Tiga hari yang lalu, setelah Ashley menidurkan Zeeta yang tengah tak sadarkan diri di ruang kerjanya untuk sementara, ia mengeluarkan sebuah handphone layar sentuh dari saku blazer-nya. Ia menelepon seseorang.
“Halo, Al? Apa kau sudah memberitahukan berita itu?” katanya memulai pembicaraan.
“Aku baru akan memulai pertemuan dengan pasukan, ada apa?” balas suara laki-laki dari telepon.
“Ganti beritanya dengan Peringatan Darurat Satu.”
“E-Eh...? Apa yang terjadi?”
“Untuk saat ini, beritahu Rowing akan dieksekusi karena dia telah berkhianat dan kondisi Tuan Putri baik-baik saja.”
“Ha-hanya itu?!”
“Ha?! Kauingin bilang kautak bisa?!”
“Ti-tidak, tentu saja tidak. Informasinya hanya terlalu sedikit....”
“Cepatlah, Al. Aku tak punya waktu.”
“Baik, Bu.” Orang dibalik telepon itu berekspresi serius, kemudian menutup teleponnya.
......................
Albert Alexandrita, merupakan anak sematawayang Ashley. Saat ini ia menjabat sebagai Komandan pasukan kerajaan. Setiap harinya, ia selalu disibukkan oleh kegiatan latihan tempur sihir sekaligus keamanan kerajaan, meskipun pada faktanya, ia juga tak dapat melakukan apapun sementara Wilayah Selatan mengalami kejadian tragis.
Albert adalah pria berbadan tegap, memiliki rambut lurus pendek berwarna silver dan mata biru air yang berbulu mata panjang. Dengan penampilannya yang berwajah cantik namun maskulin, ia cukup digemari oleh masyarakat ibu kota, khususnya para wanita. Dalam hal kepemimpinannya pada pasukan kerajaan, dia lumayan diakui oleh bawahannya, meskipun banyak yang tidak menyukai dirinya yang dianggap sok dengan jabatan, keturunan, dan popularitasnya.
Para pasukan kerajaan, yang terdiri atas kurang lebih tiga ratus orang, memiliki peran keamanannya masing-masing. Seperti penjaga gerbang, pasukan keamanan pribadi bangsawan, dan prajurit yang menjaga di tiap bagian benteng kerajaan. Saat ini mereka telah dikumpulkan dalam satu lapangan luas di dalam kerajaan. Letak lapangan ini berada di dekat istana, sehingga pemandangannya cukup terasa aneh.
Siapa juga yang tidak akan merasa demikian bila melihat akar raksasa yang seakan-akan mengancam setiap nyawa yang mendekatinya? Itu juga membuat tiga ratus prajurit yang ada di sana hanya bisa berbaris dan menekan dalam-dalam kegugupannya.
Usai Albert menerima panggilan telepon dari ibundanya, ia segera menuju ke depan barisan pasukan dan memberikan informasi yang perlu didengar pasukan.
“Pasukan kerajaan Aurora sekalian!” teriak Albert. Ia memulai pidatonya dengan menggunakan lingkaran sihir di depan mulutnya sebagai speaker. Para pasukan yang gugup tersebut segera memusatkan pandangan mereka ke Albert.
“Uah... pandangan mereka tajam sekali...,” batin Albert setelah melihat arah mata tiga ratus orang tersebut. “Tidak tidak ... ini bukan waktunya untuk gugup....” Albert kemudian mengatur napasnya.
“Baru saja, aku menerima informasi baru dari Grand Duchess. Perintahnya yang menyuruh kita untuk menyebar informasi bahwa Tuan Putri akan segera pulang, harus diubah.”
Tatapan serius Albert membuat pasukannya menjadi bertanda tanya.
“Berdasarkan informasi yang kudapat dari Grand Duchess, salah satu bangsawan utama kerajaan kita, Rowing, telah berkhianat dan berencana melakukan kudeta dengan menggunakan Tuan Putri sebagai sanderanya.”
“A-apa?!”
