Tuan Putri ke Ibu Kota

Tiga hari yang lalu, setelah Ashley menidurkan Zeeta yang tengah tak sadarkan diri di ruang kerjanya untuk sementara, ia mengeluarkan sebuah handphone layar sentuh dari saku blazer-nya. Ia menelepon seseorang.

“Halo, Al? Apa kau sudah memberitahukan berita itu?” katanya memulai pembicaraan.

“Aku baru akan memulai pertemuan dengan pasukan, ada apa?” balas suara laki-laki dari telepon.

“Ganti beritanya dengan Peringatan Darurat Satu.”

“E-Eh...? Apa yang terjadi?”

“Untuk saat ini, beritahu Rowing akan dieksekusi karena dia telah berkhianat dan kondisi Tuan Putri baik-baik saja.”

“Ha-hanya itu?!”

“Ha?! Kauingin bilang kautak bisa?!”

“Ti-tidak, tentu saja tidak. Informasinya hanya terlalu sedikit....”

“Cepatlah, Al. Aku tak punya waktu.”

“Baik, Bu.” Orang dibalik telepon itu berekspresi serius, kemudian menutup teleponnya.

......................

Albert Alexandrita, merupakan anak sematawayang Ashley. Saat ini ia menjabat sebagai Komandan pasukan kerajaan. Setiap harinya, ia selalu disibukkan oleh kegiatan latihan tempur sihir sekaligus keamanan kerajaan, meskipun pada faktanya, ia juga tak dapat melakukan apapun sementara Wilayah Selatan mengalami kejadian tragis.

Albert adalah pria berbadan tegap, memiliki rambut lurus pendek berwarna silver dan mata biru air yang berbulu mata panjang. Dengan penampilannya yang berwajah cantik namun maskulin, ia cukup digemari oleh masyarakat ibu kota, khususnya para wanita. Dalam hal kepemimpinannya pada pasukan kerajaan, dia lumayan diakui oleh bawahannya, meskipun banyak yang tidak menyukai dirinya yang dianggap sok dengan jabatan, keturunan, dan popularitasnya.

Para pasukan kerajaan, yang terdiri atas kurang lebih tiga ratus orang, memiliki peran keamanannya masing-masing. Seperti penjaga gerbang, pasukan keamanan pribadi bangsawan, dan prajurit yang menjaga di tiap bagian benteng kerajaan. Saat ini mereka telah dikumpulkan dalam satu lapangan luas di dalam kerajaan. Letak lapangan ini berada di dekat istana, sehingga pemandangannya cukup terasa aneh.

Siapa juga yang tidak akan merasa demikian bila melihat akar raksasa yang seakan-akan mengancam setiap nyawa yang mendekatinya? Itu juga membuat tiga ratus prajurit yang ada di sana hanya bisa berbaris dan menekan dalam-dalam kegugupannya.

Usai Albert menerima panggilan telepon dari ibundanya, ia segera menuju ke depan barisan pasukan dan memberikan informasi yang perlu didengar pasukan.

“Pasukan kerajaan Aurora sekalian!” teriak Albert. Ia memulai pidatonya dengan menggunakan lingkaran sihir di depan mulutnya sebagai speaker. Para pasukan yang gugup tersebut segera memusatkan pandangan mereka ke Albert.

“Uah... pandangan mereka tajam sekali...,” batin Albert setelah melihat arah mata tiga ratus orang tersebut. “Tidak tidak ... ini bukan waktunya untuk gugup....” Albert kemudian mengatur napasnya.

“Baru saja, aku menerima informasi baru dari Grand Duchess. Perintahnya yang menyuruh kita untuk menyebar informasi bahwa Tuan Putri akan segera pulang, harus diubah.”

Tatapan serius Albert membuat pasukannya menjadi bertanda tanya.

“Berdasarkan informasi yang kudapat dari Grand Duchess, salah satu bangsawan utama kerajaan kita, Rowing, telah berkhianat dan berencana melakukan kudeta dengan menggunakan Tuan Putri sebagai sanderanya.”

“A-apa?!”

“Tuan Putri itu ... kalau tidak salah, baru delapan tahun, bukan?”

“Terdengar nekat untuk seorang bangsawan!”

Berbagai tanggapan terdengar dari pasukannya.

“Oleh karena itu," sambung Albert, "Grand Duchess memberi perintah baru, yaitu Peringatan Darurat Satu.”.

“Jadi ... nyawa Tuan Putri BENAR-BENAR terancam?!"

“Bagaimana bisa ... padahal Rowing dulu tidak seperti itu....”

Albert menjatuhkan keringat dari pelipisnya sambil menebak apa yang akan terjadi jika "Peringatan Darurat Satu" itu dilaksanakan.

“Peringatan Darurat Satu, adalah perintah yang memprioritaskan keselamatan keluarga kerajaan apabila terdapat ancaman mendesak dari dalam atau luar kerajaan. Dalam situasi tertentu, para bangsawan di bawah perintah Grand Duchess akan menteleportasi masyarakat, sementara Komandan kerajaan dan Grand Duchess akan mengawal langsung keluarga kerajaan.

"Tapi menilai dari situasi saat ini, dengan kondisi Tuan Putri yang sekarang dan rencana kudeta Rowing, Beliau mungkin akan diamankan, sementara proses eksekusi dilakukan secara terbuka."

Salah seorang prajurit tiba-tiba berteriak mengatakan sesuatu sambil mengangkat tangannya. Dia adalah Marcus.

“Atas perintah Grand Duchess, aku sudah bertemu dengan Tuan Putri untuk menjalankan misi yang diberikan. Aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa nyawa Tuan Putri tidak dalam bahaya!” tegasnya. Ia diselimuti rasa gugup di tengah lautan manusia ini.

“Hei, apa yang kaukatakan? Jika Grand Duchess memberi Peringatan Darurat Satu, itu berarti nyawa Tuan Putri dalam bahaya!” prajurit di dekatnya berargumen.

“Aku tahu! Meskipun begitu ... setelah melihat sendiri bagaimana caranya menggunakan mana, aku....” Marcus mencengkeram tangannya erat-erat.

“Marcus, setelah ini temui aku empat mata.” Ucapan Albert membuat Marcus terkejut. Apakah tindakannya barusan salah?

......................

Albert telah melaksanakan perintah ibundanya. Setelah pertemuannya dengan pasukan kerajaan, ia segera mengumpulkan rakyat ibu kota dan menggunakan sihir untuk menampilkan dirinya di wilayah lain bak hologram di titik-titik tertentu wilayah tersebut, lalu mengumumkan apa yang terjadi saat ini dengan kerajaan mereka.

Banyak respon dari penduduk kerajaan. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mencurigai gelagat Rowing bahkan sebelum ada kejadian yang menimpa istana kerajaan.

“Tapi, sebagai Komandan kerajaan ini, aku ingin kalian tetap tenang dan menjalankan hari-hari seperti biasa. Kita semua tahu bahwa Tuan Putri masih berumur delapan tahun. Anak-anak tetaplah bermain, tidak ada yang perlu kalian takutkan.

"Lalu, untuk kalian para remaja dan orang-orang dewasa, Tuan Putri adalah keluarga kerajaan terakhir yang selamat dari insiden delapan tahun yang lalu. Kuharap, kalian semua tahu apa maksudnya.” Albert melempar senyumnya. Albert kemudian meninggalkan tempatnya berdiri, ia akan bertemu empat mata dengan Marcus.

