Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian “menghilang”-nya Zeeta di hutan. Para kepala keluarga juga telah melakukan pertemuan dengan Kepala Desa untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi. Dalam kesimpulan mereka, hilangnya Zeeta pasti berhubungan dengan Peri yang tak bisa mereka lihat, sebab Zeeta kembali secara misterius dan terlalu tiba-tiba.
Dalam rapat kepala keluarga tersebut, Arthur juga memaparkan bahwa alasannya mengizinkan Zeeta ikut pergi ke dalam hutan adalah ingin para Peri menyadari keberadaan Zeeta.
Tak lebih, dan tak kurang.
Namun sayangnya, perkiraannya salah besar. Para Peri justru ikut menurunkan tangannya pada Zeeta. Arthur menambahkan, bahwa dirinya pun telah menginterogasi Zeeta apa yang terjadi setelah ia minum air dari sungai, tetapi Zeeta sama sekali tidak ingat.
Hal tersebut juga yang menjadi poin lain mengapa Arthur dan kepala keluarga lain setuju jika Peri telah turun tangan, karena hanya sihirlah yang dapat membuat Zeeta lupa. Apalagi, sihir yang membuat seseorang terlupa akan kejadian tertentu secara spesifik butuh mana yang tidak sedikit.
Para kepala keluarga pun tersadar, bahwa mereka hanya memiliki waktu tiga tahun lagi untuk menyimpan rahasia dari ibu kandungnya dan rahasia tentang kewajiban yang harus Zeeta lakukan. Hal ini tidak mudah mereka lakukan, karena Zeeta sudah menjadi bagian dari keluarga Lazuli sejak dirinya masihlah bayi.
Walaupun kondisi sebenarnya tidak lagi terlalu damai, Zeeta masih bersenang-senang dengan teman seusianya. Kadang mereka juga berlatih sihir bersama-sama yang dipandu oleh satu-satunya orang yang memiliki mana terbesar di desa Lazuli—Arthur.
Hari-hari Zeeta semakin berwarna dengan dirinya yang sudah semakin terbiasa untuk membantu Arthur di kedai. Zeeta juga semakin terkenal sampai desa-desa tetangga karena kelincahannya saat membantu Arthur meskipun dia masih lima tahun.
Hampir serupa dengan hasil yang didapat oleh Danny yang kesehariannya membantu Recko berburu—yang membuatnya terbiasa membawa beban berat dan juga teknik menembak yang cukup hebat untuk seusianya—Zeeta juga mendapatkan hasil tersebut. Namun bedanya, Zeeta memiliki bakat dalam memasak, ditambah kesehariannya yang selalu berlatih sihir bersama Arthur.
......................
Suatu sore, ketika akhir pekan dan kedai A n' Z sedang libur, Zeeta tampak murung dan hanya menghela napasnya berulang kali meskipun di depannya ada minuman kesukannya, cokelat panas. Hal ini tentu saja membuat Arthur bertanda tanya. Tanpa menunggu dan ragu, ia segera duduk di sebelah putrinya.
Arthur memulai pembicaraan dengan bertanya, “Ada apa denganmu? Nanti gelasnya akan bau dengan bau mulutmu, lho.” Arthur menyelingi sedikit candaan.
“Biarkan saja! Lagi pula ini gelas kesukaanku. Jadi terserah mau kuapakan, ‘kan!” Zeeta membalas ayahnya dengan nada kesal.
“Hmm ... apa ini ada hubungannya dengan hasil latihanmu?”
Mendengarnya, Zeeta mengalihkan kepalanya ke sudut lain.
“Uugh... bagaimana Ayah bisa tahu...?” tanya Zeeta yang sedikit menggerutu.
“Karena aku adalah Ayahmu, Nak. Jadi, apa yang membuatmu sampai seperti ini?”
Zeeta akhirnya mau bercerita. Ia mengubah posisi duduknya dengan bertatap langsung dengan Arthur.
“Tadi aku habis main dengan teman-teman. Kami berlomba kecepatan untuk membesarkan buah renjie milik bibi Grilda.
"Semuanya hanya butuh lima detik dan aku sama sekali tidak bisa membesarkan buahnya! Padahal membesarkan sesuatu bukanlah hal yang sulit dan aku bahkan selalu berlatih dengan Ayah hampir setiap hari!
"Tapi ... kenapa?”
Rintik air mata mulai jatuh perlahan di pipi gadis kecil itu.
Arthur menghela napasnya sedikit lalu mengelus rambut anaknya. “Harus Ayah katakan padamu berapa kali, Nak? Jika sihir tidak sesuai yang kauharapkan, ada dua penyebabnya.
"Imajinasimu tidak jelas atau sihirmu yang kurang.”