“Tuan Putri itu ... kalau tidak salah, baru delapan tahun, bukan?”
“Terdengar nekat untuk seorang bangsawan!”
Berbagai tanggapan terdengar dari pasukannya.
“Oleh karena itu," sambung Albert, "Grand Duchess memberi perintah baru, yaitu Peringatan Darurat Satu.”.
“Jadi ... nyawa Tuan Putri BENAR-BENAR terancam?!"
“Bagaimana bisa ... padahal Rowing dulu tidak seperti itu....”
Albert menjatuhkan keringat dari pelipisnya sambil menebak apa yang akan terjadi jika "Peringatan Darurat Satu" itu dilaksanakan.
“Peringatan Darurat Satu, adalah perintah yang memprioritaskan keselamatan keluarga kerajaan apabila terdapat ancaman mendesak dari dalam atau luar kerajaan. Dalam situasi tertentu, para bangsawan di bawah perintah Grand Duchess akan menteleportasi masyarakat, sementara Komandan kerajaan dan Grand Duchess akan mengawal langsung keluarga kerajaan.
"Tapi menilai dari situasi saat ini, dengan kondisi Tuan Putri yang sekarang dan rencana kudeta Rowing, Beliau mungkin akan diamankan, sementara proses eksekusi dilakukan secara terbuka."
Salah seorang prajurit tiba-tiba berteriak mengatakan sesuatu sambil mengangkat tangannya. Dia adalah Marcus.
“Atas perintah Grand Duchess, aku sudah bertemu dengan Tuan Putri untuk menjalankan misi yang diberikan. Aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa nyawa Tuan Putri tidak dalam bahaya!” tegasnya. Ia diselimuti rasa gugup di tengah lautan manusia ini.
“Hei, apa yang kaukatakan? Jika Grand Duchess memberi Peringatan Darurat Satu, itu berarti nyawa Tuan Putri dalam bahaya!” prajurit di dekatnya berargumen.
“Aku tahu! Meskipun begitu ... setelah melihat sendiri bagaimana caranya menggunakan mana, aku....” Marcus mencengkeram tangannya erat-erat.
“Marcus, setelah ini temui aku empat mata.” Ucapan Albert membuat Marcus terkejut. Apakah tindakannya barusan salah?
......................
Albert telah melaksanakan perintah ibundanya. Setelah pertemuannya dengan pasukan kerajaan, ia segera mengumpulkan rakyat ibu kota dan menggunakan sihir untuk menampilkan dirinya di wilayah lain bak hologram di titik-titik tertentu wilayah tersebut, lalu mengumumkan apa yang terjadi saat ini dengan kerajaan mereka.
Banyak respon dari penduduk kerajaan. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mencurigai gelagat Rowing bahkan sebelum ada kejadian yang menimpa istana kerajaan.
“Tapi, sebagai Komandan kerajaan ini, aku ingin kalian tetap tenang dan menjalankan hari-hari seperti biasa. Kita semua tahu bahwa Tuan Putri masih berumur delapan tahun. Anak-anak tetaplah bermain, tidak ada yang perlu kalian takutkan.
"Lalu, untuk kalian para remaja dan orang-orang dewasa, Tuan Putri adalah keluarga kerajaan terakhir yang selamat dari insiden delapan tahun yang lalu. Kuharap, kalian semua tahu apa maksudnya.” Albert melempar senyumnya. Albert kemudian meninggalkan tempatnya berdiri, ia akan bertemu empat mata dengan Marcus.
Beragam makna yang didapat oleh para penduduk yang dimaksud oleh Albert. Mereka pun hanya bisa berharap takkan ada sesuatu yang buruk terjadi.
......................
Selang waktu sepuluh menit, Albert dan Marcus berbicara empat mata di halaman kediaman milik Albert dan duduk di sebuah set kursi dan meja sambil meminum secangkir teh.
“Aku tidak yakin apakah minum teh saat ini pantas dilakukan disaat ibuku sedang sibuk dengan Tuan Putri ... tapi, kuharap kau tidak memikirkannya terlalu rumit ya, Marcus.