Beragam makna yang didapat oleh para penduduk yang dimaksud oleh Albert. Mereka pun hanya bisa berharap takkan ada sesuatu yang buruk terjadi.

......................

Selang waktu sepuluh menit, Albert dan Marcus berbicara empat mata di halaman kediaman milik Albert dan duduk di sebuah set kursi dan meja sambil meminum secangkir teh.

“Aku tidak yakin apakah minum teh saat ini pantas dilakukan disaat ibuku sedang sibuk dengan Tuan Putri ... tapi, kuharap kau tidak memikirkannya terlalu rumit ya, Marcus.

"Aku melihatmu sangat mengkhawatirkan Tuan Putri, jadi kupikir kaubisa menenangkan dirimu jika kuajak minum teh denganku.” Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Justru aku semakin gugup, tahu! Minum teh bangsawan bersama dengan Albert Alexandrita?! Mimpi apa aku semalam?!” isi hati Marcus kacau. Satu sisi khawatir, sisi yang lain malah bersorak gembira. "Aku juga baru ingat kalau Komandan punya rumah khususnya sendiri...."

“Selain itu, aku ingin dengar pendapatmu, sebagai seorang rakyat jelata yang menjadi prajurit Alexandrita, lalu bertemu dan berbicara langsung dengan Tuan Putri.

"Jujur saja, aku khawatir dengan kondisi kerajaan saat ini. Dengan adanya keinginan kudeta dari bangsawan utama, hal itu bisa saja terpikirkan sejak awal dari banyak orang, bahkan seorang rakyat jelata sekalipun. Jika Tuan Putri ini ... secara kasarnya sama seperti Rowing, maka kerajaan ini tak memiliki masa depan.”

Marcus memalingkan pandangannya. “Anda hebat ya, Tuan Albert....”

“Hmm?”

“Anda sebenarnya adalah orang yang pemalu dan tertutup ... banyak di antara kami para prajurit yang tahu akan hal itu. Tapi, ketika Anda bersikap layaknya seorang pemimpin yang tegas padahal itu berbanding terbalik dengan sifat Anda, aku jadi semakin menghormati Anda....” Marcus memperlihatkan sedikit lekukan di bibirnya.

Albert sedikit terkejut. “Hahah... kau benar. Aku sebenarnya tidak ingin ikut kemiliteran, tetapi itu adalah kewajibanku sebagai penerus Alexandrita. Aku sering diomeli dan dihukum ibuku agar aku benar-benar bisa menjadi seorang Komandan yang diinginkan rakyat, tapi selain itu ... ada orang lain yang memengaruhiku agar aku teguh menjadi seorang Komandan, disaat aku tidak menginginkannya.”

“Setelah kuingat-ingat, kurasa Tuan Putri juga mirip denganmu, Tuan Albert.”

“Oh? Apa maksudmu?”

Marcus pun menceritakan apa yang terjadi disaat ia ada di penjara bersama Zeeta dan Azure.

“Jika Anda ingin mendengar bagaimana pendapatku, aku tetaplah khawatir dengan Tuan Putri. Meskipun ia memiliki kharisma dalam memerintah dan memiliki mana yang besar, jika tidak ada seseorang yang menemani pertumbuhannya, aku ragu ia akan menjadi Tuan Putri atau Ratu yang dapat membuat orang-orang tersenyum....”

Teh yang ada di masing-masing cangkir sudah habis. Albert berpikir dengan memegang dagu menggunakan tangan kirinya sambil menyilangkan kaki.

“Kau cukup jeli melihat dan memikirkan situasi ya, Marcus,” ucap Albert, yang Marcus pikir tak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka. “Untuk masalah itu, akan kubicarakan lebih lanjut secara internal dengan Grand Duchess dan bangsawan utama lainnya. Pergilah berpatroli, terima kasih sudah meluangkan waktumu denganku,”

sambungnya.

“B-baik! A-aku juga berterima kasih, Tuan Albert!” setelah memberi hormat pada Albert, Marcus segera mengangkat kakinya dari kediaman Albert.

......................

Setelah Zeeta dan Ashley membahas dan melihat seperti apa sosok ibu dan apa kewajiban yang harus Zeeta lakukan sebagai seorang Tuan Putri, mereka akan makan siang di ruang makan kediaman Alexandrita. Sementara mereka berjalan ke sana, Zeeta bertanya kepada Ashley untuk memastikan sesuatu.

“Guru ... anu ... apa aku boleh memastikan sesuatu?” kata Zeeta berhenti di tempat.

“Apa itu, Nak?” tanya Ashley.

“Aku selalu penasaran apakah jawaban yang aku temukan sendiri ini benar atau tidak, apakah kewajibanku sebagai Tuan Putri adalah untuk membuat rakyat tersenyum, tanpa memikirkan status bangsawan atau rakyat jelata?”

Ashley terdiam sesaat. “Dia memiliki potensi sebagai Ratu yang baik, tetapi potensi itu memiliki dua sisi yang tajam. Jika dia tahu realita di dunia sihir ini, aku pun tidak yakin bagaimana dia akan menanggapinya....”

“Hmm. Kau tidak salah, tetapi untuk kebaikanmu sendiri dan daripada menerima jawaban dariku, lebih baik kau memastikan sendiri apakah jawaban itu benar atau salah.”

“He? Bagaimana?”

“Pergilah ke ibu kota bersama Arthur, jika kau menginginkannya ajaklah Azure juga. Setelah kau tahu bagaimana cara masyarakat kerajaan ini hidup, pastikanlah kembali apakah jawaban yang kau temukan itu benar atau salah.”

“Eh? Kenapa aku harus melakukan itu?”

“Kau sungguh-sungguh bertanya itu? Apa kau tidak ingin bersenang-senang di tempat dimana kau bisa  mendapatkan permen apel, permen renjie, dan hal-hal lain yang belum pernah kau temukan di desa Lazuli?”

“Oh?! Permen apel dan permen renjie?! Aku bisa membuat kue renjie, tapi kalau kue renjie dihidangkan dengan permen renjie ... boleh juga, tuh! Aku akan kesana bersama ayah dan kak Azure!” semangat Zeeta tiba-tiba membara.

“Lakukan itu setelah makan siang, Nak!”

“Baik!” Zeeta dan Ashley saling melempar senyum. Mereka pun melanjutkan jalan menuju ruang makan.

Setelah mereka sampai di ruang makan, sebuah meja makan panjang dilapisi taplak meja berwarna putih dan dihiasi vas bunga kaca yang diisi beberapa batang bunga hias diiringi beberapa buah kursi terpampang di hadapan mereka.

“Duduklah di tempat yang kau mau, aku akan memanggil orang-orang yang akan makan siang bersama kita.” Ashley pergi mendekat ke jendela dan mengeluarkan handphone-nya.

Setelah Zeeta memilih kursi yang akan ia duduki, ia melihat-lihat sekelilingnya. Apa yang dapat dipikirkan setelah menyaksikan ruangan tersebut, hanyalah kata "mewah".

“Hmm ... enak ya, makan siang bersama bangsawan....” Suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar oleh Zeeta.

“Si-siapa itu?!” suara Zeeta yang tiba-tiba terdengar panik membuat Ashley segera berlari menghampirinya.

“Ada apa?!” tanya Ashley khawatir.

Zeeta meraih blazer dengan jemarinya. “Ti-tidak... aku hanya mendengar suara...” Ashley segera merasa ada yang aneh saat Zeeta tampak ketakutan ini.

“Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Nanti malam, aku akan mengunjungimu. Tenanglah Zeeta, aku hanya ingin bertemu dan berbicara padamu, oke?”

“Suara? Suara apa?” tanya Ashley masih dalam rasa khawatir.

“Oke....” Zeeta yang tak yakin menjawabnya.

“Nak?” Zeeta melepas jemarinya dari blazer Ashley.

“A-aku akan menceritakannya nanti....” Meskipun Zeeta sudah berusaha untuk tak membuat Ashley terlalu khawatir dengan caranya sendiri, itu malah menjadi senjata makan tuan.

......................

Sepuluh menit terlewati, berbagai macam hidangan mewah telah disajikan di atas meja. Ayam, sapi, kambing, berbagai macam olahan makanan dari tiga hewan ternak itu ada di antara hidangan tersebut. Begitu juga dengan minumannya, orang-orang dapat meminta kepada pelayan yang bersiaga di ujung ruangan, entah itu soda, jus, atau minuman beralkohol.

Orang-orang yang hadir dalam makan siang tersebut, beberapa di antaranya ada yang baru dilihat oleh Zeeta. Tetapi di ruangan ini, ia cukup merasa bahagia karena ia bertemu kembali dengan Gerda, Danny, Recko, Grilda, dan Kepala Desa. Tak lupa, hadir juga Arthur dan Azure.

Orang-orang yang baru dilihat Zeeta adalah bangsawan utama. Porte, Hellen, dan Willmurd, serta anak sematawayang Ashley, Albert Alexandrita.

“Tak kusangka Tuan Putri bisa kembali tersenyum ceria setelah tak sadarkan diri selama tiga hari... apa yang  sebenarnya Grand Duchess lakukan? Selain itu ...." Hellen dibuat heran dengan senyum bahagia Zeeta.

"ke-kenapa ada Arthur di sini?!" ia merona merah ketika sadar ada sosok yang sudah sangat lama tak berjumpa dengannya.

“Syukurlah kau baik-baik saja Zee. Aku sempat khawatir bagaimana keadaanmu saat kau diculik oleh Rowing...,” batin Gerda tersenyum hangat.

“Makan siang bersama Zeeta?! Ditambah di tempat bangsawan seperti ini?!” batin Danny gugup.

“Heh. Tak kusangka akan kembali bertemu dengan Pak Tua itu...,” batin Arthur melihat kehadiran Willmurd.

“Semua orang-orang ini menganggap Zee sangat penting, entah itu memperlakukannya sebagai teman, anak, atau Tuan Putri. Tapi aku...,” batin Azure melihat senyum ceria Zeeta.

“Eh? Kukira aku akan makan siang bersama ibu seperti biasa, tapi kenapa bangsawan utama lain, dan orang-orang-orang ini ikut? A-a-a-aku harus apa?! Apa aku harus memberikan pidato lagi?!” batin Albert.

“Zeeta, jika ada yang ingin kau sampaikan saat ini, sampaikanlah,” kata Ashley tersenyum.

Senyum ceria Zeeta berubah jadi sedikit serius. Ia berdiri dan mulai berbicara meskipun ada sedikit rona merah di pipinya.

“Sa-salam kenal semuanya. Na-namaku adalah Zeeta. Zeeta Aurora XXI. Meski ada orang-orang yang baru pertama kali kulihat, tetapi entah mengapa, aku seperti dibisiki anting ini, bahwa kalian adalah orang-orang yang menyelamatkan aku dan Kak Azure, dan aku mengucapkan terima kasih banyak. Maaf telah merepotkan kalian.”

“Hmm? Dibisiki antingnya?!” Ashley tiba-tiba terkejut.

“Aku sangat senang bahwa keluarga desaku yang telah hadir bersamaku selama delapan tahun ada di sini bersamaku. Sebenarnya... jika ada Sylva disini, aku juga ingin berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkan mereka disaat aku tak bisa melakukan apapun. Kuharap setelah makan siang yang diadakan Guru Ashley ini dapat membuat kita terhubung. Anu, ehm... itu saja.” Zeeta membungkukkan sedikit kepala dan menaikkan sedikit roknya tanda hormat, lalu ia segera duduk kembali.

Tepuk tanganpun terdengar menyambut. “Sambutan yang bagus, Zee. Tak kusangka kau bisa memikirkan kalimat-kalimat seperti itu!” Ashley memuji Zeeta.

“A-aku hanya belajar dari cara Ayah mengajar... jadi ini tidak ada apa-apanya....” Rona merah di pipi Zeeta masih belum bisa hilang sebab ia masih merasa malu setelah memberi sambutan tadi. Mendengar ucapan Zeeta, Arthur hanya bisa tersenyum. Tersenyum bangga anaknya sudah bisa mandiri seperti itu.

“Jadi, seperti inilah Tuan Putri kalian. Lindungi dia apapun yang terjadi, Hellen, Will, Porte!” Ashley tersenyum.

“Baik!” jawab ketiganya bersamaan.

“Nah, semuanya, silakan makan sampai kalian puas!” Ashley telah memberi lampu hijau untuk mereka yang sudah lapar.

......................

Setelah Zeeta dan yang lain telah menghabiskan makan siang mereka, Ashley bertemu dengan Arthur dan Azure untuk memberitahu mereka agar lebih memerhatikan Zeeta setelah apa yang terjadi sebelum makan siang tadi.

Zeeta sendiri telah mengganti baju dan menggunakan topi jerami besar untuk menutupi anting serta melindungi dirinya dari sinar mentari, bertemu dengan Arthur dan Azure di gerbang kediaman Alexandrita.

Zeeta belum bisa mengungkapkan dirinya di depan rakyat. Setidaknya untuk saat ini, Ashley masih berpikir untuk tidak memberitakan bahwa Zeeta telah pulih dan sadar. Menurutnya, Zeeta masih harus menikmati masa anak-anaknya sambil belajar seperti apa kewajibannya sebagai Tuan Putri.

“Hei, jika kita akan jalan-jalan di ibu kota atas perintah Grand Duchess, apa kita akan naik mobil atau semacamnya?!” Azure bersemangat.

“E-eh? Kak Azure ingin naik mobil?” Zeeta sedikit terkejut mendengar perkataan Azure. “Kukira... karena kita bertiga akan menghabiskan waktu bersama, akan lebih baik jika kita berjalan saja....” Zeeta murung.

Azure kewalahan, ia bingung harus apa. Ini adalah kali keduanya ia merasa seperti ini.

“Kalau kauingin seperti itu, mari kita jalan saja. Ya, ‘kan, Azure?” Arthur membantu Azure.

“U-uhm. Kau benar! Ayo kita jalan-jalan, Zee!”

“Uhm!” Zeeta melemparkan senyum bahagianya.

“Akan kugandeng kau. Jangan berani lepaskan kalau tidak mau terpisah, ya!” Azure meraih tangan kiri Zeeta.

“Ahahah, rasanya aku sudah memiliki dua anak saja. Kalian benar-benar seperti kakak dan adik, ya!” seru Arthur melihat dua anak perempuan itu sembari tersenyum.

