Ashley sampai di kediaman Rowing setelah menggunakan sihir teleportasinya. Ketika ia di sana, asap putih tebal menghalangi indera penglihatannya. Ia sampai tak kurang dari satu menit setelah ledakan mana Zeeta. Ashley masih belum mengetahui bahwa ledakan berbentuk pilar itu berasal dari mana milik Zeeta. Ia terus mencari Zeeta dengan terus memanggil namanya dibalik asap tersebut.
“Si-siapa yang memanggil itu?” suara yang terdengar bergemetar ketakutan itu terdengar oleh Ashley. Ia segera berlari menuju sumber suaranya.
Ketika Ashley mendapati wujud Zeeta, hatinya langsung terasa teriris. Sosok Zeeta yang penuh lecet, air mata yang tak berhenti menghujani pipi, serta raut wajah yang ketakutan sambil menahan kepala seorang anak lebih tua darinya yang tengah tak sadarkan diri di atas pahanya.
“Tenang, Nak. Aku Ashley, aku adalah guru sihir ibumu.” Ashley berusaha mendekati Zeeta tetapi ia dihindari.
“A-aku ... aku tidak ingin melukai siapapun lagi, jangan dekati aku....” wajahnya yang tampak benar-benar ketakutan hanya bisa mencengkeram baju Azure yang terkapar lemas.
“Aku benci bangsawan... aku tidak mau bertemu bangsawan lagi ... ayah ... ayah maaf... maaf aku tak bisa menepati janjiku....” mental Zeeta yang sedang tidak pasti membuatnya jatuh pingsan.
“Nak...!? Zeeta!?” Ashley segera memeriksa keadaan Zeeta. “Ah, panas sekali...,” katanya setelah memegang tubuhnya. Ashley segera tanggap, ia membuka blazer-nya untuk menyelimuti tubuh Zeeta lalu ia membuat awan seukuran tubuh Zeeta untuk menghembuskan udara sejuk di atas Zeeta, lalu ia juga membuat kain kompres untuk dahi Zeeta dengan sihirnya.
“Anak inikah yang bernama Azure?” Ashley juga memeriksa keadaan Azure yang terbaring di sebelah kiri Zeeta. “Ia hanya pingsan, tetapi lubang di pakaiannya ini ... jika hanya ada bekas di pakaiannya, apa Zeeta yang menyembuhkan luka di tubuhnya? Lalu, tanggapan Zeeta setelah melihatku... Rowing masih bertindak gila meskipun dia berhadapan dengan Tuan Putri?” Ashley kembali menggeletakkan Azure di tanah dan mencari keberadaan Rowing dengan sihirnya.
Setelah mendapati Rowing yang berada tak jauh darinya, ia juga dapat memastikan bahwa satu keluarga bangsawan itu pingsan meskipun mengalami beberapa luka. Ia juga terkejut dengan kondisi Garren dan Emma yang masih sedikit tampak seperti tengkorak hidup.
“Jadi begitu, ya. Ledakan itu berasal dari mana Zeeta yang tiba-tiba membesar dan tak mampu ia bendung. Tapi... jika begitu, anak ini....
"Selain itu, meskipun semua yang ada di dekatnya jatuh pingsan, tak ada nyawa mereka yang terancam setelah menerima ledakan itu ... bagaimana dengan penduduk kota sebelah?” Ashley segera menteleportasi sebuah botol serbuk sihir dari kediamannya ke genggaman tangannya.
Botol tersebut berisi serbuk sihir berwarna hijau gelap disertai kemerlap. Ia mengocoknya lalu melemparnya. Dari serbuk yang kemudian membentuk layaknya peta khusus kota tersebut, Ashley dapat melihat kondisi kesehatan dan mental orang-orang melalui titik-titik yang tersebar. Merah berarti gawat, biru berarti aman, dan semua titik itu berwarna biru.
“Apa-apaan?” Ashley terheran-heran sendiri. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa dengan daya ledak yang bisa dilihat hingga ibukota kerajaan, tak ada korban nyawa atau luka parah sama sekali.
Tak lama kemudian, tiga bangsawan utama lain hadir menyusul dengan sihir teleportasi. Tak ada satupun di antara mereka yang bisa memahami bagaimana ledakan mana itu bisa terjadi setelah mendapat penjelasan dari Ashley atas apa yang mereka lihat di dalam selimut asap putih ini.