“Tapi aku biasanya selalu berhasil menggunakan sihirku saat membantu Ayah, tapi kenapa kali ini tidak bisa?!”
Arthur bungkam sesaat dan matanya terlihat curiga. Kemudian, ia menjawab, “Mungkin saja imajinasimu yang tidak jelas.
"Seharusnya kukatakan ini, tetapi sebenarnya renjie tidak akan tumbuh begitu saja hanya dengan imajinasi untuk membuatnya besar.
"Mengapa demikian?
"Karena buah renjie adalah bagian dari alam, maka caranya tidak sama dengan menggunakan sihir di keseharianmu. Mungkin ini masih sulit dimengerti untukmu, tapi lihatlah ini....”
Arthur beranjak dari kursinya untuk mengambil sayur yang ada di kulkas.
“Tomat ini masih baru dipetik tadi pagi dan kau masih bisa membuatnya tumbuh besar meskipun tidak tertanam lagi di tanah. Dengan kata lain, kau bisa menyihirnya,” kata Arthur sambil berjalan dan duduk kembali di sebelah Zeeta.
“Tetapi tomat juga sama seperti renjie—bagian dari alam. Untuk menyihir sesuatu dari alam yang telah memiliki mana-nya sendiri, kau butuh imajinasi yang lebih detil dari sekedar ingin dia besar,”
“Hah...? Maksudnya bagaimana, Yah?”
“Perhatikanlah dengan saksama.
"Supaya bisa menumbuhkan tomat ini, kauharus berimajinasi untuk menumbuhkan biji, ukuran, dan rasa yang kauinginkan. Tetapi, karena tomat adalah bagian dari alam, jika kau memberinya terlalu banyak sihir dari manusia....”
Arthur mempraktikannya tepat di hadapan Zeeta.
Tomat yang sebelumnya berwarna merah segar, perlahan-lahan layu dan berubah menjadi ungu.
“Tomat ini tidak akan jadi tomat lagi. Jadi, yang harus kaulakukan untuk menyihir sesuatu dari alam, kau harus berimajinasi dengan lebih jelas.
"Ingat tiga macam ini jika kau akan melakukannya sewaktu-waktu. Yang harus kau imajinasikan lebih jelas adalah luar, dalam, dan isi.”
“Luar... dalam... dan isi....
"Baiklah!"
“Tapi ingatlah ini juga," sela Arthur yang segera menarik lagi perhatian Zeeta, "mana manusia tidak akan cocok dengan mana alam. Jika kau memberinya terlalu banyak sihirmu, maka dia akan rusak. Namun, jika kau dicintai oleh alam, maka semuanya akan berbeda.”
“Dicintai alam...?” Zeeta seperti teringat sesuatu.
“Selama aku hidup, aku tidak pernah melihat manusia dicintai oleh alam...” sosok kecil samar-samar terpintas di pikirannya.
.
.
.
.
“...Ee...!"
"Zee...!"
"Zeeta!”
Suara ayahnya menyadarkan Zeeta.
“I-iya?!”
“Ada apa? Apa kau sudah mengerti sekarang?”
“Uhm! Sangat mengerti! Itu berarti aku hanya kurang berlatih, bukan?”
Arthur tersenyum. “Hahaha. Kau benar.”
Arthur lalu berjalan menghampiri tempat sampah dan membuang tomat busuknya. Ia mengira pembelajaran singkat malam ini akan berakhir saat Zeeta terdiam, tetapi ia salah.
“Hei Ayah... menurut Ayah, apa aku bisa sepertimu?”
Arthur melihat sosok putrinya tengah memeluk gelas cokelat panasnya dengan tangan mungilnya.
“Menjadi koki? Tentu saja bisa.”
“Aku juga ingin jadi koki... tapi ... apa aku bisa mahir menggunakan sihir seperti Ayah?”
“Hmmm....” Arthur terlihat sedang berpikir, tapi Zeeta menganggapnya itu adalah sebuah keraguan.
“Tidak bisa, ya...? Lagi pula selama ini, sihir yang bisa kugunakan hanya untuk membantu Ayah membawa barang-barang saja....” Zeeta menjadi sedih.
Merasa bertanggung jawab atas sikapnya tadi, Arthur memperbaiki jawaban yang seharusnya ia ucapkan.
“Kau pasti bisa, Nak. Jika kau terus berlatih dan terus mengasah kemampuan berimajinasimu, maka kau bisa sepertiku. Bahkan mungkin melewati kemampuanku!
"Tapi, Nak... meskipun kau tidak bisa sama sepertiku, kau masih memiliki banyak impian lain yang bisa kau tuju. Ingatlah bahwa Ayah tidak akan mempermasalahkan jika kau tidak mahir menggunakan sihir sepertiku sekalipun.
