Marcus, usia delapan belas tahun, adalah salah seorang prajurit dari pasukan Grand Duchess Alexandrita. Dirinya baru saja memasuki tahun keduanya bersumpah setia terhadap Alexandrita.
Alexandrita adalah keluarga bangsawan yang begitu ia dambakan. Sudah jadi kebanggaan tersendiri untuknya jika sang Grand Duchess Ashley mengingat namanya. Malam ini, adalah malam paling mendebarkan untuknya. Sang Grand Duchess telah kembali menjadi dirinya sendiri yang selalu ia kagumi, apalagi dia diberi misi khusus langsung dari idolanya, tepatnya misi dadakan untuk memberikan sebuah pesan kepada Tuan Putri. Ia penasaran seperti apakah Tuan Putri yang nantinya akan memimpin kerajaan matrinial ini.
Setelah mendengar percakapan dan mulai memahami situasi yang dialami Zeeta, sang Tuan Putri, Marcus bertekad untuk membantu Tuan Putrinya dengan segenap tenaganya. Senyumannya begitu berharga, siapapun yang mendapat senyumnya pasti akan merasa bahagia, begitulah pikirnya. Tidak hanya itu, Marcus juga melihat sendiri betapa kuatnya mana milik Zeeta. Ia dapat menyembuhkan kondisi anak perempuan usia sebelas tahun itu dalam sekejap—yang untuk bangsawan sekalipun, itu menguras mana yang tidak sedikit.
Tuan Putri yang ada di hadapannya saat ini juga membuat Marcus sadar akan sesuatu. Walaupun ia hanya seorang anak yang lebih muda sepuluh tahun darinya, caranya memerintah berkharisma dan ia merasa senang melayaninya.
Menjadi bawahan dari bangsawan yang melayani langsung keluarga kerajaan sekaligus dipercayai oleh Tuan Putri yang terus berusaha dengan segenap kemampuannya, merupakan kehormatan besar bagi Marcus dan ia tidak akan mengkhianati harapan dua bangsawan paling penting di negeri ini.
......................
“Ngomong-ngomong Marcus, bagaimana caramu kaudatang ke sini? Kaudengar sendiri jika kota kecil di sebelah sudah dicuci otak oleh Rowing, tidak mungkin kaubisa ke sini tanpa luka." Zeeta bertanya.
“Ah, soal itu... aku dikirim Nyonya Alexandrita dengan sihir teleportasinya,” jawab Marcus. Ia telah membuka gembok selnya dengan kunci yang sudah diberikan oleh penjaga sebelumnya.
“Hmm... teleportasi, kah? Bisakah kauberitahu bagaimana kediaman Alexandrita itu?”
“Z-Zee... jangan bilang kau...?” Azure menebak-nebak.
Zeeta menyeringai. “Kakak benar. Aku akan menteleportasi Marcus kembali.” Zeeta menjawabnya seperti tak ada beban untuknya.
“Tu-tunggu dulu, Tuan Putri! Apa Anda yakin akan menggunakan sihir Anda untuk orang seperti aku? Tolong simpan mana Anda untuk saat yang genting!” seru Marcus, yang menolak merepotkan Tuan Putrinya—dan tentu saja bukan karena takut. Tentu saja bukan.
“Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Aku sudah biasa membantu orang-orang di desaku dengan sihir yang kubisa. Selain itu ... aku juga seperti dibisiki oleh seseorang yang berharga untukku agar tetap membantu orang.” Zeeta menyentuh anting bulan purnamanya dengan jemarinya. “Cepat, kita tidak ada waktu untuk terus berdebat disini!”
“Ba-baik!” Marcuspun memberitahu Zeeta secara detil gambaran kediaman Alexandrita. Untuk mempermudah Zeeta bersihir, ia memberi pinpoint di ruang kerja Ashley.
“Hmm. Begitu. Baiklah!” Zeeta yang sudah mendapat gambaran jelasnya melakukan hal yang sama dengan Ashley untuk menteleportasikan Marcus.
Cahaya biru datang menyilaukan pandangan Azure dan Zeeta dari tubuh Marcus. Keduanya terpaksa menutup sedikit mata. Ketika cahaya itu sudah hilang, Marcus tak ada di tempat ia berdiri sebelumnya.
“Kau berhasil?” tanya Azure.
“Entah.” Zeeta berjalan meninggalkan Azure untuk keluar dari penjara.
