Ophenlis VIII.
Porte sudah menerima kedatangan seekor Peri dua hari yang lalu. Peri itu merupakan rekan Sylva, yang bernama Yuuvi. Meskipun Porte sudah tahu apa yang dilakukan Rowing dua hari lebih awal daripada Ashley, ia bersikeras tak ingin bertindak sebelum Ashley turun tangan terlebih dahulu.
Mengapa?
Alasannya adalah Porte sadar bahwa Ashley akan menjadi kunci penting untuk Zeeta dan ia tidak ingin melangkahi sang Grand Duchess. Disaat yang sama, Porte juga telah memberitahu rakyatnya tentang keselamatan Tuan Putri mereka, dan mereka bersuka cita atasnya.
Keluarga Ophenlis merupakan keluarga pedagang. Selain memproduksi sendiri kristal berharga untuk kediamannya, mereka juga menjual kristal tersebut untuk bahan perhiasan dan juga bangunan untuk siapa saja yang mampu. Porte dikenal sebagai pemimpin yang dermawan dan rendah hati, berbeda jauh dengan penampilan fisiknya. Begitu juga dengan sifat putrinya. Mereka berdua dikenal dengan baik oleh rakyat mereka.
Bisa dibilang Ophenlis telah berhasil memerintah dan mensejahterakan rakyat di Wilayah Timur.
Bukan tanpa alasan Ashley berkunjung ke kediaman Porte. Ashley telah meminta Porte untuk menyiapkan tempat untuk rapat dadakan.
Menerima permintaan ini, Porte merasa senang bahwa Ashley telah kembali menjadi dirinya lagi dan segera melaksanakan permintaan tersebut—untuk merapikan ruang yang tidak terpakai sejak delapan tahun yang lalu, di kediamannya sendiri.
Ruang itu terakhir kali dipakai saat rapat untuk menggantikan posisi Raja dan Ratu untuk sementara. Meskipun setelah delapan tahun lamanya, ruang ini masih dijaga bersih oleh Porte, dan ia tahu waktu seperti ini akan datang. Ruang ini memiliki meja bundar dan luasnya hanya cukup untuk enam kepala saja. Sesuai namanya, para kepala bangsawan utama akan duduk sesuai arah wilayah kekuasaan mereka dalam bentuk lingkaran.
......................
Porte telah menunggu di Ruang Meja Bundar bersama Yuuvi yang duduk di bahu lebar sebelah kanannya. Di masing-masing kursi, terdapat secangkir teh hangat. Porte sudah benar-benar siap untuk mendengar apa yang akan disampaikan sang Grand Duchess.
Tak lama kemudian, Ashleypun datang melalui teleportasinya. Porte segera memberi hormat ala bangsawan kepada Ashley.
“Di mana yang lain?” tanya Ashley setelah memberi hormat balik kepada Porte.
“Kurasa sebentar lagi....” belum tiga detik ia menjawab, dua bangsawan utama lain datang.
“Willmurd Louis de Dormant XVI, datang menghadap, Grand Duchess!” kepala bangsawan Dormant memberi hormat.
“Hellenia von Cloxzar IX, juga datang menghadap, Grand Duchess!” kepala keluarga Cloxzar juga melakukan hal yang sama persis seperti Dormant.
“Terima kasih sudah datang dalam waktu yang singkat. Kalau begitu, mari kita mulai rapatnya.” Ashley duduk lalu diikuti tiga bangsawan lain.
......................
Count Willmurd Louis de Dormant XVI, adalah bangsawan utama penguasa Wilayah Utara. Dia merupakan pria di atas usia primanya. Matanya hanya bekerja sebelah kanan, mata kirinya tak dapat dipakai lagi sebab luka sayatan yang ia terima. Matanya berwarna biru, rambutnya yang sudah memutih diikat satu di balik tengkuknya. Poni depannya dibelah dua. Willmurd memakai setelan jas berwarna hitam, kemeja putih polos dan dasi kupu-kupu berwarna biru, dan hitam di ujungnya. Ia juga membawa pedang rapier di pinggang kirinya.
Willmurd dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan keras. Di wilayah kekuasaannya, ia membuka sekolah prajurit sihir dan sudah cukup banyak pelajarnya. Willmurd juga memiliki penerus yang telah memiliki anak berusia tiga tahun.
Marchioness Hellenia von Cloxzar, adalah wanita lain yang menjadi kepala bangsawan utama layaknya Ashley. Ia bertanggung jawab atas Wilayah Barat. Hellenia, atau biasa dipanggil Hellen, memiliki penampilan yang mempesona. Rambutnya kelabu panjang hingga punggung, matanya berwarna hijau terang. Ia memakai gaun putih panjang berenda. Pada rendanya, terdapat aksesoris berbentuk kupu-kupu berwarna biru dan ungu. Gaunnya dilapisi oleh jaket sweater berwarna krem.
Hellen merupakan wanita yang modis di waktu santainya, dia juga sering cerewet soal penampilan orang-orang di sekitarnya. Meskipun begitu, dia dapat diterima dengan baik oleh rakyatnya karena kepemimpinannya yang tanggap dan selalu logis sampai saat ini. Hellen merupakan wanita di usia tiga puluhan, memiliki adik perempuan yang masih belasan tahun, tetapi ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi adik atau bahkan orang tuanya.
......................
“Tak perlu kujelaskan lebih lanjut lagi mengapa aku mengumpulkan kalian di sini. Para Peri yang ikut bersama kalian sudah menjelaskan alasannya, bukan?” tanya Ashley, yang membuka diskusi.
“Ya, itu benar," jawab Porte, yang dilanjutkan dengan anggukan dari bangsawan lain.
“Aku akan jelas pada kalian. Aku tidak akan memberi keringanan pada Rowing atas perbuatannya, meskipun Tuan Putri kita akan menolak, aku tetap akan mengeksekusi mereka.”
“Grand Duchess,” sahut Willmurd. Ia mengangkat tangan kiri bersarung tangan putihnya.
“Apa, Count Will?” tanya Ashley.
“Lagi pula, semua ini tidak akan terjadi apabila Anda tidak terlalu terbawa perasaan. Walaupun Ratu Alicia adalah murid Anda, dan Beliau juga merupakan mantan muridku, rakyat seharusnya selalu menjadi nomor satu!" Willmurd menatap tajam Ashley.
“Itu benar. Jika Anda tetap tegas seperti ini, apa yang Tuan Garren lakukan di Wilayah Selatan tidak akan terjadi.” Hellen yang setuju menutup matanya.
Porte menyanggah Willmurd dan Hellen. "Tuan Willmurd, Nona Hellen, bukankah kalian juga tahu sendiri bahwa Tuan Garren selalu kita curigai ingin melakukan sesuatu di balik pengawasan Ratu?”
“Sudah, Count Porte. Aku mengerti maksud Count Will dan Marchioness Hellen. Jika kalian menginginkannya, aku tidak segan turun jabatan atau bahkan menuntaskannya dengan nyawaku.
"Tapi saat ini, aku ingin kita fokus kepada Tuan Putri.
"Bisakah kita tunda masalahku setelah Tuan Putri selamat?”
Willmurd dan Hellen setuju dan mengangguk atas ucapannya.
“Terima kasih," sambung Ashley.
“Menurut prajuritku yang telah kukirim ke kediaman Count Garren, kondisi dirinya dan istrinya di luar akal sehat sebab seorang anak berusia sebelas tahun bernama Azure, yang berasal dari desa Lapis, mengutuk mereka dengan sihirnya.”
“Ho? Desa Lapis, kah?” Willmurd tersenyum kecil.
“Kulanjutkan. Anak mereka, Bastanil, lolos dari sihirnya Azure, sebab ketika ia menyihir keduanya, ia tak mengetahui mereka telah memiliki anak. Oleh karena itu, setelah pembunuhan massal yang dilakukan Count Garren dan Bastanil demi mencari Tuan Putri, Azure merasa bertanggung jawab.
"Untuk anak bernama Azure ini, meskipun dia sudah mengutuk seorang bangsawan utama, aku ingin pengecualian dari kalian.”
“Pengecualian? Apa maksud Anda?” tanya Hellen.
"Itu—"
“Tuan Putri kalian masih di usia belianya!" tegas Falmus, yang menyerobot Ashley. "Ia membutuhkan teman di ibu kota agar ramalan Ratu Peri bisa dicegah. Apa pun tindakan kalian kepada Tuan Putri akan memengaruhi masa depan kerajaan ini!”
Falmus diutus oleh Ratu Peri kepada Dormant.
“Kuingatkan pada kalian, pria bernama Arthur yang menjadi ayah angkat Tuan Putri kalian, selalu mengingatkan bahwa Rowing adalah bangsawan yang licik. Apa kalian tidak berpikir jika kalian hanya membuang waktu kalian di sini?” Falmus bertolak pinggang.
“Arthur?” Willmurd membatin.
"A-A-Arthur, katanya?!" batin Hellen gelagapan. Ia berusaha keras agar rona merahnya tidak tampak. "Bukankah Arthur pergi ke desa dimana Tuan Putri datang...? Jangan-jangan...."
"Peri, kau ada benarnya, tapi sebagai Grand Duchess dan atas perjanjian kami, aku tidak bisa—“ Ashley yang belum selesai berbicara, dipotong oleh Peri perempuan yang ikut dengan Hellenia.
“Kalian sudah terlambat.” Peri perempuan itu memiliki rambut seputih salju, mata biru yang tak mencerminkan cahaya, dan tampak sedih.