"Mengerti?”
Zeeta termenung sembari menundukkan kepalanya. “Baiklah....” Ia menjawabnya dengan pelan.
“Kalau begitu mari tidur. Besok kita akan disibukkan dengan pelanggan!” sesaat setelah Arthur beranjak untuk naik ke lantai dua, Zeeta menghentikan ayahnya.
“Aku memang ... tetap ingin seperti Ayah! Ja-jadi ... apa aku boleh libur membantu Ayah besok supaya aku bisa berlatih sendiri?”
Arthur tersenyum. “Tentu saja, jangan pulang terlalu sore, ya!” Arthur melanjutkan langkah kakinya untuk naik. Setelah Zeeta lega, ia mengikuti ayahnya untuk tidur juga.
......................
Keesokan paginya, pada pukul delapan pagi, Arthur membalik tanda "tutup" di pintu kedainya menjadi "buka". Kemudian, ia berjalan ke dapurnya untuk memakai celemek berwarna putih, setelah itu ia mengikat rambut panjangnya. Pria tampan ini melanjutkan kegiatannya dengan memasak bekal untuk Zeeta bawa latihan nanti.
Sementara dia sibuk dengan kegiatannya, di lantai dua, Zeeta juga sedang mengganti piyamanya dengan gaun dan celana panjang sebagai tambahan modenya. Setelah selesai berganti, ia melompatkan dirinya ke kasur.
“Masih banyak hal yang harus kupelajari sebelum aku bisa mahir seperti Ayah... tapi....” Zeeta terganggu dengan ingatan samar-samar tentang makhluk kecil itu. “Kalau dongeng desanya benar, berarti legenda tentang kutukan penyihir itu juga benar...!
"Kalau begitu, apa ada orang lain selain penyihir itu yang dicintai alam?”
Zeeta bangkit dari kasurnya lalu berdiri dengan pose bertolak pinggang. “Sekarang bukan waktunya memikirkan itu! Akan aku buktikan kalau aku bisa mahir seperti Ayah!” dia mengepalkan tangannya dan siap untuk berlatih hari ini.
“Zeeta, apa yang kaulakukan di atas? Cokelat panasmu akan dingin kalau kau terlalu lama!” Suara ayahnya yang terdengar kecil sebab dari lantai satu, membuat Zeeta sedikit gelagapan saat mendengar minuman favoritnya itu akan dingin.
“I-i-iya, aku turun!” Zeeta melompat dari kasurnya lalu berlari untuk menjemput cokelat panasnya.
Setelah meminum setengah gelas cokelat panasnya, ia diajak bicara oleh ayahnya. “Apa rencanamu hari ini?” tanya Arthur sembari menyiapkan bahan-bahan mentah seperti daging, sayur, dan bumbu-bumbu dengan sihirnya.
“Aku akan izin meminta satu buah renjie dari bibi Grilda, lalu mencoba apa yang Ayah ajarkan padaku semalam. Aku harus pastikan apakah aku bisa atau tidak. Jika aku tidak bisa, aku akan langsung berlatih!” tampak dari wajah Zeeta bahwa ia benar-benar serius.
“Wah, bagus sekali, Nak! Tapi Ayah tidak mau kau mendekati hutan untuk sementara, karena ketika kau berburu dengan Recko dan Danny, kau sempat menghilang! Ayah tak mau hal itu terjadi lagi, oke? Dan jangan pulang terlalu sore!”
“Tenang saja, Yah, karena aku tak akan sendiri!”
“Hmm? Kau akan mengajak seseorang?”
“Uhm. Aku berencana mengajak Gerda untuk menemaniku.”
“Oh, adik perempuannya Danny, ya? Ya ... baiklah, karena kau akan membawa teman berarti kau perlu dua bekal, bukan?”
“Uhm! Terima kasih, Ayah!”
......................
Di bawah terik hangat mentari, Zeeta tengah menenteng sebuah keranjang berbentuk tas yang berisi dua bekal dan dua minuman yang masih hangat, yaitu susu madu.
Dia telah sampai di halaman rumah milik Recko dan Grilda. Grilda tidak hanya berkebun dari perkebunan milik desa sebagai penghasilan, tapi dia juga memiliki kebun pribadinya sendiri, yang dikhususkan untuk buah renjie. Rasanya yang manis dan kaya akan air sangat disukainya!
Setelah menunggu beberapa saat di depan pintu, Grilda datang menyambut Zeeta. Usai memberi tahu keperluannya pada Grilda, ia diberi izin untuk memetik sebuah renjie lalu memasukkannya ke dalam tas yang ia tenteng.