“Meskipun begitu, kita harus bernapas lega bahwa Tuan Putri selamat dan kita harus segera merawatnya,” kata Hellen.
“Ya, kau benar. Tapi dia masih belum siap untuk benar-benar menjadi Tuan Putri,” tukas Ashley kemudian menceritakan apa yang terjadi.
......................
“Aku mengerti, itu tidak bisa dihindari. Tetapi Grand Duchess, lantas apa yang harus kita lakukan?” kata Willmurd bertanya.
“Sejak awal ini terjadi karena semua hal terlalu mendadak untuknya. Untuk sekarang, kita harus memulihkan mental dan lukanya di kediamanku. Dia butuh seseorang untuk menjelaskan dan membuatnya merasa tenang kembali, dan orang itu adalah ayah angkatnya.”
“Disaat seperti ini, jika ibu kandungnya masih bersamanya...,” gumam Porte.
“Grand Duchess, masalah di sini biar kami yang urus. Anda sebaiknya segera membawa Tuan Putri,” kata Hellen memberi saran.
“Baiklah. Kuserahkan pada kalian.” Setuju atas saran Hellen, Ashley pulang ke kediamannya bersama Zeeta melalui teleportasinya dan menyerahkan Azure pada bangsawan-bangsawan itu..
......................
“Jujur saja sesaat setelah aku sampai di sini, aku merasa merinding,” kata Hellen tiba-tiba sambil mengurung satu keluarga bangsawan itu di dalam sebuah kotak hijau transparan dengan sihirnya, setelah ia mengamankan Azure dengan tandu sihir berwarna hijau. Tandu tersebut terus menerus melayang di udara. “Tekanan mana yang kurasa itu... tak kusangka berasal dari Tuan Putri,” sambungnya.
“Ini hanya dugaanku, jika Tuan Putri memang memiliki mana yang bahkan membuat bangsawan merinding, itu berarti....” Porte menduga-duga sambil memeriksa apakah ada korban lain di sekitar mereka dengan sihir kristalnya.
“Kau benar, Count Porte. Di usiaku yang telah menginjak enam puluh tujuh tahun ini, aku bisa dengan yakin mengatakan ... Tuan Putri Zeeta dicintai oleh mana alam.” Willmurd juga mengambil tindakan dengan menghilangkan asap putih itu melalui tebasan pedang Rapier yang ia bawa.
“Seolah-olah legenda penyihir itu terjadi padanya.” Hellen merasa bersimpati.
“Itu berarti kita tidak boleh asal mengambil keputusan secara sepihak, bisa-bisa kita justru membawa akhir dunia tanpa disadari,” sahut Porte.
“Tapi, meskipun langkah yang kita ambil selalu mewaspadai akhir tersebut, kita tidak akan tahu apakah ramalan Ratu Peri tetap ada di jalur yang sama atau tidak,” balas Hellen.
“Untuk sekarang, mari lakukan apa yang kita bisa. Tuan Putri ternyata jauh lebih membutuhkan dukungan dari yang kuduga. Dengan kondisinya yang seperti itu, aku tidak yakin dia mampu menanggung tanggung jawabnya,” Willmurd juga ikut dalam percakapan.
“Count Porte, kuserahkan sisanya padamu. Hal seperti ini adalah wilayah keahlianmu, bukan? Aku akan membawa anak ini kembali ke kediamanku lalu membawa Rowing ke penjara. Setelah itu aku akan melapor pada Grand Duchess bersama Kek Will." Pinta Hellen yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dari Porte dan Willmurd.
"Ohoho. Apakah kau mengejekku, Nona Hellen?" Willmurd membuat senyuman palsunya.
"Ahahah. Tidak tidak, tentu saja tidak." Hellen juga menunjukkan senyuman buatannya.
“Se-serahkan saja padaku. Aku akan melakukan yang terbaik." Porte mengiyakan permintaan dua bangsawan itu.
"Tentu saja kau harus melakukan yang terbaik, Count Porte! Jika tidak ...." Hellen seperti mengancam Porte.
'DHUWAK!'
Willmurd menampar kepala Hellen dengan buku tangannya yang dikepalkan.