"Aku melihatmu sangat mengkhawatirkan Tuan Putri, jadi kupikir kaubisa menenangkan dirimu jika kuajak minum teh denganku.” Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Justru aku semakin gugup, tahu! Minum teh bangsawan bersama dengan Albert Alexandrita?! Mimpi apa aku semalam?!” isi hati Marcus kacau. Satu sisi khawatir, sisi yang lain malah bersorak gembira. "Aku juga baru ingat kalau Komandan punya rumah khususnya sendiri...."
“Selain itu, aku ingin dengar pendapatmu, sebagai seorang rakyat jelata yang menjadi prajurit Alexandrita, lalu bertemu dan berbicara langsung dengan Tuan Putri.
"Jujur saja, aku khawatir dengan kondisi kerajaan saat ini. Dengan adanya keinginan kudeta dari bangsawan utama, hal itu bisa saja terpikirkan sejak awal dari banyak orang, bahkan seorang rakyat jelata sekalipun. Jika Tuan Putri ini ... secara kasarnya sama seperti Rowing, maka kerajaan ini tak memiliki masa depan.”
Marcus memalingkan pandangannya. “Anda hebat ya, Tuan Albert....”
“Hmm?”
“Anda sebenarnya adalah orang yang pemalu dan tertutup ... banyak di antara kami para prajurit yang tahu akan hal itu. Tapi, ketika Anda bersikap layaknya seorang pemimpin yang tegas padahal itu berbanding terbalik dengan sifat Anda, aku jadi semakin menghormati Anda....” Marcus memperlihatkan sedikit lekukan di bibirnya.
Albert sedikit terkejut. “Hahah... kau benar. Aku sebenarnya tidak ingin ikut kemiliteran, tetapi itu adalah kewajibanku sebagai penerus Alexandrita. Aku sering diomeli dan dihukum ibuku agar aku benar-benar bisa menjadi seorang Komandan yang diinginkan rakyat, tapi selain itu ... ada orang lain yang memengaruhiku agar aku teguh menjadi seorang Komandan, disaat aku tidak menginginkannya.”
“Setelah kuingat-ingat, kurasa Tuan Putri juga mirip denganmu, Tuan Albert.”
“Oh? Apa maksudmu?”
Marcus pun menceritakan apa yang terjadi disaat ia ada di penjara bersama Zeeta dan Azure.
“Jika Anda ingin mendengar bagaimana pendapatku, aku tetaplah khawatir dengan Tuan Putri. Meskipun ia memiliki kharisma dalam memerintah dan memiliki mana yang besar, jika tidak ada seseorang yang menemani pertumbuhannya, aku ragu ia akan menjadi Tuan Putri atau Ratu yang dapat membuat orang-orang tersenyum....”
Teh yang ada di masing-masing cangkir sudah habis. Albert berpikir dengan memegang dagu menggunakan tangan kirinya sambil menyilangkan kaki.
“Kau cukup jeli melihat dan memikirkan situasi ya, Marcus,” ucap Albert, yang Marcus pikir tak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka. “Untuk masalah itu, akan kubicarakan lebih lanjut secara internal dengan Grand Duchess dan bangsawan utama lainnya. Pergilah berpatroli, terima kasih sudah meluangkan waktumu denganku,”
sambungnya.
“B-baik! A-aku juga berterima kasih, Tuan Albert!” setelah memberi hormat pada Albert, Marcus segera mengangkat kakinya dari kediaman Albert.
......................
Setelah Zeeta dan Ashley membahas dan melihat seperti apa sosok ibu dan apa kewajiban yang harus Zeeta lakukan sebagai seorang Tuan Putri, mereka akan makan siang di ruang makan kediaman Alexandrita. Sementara mereka berjalan ke sana, Zeeta bertanya kepada Ashley untuk memastikan sesuatu.
“Guru ... anu ... apa aku boleh memastikan sesuatu?” kata Zeeta berhenti di tempat.
“Apa itu, Nak?” tanya Ashley.
