Sebentar lagi fajar akan menyingsing dan kembali bertugas untuk menerangi bumi dan menghangatkan seisi bumi. Masih dalam suasana yang damai seperti biasanya, Arthur telah beraktivitas dengan memotong kayu untuk perapian di kedai dan di lantai dua. Hal ini cukup penting karena sebentar lagi akan masuk usianya musim dingin.
Zeeta juga mulai terbangun dari tidur lelapnya akibat sinar fajar yang "mencoloknya", disertai dengan kehangatan. Tidak hanya itu, ia juga mendengar suara bising di lantai bawah. Masih ditemani rasa kantuk dan rambutnya yang sangat amburadul, Zeeta turun ke lantai satu sambil memanggil ayahnya dengan nada yang sayu.
“Ayaaahh ... di mana...?” Zeeta agak memekik.
“Ah, apa Ayah membangunkanmu? Ayah ada di luar!” suara ayahnya terdengar dari luar, tepatnya di sisi kanan—yaitu tempat untuknya berlatih sihir sekaligus untuk memotong kayu bakar.
Zeeta kemudian bersandar di pintu, lalu mengerutkan sebelah alisnya. “Apa yang Ayah lakukan?” tanya Zeeta.
“Hmm? Tidak bisa kau lihat? Memotong kayu bakar. Sebentar lagi kan musim dingin. Oh, rambutmu masih berantakan, lho."
“Oh, benar....” Zeeta segera merapikan rambutnya dengan tangan mungilnya. “Maksudku, kenapa Ayah tidak pakai sihir?”
“Terlalu sering pakai sihir kan berbahaya untuk tubuh manusia. Sesekali tidak salah, dong, Ayah memakai kekuatan Ayah sendiri."
Zeeta yang baru bangun tidur pun teringat. “Oh iya, aku baru ingat ... kalau kita terlalu sering memakai mana, tubuh kita tidak akan bisa menahan mana yang ada di alam."
“Yap. Karena sebenarnya mana dari alam, jika tubuh kita tak memiliki mana sama sekali, kita akan lenyap dari dunia ini.”
“Hmmm....” Zeeta duduk di lantai dan menaruh kepala di lututnya.
“Kenapa? Apa kau takut?” tanya Arthur yang menyeringai.
“Ti-tidak! Tidak mungkin aku takut! Hanya saja aku berpikir kenapa manusia tidak bisa seenaknya menggunakan mana. Lagian, kalau alam juga punya mana, kenapa manusia tidak memakainya jika mereka kehabisan mana?”
Pertanyaan Zeeta membuat Arthur terhenti dari kegiatannya. “Kemarilah, akan Ayah beritahu alasannya.” Arthur berjongkok dan membuka tangannya lebar untuk mengundang Zeeta. Anak perempuan manisnya itu pun segera berlari dan naik ke pangkuan ayah tercintanya.
“Mana dari alam memang bisa digunakan oleh manusia, tetapi hal itu sangat jarang ditemukan. Alasannya, mana dari alam jauh—sangat jauh lebih kuat daripada milik manusia!”
Dengan menggambar dua bola api sebagai perandaian di tanah, Arthur menjelaskan kepada Zeeta. Ia membuat bola api yang sangat besar untuk perandaian mana alam, dan bola api kecil untuk mana manusia.
“Kau pasti tahu, 'kan alasannya? Ayah pernah menceritakan ini dengan suatu legenda.” Kata-kata Arthur langsung memaksa Zeeta untuk berpikir.
Zeeta berusaha memperkuat ingatannya dengan memejamkan matanya kencang-kencang, dan tak lama kemudian ia terlintas akan suatu legenda tentang kutukan penyihir. “Kutukan penyihir itu?” tanya Zeeta.
“Ya, benar sekali. Meskipun semua manusia di kerajaan ini bisa menggunakan sihir, tetapi itu adalah hasil dari kutukan penyihir yang balas dendam terhadap perilaku manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, mana milik alam dan manusia tidak bisa disamakan.”