"Aw! Sakit tahu! Aku hanya bercanda!" tukas Hellen.
"Tutup mulutmu dan berlekaslah, dasar murid tak tahu adab!" pandangan kematian muncul dari Willmurd.
"Cih, dasar tua bangka yang tidak seru!" Hellen dan Willmurd pun kembali ke ibukota sambil membawa kotak hijau transparan tersebut melalui teleportasi.
"Ahahaha... sulit dibayangkan bahwa Tuan Willmurd dan Nona Hellen adalah guru dan murid..." batin Porte tak habis pikir. "Yah, aku pun muridnya juga, sih...."
......................
Porte kembali serius pada pekerjaannya. Ia terus melanjutkan investigasi, tentu saja dibantu dengan kekuatan kristalnya.
“Dari ledakan besar itu, yang hancur berkeping-keping hanyalah kediaman utama milik Tuan Garren. Bangunan khusus prajurit dan penjara bawah tanahnya bahkan tak mengalami retak... meskipun itu ledakan, tapi fakta bahwa Tuan Putri mengendalikan ledakan itu agar tidak menyebar ... bukan sesuatu yang patut diacuhkan.” Porte berbicara sendiri sambil memegangi dagunya.
Kristal milik Porte bisa dipergunakan sebagai alat penggali informasi. Lebih tepatnya melalui tanah. Ia menumbuhkan kristal dari tanah dan kristal tersebut akan memunculkan rekaman berupa tulisan—dan terkadang layaknya rekaman gambar yang secara langsung tersimpan di kristal tersebut dan bisa diakses olehnya seorang.
“Baiklah, kalau begitu akan kumulai investigasinya dari para prajurit. Hukuman untuk Tuan Garren sudah pasti eksekusi, tapi demi rakyat juga aku tetap harus menguak setiap kejahatan yang dilakukannya.” Porte lalu berjalan menuju bangunan khusus prajurit.
......................
Saat ini, Zeeta sedang terbaring di atas kasur besar mewah yang satu set dengan atap dan tirai. Di dalam lelapnya, Zeeta seperti menyaksikan kejadian-kejadian secara acak hingga menimbulkan kembali pertanyaan, apakah kewajiban yang harus ia emban?
Melalui sudut pandangnya, ia mengunjungi berbagai macam lokasi. Diawali dari hutan belantara yang dedaunannya dominan warna merah muda, rumah-rumah kecil yang dibangun di atas batang atau di dalam pohon, dilanjutkan menuju ke kedalaman gua yang terdapat seseorang sedang berjaga di depan semacam bola air raksasa yang memusat pada satu titik, lalu ia melompat ke lokasi lain dan menemui sesosok burung hantu seukuran manusia dewasa memakai jubah sedang mengamati dunia melalui arus sungai, dan terakhir ia menuju hamparan rerumputan dan ilalang yang amat sangat luas namun memiliki pemandangan yang sangat indah.
Hamparan tersebut memiliki kemerlap biru bercahaya yang seperti menerangi lokasi tersebut. Tak hanya kemerlap biru, ia juga mendapati sesosok anak perempuan, memiliki rambut putih sepunggung, mata kanan berwarna cokelat terang, dan mata kiri berwarna biru, serta bertelinga lancip sedang melemparkan senyum kepadanya.
Lantas, setelah menyaksikan keseluruhan "mimpi" tersebut, Zeeta terbangun. Apa yang menjadi pandangan pertamanya adalah ruangan luas dan nyaman dengan kasur yang empuk, namun itu justru membuatnya rindu rumah. Zeeta merangkul kakinya dengan tangannya. “Apa itu tadi semua? Aku belum pernah lihat tempat ataupun orang-orang itu...," gumam Zeeta. “Aku ... ingin pulang...,” sambungnya masih bergumam dan hendak menjatuhkan air matanya kembali.
“Meskipun kauingin pulang, rumahku sudah tidak ada, lho....” Suara yang begitu Zeeta kenal segera membuat dirinya mendongakkan kepala.
Sosok tinggi, berbadan besar, berjanggut, berambut cokelat kehitaman panjang diikat, muncul dari balik pintu kamar. “A-Ayah?!” air mata Zeeta yang ingin jatuh gagal melaksanakan perannya. Senyum sumringah segera terbentuk dari bibirnya. Ia segera beranjak dari kasur lebar nan mewah itu dan berlari menuju dekapan ayahnya.