Azure menyusul Zeeta, lalu bertanya, “Eh? Kenapa kau begitu santai? Bagaimana jika kau salah tempat?”
“Ayahku selalu berisik tentang kejelian imajinasiku agar sihir yang kukeluarkan tidak gagal, jadi aku bisa bilang dengan yakin dia pasti sampai ke tempat. Tapi, aku tidak bisa yakin dia akan jatuh dari ketinggian atau sampai dengan selamat.”
“Cih, dasar bangsawan... begitu entengnya bicara soal sihir...,” gumam Azure, yang terdengar sampai telinga Zeeta. Zeeta terhenti, lalu meminta maaf.
“Aku hanya bersikap seperti aku yang dulu. Jadi, jika aku membuatmu marah aku minta maaf....” Zeeta menatap menundukkan kepalanya.
Azure merasa bersalah atas ucapannya. “Tidak tidak tidak tidak! Itu hanya candaan! Aku juga bersikap seperti biasa, aku juga tidak bisa menahan ucapanku....” Azure gelagapan dengan situasi caaanggung ini.
“Ah... ahahahaha!” Zeeta tertawa. Tawanya itu membuat Azure merona merah.
“Ke-kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?!”
“Ternyata Kak Azure punya sisi imutnya juga, ya! Kukira kau hanya bisa galak seperti tindakanmu pada Marcus!” Zeeta tersenyum lebar.
“Dasar usil.” Azure memukul pelan kepala Zeeta.
......................
Ketika Zeeta dan Azure sampai halaman utama kediaman Rowing, apa yang telah menunggunya tak ada dalam rancangan rencana mereka. Puluhan prajurit dan Bastanil yang ada di barisan paling depan telah mengacungkan senjata dan sihir mereka.
“Apa yang kaulakukan, Bastanil?!” Azure tak menduga bahwa Bastanil akan mengacungkan sihirnya pada Tuan Putri mereka. Menanggapinya, Azure juga menyiapkan butiran mana ungu di tangannya.
“Apa yang sedang KU-lakukan? Hahaha... jenaka sekali. Apa kalian pikir aku akan diam saja setelah Grand Duchess menghancurkan penghalang kami dan sedang dalam perjalanannya kesini?!” tawanya tidak diisi rasa senang sama sekali. Tak lama kemudian, ia melotot ke arah Zeeta dan menunjuknya.
"Guru sihirnya ibu? Dia sedang ke sini?!" batin Zeeta, yang menemukan secercah harapan lagi.
“Hei, bangsawan palsu!” jerit Bastanil. “Gunakanlah sihirmu untuk mengangkat kutukan sihir orang jelata itu dari orang tuaku!” Bastanil menunjuk Azure.
Zeeta mengatur napasnya agar ia tenang. “Aku bisa melakukannya," jawabnya sambil berjalan mendekati Bastanil. “Dengan syarat, aku akan bernegosiasi dengan Tuan Garren.”
“Ho?” dahi Bastanil mengerut sebelah. “Negosiasi, katamu?” Bastanil memejamkan matanya sejenak. “Prajurit, turunkan senjata kalian." Ia memerintah sambil mengangkat tangan kanannya.
“Jangan lakukan itu!” sebuah suara terdengar oleh Zeeta. Di saat yang sama, angin menghembus kencang pepohonan dan tumbuhan yang ada di sana.
“Siapa itu!?” tukas Zeeta yang kemudian menoleh kanan dan kiri.
“A-ada apa, Zee?” Azure nampak cemas. Sementara itu, Zeeta tak melihat adanya orang yang bersuara.
“Ti-tidak... aku hanya mendengar suara saja....”
“Heh. Dasar bangsawan palsu. Paling itu hanya roh atau hantu dari orang-orang desa kotor macam anak di sana yang baru saja kubakar, tidak perlu kaupikirkan, dasar aneh," timpal Bastanil.
“Apa katamu?!” Azure berniat menyerang Bastanil. Bastanil tampak waspada terhadapnya, tetapi Zeeta menghalangi Azure.
“Tenanglah, Kak Azure.” Mimik serius Zeeta membuat Azure bisa menenangkan diri. "Aku bisa menangani ini."
“Siapa suara itu tadi...?” batin Zeeta yang hilang arah menemukan jawabannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
Alwinn
Keren. Like my story back Ok.
2021-07-24
1
anggita
like 👌dari Pendekar Tanpa Kawan.,
2021-06-26
1