“Lalu ... bagaimana penyihir itu bisa ... mengutuk....
"Hmmm...?”
Zeeta memiringkan kepalanya—seakan dapat jawabannya sendiri.
“Ahaha, kau pintar sekali, Nak!" Arthur mengelus kepala Zeeta. "Ya, penyihir itulah salah satu manusia yang bisa menggunakan mana dari alam. Selain karena perbedaan itu, manusia juga tidak bisa seenaknya menggunakan sihir jika imajinasi untuk mewujudkan sihir yang diinginkan tidak jelas, serta mana si manusia terlalu lemah.”
“Kenapa...?”
“Hmm? Apa kaulupa lagi? Bukankah sudah Ayah ajarkan padamu, terwujudnya sihir yang diinginkan disebabkan oleh kejelasan imajinasi, dan kuat atau lemahnya mana si pengguna.”
“Oh iya ... hehe, maafkan aku.”
“Aku juga ingin kaupahami betul tentang hal ini. Kalau imajinasimu tidak jelas ketika akan menciptakan suatu sihir, itu akan sangat berbahaya. Bisa saja sihir yang ingin kau ciptakan tidak terwujud, atau bahkan sihir itu menjadi lepas kendali dan malah melukai dirimu dan orang disekitarmu. Berhati-hatilah, Nak.” Arthur menepuk bahu Zeeta.
“Uhm. Akan kuingat!”
“Tapi, masih ada pengecualian untuk mana yang lemah itu!”
“Eh? Pengecualian?”
“Ya. Karena selemah apapun mana yang dimiliki seseorang, jika dilatih....” Arthur membuat bola api kecil berwarna merah sekecil kacang di tangan kanannya. “Anggap saja sekecil ini....” Zeeta terpaku pada api di tangan Arthur.
“Bisa jadi sebesar ini!” Arthur membesarkan bola api itu sebesar kepala Zeeta secara tiba-tiba.
“Wah!” Zeeta yang terkejut mendekap ke ayahnya.
.
.
.
.
"Eh...? Tidak panas...?” Zeeta kebingungan mengapa bola api yang ada sedekat itu dengan dirinya bisa tidak panas.
“Nah, itu juga karena kejelasan imajinasi. Apa sekarang kau paham?”
“Waaah ... jadi, setiap mana manusia bisa besar?”
“Ya. Setiap manusia memiliki potensi sihirnya masing-masing, meskipun ada mana yang terus dilatih tidak bisa sebesar yang Ayah contohkan, manusia tetap bisa menggunakan sihir.”
“Hmm? Lalu kalau begitu, kenapa orang-orang di desa jarang menggunakannya?”
Mendengar pertanyaan ini, Arthur tersenyum kemudian mengelus lembut kepala Zeeta. “Kau tahu, Nak? Meskipun sihir bisa mewujudkan apapun, tetapi sihir tidaklah mutlak. Seperti yang Ayah katakan sebelumnya, manusia butuh mana dan imajinasi untuk menciptakan sihir. Selain itu, jika manusia terlalu sering menggunakan sihir, nyawa mereka jadi dalam bahaya. Apa kau mengerti?”
“Uhm. Sedikit ... tapi Yah, kenapa Ayah masih terus memakai sihir kalau nyawa Ayah nanti dalam bahaya?”
“Karena sihir yang Ayah pakai tidaklah begitu menguras mana. Ah, membahas itu lain kali saja, ya. Bukankah hari ini kau ada janji dengan Recko dan putranya Danny?”
Zeeta benar-benar terlupa akan hal itu. Ia terkesiap. “A-a-aku akan bersiap dulu! Kalau mereka datang, suruh mereka tunggu aku ya, Yah!” ia lalu berlari masuk ke dalam.
“Ya! Jangan terburu-buru, nanti terjat—“ belum menyelesaikan ucapannya, Arthur mendengar suara jatuh. “Apa kau baik?!” tanyanya agak berteriak.
“Ya! Aku oke!” balas Zeeta yang juga sedikit berteriak dari dalam.