“Ayaaah...!” pekik Zeeta kemudian melompat dan segera dipeluk oleh Arthur. “Ayah ... Ayah maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku... aku menyakiti Rowing, bahkan aku menyakiti temanku sendiri... aku ....” Untuk kesekian kalinya, air matanya tampak akan jatuh.
“Uhm. Aku tahu, Nak, aku tahu. Kau sudah berjuang dengan baik, dan Ayah bangga padamu.” Mendengarnya, Zeeta akhirnya mampu menumpahkan tangisnya dengan deras. Isak tangisnya terdengar menderu-deru layaknya ingin terbebaskan. Setelah Arthur merasa cukup untuk pelukan dan reuni hangatnya, ia kemudian berjongkok dan melepaskan dekapan pada putrinya.
“Aku... tidak cocok menjadi Tuan Putri, Yah. Aku tidak ingin menjadi Tuan Putri... aku terlalu takut. Aku takut jika aku hanya akan melukai orang-orang di sekitarku....” Zeeta sedikit menghapus air matanya setelah ia sudah sedikit tenang. “Jika Peri bernama Sylva itu tidak ada, aku pasti akan kehilangan kalian... itu berarti aku telah menyakiti kalian....” Zeeta terus menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah ayahnya. Ia ketakutan.
Zeeta takut akan dirinya sendiri. Ia berbeda dari yang lain sejak ia tahu dia tidak sehebat teman-temannya dalam menyihir saat ia masih lima tahun. Tetapi kini, hal itu justru berbanding terbalik. Ia tahu meski tak diberitahu, bahwa seorang bangsawan sekalipun tak bisa menandingi mana miliknya yang saat ini. Ia tahu ia berbeda, tetapi ia justru takut akan hal itu. Jika perbedaan ini membuatnya ditakuti oleh banyak orang, ia merasa tidak ingin menjadi istimewa.
“Zee...,” panggil Arthur sembari mengelus lembut kepala Zeeta. “Karena tindakan isengmu saat di Hutan Peri-lah yang membuatmu memiliki hubungan dengan Peri Sylva. Hal kecil yang kau perbuat itu justru menyelamatkan semua orang di desa Lazuli. Jika kau bersedih di saat kami bahagia karena kami selamat setelah nyawa kami terancam oleh Rowing, kami semua akan ikut bersedih....
“aku bukanlah ayah kandungmu, tapi aku sangat tahu bahwa putriku Zeeta, pasti mampu melewati rintangan ini. Aku percaya bukan karena aku terlalu menaruh harapan tinggi, tapi aku percaya karena aku tahu kau pasti bisa.
“seperti yang sudah kukatakan di desa, Nak, tidak apa jika kau ingin meluangkan waktumu di desa, tetapi penuhilah terlebih dahulu kewajibanmu sebagai Tuan Putri. Kami semua di desa, akan selalu menyambutmu.”
Zeeta hanya bisa terdiam tanpa mengangkat kepalanya. “Uhm,” jawabnya sambil mengangguk.
“Nak, ini semua tidak akan terjadi apabila Rowing tidak segera menyerang desa. Ibumu Alicia juga tidak menuliskan kau harus segera menjadi Tuan Putri, bukan? Maka dari itu, kau akan berbicara dengan orang yang lebih paham tentang kewajibanmu daripada aku.” Zeeta mengangkat kepala, dan ia kembali merasa takut. Ashley datang mendekat.
“Ya ampun, padahal kau sudah tak sadarkan diri selama tiga hari, dan setelah kaubangun, kau masih menunjukkan ekspresi takut itu padaku? Hahaha....” Ashley membuat-buat tawanya, padahal ia merasa kacau di dalam.
“Beliau sangat kenal dengan ibumu. Nyonya Ashley juga tahu tentang antingmu. Apapun yang kau pertanyakan tentang identitasmu, Beliau bukanlah seseorang yang harus kautakuti,” lanjut Arthur mencoba memberi dukungan agar Zeeta tidak merasa takut. “Oh ya, orang-orang itu juga ingin bertemu denganmu. Tampaknya mereka ingin berbicara banyak denganmu, jadi aku akan keluar sebentar dan memberi tahu warga lain jika kau sudah siuman, oke?”