“Ya! Meskipun aku baru kenal Kak Azure, dia memang seperti kakak, dan aku selalu bermimpi punya kakak seperti Kak Azure... jadi aku sangat senang!”

Azure terenyuh atas kata-kata Zeeta. Ia menguatkan genggaman tangannya, dan tersenyum. “Ya, aku juga, Zee.”

“Nah, kalau begitu, ayo berangkat!” Arthur menggandeng tangan kanan Zeeta lalu mereka pun berangkat berjalan-jalan menuju ibu kota.

.

.

.

.

Di ibu kota, Aurora, suasana festival yang diadakan bulanan itu masih sedikit terasa. Bendera-bendera kerajaan yang melambangkan bulan purnama bersinar dan bendera warna-warni masih menghiasi jalanan, pertokoan, hingga lampu jalan. Suasana yang dapat membuat setiap orang tersenyum dapat dirasakan ketiganya.

Orang-orang yang mempromosikan barang jualan mereka, seperti daging, sayur, buah, roti, dan lain-lain dapat disaksikan dimana-mana.

Tak luput juga teknologi yang telah dikembangkan hingga saat ini. Ada trem yang memakai sihir sebagai bahan bakar yang berjalan di bawah jembatan yang menghubungkan bangunan satu dan bangunan lain.

Jembatan tersebut menghubungkan bangunan-bangunan dengan menyisakan ruang di tengah bangunan tersebut agar trem dapat melintas. Meskipun disebut trem, kecepatannya tidak akan sama dengan trem biasa akibat sihir. Disamping trem, ada juga mobil, hingga barang-barang yang dipakai di dalam toko tanpa perlu menggunakan sihir sedikitpun.

Pemandangan ini, adalah pemandangan yang selalu Zeeta suka, bahkan sejak ia di desa. Senyuman-senyuman dari orang-orang itu sungguh membuatnya bahagia. Tak ada orang yang menderita, merintih, ataupun menangis.

“Ibu kota itu indah ya!” Zeeta melihat ke arah Azure dan Arthur. Pandangan Arthur dan Azure yang terlihat seperti tak percaya akan apa yang mereka lihat, membuat Zeeta ikut melihat ke arah pandangan yang sama dengan mereka. Reaksi yang muncul dari Zeeta pun sama, ia juga tak percaya apa yang ia lihat. Peluh jatuh dari pelipis mereka, mulut mereka menganga.

Istana Aurora, bangunannya yang begitu besar dan megah dengan letaknya terpisah dari ibu kota melalui danau, tak dapat menunjukkan sosok utuhnya sebab akar raksasa yang melilit istana. Istana itu berdiri di atas pulau yang terpisah dari ibukota.

Jembatan megah yang seharusnya menghubungkan ibu kota dan istana pun hancur, hanya ada sisa-sisa kristal milik Porte yang menghubungkan ibu kota dengan akar tersebut. Mengingat ukuran istana yang besar dan megah namun dililit oleh akar yang tak kalah jauh lebih besar darinya, tak ada yang bisa mereka lihat atau pastikan dari luar.

Ukuran akar yang sepuluh kali lipat lebih besar dari mereka seakan melumpuhkan tubuh mereka. Entah bagaimana, mereka seperti merasakan mana yang menekan tubuh mereka. Apakah orang-orang yang tinggal di sini tidak merasakan mana ini? Mengapa mereka seperti tidak peduli padahal istana kerajaan seperti itu?

Sebenarnya Zeeta tahu, Azure dan Arthur pun juga begitu. Mereka tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukan terhadap akar raksasa itu, mereka juga tahu bahwa para bangsawan telah mencoba banyak hal untuk melakukan sesuatu terhadap akar itu, terlihat dari bekas kristal milik Porte. Tetapi, tak ada satupun bekas yang melukainya.

Dengan akar seperti ini di dekat tempat tinggal mereka, apa mereka hanya diam saja dan tidak memikirkan cara lain? Apa mereka hanya akan pasrah meninggalkan Ratu—tidak, ibu kandungnya? Begitu pikir Zeeta.

Jika demikian, Zeeta kembali mempertanyakan kewajibannya. Untuk apa, orang-orang yang seakan tak peduli terhadap Ratu mereka, harus ia layani dengan kekuatannya? Untuk apa ia berbaik hati terhadap seseorang yang tak peduli terhadap manusia lain? Hanya karena mereka tak bisa melakukan sesuatu, mereka melupakan sosok penting negeri ini?

“Kau... baru saja memikirkan yang tidak-tidak bukan?” suara Azure mengagetkan Zeeta yang termenung.

“Mereka hidup bahagia di sini, bukan berarti mereka tak peduli dengan Ratu Alicia, Nak.” Arthur menepuk kepala Zeeta. “Jika mereka benar-benar tak peduli dengan Ratu, akan lebih mudah untuk mereka hidup tanpa memikirkan akar raksasa itu setiap harinya dengan pindah ke tempat lain.”

“Ayahmu benar, Zee. Kita semua merasakan bahwa akar itu memiliki mana dan aku pikir ini karenamu, Zee.”

“Eh? Apa maksudmu, Kak?”

“Hmm... insting wanitaku berbicara?” Azure menjawab tapi ia tak pasti bagaimana cara menjelaskannya.

“Nak, merupakan hal yang salah jika kau mengambil kesimpulan bahwa tak ada yang peduli dengan Ratu. Sebagai Tuan Putri, kau juga harus mendengarkan apa pendapat dari orang lain, terutama bangsawan-bangsawan yang telah mencoba melakukan sesuatu terhadap akar itu."

Arthur berjongkok dan memegang kedua bahu Zeeta.

“Jika apa yang dirasakan Nak Azure bahwa dirimu ada hubungannya dengan akar itu, sebaiknya kau bicara dengan Grand Duchess. Aku tidak suka mengakuinya, tapi sebagai rakyat jelata, aku pun tak mengerti bagaimana kita bertiga bisa merasakan mana-nya.”

Zeeta terdiam. Tak tahu harus mengatakan apa.

“Zee, aku akan tanya ini. Kesampingkan semua hal yang sedang kaupikirkan sekarang, apa yang ingin KAULAKUKAN terhadap akar itu?” tanya Azure langsung ke inti.

“Aku ... aku ingin bertemu dengan ibuku....” Air mata Zeeta terjatuh. “Aku tidak tahu kenapa... aku merasa sangat rindu.... Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, tapi ... saat aku merasa orang-orang tak mempedulikan ibu, aku merasa sangat marah dan kecewa....

“Aku ... ingin memeluk ibu.” Tangis Zeeta semakin menjadi-jadi. Melihat Zeeta seperti ini, menggerakkan Arthur untuk memeluk Zeeta, begitu juga dengan Azure.

“Kami akan membantumu. Kita pasti bisa menemukan cara untuk menghancurkan akar itu,” kata Arthur sambil membelai rambut Zeeta lembut.

“Ya, aku juga akan selalu ada di sisimu, Zee!”

Orang-orang yang melintas di dekat mereka hanya bisa melihat dan bertanya-tanya. Mereka terlihat seperti keluarga yang sedang terharu akan sesuatu. Arthur dan Azure terus memeluk Zeeta sampai Zeeta bisa menenangkan dirinya kembali.