“Aku selalu penasaran apakah jawaban yang aku temukan sendiri ini benar atau tidak, apakah kewajibanku sebagai Tuan Putri adalah untuk membuat rakyat tersenyum, tanpa memikirkan status bangsawan atau rakyat jelata?”
Ashley terdiam sesaat. “Dia memiliki potensi sebagai Ratu yang baik, tetapi potensi itu memiliki dua sisi yang tajam. Jika dia tahu realita di dunia sihir ini, aku pun tidak yakin bagaimana dia akan menanggapinya....”
“Hmm. Kau tidak salah, tetapi untuk kebaikanmu sendiri dan daripada menerima jawaban dariku, lebih baik kau memastikan sendiri apakah jawaban itu benar atau salah.”
“He? Bagaimana?”
“Pergilah ke ibu kota bersama Arthur, jika kau menginginkannya ajaklah Azure juga. Setelah kau tahu bagaimana cara masyarakat kerajaan ini hidup, pastikanlah kembali apakah jawaban yang kau temukan itu benar atau salah.”
“Eh? Kenapa aku harus melakukan itu?”
“Kau sungguh-sungguh bertanya itu? Apa kau tidak ingin bersenang-senang di tempat dimana kau bisa mendapatkan permen apel, permen renjie, dan hal-hal lain yang belum pernah kau temukan di desa Lazuli?”
“Oh?! Permen apel dan permen renjie?! Aku bisa membuat kue renjie, tapi kalau kue renjie dihidangkan dengan permen renjie ... boleh juga, tuh! Aku akan kesana bersama ayah dan kak Azure!” semangat Zeeta tiba-tiba membara.
“Lakukan itu setelah makan siang, Nak!”
“Baik!” Zeeta dan Ashley saling melempar senyum. Mereka pun melanjutkan jalan menuju ruang makan.
Setelah mereka sampai di ruang makan, sebuah meja makan panjang dilapisi taplak meja berwarna putih dan dihiasi vas bunga kaca yang diisi beberapa batang bunga hias diiringi beberapa buah kursi terpampang di hadapan mereka.
“Duduklah di tempat yang kau mau, aku akan memanggil orang-orang yang akan makan siang bersama kita.” Ashley pergi mendekat ke jendela dan mengeluarkan handphone-nya.
Setelah Zeeta memilih kursi yang akan ia duduki, ia melihat-lihat sekelilingnya. Apa yang dapat dipikirkan setelah menyaksikan ruangan tersebut, hanyalah kata "mewah".
“Hmm ... enak ya, makan siang bersama bangsawan....” Suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar oleh Zeeta.
“Si-siapa itu?!” suara Zeeta yang tiba-tiba terdengar panik membuat Ashley segera berlari menghampirinya.
“Ada apa?!” tanya Ashley khawatir.
Zeeta meraih blazer dengan jemarinya. “Ti-tidak... aku hanya mendengar suara...” Ashley segera merasa ada yang aneh saat Zeeta tampak ketakutan ini.
“Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Nanti malam, aku akan mengunjungimu. Tenanglah Zeeta, aku hanya ingin bertemu dan berbicara padamu, oke?”
“Suara? Suara apa?” tanya Ashley masih dalam rasa khawatir.
“Oke....” Zeeta yang tak yakin menjawabnya.
“Nak?” Zeeta melepas jemarinya dari blazer Ashley.
“A-aku akan menceritakannya nanti....” Meskipun Zeeta sudah berusaha untuk tak membuat Ashley terlalu khawatir dengan caranya sendiri, itu malah menjadi senjata makan tuan.
......................
Sepuluh menit terlewati, berbagai macam hidangan mewah telah disajikan di atas meja. Ayam, sapi, kambing, berbagai macam olahan makanan dari tiga hewan ternak itu ada di antara hidangan tersebut. Begitu juga dengan minumannya, orang-orang dapat meminta kepada pelayan yang bersiaga di ujung ruangan, entah itu soda, jus, atau minuman beralkohol.