Merasa tak ada pilihan, Zeeta mengatur napasnya. “Huuuuppp....” Zeeta menarik napasnya dalam-dalam. “Haaaaah....” Dilanjutkan dengan hela panjang napasnya. “Oke, aku siap!” Zeeta mengacungkan jempol kirinya.
“Hahaha, itu baru Zeeta. Baiklah kalau begitu, daah.” Arthur pun beranjak dari sana.
“Kau memiliki Ayah yang hebat ya, Nak!” Ashley melemparkan senyumnya.
“Uhm! Tapi....” Mendengar ini, Ashley paham apa yang dimaksud Zeeta.
“Meskipun dia bukan ayah kandungmu, dia tetap keluargamu, bukan? Tak apa. Banggalah karena kau memiliki keluarga sebaiknya!” Ashley meyakinkan Zeeta agar tak terganggu oleh hubungan darahnya dengan Arthur.
“Nyonya Ashley benar, Zee! Kau tidak bisa terus menerus merasa sedih, itu tidak mencerminkan seorang Tuan Putri!” Azure datang secara dramatis. Pakaian lusuhnya kini telah berubah cantik, ia memakai dress putih sepanjang lututnya dan berlengan panjang hingga pergelangan tangan. Rambutnya pun juga telah ditata dengan baik. Ia tampak seperti bangsawan yang sangat jelita.
“Kak Azure! Kau baik-baik saja?!” Zeeta segera berlari dan memeluknya.
“Hahaha... uhm. Itu semua karena kau, Zee. Terima kasih, ya.” Azure mengelus kepala Zeeta, ia sedikit tertawa menanggapi tindakan Zeeta yang segera memeluknya itu. “Luka yang kuterima dari Bastanil seharusnya sangat fatal untukku. Tepat setelah dia melukaiku, aku kehilangan napasku, tetapi anak ini... dia menyelamatkanku,” batin Azure ditengah senyumnya.
“Hueh...?” Zeeta tak mengerti apa yang Azure maksud.
“Tu-Tuan Putri! Aku sangat lega Anda baik-baik saja!” Marcus menampakkan diri dengan memberi hormat dan mengucurkan tangis bahagianya.
“E-eeeeh? Bu-bukankah aku sudah melakukan kesalahan? Apa yang terjadi? Seingatku aku membuat semua orang tak sadarkan diri... kukira semua orang....” Apa yang ia pikir sesaat setelah ia tahu seperti apa besar kekuatannya, ternyata keliru.
“Apa? Kaupikir kami ini mati?! Berani-beraninya kau menganggap perempuan tangguh sepertiku mati hanya karena anak kecil delapan tahun sepertimu?!” Azure mencoba mengalihkan pikiran Zeeta dari perasaan bersalahnya dengan bersikap seperti ini.
“Ma-maaf... tapi aku tidak tahu....”
“Hei.” Azure menyentil pelan dahi Zeeta.
“Aw ... a-apa?” Zeeta memegangi dahinya.
“Hentikan itu. Kau tidak perlu meminta maaf untuk hal-hal kecil seperti itu.”
“Ba-baik, Kak....”
“Bagus.” Azure menunjukkan senyum bangga layaknya kakak perempuan telah berhasil mendidik adik perempuannya.
“Nah, kalau begitu, Zeeta, ikut aku. Kau sudah bisa berjalan, bukan?” tanya Ashley memastikan.
“U-Uhm. Itu semua karena kasur empuknya, terima kasih sudah merawatku.” Zeeta menunjukkan hormatnya yang keliru dengan menundukkan setengah badannya.
“Haahh... sepertinya aku harus mulai mengajarimu dari tata cara bersikap seorang Tuan Putri, ya....” Ashley menghela napasnya. “Yah, masalah itu singkirkan dulu. Zeeta, aku akan menunjukkan siapa ibumu. Dengan begitu, kau akan tahu apa kemiripanmu dengan ibumu, dan lantas kau akan tahu apa kewajibanmu.” Ashley kemudian menggandeng Zeeta.
“Ba-baiklah....” Zeeta mengikuti Ashley entah kemana tujuan yang mereka tuju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments