Mentari masih sedikit merasakan kantuknya meski telah tiba tugasnya untuk menerangi Bumi. Saat itu, Zeeta yang bersama Danny dan Recko telah berangkat menuju hutan untuk berburu sesuai janji yang Recko berikan.
Di punggung Recko terdapat senapan andalannya yang selalu ia bawa ketika ia akan berburu sebagai kesehariannya. Sementara Danny, ia membawa keranjang anyaman berukuran besar di punggungnya dan sebuah ketapel disertai peluru batu di kantung khusus yang ia selipkan di pinggangnya. Lalu ada Zeeta yang memakai gaun biru muda polos. Ia hanya membawa tubuhnya, tidak lebih dan tidak kurang.
Danny telah terbiasa membawa beban-beban yang cukup berat untuk anak seusianya akibat kesehariannya yang ikut membantu Recko berburu. Jalanan yang tidak mulus di hutan, serta kondisi yang selalu tidak pasti membuat Danny semakin kagum akan sosok ayahnya yang memiliki julukan "Recko si Pemburu", karena hanya ayahnyalah yang bisa masuk lebih jauh ke dalam hutan daripada orang lain yang tidak berani karena suatu dongeng turun temurun dari penduduk lokal.
Hutan yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari kebun milik warga desa. Tetapi sebenarnya, hutan yang mereka tuju bukanlah hutan biasa. Menurut dongeng turun temurun warga, hutan ini dihuni oleh makhluk yang katanya hanya ada di buku dongeng, yaitu Peri. Sayangnya, nyaris tiada satupun dari mereka yang pernah melihat bahwa sosok itu nyata keberadaannya.
Secara kasat mata, hutannya memanglah seperti hutan biasa. Tinggi, lebat, dan juga sejuk, serta memiliki banyak kehidupan hewan di dalamnya. Tetapi menurut dongeng tersebut, hutan itu justru jauh dari kata biasa. Kenampakan alam ini memiliki pemandangan yang sangat indah karena Peri yang tinggal di sana. Meski penduduk desa belum pernah melihat sosok Peri yang selalu disebut di dalam dongengnya, mereka tetap menjalankan apa yang dilarang di dongeng, yaitu untuk menjauhi hutan ketika matahari telah terbenam.
......................
Recko memimpin jalan sementara Zeeta digandeng oleh Danny dengan tangan kirinya. Jalan yang terjal dengan akar pohon yang menjulang ke atas tanah, serta lumut yang membuat terpeleset jika tidak hati-hati membuat Zeeta sedikit kewalahan.
Beberapa saat setelah mereka menyusuri hutan, Recko terhenti dan segera bertelungkup serta menyiapkan senapan dari punggungnya. Zeeta dan Danny menunggu Recko sedikit jauh darinya. Mereka bisa melihat ada rusa yang sedang dibidiknya, dan....
'PWSHH!'
Rusa itu seketika terjatuh. Tanpa menimbulkan suara dari senapan, Recko berhasil menembak mangsanya.
“Hei, apa Paman Recko memakai sihir? Kenapa senapannya tidak berbunyi?” bisik Zeeta bertanya.
“Tidak. Itu murni kehebatan Ayah dan senapannya memang tak bersuara,” jawab Danny yang juga berbisik dengan nada bangga.
“Hmm... Paman Recko hebat, ya!” Zeeta tersenyum natural. Atas senyumannya, Danny merona merah.
“A-aku juga hebat! Akan kubuktikan padamu!” Danny melihat ada kelinci di seberang kanannya. Ia menggunakan ketapel untuk mencoba menjatuhkan mangsanya. Ada juga keinginan untuk pamer dari dalam benaknya agar Zeeta terkesan.
“Hee...? Memangnya bisa berburu pakai ketapel?” Zeeta yang ragu menunjukkan alis miring sebelahnya.
“Tentu saja bisa!” tak lama kemudian Danny menembakkan batu dari ketapelnya ke arah kelinci itu dan tepat sasaran.
“Wah, hebat!” Zeeta terkesima bersama dengan matanya yang berbinar-binar. Dirinya pun memberikan tepuk tangan kecil.
“Hahah, yang begini masih mudah untukku!” Danny bertolak pinggang dan hidungnya tampak menganga tanda ia kepedean dengan kemampuannya sekaligus senang Zeeta berhasil dibuat kagum.
“Hmm....” Zeeta menoleh kiri dan kanannya. Ia nampak ingin melakukan sesuatu. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia melihat sesuatu yang kecil dan memiliki empat helai sayap. Makhluk itu ada di atas pohon di seberang kirinya dengan jangkauannya yang cukup tinggi.
“Hei, bantu aku mencoba sesuatu, dong!” seru Zeeta meminta.
“Apa?”
“Aku ingin mencoba memakai sihirku disini.”
“Eh?! Bukankah itu berbahaya?!” Danny terkejut sampai wajahnya tampak ketakutan.
“Kenapa wajahmu seperti melihat hantu?”
“Tidak tidak tidak, apa ayahmu tidak menceritakan cerita itu?!” tanya Danny yang panik.
“Cerita? Cerita apa?” Zeeta memiringkan kepalanya.
“Hutan ini akan marah padamu lalu menghilangkan keberadaanmu jika kau menggunakan sihir disini, cerita tentang Hutan Peri!”
“Oh... hmm ... yah. Ayahku pernah bercerita, tapi tak ada yang pernah melihat mereka, ‘kan?”
“Ya itu benar, sih....” Danny menenangkan dirinya.
“Jadi, tidak ada yang tahu cerita itu benar atau tidak! Kalau begitu cepat bantu aku, kau ingin dapat roti lapis dan susu madu buatan ayahku, bukan?”
“Ka-kau ada benarnya.... Baiklah, aku harus apa?” dengan sedikit dorongan manis dari Zeeta, Danny mau membantu Zeeta.
Setelah mendapat oke dari Danny, Zeeta segera membantu Danny mengarahkan ketapelnya ke arah pohon yang dia tuju.
“Tetap seperti itu!” Zeeta memejamkan matanya dan mencoba mengeluarkan butiran mana-nya. Setelah berhasil, mana yang keluar darinya berwarna-warni, Danny terpaku akan pandangan ini. Ia berpikir warnanya sangat indah.
Zeeta mengumpulkan mana-nya di tangan kanannya lalu menaruhnya di batu yang sudah siap ditembak. “Lepaskan!” Zeeta sedikit berteriak saat mengucapkannya.
‘FWOOOOSSHH!’
Dengan secepat kilat, batu itu ditembakkan ke target dengan mengluarkan semacam garis berwarna biru dan butiran warna-warni. Kemudian....
.
.
.
.
“ADUH!” seseorang terdengar mengerang.
“Eh?!” Zeeta terkejut atas suaranya.
“Zee? Sebenarnya apa yang kautembak?” tanya Danny yang kebingungan dengan arah yang mereka tembak.
“Kau tidak melihat burung itu? Burung itu punya empat....” saat Zeeta menunjuk ke pohonnya, ia tak melihat apa yang ia lihat sebelumnya. “Loohh? Ke mana dia?” Zeeta semakin tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
“Anak-anak, apa kalian dapat sesuatu?” Recko kembali ke anak-anaknya bersama dengan rusa yang ia bopong di bahunya.
“Y-yah... aku dapat satu kelinci, sih..., tapi tadi Zeeta....” Danny menceritakan apa yang terjadi.
......................
"Begitu ya....” Recko memejamkan matanya, ia mengerti apa yang terjadi dan apa yang harus ia katakan di saat seperti ini. “Zeeta, cepat minta maaf!” sambungnya dengan nada tegas.
“Ha... hahh? Kenapa?!” Zeeta dibuat kebingungan.
“Apa yang kautembak dengan ketapel itu adalah Peri, dan kau memasangi batu itu sihirmu? Dia pasti sangat kesakitan. Cepat minta maaf!”
“Peri...? Ta-tapi, bukankah belum ada yang pernah melihatnya? Kenapa Paman yakin kalau tadi itu adalah Peri?”
“Pikirkan saja. Di hutan ini hanya ada hewan dan tumbuhan, siapa lagi dari kita yang bisa berbicara jika bukan Peri?”
Kini wajah Zeeta yang seperti melihat hantu.
“Ma-maafkan aku, tuan—eh, anu... nyonya... tidak, ehm... Peri! Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku kira empat sayapmu adalah milik burung, maafkan aku!” pekik Zeeta yang gelagapan.
“Bagus. Jika kau membuat kesalahan, segeralah minta maaf. Apa kau paham?” Recko menepuk kepala Zeeta.
“Uuuh... Paman Recko seperti ayahku saja... galak!” Zeeta menggembungkan pipinya.
“Hei, hei. Aku MEMANG-lah seorang ayah.”
“Lagian Zee," timbrung Danny, "di dunia ini mana ada burung yang punya empat sayap, ‘kan?”
“Oh... benar juga....”
“Haaahhh ... kalau begitu, ayo lanjutkan. Kita tak ingin keluar hutan saat matahari telah terbenam.” Recko memimpin jalan kembali. Sementara itu, sesosok makhluk yang tadi dibicarakan mengintip dari batang pohon sebelumnya.
......................
Zeeta, Danny, dan Recko telah berburu dengan hasil yang cukup memuaskan. Mereka akan segera kembali ke desa dengan membawa tiga ekor rusa dan tujuh ekor kelinci. Nanti, daging-daging ini sebagian akan dijual oleh keluarga Recko, dan sebagiannya lagi akan diberikan pada Arthur. Biasanya Recko hanya akan menjual hasil buruannya sendiri, tapi kali ini karena ada Zeeta, ia akan berbagi.
Matahari akan segera bergilir dengan bulan, Danny dan Zeeta terus mengikuti Recko yang memimpin jalan. Mereka menyisiri jalanan yang berdekatan dengan sungai yang akan membawa arus tenangnya sampai ke desa. Mendengar deru tenang arusnya, membuat Zeeta merasa haus. Ia segera meminta izin Recko untuk minum sebentar dan langsung mendapat oke darinya. Zeeta segera menuju ke sungai dan minum.
“Haaah ... segarnya....” Zeeta yang telah melegakan dahaganya, berniat untuk segera kembali ke tempat Recko dan Danny menunggu. Namun sayangnya, ia terhenti saat mendengar beberapa suara di sekitarnya.
“Kihihihi, jadi dia yang telah melukaimu?” ujar suara pertama.
“Ya, padahal dia hanya seorang manusia,” balas suara kedua.
“Kalau begitu, tidak ada salahnya, ‘kan, jika kita membalas dia?” tanya suara pertama.
“Y-ya... kurasa...,” balas suara kedua lagi.
Zeeta segera menoleh ke sumber suara, yaitu batang pohon besar di atasnya. “Peri?!” ia segera terbelalak setelah melihat lebih dari dua peri yang ada di batang itu.
“Oh? Apa ini...? Dia bisa melihat Peri?” suara pertama, yang bersumber dari peri, terlihat sedikit terpukau.
“Sudah kubilang, dia bisa lihat!” tukas suara kedua dengan nada tinggi yang bersumber dari seekor peri juga.
“Tenanglah, Sylva. Kami hanya tidak percaya saja, anak kecil seperti dia bisa melukaimu....” Kini, suara ketiga terdengar, yang tentu saja bersumber dari seekor peri.
Zeeta yang mendengar percakapan mereka segera tahu bahwa dirinyalah yang sedang dibicarakan. “A-anu ... aku minta maaf karena telah lancang... aku tidak tahu jika bidikanku adalah Peri... kukira sayapnya itu adalah milik burung, jadi....” Ia meminta maaf atas perbuatannya. Ia tampak menyesal.
“Jadi, misalkan yang kaulihat memanglah seekor burung, kau tetap akan menggunakan mana-mu untuk berburu? Apa kau tidak memikirkan jika siapa tahu saja burung itu memiliki keluarga dan kau merebut semuanya dari mereka?” suara dari peri pertama terdengar naik pitam.
“E-eh...?” Zeeta terbisu. Sementara itu, matahari mulai tenggelam separuh. Apa yang selalu dihindari warga desa akan segera terjadi pada Zeeta.
“Karena itulah manusia itu bodoh! Mereka hanya memikirkan keinginan mereka sendiri!” Peri yang naik pitam itu masih melanjutkan ucapannya.
“Aku tidak bermaksud begitu!” Zeeta mencoba membela dirinya sendiri.
“Tidak tidak tidak ... meskipun kau tidak bermaksud, kau harus bertanggung jawab. Kau telah melukai Peri, apa aku salah?”
“Bertanggung jawab...? Apa ... yang harus kulakukan...?” kaki Zeeta mulai bergemetar.
“Tentu saja dengan... menghabisi waktumu disini!” Peri pertama itu menampakkan dirinya lalu mengangkat Zeeta dari tanah.
Sesaat sebelum Zeeta terangkat dari tanah, ia teringat akan larangan dari dongeng turun temurun desa dan ia telah melanggarnya. Takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya, Zeeta berteriak, “Tidaaaaak...!”
Danny dan Recko yang mulai cemas karena Zeeta tidak kunjung kembali, segera panik bukan main ketika mendengar teriakan lantangnya Zeeta. Mereka langsung menyusul dimana Zeeta pergi sebelumnya. Meski begitu, bersamaan dengan terbenamnya matahari, tak ada siapapun di sana.
“Tidak mungkin....” Mata Recko terbelalak.
Si Pemburu yang panik lantas berusaha mencari putri kerabatnya itu di sekitarannya meski jarak pandangnya terbatas karena sudah gelap. Namun, nasi telah menjadi bubur.
Mereka terlambat.
“Ini tidak mungkin...! Danny ... kau dengar suara Zeeta dari sini, ‘kan?!” Recko yang panik juga membuat Danny panik.
“Y-ya. Aku mendengarnya dengan jelas!”
“Sial ... Danny, pulanglah ke desa dan beritahu apa yang terjadi! Minta mereka untuk membantu mencari Zeeta, Ayah akan tetap mencarinya!”
“Ba-baik!” Danny segera menaruh keranjang berisi buruannya, menghidupkan senter, lalu berlari secepat yang ia bisa.
“Apa yang terjadi?! Semuanya terjadi begitu cepat! Kami tak jauh dari Zeeta tapi tiba-tiba dia hilang?! Jangan-jangan....” gumam Danny di tengah larinya. Ia juga teringat akan larangan dari dongeng warga desa.
......................
Danny telah berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta bantuan warga desa untuk mencari Zeeta yang tiba-tiba hilang. Sementara itu, Arthur yang pertama kali tahu, tanpa bicara banyak segera mengambil senter dan meluncurkan mana di kakinya untuk melesat ke hutan.
Arthur segera menanyakan apa yang terjadi pada Recko setelah bertemu di tempat.
“Peri, ya," kata Arthur, "gawat, aku juga tidak pernah melihat Peri sebelumnya... aku juga tidak menyangka bahwa Zeeta benar-benar bisa melihat mereka....” sambung Arthur yang berkeringat.
“Maafkan aku. Ini semua karena aku yang membiarkan Zeeta sendirian...,” balas Recko.
“Tidak. Tidak ada dari kita yang bisa memprediksi apa yang bisa Zeeta lakukan, jadi kau tidak perlu merasa bersalah. Daripada itu, bantu aku mencari tanda-tanda di mana dia sebelum hilang. Kau pandai dalam hal seperti ini, ‘kan?”
“Ah, ya... kalau itu....” Recko menjelaskan gerak-gerik Zeeta dengan sangat detil, sampai ke bagian Zeeta yang bergemetar ketakutan, karena dengan bakat berburu dan sihirnya.
“Ketakutan? Apa Peri memang makhluk yang seperti itu...?” Arthur kebingungan.
“Tidak hanya itu, tiba-tiba saja dia terangkat lalu menghilang begitu saja. Seakan-akan ... dia dibawa pergi dari sini dengan teleportasi atau semacamnya,” jawab Recko.
“Hmmm....” Arthur tersesat dalam pikirannya. Tak lama kemudian, puluhan warga desa termasuk kepala desanya juga datang membantu mencari Zeeta dengan membawa banyak alat bantu penerangan seperti senter dan obor.
......................
Sementara itu, tiga sosok Peri sebelumnya sedang melihat dari kejauhan di atas sebuah batang pohon yang besar. “Ini semua karena kau, Sylva!” kata Peri pertama yang sebelumnya menakuti Zeeta.
“Aku?! Tidak tidak, ini semua tidak akan terjadi kalau kau tidak menakut-nakuti manusia itu, Falmus!” jawab suara Peri yang kedua.
“Cih. Aku hanya ingin membuat dia tidak mengulangi perbuatannya, tapi dia malah berteriak dan jadi heboh begini... bagaimana jika Ratu tahu?!” Falmus merasa galau.
Falmus memiliki telinga yang runcing seperti peri pada umumnya, rambut unik yang jigrak berwarna cokelat, matanya seperti orang yang sangat mengantuk dengan bola mata berwarna hitam.
“Pasti Ratu sudah tahu jika heboh begini... sudah pasti kita dihukum!” tukas Sylva yang pasrah.
Sama seperti telinga Falmus, Sylva juga bertelinga runcing. Rambutnya lurus pendek dan berwarna hijau, matanya berwarna kuning cerah.
“Hei kalian... kemarilah sebentar. Apa kalian pernah melihat ini...?” Yuuvi, suara Peri yang ketiga, memiliki rambut panjang berwarna biru gelap yang menutupi matanya. Dia membawa tongkat bersamanya.
Sylva dan Falmus segera mendekati Yuuvi, mereka menyaksikan Zeeta yang terlelap di atas batang pohon yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya itu menimbulkan cahaya biru berbentuk bulan dari anting di telinga kirinya.