Orang-orang yang hadir dalam makan siang tersebut, beberapa di antaranya ada yang baru dilihat oleh Zeeta. Tetapi di ruangan ini, ia cukup merasa bahagia karena ia bertemu kembali dengan Gerda, Danny, Recko, Grilda, dan Kepala Desa. Tak lupa, hadir juga Arthur dan Azure.
Orang-orang yang baru dilihat Zeeta adalah bangsawan utama. Porte, Hellen, dan Willmurd, serta anak sematawayang Ashley, Albert Alexandrita.
“Tak kusangka Tuan Putri bisa kembali tersenyum ceria setelah tak sadarkan diri selama tiga hari... apa yang sebenarnya Grand Duchess lakukan? Selain itu ...." Hellen dibuat heran dengan senyum bahagia Zeeta.
"ke-kenapa ada Arthur di sini?!" ia merona merah ketika sadar ada sosok yang sudah sangat lama tak berjumpa dengannya.
“Syukurlah kau baik-baik saja Zee. Aku sempat khawatir bagaimana keadaanmu saat kau diculik oleh Rowing...,” batin Gerda tersenyum hangat.
“Makan siang bersama Zeeta?! Ditambah di tempat bangsawan seperti ini?!” batin Danny gugup.
“Heh. Tak kusangka akan kembali bertemu dengan Pak Tua itu...,” batin Arthur melihat kehadiran Willmurd.
“Semua orang-orang ini menganggap Zee sangat penting, entah itu memperlakukannya sebagai teman, anak, atau Tuan Putri. Tapi aku...,” batin Azure melihat senyum ceria Zeeta.
“Eh? Kukira aku akan makan siang bersama ibu seperti biasa, tapi kenapa bangsawan utama lain, dan orang-orang-orang ini ikut? A-a-a-aku harus apa?! Apa aku harus memberikan pidato lagi?!” batin Albert.
“Zeeta, jika ada yang ingin kau sampaikan saat ini, sampaikanlah,” kata Ashley tersenyum.
Senyum ceria Zeeta berubah jadi sedikit serius. Ia berdiri dan mulai berbicara meskipun ada sedikit rona merah di pipinya.
“Sa-salam kenal semuanya. Na-namaku adalah Zeeta. Zeeta Aurora XXI. Meski ada orang-orang yang baru pertama kali kulihat, tetapi entah mengapa, aku seperti dibisiki anting ini, bahwa kalian adalah orang-orang yang menyelamatkan aku dan Kak Azure, dan aku mengucapkan terima kasih banyak. Maaf telah merepotkan kalian.”
“Hmm? Dibisiki antingnya?!” Ashley tiba-tiba terkejut.
“Aku sangat senang bahwa keluarga desaku yang telah hadir bersamaku selama delapan tahun ada di sini bersamaku. Sebenarnya... jika ada Sylva disini, aku juga ingin berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkan mereka disaat aku tak bisa melakukan apapun. Kuharap setelah makan siang yang diadakan Guru Ashley ini dapat membuat kita terhubung. Anu, ehm... itu saja.” Zeeta membungkukkan sedikit kepala dan menaikkan sedikit roknya tanda hormat, lalu ia segera duduk kembali.
Tepuk tanganpun terdengar menyambut. “Sambutan yang bagus, Zee. Tak kusangka kau bisa memikirkan kalimat-kalimat seperti itu!” Ashley memuji Zeeta.
“A-aku hanya belajar dari cara Ayah mengajar... jadi ini tidak ada apa-apanya....” Rona merah di pipi Zeeta masih belum bisa hilang sebab ia masih merasa malu setelah memberi sambutan tadi. Mendengar ucapan Zeeta, Arthur hanya bisa tersenyum. Tersenyum bangga anaknya sudah bisa mandiri seperti itu.
“Jadi, seperti inilah Tuan Putri kalian. Lindungi dia apapun yang terjadi, Hellen, Will, Porte!” Ashley tersenyum.
“Baik!” jawab ketiganya bersamaan.
“Nah, semuanya, silakan makan sampai kalian puas!” Ashley telah memberi lampu hijau untuk mereka yang sudah lapar.