Episodes
1 Prolog
2 Kehidupan Baru
3 Sihir
4 Peri
5 Impiannya
6 Buah dari Kerja Keras
7 Keinginan yang Muncul dari Kesempatan
8 Musim Semi yang Pedih
9 Dunia Asing
10 Wewenang atau Kekerasan?
11 Malam Sebelum Badai (1/2)
12 Malam Sebelum Badai (2/2)
13 Bangsawan Meja Bundar
14 Negeri yang Indah nan Kotor
15 Kewajiban Sang Putri (1/2)
16 Kewajiban Sang Putri (2/2)
17 Tuan Putri ke Ibu Kota
18 Sang Elf, Aria
19 Zeeta Aurora XXI
20 Eksekusi Mati
21 Langkah Awalnya
22 NAMAKU ADALAH ZEETA!
23 Rumor dan Fakta
24 Bibit Kejahatan
25 Ingatan Manis Hellenia (1/2)
26 Ancaman
27 Ambang Keputusasaan
28 Ingatan Manis Hellenia (2/2)
29 Kekuatan yang Hanya Dimiliki Manusia
30 Layaknya Nenek, Layaknya Cucu
31 Bertemu dengan Keluarga
32 Ikatan yang Terbentuk dari Kesan
33 Mana
34 Kengerian yang Merangkak Keluar
35 Sumbu dari Sebuah Legenda
36 Yang Akan Menuntunnya
37 Catastrophe Seal
38 Hutan Misterius
39 Benih Yggdrasil
40 Misi Selanjutnya
41 Sang Roh Yggdrasil, Luna
42 Sekutu
43 Rencana Sang Putri
44 Vivid Party
45 Rencana Penyelamatan Alicia (1/2)
46 Rencana Penyelamatan Alicia (2/2)
47 Rapat Keluarga Darurat
48 Kemampuan Sihirnya Tak Terbatas
49 [Bab Pengumuman] Kedudukan Kebangsawanan Kerajaan Aurora
50 Keberadaan Ras Lain
51 Kekalahannya
52 Manusia dan Makhluk Sihir yang Bentrok
53 Kekuatan Bangsawan Utama
54 Apa yang Menjadi Janjinya
55 Eclipse, Sekutu yang Tak Terduga
56 Sebuah Misteri yang Terkuak
57 Babak Baru
58 Kerja Sama Antar Ras
59 Melangkah ke Depan (1/2)
60 Melangkah ke Depan (2/2)
61 Klutzie dan Siren
62 Latihan untuk Menyusulnya
63 Percikan Api
64 Amarah dari Sebuah Kekonyolan
65 Pertanda?
66 Kegelapan yang Melindungi
67 Peran Keluarga
68 Teman dan Cinta
69 Kunci Kotak Harta Karun
70 Sebuah Kebenaran
71 Langkah Menuju Kebebasan
72 Bersama dengan Ibu, Mendengarnya
73 Ibu dan Ayah
74 Kebebasan
75 Kerajaan yang Berlibur
76 Azure dan Desa Lapis
77 Keluarga Baru
78 Waktu Bersama Keluarga
79 Karma yang Kejam
80 Dia yang Mengawasi
81 Zeeta dan Azure
82 Kekuatan Penuh Ashley 1
83 Willmurd Louis de Dormant
84 Kekuatan Penuh Ashley 2
85 Menuju Masa yang Diramalkan
86 Dunia yang Diramalkan
87 Bersiap Diri
88 Keputusan Azure
89 Layaknya Kotak Pandora
90 Awal dari Sang Pembalas Dendam, Marianna Aurora
91 Latihan yang Keras
92 Volten Sisters
93 Latihan Bersama Volten Sisters
94 Langit di Atas Langit
95 Tanah Ephemeral
96 "Mengakhiri Dunia"
97 Ketakutan yang Dibalut oleh Harapan
98 (Bab Pengumuman) Disclaimer - Sebelum Membaca Chapter (Arc) Selanjutnya
99 (Bab Pengumuman) Daftar Rune
100 Sihir Kuno Rune
101 Kekuatan Maisie
102 Bencana Besar yang akan Menghantam
103 Pertarungan yang Sudah Dimulai
104 Segel yang Dilepas Setelah Sekian Lama
105 Bala Bantuan
106 Janji Seorang Lelaki
107 Baru Dimulai
108 Tekad Kuat Gerda
109 Sampai Tetes Darah Terakhir
110 Wasiat Ratusan Tahun
111 Harta Karun untuk Masa Depan
112 Crescent Void
113 Kepercayaan yang Tulus
114 Menuju Perjalanan Selanjutnya
115 Bertekadlah Layaknya Kupu-Kupu
116 Arti dari Seorang Pemimpin
117 Penyihir Harapan
118 Sesuatu yang Berhasil Dilindungi
119 Dia yang Kembali Beraksi
120 Kepulangannya
121 Perbedaan Level
122 Tiada Waktu 'tuk Bersantai
123 Rapat Keluarga Darurat 2
124 Kunjungan
125 Pulangnya Tuan Putri ke Rumah
126 Luka di Hati
127 Hubungan Adik dan Kakak
128 Arti Sebuah Kerajaan
129 Menuju Kerajaan Nebula 1/3
130 Menuju Kerajaan Nebula 2/3
131 Menuju Kerajaan Nebula 3/3
132 Kedatangan Azure
133 Masa Lalu Suzy
134 Gugurnya Sebuah Harapan
135 Cinta Seorang Kakek
136 Perjuangannya
137 Ifrit Sang Api
138 Amarah
139 Ifrit vs. Ashley 1
140 Ifrit vs. Ashley 2
141 Jötunnheim dan Fyrriheim
142 Terdampar di Dunia Lampau, Fyrriheim
143 Klutzie vs. Jewel
144 Si Pelayan Klasik, Asteria
145 Identitas Sang Pria Misterius yang Mematikan, L'arc Darnmite
146 Rahasia Fyrriheim, Sebuah Dunia Lampau
147 Turning Point 1
148 Arti dari Hidup, Sebuah Awal dari Aurora
149 Sirkuit Sihir
150 Rencana Para Elf
151 Pertahanan Seluruh Tenaga demi Rakyat
152 Menuju Babak Selanjutnya
153 Pohon Chronos
154 Pertanggungjawaban yang Pantas
155 Penyesalan
156 Janji dalam Pelarian
157 Kebencian yang Terkunci Selama 200 Tahun
158 Bersama Senyum, Ditemani Oleh Senyum
159 Kembalinya Scarlet
160 Kepercayaan Diri
161 Pertarungan yang akan Mengubah Dunia
162 Guru dan Murid yang Menanggung Kebencian Besar
163 Para Penyintas
164 Kekuatan Tersembunyi Azure
165 Gelombang Pasang
166 Saksi Hidup Sejak Ribuan Tahun Silam
167 Harapan yang Berkilau
168 Zeeta vs. Marianna 1/4
169 Menguak Paksa Masa Lalu yang Pahit
170 Ketragisan yang Harus Diakhiri
171 Menerobos Kemustahilan
172 Zeeta vs. Marianna 2/4
173 Keadilan yang Tak Disesali
174 Zeeta vs. Marianna 3/4
175 Zeeta vs. Marianna 4/4
176 Keseharian Aurora yang Kembali Damai
177 Makhluk yang Kuat pun Lemah
178 Rekan Baru
179 Tamu Pembawa Teror
180 Dinding yang Tak Mudah Dihancurkan
181 Misi Baru Aurora
182 Tersirat
183 Penyusup
184 Keberadaan Masing-Masing Tim Ekspedisi
185 Serina dan Gerda
186 Keyakinan
187 Dalam Hitungan Detik