“Hei... bukankah ini....” Falmus kenal dengan tanda itu. Begitu juga dengan Sylva.
“Lihat... bahkan alamnya pun mencoba membuat dia aman!” kata Yuuvi yang melihat ranting tumbuh melingkari Zeeta supaya dia tidak jatuh.
“Kalian tunggu di sini, aku akan memanggil Ratu!” Sylva segera terbang menjauh.
“Selama aku hidup, aku tidak pernah melihat manusia dicintai oleh alam...,” kata Falmus yang duduk menyandarkan dagu di lututnya.
“Aku juga...,” sahut Yuuvi setuju dan terpaku memandangi Zeeta.
.
.
.
.
Tak lama kemudian Ratu yang disebut-sebut mereka datang bersama Sylva. “Ya ampun...," katanya sesaat setelah dia melihat anting di telinga kiri Zeeta.
“Ada apa, Ratu?” tanya Sylva.
“Hahahah... tidak... tidak apa." Ratu segera mengelus Zeeta yang terlelap.
“Falmus, Yuuvi, Sylva, aku menantikan detail apa yang terjadi dari mulut kalian nanti. Mengerti?” dengan nada lembut namun menusuk, Ratu seperti akan menghukum tiga peri itu.
“Y-ya, Ratu!” jawab tiga Peri itu bersamaan.
“Untukmu, Nak... belum waktunya kau berada disini. Jadi, lupakanlah apa yang terjadi dan kembalilah bersama keluargamu.” Ratu memutarkan beberapa kali telunjuk kanannya dan menyelimutkan butiran mana berwarna merah muda kepadanya. Tak lama, Zeeta terangkat dari batang itu dan turun secara perlahan ke tanah.
......................
Arthur dan warga desa lain sudah akan menyerah mencari Zeeta untuk malam ini dan berencana melanjutkannya besok. Namun....
“Ayah...?” suara Zeeta segera membuat seluruh warga desa tertoleh ke arahnya. Zeeta berdiri diantara pepohonan tanpa ada luka sedikitpun.
Arthur segera berlari untuk menjemput Zeeta dan segera menggendongnya. “Zeeta! Kau tak apa?! Apa tak ada luka?! Apa kau tidak bertemu beruang?!” Arthur memeriksa tiap sisi tubuhnya, ada atau tidakkah tubuhnya yang terluka.
“Ehehe... aku tak apa kok... Paman Recko dan Danny telah mengajarkanku banyak hal. Selain itu... kenapa kalian ada di sini? Apa kita mau mengadakan pesta...?” tanya Zeeta.
Melihat Zeeta baik-baik saja, semua orang yang ikut mencarinya, termasuk anak-anak, merasa lega. Bagaimana tidak, anak perempuan manis yang selalu ceria bersama ayahnya mendadak hilang di dalam hutan, akan membuat siapapun panik.
“Nak, kau tidak ingat kalau kau menghilang di hutan?” tanya Arthur.
“Eh? Menghilang? Kurasa tidak....” Zeeta seperti linglung.
Kepala Desa menepuk bahu kanan Arthur, “Sudah-sudah. Kita lanjutkan pembicaraannya esok, yang penting Zeeta sudah selamat. Mari kita pulang dan beristirahat,” katanya.
“Ba-baik....” Arthur melihat semua orang menunjukkan senyum kepada dirinya dan Zeeta, ia lekas mengucapkan terima kasih, “semuanya, terima kasih telah membantuku mencari Zeeta. Aku benar-benar lega ketika dia bisa pulang tanpa luka sedikitpun, sekali lagi, terima kasih!”
“Tenang saja, Arthur! Lagi pula semua warga di desa ini adalah keluarga. Saling tolong menolong adalah hal yang biasa di sini!” kata seseorang.
“Ya, benar!” sahut yang lain.
Recko dan Danny mendekat ke Arthur. “Kalau begitu, tunggu apa lagi? Hari sudah larut dan anak-anak harus beristrahat,” kata Recko.
“Ya, baiklah.” Setelah Arthur menjawabnya, kumpulan orang-orang itu membubarkan diri menuju rumah masing-masing.
Sementara itu, dari kedalaman hutan, di atas batang pohon yang tinggi, terdapat Ratu Peri yang mengamati dari sana. “Tak kusangka tiga ratus tahun sudah berlalu, ya. Apakah ini yang disebut takdir?” gumamnya sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
°| SapaSaya•
kira² peri punya ekor ga ya?
2022-05-04
2
anggita
Zeeta, Danny, Recko.,🔥💪
2021-06-26
2