......................
Setelah Zeeta dan yang lain telah menghabiskan makan siang mereka, Ashley bertemu dengan Arthur dan Azure untuk memberitahu mereka agar lebih memerhatikan Zeeta setelah apa yang terjadi sebelum makan siang tadi.
Zeeta sendiri telah mengganti baju dan menggunakan topi jerami besar untuk menutupi anting serta melindungi dirinya dari sinar mentari, bertemu dengan Arthur dan Azure di gerbang kediaman Alexandrita.
Zeeta belum bisa mengungkapkan dirinya di depan rakyat. Setidaknya untuk saat ini, Ashley masih berpikir untuk tidak memberitakan bahwa Zeeta telah pulih dan sadar. Menurutnya, Zeeta masih harus menikmati masa anak-anaknya sambil belajar seperti apa kewajibannya sebagai Tuan Putri.
“Hei, jika kita akan jalan-jalan di ibu kota atas perintah Grand Duchess, apa kita akan naik mobil atau semacamnya?!” Azure bersemangat.
“E-eh? Kak Azure ingin naik mobil?” Zeeta sedikit terkejut mendengar perkataan Azure. “Kukira... karena kita bertiga akan menghabiskan waktu bersama, akan lebih baik jika kita berjalan saja....” Zeeta murung.
Azure kewalahan, ia bingung harus apa. Ini adalah kali keduanya ia merasa seperti ini.
“Kalau kauingin seperti itu, mari kita jalan saja. Ya, ‘kan, Azure?” Arthur membantu Azure.
“U-uhm. Kau benar! Ayo kita jalan-jalan, Zee!”
“Uhm!” Zeeta melemparkan senyum bahagianya.
“Akan kugandeng kau. Jangan berani lepaskan kalau tidak mau terpisah, ya!” Azure meraih tangan kiri Zeeta.
“Ahahah, rasanya aku sudah memiliki dua anak saja. Kalian benar-benar seperti kakak dan adik, ya!” seru Arthur melihat dua anak perempuan itu sembari tersenyum.
“Ya! Meskipun aku baru kenal Kak Azure, dia memang seperti kakak, dan aku selalu bermimpi punya kakak seperti Kak Azure... jadi aku sangat senang!”
Azure terenyuh atas kata-kata Zeeta. Ia menguatkan genggaman tangannya, dan tersenyum. “Ya, aku juga, Zee.”
“Nah, kalau begitu, ayo berangkat!” Arthur menggandeng tangan kanan Zeeta lalu mereka pun berangkat berjalan-jalan menuju ibu kota.
.
.
.
.
Di ibu kota, Aurora, suasana festival yang diadakan bulanan itu masih sedikit terasa. Bendera-bendera kerajaan yang melambangkan bulan purnama bersinar dan bendera warna-warni masih menghiasi jalanan, pertokoan, hingga lampu jalan. Suasana yang dapat membuat setiap orang tersenyum dapat dirasakan ketiganya.
Orang-orang yang mempromosikan barang jualan mereka, seperti daging, sayur, buah, roti, dan lain-lain dapat disaksikan dimana-mana.
Tak luput juga teknologi yang telah dikembangkan hingga saat ini. Ada trem yang memakai sihir sebagai bahan bakar yang berjalan di bawah jembatan yang menghubungkan bangunan satu dan bangunan lain.
Jembatan tersebut menghubungkan bangunan-bangunan dengan menyisakan ruang di tengah bangunan tersebut agar trem dapat melintas. Meskipun disebut trem, kecepatannya tidak akan sama dengan trem biasa akibat sihir. Disamping trem, ada juga mobil, hingga barang-barang yang dipakai di dalam toko tanpa perlu menggunakan sihir sedikitpun.
Pemandangan ini, adalah pemandangan yang selalu Zeeta suka, bahkan sejak ia di desa. Senyuman-senyuman dari orang-orang itu sungguh membuatnya bahagia. Tak ada orang yang menderita, merintih, ataupun menangis.