Tak lama setelah Si Peri Perempuan mengatakannya, sebuah ledakan terjadi dan menggetarkan seluruh kerajaan.
“A-apa yang terjadi?!” Hellenia bangkit dari kursinya dan membuka jendela kristal di belakangnya. Saat mendapati apa yang terjadi, keempat bangsawan utama itu menganga. Mereka tak dapat percaya apa yang sedang mereka saksikan.
Sebuah pilar cahaya berwarna putih, dan biru di bagian luarnya menjulang tinggi hingga langit. Atas kemunculan pilar yang muncul secara mendadak itu, angin menerpa daratan dengan dahsyat sebagai dampaknya. Porte segera bertindak untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi. Ia menciptakan kristal melalui tangan kirinya menjadi sebuah teropong. Ketika sudah melihatnya, ia berkata, "Gawat...!"
“Grand Duchess!” Porte harus berteriak akibat angin yang masih menghembus kencang. “Cahaya itu berasal dari kediaman Rowing!”
“Apa katamu?! Kalian, kembalilah ke Wilayah kalian masing-masing dan pasang penghalang untuk keselamatan warga! Aku akan menyusul Tuan Putri!”
“Baik!” tiga bangsawan utama itu segera memakai teleportasi mereka, sementara para Peri tetap tinggal di sisi Ashley.
“Peri? Ada apa?” tanya Ashley.
“Ramalannya...." Yuuvi menatap tanah, seakan pasrah.
Ashley terbelalak, kemudian dengan yakin berkata, “Tidak! Tidak akan kubiarkan meskipun nyawa taruhanku!” Ashley segera menyusul Zeeta dengan teleportasinya.
......................
“Haaah ... padahal aku sudah melarangnya... Zeeta malah mengabaikanku...,” kata Peri perempuan yang ikut memandangi pilar cahaya itu.
“Tunggu... siapa kau? Kau ... bukan peri, ‘kan?” Falmus menarik mundur Sylva dan Yuuvi agar menjauh darinya.
“Ahaha... akhirnya ketahuan, ya?” Peri perempuan itu tersenyum. “Tidak perlu khawatir, aku ada di pihak kalian, kok. Untuk saat ini.”
“Bagaimana bisa tidak khawatir di situasi yang seperti ini, dasar bodoh?! Siapa kau?!” hardik Falmus.
“Untuk apa kalian khawatir? Lagi pula para Peri tidak diizinkan untuk terlalu ikut campur dalam masalah Manusia, bukan? Ratu Peri hanya memberi kalian misi untuk menyampaikan perbuatan Rowing kepada bangsawan-bangsawan itu agar si Grand Duh atau apalah itu bisa dipercaya dengan mudah lagi oleh mereka, dan memberitahu perubahan situasi di antara Peri.” Peri perempuan itu masih dalam senyumnya.
“Aku tidak tahu siapa kau dan mengapa kau berbicara sok hebat seperti itu... tapi jika Zeeta tetap dalam kondisinya di sana, maka nyawamu pun akan ikut hilang.” Sylva ikut menimbrung percakapan.
“Oh, kau ada benarnya. Lalu? Apa yang bisa ku... tidak, kalian lakukan? Kalian bukan teman atau bahkan keluarga Zeeta, untuk apa mengkhawatirkannya?
"Jika kalian MEMANG mengkhawatirkan Zeeta, kalian tidak akan hanya fokus pada bangsawan-bangsawan itu.
"Kalian seharusnya tetap bisa membantu Zeeta, seperti aku yang mencoba mencegahnya masuk menemui Garren.”
Tiga Peri itu terpojok atas ucapannya.
“Sylva, aku tidak akan mengecualikanmu. Kau tetap tak melakukan apapun disaat Zeeta benar-benar butuh bantuan. Kau merahasiakan keselamatan keluarganya dan membuat dia jatuh menangis? Untuk apa memangnya? Apa tujuanmu? Memangnya kalian pikir kalian siapa? Hanya dengan tingkat sihir berbeda jauh dan memiliki keistimewaan tersendiri, kalian pikir kalian hebat?” Peri perempuan itu melempar pertanyaan demi pertanyaan.
“Hahaha ... sudahlah, lebih baik aku ikut mengawasi mereka. Tidak seperti kalian, aku TIDAK terikat perjanjian!” Peri perempuan itu terbang menjauhi Sylva, Yuuvi dan Falmus.
“Cih! Siapa dia sebenarnya?!” Falmus masih terbawa emosi.
“Kenapa Ratu Peri merahasiakan sesuatu dari kita?” Yuuvi bertanya-tanya.
“Kita juga bahkan tidak menyadari dia menyamarkan dirinya menjadi Peri... apa yang sebenarnya terjadi? Ini tak ada dalam ramalan yang diceritakan Ratu.” Sylva menduga-duga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
anggita
trus, berkarya.,👏💪
2021-06-26
2