Namun sayangnya, Gerda yang ada di daftar rencananya harus tercoreng karena sedang ikut Danny dan Recko untuk menjual beberapa daging hasil buruan ke perbatasan desa dengan kerajaan—gerbang selatan.
“Baiklah, terima kasih, Bibi. Aku pergi dulu!” Zeeta mengangkat kakinya dari sana dan menuju tempat lain yang sepi untuk berlatih.
Zeeta tak memiliki tempat lain selain menuju tepi sungai. Ia beruntung karena hari ini tidak terlalu banyak orang di sana. Setelah menyapa beberapa warga desa di sekitarnya, ia akhirnya bisa melonggarkan kakinya di tanah untuk sesaat.
Ia menatap sisi kanannya. Tampak sebuah istana yang terlihat kecil karena terpaut jarak dengan desanya.
“Kata ayah, banyak bangsawan yang sering jahat kepada kami.... Aku tak mengerti kenapa alasannya... tapi kalau bisa, aku ingin tahu kenapa mereka bisa jahat...," gumamnya sembari menatapi istana itu.
Setelah memandangi istananya cukup lama, ia kembali fokus pada tujuannya hari ini. Ia mengeluarkan buah renjie dan memulai latihannya. Karena tepi sungai berseberangan dengan kebun desa, terdapat seekor peri yang mengawasi Zeeta dari kedalaman kebun....
......................
Matahari telah berada tepat di atas kepala manusia. Zeeta telah memakan dua bekal yang disiapkan ayahnya dan kini tengah duduk meringkuk sambil mengucurkan tangisnya. Buah renjie yang ada di hadapannya tidak berubah sama sekali sejak tadi pagi. Ia menelantarkan buah itu begitu saja.
“Ah, di sini kau rupanya!” suara seseorang yang ia kenal tak mengubah posisinya. “Aku dengar dari ibu, kau ingin aku menemanimu latihan. Jadi—“ mendengar isak tangis dan buah renjie yang dibiarkannya membuat ia mengerti. Gerda, adik perempuan Danny, duduk di sebelah Zeeta.
Gerda memiliki rambut pirang panjang yang diikat kepang satu dan ditaruh di bahu kiri depannya. Matanya berwarna hijau permata. Ia seperti Grilda versi kecil.
Gerda mendekati Zeeta lalu menempelkan tubuh Zeeta dengannya. “Hei. Tadi aku mengetahui sesuatu yang konyol... apa kau mau tahu?” tanyanya yang tidak direspon Zeeta.
“Saat kamu dalam perjalanan menuju gerbang, kami bertemu bangsawan yang katanya hendak berlibur. Kendaraan yang mereka naiki begitu mewah! Pokoknya semuanya berkilauan sampai Danny harus menarikku agar tidak menganggu mereka.
"Mereka berhenti di hadapan kami, karena tertarik untuk membeli daging hasil buruan ayahku! Ayahku hebat, bukan? Sampai bangsawan, loh, yang membelinya!”
Antusiasme Gerda tersampaikan pada Zeeta. Kini ia mengusap air matanya untuk menyimak Gerda yang bercerita.
“Tapi, hal konyol yang kuketahui adalah ... anak dari bangsawan itu saaaaangat tidak berguna!”
“Be... benarkah...? Kenapa begitu?” bersama dengan sesenggukannya, Zeeta bertanya.
“Dia selalu saja ada di gendongan ibunya! Padahal dia sudah sebesar kita!”
“He? Yang benar? Padahal kita sudah bisa membantu orang tua ini dan itu... tetapi bangsawan itu tidak?”
“Tanyakan pada Danny kalau tidak percaya! Setelah mereka pergi, ayahku bilang kalau kita harus bangga meski dari desa. Kita sudah bisa melakukan banyak hal sementara bangsawan hanya dimanja! Padahal kukira bangsawan itu menakutkan seperti kata orang tua kita, tapi ternyata ada sesuatu seperti ini... hahahaha!” Gerda tertawa terbahak-bahak saat mengingat anak bangsawan yang diceritainya tak bisa buat apa-apa selain bernapas dalam dekapan gendongan ibunya.
Zeeta menjadi ingat perkataan Arthur semalam. Meskipun ia tidak mahir bersihir, ada impian lain yang bisa ia tuju. Ia pun segera berpikir untuk mengganti semua rencana latihannya setelah mendengar cerita Gerda.
“Hei, aku ingin mencoba sesuatu, mau membantuku?” tanya Zeeta saat Gerda masih tertawa.
Tampaknya, dari mimik wajahnya, Zeeta akan melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia lakukan sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
anggita
keren jg blajar sihir.,
2021-06-26
2