188 Masalahnya Masing-Masing
189 Kedatangan yang Tidak Diduga
190 Kecurigaan Pandang Pertama
191 Meremehkan Lawan yang Salah
192 "Belas Kasih"
193 Menantang Kemustahilan
194 Wajah Aurora yang Tercermin dari Sang Putri
195 Kemunculan Seseorang yang Tidak Diduga
196 Mau Tidak Mau
197 Sayap Menuju Esok
198 Yang Meyakinkannya
199 Ketika Tiada yang Menyadarinya
200 Menuju Tanah Kematian
201 Tanah Tanpa Kehangatan (1/2)
202 Tanah Tanpa Kehangatan (2/2)
203 Kambing Hitam
204 Sang Pelintas Waktu
205 Amarah Lloyd
206 Gadis yang Menyembunyikan Tujuannya
207 Demi Menjawab Harapan Sang Penyihir Harapan
208 Ancaman yang Dipatahkan
209 Roh Kuno Angin, Zephyr
210 Rahasia Dunia dan Ambisi untuk Menang
211 Alasan Belle
212 Dari Kematian, Menuju Kematian, Berakhir pada Kematian
213 Persiapan Menantang Kematian
214 Harapan Palsu
215 Trauma Zeeta
216 Kemunculan Tellaura, Sang Penyihir Pengutuk Dunia
217 Dark Elf yang Tak Segan Membunuh, Jourgan
218 High Elf Maniak Pertarungan, Bellaria
219 Pertanda Ragnarok
220 Gadis Seiryuu yang Bernasib untuk Mati
221 Rahasia Dibalik Senjata Suci
222 Turning Point 2
223 Pandangan Salah Seorang Dark Elf Pada Manusia
224 Titania, Sang Keturunan Raksasa
225 Sang Raksasa Teladan, Jeanne
226 Waktunya untuk Serius!
227 Pertempuran yang Singkat
228 Dunia Impian di Dalam Dunia Terkutuk
229 Dariku, 300 Tahun yang Lalu
230 Bersama-sama
231 Datangnya Perubahan Dunia
232 Burung yang Tersangkar dan Burung yang Terburu
233 Bangsawan, Pelayan, dan Rakyat Jelata
234 Merelakan Yang Tersayang
235 Kejamnya Dunia pada Mereka
236 Awal dari Semuanya 1
237 Alasan Seorang Tellaura Hidup
238 Gigih
239 Mereka yang Hidup di Dunia yang Berbeda
240 Ketakutan
241 Jiwa yang Tersesat
242 Ingatan yang Kembali
243 Keinginan Sang Raksasa
244 Kakak-Adik dan Putri-Pembunuh
245 Malam Sebelum Petaka
246 Jebakan
247 Bulan Darah
248 Pembalasan
249 Awal dari Semuanya 2
250 Tipu Muslihat
251 Menghilangkan Siklus Kebencian
252 Dua Gadis Berambut Perak
253 Sebelum Semuanya Tak Bisa Lagi Digenggam
254 Mimpi yang Tak Lagi Dapat Digapai
255 Putri Duyung dan Penyihir Harapan
256 Penyihir Harapan dan Penyihir Bintang
257 Menuju Hari Akhir 1
258 Lautan yang Marah
259 Masa Lalu Penyihir Bintang
260 Gadis yang Kuat
261 Malam yang Gila 1
262 Permintaan Roh Kuno Air
263 Malam yang Gila 2
264 Tirta Amarta 1
265 Tirta Amarta 2
266 Tirta Amarta 3
267 Aku dan Aku yang Lain
268 Ozy dan Jeanne
269 Keseriusan Zeeta
270 Bertemunya Dua Zeeta
271 Arata Akihiro
272 Menyeret ke Dalam Lubang Berbilah Tajam
273 Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 1
274 Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 2
275 Mereka yang Menyayanginya
276 Kedatangan Sosok yang (Pernah) Berharga Untuknya
277 Dua Gerbang yang Terbuka
278 Melodi dari Neraka
279 Turning Point 3
280 Kartu Truf
281 Bangkit
282 Jatuh dalam Kegelapan
283 Secercah Harapan
284 Sejarah Nebula 1
285 Sejarah Nebula 2
286 Jangan Remehkan Gadis yang Sedang Jatuh Cinta!
287 Barghest yang Misterius
288 The Power of Love
289 Gadis yang Menjadi Dunianya
290 Cermin Seorang Penguasa yang Dikagumi
291 Pangeran Cupu (?)
292 Putri Keemasan yang Dikutuk
293 Sejarah yang Saling Terhubung
294 Pertanyaan Demi Pertanyaan
295 Kerajaan Gala
296 Mereka yang Bangkit dari Keterpurukan
297 Menciptakan Legenda
298 Hati Baja yang Tidak Dimiliki Semua Orang
299 Catastrophe Seal dan Vanadust
300 Secercah Cahaya dari Dunia
301 Apakah Ini Sebuah Tekad? Atau Hanya Tegar?
302 Buah Perjuangannya
303 Tujuan Akhir Zeeta
304 Sahabat
305 Petunjuk
306 Negeri Para Raksasa
307 Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 1
308 Fana
309 Jawaban
310 Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 2
311 Zeeta dan Luna
312 Rapat Keluarga (Bangsawan)
313 (Bab Pengumuman) Desain Karakter Zeeta (Delapan Tahun)
314 Pengorbanan Tidaklah Selalu Buruk
315 (Bab Pengumuman) Desain Karakter Danny & Gerda (9/8 Tahun)
316 Hubungan dan Ikatan
317 Wejangan
318 Keroco Kuat yang Buta Tujuan
319 Terbukanya Dua Gerbang
320 Syarat
321 Angin Zephyr
322 Ragnarok, Pertempuran Akhir Dunia
323 Tujuan Tiga Dunia yang Berbeda
324 Demi Hari Esok
325 Sang Raksasa Alpha, Fenrir
326 Seiryuu dan Penyangganya
327 Masalah Hati Arata Akihiro
328 Naga Pengecut, Nidhogg
329 Menerima Apa Adanya dan Mencintainya
330 Naga yang Nyaris Kehilangan Arahnya
331 Pengkhianatan yang Tak Bisa Dimaafkan
332 Kegelapan yang Menerangi
333 Luluh Lantaknya Bumi
334 Bala Bantuan
335 Kehancuran
336 Dirimu yang Bagaikan Cahaya Untukku
337 Pertolongan Alam Kematian
338 Pengorbanan
339 Tombak Suci Rhongomyniad
340 Pertempuran Akhir 1
341 Yang Mengerti Dirinya
342 Mewujudkan Lagi Tír na nÓg
343 Cahaya Dari Bintang
344 Naga Dan Manusia
345 Keheningan Sebelum Badai
346 Jawaban Sang Penentu Dunia
347 Zeeta Alter vs. Si Kembar Levant
348 Mereka yang Mengutuk Dunia
349 Peran Terakhir Crescent Void
350 Quaternity Grandeur
351 Rival Gadis Itu
352 Tirai Penutup
353 Sang Penyihir Harapan [END]
354 Bab Bonus - True (Happy) Ending
Episodes

Updated 354 Episodes

1
Prolog
2
Kehidupan Baru
3
Sihir
4
Peri
5
Impiannya
6
Buah dari Kerja Keras
7
Keinginan yang Muncul dari Kesempatan
8
Musim Semi yang Pedih
9
Dunia Asing
10
Wewenang atau Kekerasan?
11
Malam Sebelum Badai (1/2)
12
Malam Sebelum Badai (2/2)
13
Bangsawan Meja Bundar
14
Negeri yang Indah nan Kotor
15
Kewajiban Sang Putri (1/2)
16
Kewajiban Sang Putri (2/2)
17
Tuan Putri ke Ibu Kota
18
Sang Elf, Aria
19
Zeeta Aurora XXI
20
Eksekusi Mati
21
Langkah Awalnya
22
NAMAKU ADALAH ZEETA!
23
Rumor dan Fakta
24
Bibit Kejahatan
25
Ingatan Manis Hellenia (1/2)
26
Ancaman
27
Ambang Keputusasaan
28
Ingatan Manis Hellenia (2/2)
29
Kekuatan yang Hanya Dimiliki Manusia
30
Layaknya Nenek, Layaknya Cucu
31
Bertemu dengan Keluarga
32
Ikatan yang Terbentuk dari Kesan
33
Mana
34
Kengerian yang Merangkak Keluar
35
Sumbu dari Sebuah Legenda
36
Yang Akan Menuntunnya
37
Catastrophe Seal
38
Hutan Misterius
39
Benih Yggdrasil
40
Misi Selanjutnya
41
Sang Roh Yggdrasil, Luna
42
Sekutu
43
Rencana Sang Putri
44
Vivid Party
45
Rencana Penyelamatan Alicia (1/2)
46
Rencana Penyelamatan Alicia (2/2)
47
Rapat Keluarga Darurat
48
Kemampuan Sihirnya Tak Terbatas
49
[Bab Pengumuman] Kedudukan Kebangsawanan Kerajaan Aurora
50
Keberadaan Ras Lain
51
Kekalahannya
52
Manusia dan Makhluk Sihir yang Bentrok
53
Kekuatan Bangsawan Utama
54
Apa yang Menjadi Janjinya
55
Eclipse, Sekutu yang Tak Terduga
56
Sebuah Misteri yang Terkuak
57
Babak Baru
58
Kerja Sama Antar Ras
59
Melangkah ke Depan (1/2)
60
Melangkah ke Depan (2/2)
61
Klutzie dan Siren
62
Latihan untuk Menyusulnya
63
Percikan Api
64
Amarah dari Sebuah Kekonyolan
65
Pertanda?
66
Kegelapan yang Melindungi
67
Peran Keluarga
68
Teman dan Cinta
69
Kunci Kotak Harta Karun
70
Sebuah Kebenaran
71
Langkah Menuju Kebebasan
72
Bersama dengan Ibu, Mendengarnya
73
Ibu dan Ayah
74
Kebebasan
75
Kerajaan yang Berlibur
76
Azure dan Desa Lapis
77
Keluarga Baru
78
Waktu Bersama Keluarga
79
Karma yang Kejam
80
Dia yang Mengawasi
81
Zeeta dan Azure
82
Kekuatan Penuh Ashley 1
83
Willmurd Louis de Dormant
84
Kekuatan Penuh Ashley 2
85
Menuju Masa yang Diramalkan
86
Dunia yang Diramalkan
87
Bersiap Diri
88
Keputusan Azure
89
Layaknya Kotak Pandora
90
Awal dari Sang Pembalas Dendam, Marianna Aurora
91
Latihan yang Keras
92
Volten Sisters
93
Latihan Bersama Volten Sisters
94
Langit di Atas Langit
95
Tanah Ephemeral
96
"Mengakhiri Dunia"
97
Ketakutan yang Dibalut oleh Harapan
98
(Bab Pengumuman) Disclaimer - Sebelum Membaca Chapter (Arc) Selanjutnya
99
(Bab Pengumuman) Daftar Rune
100
Sihir Kuno Rune
101
Kekuatan Maisie
102
Bencana Besar yang akan Menghantam
103
Pertarungan yang Sudah Dimulai
104
Segel yang Dilepas Setelah Sekian Lama
105
Bala Bantuan
106
Janji Seorang Lelaki
107
Baru Dimulai
108
Tekad Kuat Gerda
109
Sampai Tetes Darah Terakhir
110
Wasiat Ratusan Tahun
111
Harta Karun untuk Masa Depan
112
Crescent Void
113
Kepercayaan yang Tulus
114
Menuju Perjalanan Selanjutnya
115
Bertekadlah Layaknya Kupu-Kupu
116
Arti dari Seorang Pemimpin
117
Penyihir Harapan
118
Sesuatu yang Berhasil Dilindungi
119
Dia yang Kembali Beraksi
120
Kepulangannya
121
Perbedaan Level
122
Tiada Waktu 'tuk Bersantai
123
Rapat Keluarga Darurat 2
124
Kunjungan
125
Pulangnya Tuan Putri ke Rumah
126
Luka di Hati
127
Hubungan Adik dan Kakak
128
Arti Sebuah Kerajaan
129
Menuju Kerajaan Nebula 1/3
130
Menuju Kerajaan Nebula 2/3
131
Menuju Kerajaan Nebula 3/3
132
Kedatangan Azure
133
Masa Lalu Suzy
134
Gugurnya Sebuah Harapan
135
Cinta Seorang Kakek
136
Perjuangannya
137
Ifrit Sang Api
138
Amarah
139
Ifrit vs. Ashley 1
140
Ifrit vs. Ashley 2
141
Jötunnheim dan Fyrriheim
142
Terdampar di Dunia Lampau, Fyrriheim
143
Klutzie vs. Jewel
144
Si Pelayan Klasik, Asteria
145
Identitas Sang Pria Misterius yang Mematikan, L'arc Darnmite
146
Rahasia Fyrriheim, Sebuah Dunia Lampau
147
Turning Point 1
148
Arti dari Hidup, Sebuah Awal dari Aurora
149
Sirkuit Sihir
150
Rencana Para Elf
151
Pertahanan Seluruh Tenaga demi Rakyat
152
Menuju Babak Selanjutnya
153
Pohon Chronos
154
Pertanggungjawaban yang Pantas
155
Penyesalan
156
Janji dalam Pelarian
157
Kebencian yang Terkunci Selama 200 Tahun
158
Bersama Senyum, Ditemani Oleh Senyum
159
Kembalinya Scarlet
160
Kepercayaan Diri
161
Pertarungan yang akan Mengubah Dunia
162
Guru dan Murid yang Menanggung Kebencian Besar
163
Para Penyintas
164
Kekuatan Tersembunyi Azure
165
Gelombang Pasang
166
Saksi Hidup Sejak Ribuan Tahun Silam
167
Harapan yang Berkilau
168
Zeeta vs. Marianna 1/4
169
Menguak Paksa Masa Lalu yang Pahit
170
Ketragisan yang Harus Diakhiri
171
Menerobos Kemustahilan
172
Zeeta vs. Marianna 2/4
173
Keadilan yang Tak Disesali
174
Zeeta vs. Marianna 3/4
175
Zeeta vs. Marianna 4/4
176
Keseharian Aurora yang Kembali Damai
177
Makhluk yang Kuat pun Lemah
178
Rekan Baru
179
Tamu Pembawa Teror
180
Dinding yang Tak Mudah Dihancurkan
181
Misi Baru Aurora
182
Tersirat
183
Penyusup
184
Keberadaan Masing-Masing Tim Ekspedisi
185
Serina dan Gerda
186
Keyakinan
187
Dalam Hitungan Detik
188