“Hahah ... dasar....” gumam Arthur menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Arthur segera kembali mengerjakan pekerjaannya yang terhenti tadi. Tak lama kemudian, Recko datang membawa senapan di punggungnya beserta anak laki-lakinya yang lebih tua setahun dari Zeeta, yang bernama Danny.
Tugas anak lelaki tersebut memiliki tanggung jawab yang tidaklah kecil, ia membawa keranjang besar di punggungnya. Keranjang tersebut akan dipakai sebagai wadah hasil buruan mereka nanti. Danny memiliki rambut cepak berwarna merah dan bermata hijau seperti ayahnya.
“Hei, Arthur!” sapa Recko pada Arthur sambil melambaikan tangan kanannya.
“Oh, baru saja dibicarakan,” sahut Arthur yang tetap memotong kayu.
“Oh? Apa maksudnya itu?”
“Bukan apa-apa. Aku hanya baru mengajari Zeeta beberapa hal dan dia terlupa kalian memiliki janji. Tunggu sebentar, ya.”
“Hahaha, dia sekali....”
“Hei, Paman!” panggil Danny kepada Arthur. Arthur menengok ke Danny. “Kenapa Paman mengizinkan Zeeta berburu bersama kami? Apa kau tidak khawatir?”
“Khawatir? Tentu saja aku khawatir, tapi aku ingin dia lebih tahu banyak hal selain memasak. Lagi pula, ada Recko si Pemburu bersamanya,”
“Heei! Ada aku juga!” Danny seperti tersulut emosi namanya tidak disebut.
“Ho? Apa kau mau bilang kaubisa melindungi putriku, ha?” Arthur bertolak pinggang dan menatap Danny dengan tatapan kematian.
“Tentu saja aku bisa! Aku tidak akan kalah dari ayahku!”
“Jika kau lelaki, maka kau harus pegang ucapanmu! Oh, kalau kau bisa mendapatkan LIMA ekor buruan, aku akan memberimu LIMA roti lapis dan susu madu kesukaanmu. Apa kausanggup dengan tantangan ini?”
“HA?! YANG BENAR?! Gratis?!” Kepercayaan diri Danny mulai retak.
“Ya. Tentu saja! Tapi kau tidak boleh melepaskan pandanganmu dari Zeeta. Jika kau melepaskannya....” Arthur memunculkan bola api di tangannya. “Kau mengerti, 'kan?” Ia tersenyum jahat.
“Glek...." Danny menelan liurnya. "Ba-baiklah! Kuterima tantangannya! A-aku akan masuk ke dalam dan menunggu Zee!” Danny berlari masuk ke dalam rumah Arthur—kabur dari ketakutan.
“Haaah ... kau ini. Dia hanya anak kecil, kenapa kau ladeni dia dengan serius?” tanya Recko yang mengerutkan alisnya.
“APA KATAMU?! 'HANYA'...?! Justru karena 'HANYA' itulah aku harus waspada! Anak perempuanku bisa saja tiba-tiba merasakan sesuatu pada anakmu, dan aku tidak sudi akan hal itu!” Arthur begitu emosi seakan Zeeta ingin direbut darinya. Ia menyilangkan tangannya.
“Ahahaha....” Recko hanya bisa tertawa menanggapi Arthur yang sudah berubah.
“Yang lebih penting, mereka harus tahu kalau Zeeta adalah harapan terakhir kerajaan. Mungkin dengan membawanya mendekat ke hutan, mereka bisa menyadari mana milik Zeeta....”
“Ya, kau benar. Mungkin saja Zeeta dapat melihat mereka.”
“Kuserahkan Zeeta padamu, Recko.” Mimik Arthur serius dan ia memegang bahu Recko.
“Baiklah.” Recko juga menjawabnya dengan serius. Recko dan Danny pun menunggu Zeeta bersiap untuk melanjutkan keseharian mereka untuk berburu di hutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments
ikaindra🌺
semangat kak
2023-02-06
1