Masalahnya Masing-Masing
189
Kedatangan yang Tidak Diduga
190
Kecurigaan Pandang Pertama
191
Meremehkan Lawan yang Salah
192
"Belas Kasih"
193
Menantang Kemustahilan
194
Wajah Aurora yang Tercermin dari Sang Putri
195
Kemunculan Seseorang yang Tidak Diduga
196
Mau Tidak Mau
197
Sayap Menuju Esok
198
Yang Meyakinkannya
199
Ketika Tiada yang Menyadarinya
200
Menuju Tanah Kematian
201
Tanah Tanpa Kehangatan (1/2)
202
Tanah Tanpa Kehangatan (2/2)
203
Kambing Hitam
204
Sang Pelintas Waktu
205
Amarah Lloyd
206
Gadis yang Menyembunyikan Tujuannya
207
Demi Menjawab Harapan Sang Penyihir Harapan
208
Ancaman yang Dipatahkan
209
Roh Kuno Angin, Zephyr
210
Rahasia Dunia dan Ambisi untuk Menang
211
Alasan Belle
212
Dari Kematian, Menuju Kematian, Berakhir pada Kematian
213
Persiapan Menantang Kematian
214
Harapan Palsu
215
Trauma Zeeta
216
Kemunculan Tellaura, Sang Penyihir Pengutuk Dunia
217
Dark Elf yang Tak Segan Membunuh, Jourgan
218
High Elf Maniak Pertarungan, Bellaria
219
Pertanda Ragnarok
220
Gadis Seiryuu yang Bernasib untuk Mati
221
Rahasia Dibalik Senjata Suci
222
Turning Point 2
223
Pandangan Salah Seorang Dark Elf Pada Manusia
224
Titania, Sang Keturunan Raksasa
225
Sang Raksasa Teladan, Jeanne
226
Waktunya untuk Serius!
227
Pertempuran yang Singkat
228
Dunia Impian di Dalam Dunia Terkutuk
229
Dariku, 300 Tahun yang Lalu
230
Bersama-sama
231
Datangnya Perubahan Dunia
232
Burung yang Tersangkar dan Burung yang Terburu
233
Bangsawan, Pelayan, dan Rakyat Jelata
234
Merelakan Yang Tersayang
235
Kejamnya Dunia pada Mereka
236
Awal dari Semuanya 1
237
Alasan Seorang Tellaura Hidup
238
Gigih
239
Mereka yang Hidup di Dunia yang Berbeda
240
Ketakutan
241
Jiwa yang Tersesat
242
Ingatan yang Kembali
243
Keinginan Sang Raksasa
244
Kakak-Adik dan Putri-Pembunuh
245
Malam Sebelum Petaka
246
Jebakan
247
Bulan Darah
248
Pembalasan
249
Awal dari Semuanya 2
250
Tipu Muslihat
251
Menghilangkan Siklus Kebencian
252
Dua Gadis Berambut Perak
253
Sebelum Semuanya Tak Bisa Lagi Digenggam
254
Mimpi yang Tak Lagi Dapat Digapai
255
Putri Duyung dan Penyihir Harapan
256
Penyihir Harapan dan Penyihir Bintang
257
Menuju Hari Akhir 1
258
Lautan yang Marah
259
Masa Lalu Penyihir Bintang
260
Gadis yang Kuat
261
Malam yang Gila 1
262
Permintaan Roh Kuno Air
263
Malam yang Gila 2
264
Tirta Amarta 1
265
Tirta Amarta 2
266
Tirta Amarta 3
267
Aku dan Aku yang Lain
268
Ozy dan Jeanne
269
Keseriusan Zeeta
270
Bertemunya Dua Zeeta
271
Arata Akihiro
272
Menyeret ke Dalam Lubang Berbilah Tajam
273
Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 1
274
Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 2
275
Mereka yang Menyayanginya
276
Kedatangan Sosok yang (Pernah) Berharga Untuknya
277
Dua Gerbang yang Terbuka
278
Melodi dari Neraka
279
Turning Point 3
280
Kartu Truf
281
Bangkit
282
Jatuh dalam Kegelapan
283
Secercah Harapan
284
Sejarah Nebula 1
285
Sejarah Nebula 2
286
Jangan Remehkan Gadis yang Sedang Jatuh Cinta!
287
Barghest yang Misterius
288
The Power of Love
289
Gadis yang Menjadi Dunianya
290
Cermin Seorang Penguasa yang Dikagumi
291
Pangeran Cupu (?)
292
Putri Keemasan yang Dikutuk
293
Sejarah yang Saling Terhubung
294
Pertanyaan Demi Pertanyaan
295
Kerajaan Gala
296
Mereka yang Bangkit dari Keterpurukan
297
Menciptakan Legenda
298
Hati Baja yang Tidak Dimiliki Semua Orang
299
Catastrophe Seal dan Vanadust
300
Secercah Cahaya dari Dunia
301
Apakah Ini Sebuah Tekad? Atau Hanya Tegar?
302
Buah Perjuangannya
303
Tujuan Akhir Zeeta
304
Sahabat
305
Petunjuk
306
Negeri Para Raksasa
307
Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 1
308
Fana
309
Jawaban
310
Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 2
311
Zeeta dan Luna
312
Rapat Keluarga (Bangsawan)
313
(Bab Pengumuman) Desain Karakter Zeeta (Delapan Tahun)
314
Pengorbanan Tidaklah Selalu Buruk
315
(Bab Pengumuman) Desain Karakter Danny & Gerda (9/8 Tahun)
316
Hubungan dan Ikatan
317
Wejangan
318
Keroco Kuat yang Buta Tujuan
319
Terbukanya Dua Gerbang
320
Syarat
321
Angin Zephyr
322
Ragnarok, Pertempuran Akhir Dunia
323
Tujuan Tiga Dunia yang Berbeda
324
Demi Hari Esok
325
Sang Raksasa Alpha, Fenrir
326
Seiryuu dan Penyangganya
327
Masalah Hati Arata Akihiro
328
Naga Pengecut, Nidhogg
329
Menerima Apa Adanya dan Mencintainya
330
Naga yang Nyaris Kehilangan Arahnya
331
Pengkhianatan yang Tak Bisa Dimaafkan
332
Kegelapan yang Menerangi
333
Luluh Lantaknya Bumi
334
Bala Bantuan
335
Kehancuran
336
Dirimu yang Bagaikan Cahaya Untukku
337
Pertolongan Alam Kematian
338
Pengorbanan
339
Tombak Suci Rhongomyniad
340
Pertempuran Akhir 1
341
Yang Mengerti Dirinya
342
Mewujudkan Lagi Tír na nÓg
343
Cahaya Dari Bintang
344
Naga Dan Manusia
345
Keheningan Sebelum Badai
346
Jawaban Sang Penentu Dunia
347
Zeeta Alter vs. Si Kembar Levant
348
Mereka yang Mengutuk Dunia
349
Peran Terakhir Crescent Void
350
Quaternity Grandeur
351
Rival Gadis Itu
352
Tirai Penutup
353
Sang Penyihir Harapan [END]
354
Bab Bonus - True (Happy) Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!