“Ibu kota itu indah ya!” Zeeta melihat ke arah Azure dan Arthur. Pandangan Arthur dan Azure yang terlihat seperti tak percaya akan apa yang mereka lihat, membuat Zeeta ikut melihat ke arah pandangan yang sama dengan mereka. Reaksi yang muncul dari Zeeta pun sama, ia juga tak percaya apa yang ia lihat. Peluh jatuh dari pelipis mereka, mulut mereka menganga.
Istana Aurora, bangunannya yang begitu besar dan megah dengan letaknya terpisah dari ibu kota melalui danau, tak dapat menunjukkan sosok utuhnya sebab akar raksasa yang melilit istana. Istana itu berdiri di atas pulau yang terpisah dari ibukota.
Jembatan megah yang seharusnya menghubungkan ibu kota dan istana pun hancur, hanya ada sisa-sisa kristal milik Porte yang menghubungkan ibu kota dengan akar tersebut. Mengingat ukuran istana yang besar dan megah namun dililit oleh akar yang tak kalah jauh lebih besar darinya, tak ada yang bisa mereka lihat atau pastikan dari luar.
Ukuran akar yang sepuluh kali lipat lebih besar dari mereka seakan melumpuhkan tubuh mereka. Entah bagaimana, mereka seperti merasakan mana yang menekan tubuh mereka. Apakah orang-orang yang tinggal di sini tidak merasakan mana ini? Mengapa mereka seperti tidak peduli padahal istana kerajaan seperti itu?
Sebenarnya Zeeta tahu, Azure dan Arthur pun juga begitu. Mereka tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukan terhadap akar raksasa itu, mereka juga tahu bahwa para bangsawan telah mencoba banyak hal untuk melakukan sesuatu terhadap akar itu, terlihat dari bekas kristal milik Porte. Tetapi, tak ada satupun bekas yang melukainya.
Dengan akar seperti ini di dekat tempat tinggal mereka, apa mereka hanya diam saja dan tidak memikirkan cara lain? Apa mereka hanya akan pasrah meninggalkan Ratu—tidak, ibu kandungnya? Begitu pikir Zeeta.
Jika demikian, Zeeta kembali mempertanyakan kewajibannya. Untuk apa, orang-orang yang seakan tak peduli terhadap Ratu mereka, harus ia layani dengan kekuatannya? Untuk apa ia berbaik hati terhadap seseorang yang tak peduli terhadap manusia lain? Hanya karena mereka tak bisa melakukan sesuatu, mereka melupakan sosok penting negeri ini?
“Kau... baru saja memikirkan yang tidak-tidak bukan?” suara Azure mengagetkan Zeeta yang termenung.
“Mereka hidup bahagia di sini, bukan berarti mereka tak peduli dengan Ratu Alicia, Nak.” Arthur menepuk kepala Zeeta. “Jika mereka benar-benar tak peduli dengan Ratu, akan lebih mudah untuk mereka hidup tanpa memikirkan akar raksasa itu setiap harinya dengan pindah ke tempat lain.”
“Ayahmu benar, Zee. Kita semua merasakan bahwa akar itu memiliki mana dan aku pikir ini karenamu, Zee.”
“Eh? Apa maksudmu, Kak?”
“Hmm... insting wanitaku berbicara?” Azure menjawab tapi ia tak pasti bagaimana cara menjelaskannya.
“Nak, merupakan hal yang salah jika kau mengambil kesimpulan bahwa tak ada yang peduli dengan Ratu. Sebagai Tuan Putri, kau juga harus mendengarkan apa pendapat dari orang lain, terutama bangsawan-bangsawan yang telah mencoba melakukan sesuatu terhadap akar itu."
Arthur berjongkok dan memegang kedua bahu Zeeta.
“Jika apa yang dirasakan Nak Azure bahwa dirimu ada hubungannya dengan akar itu, sebaiknya kau bicara dengan Grand Duchess. Aku tidak suka mengakuinya, tapi sebagai rakyat jelata, aku pun tak mengerti bagaimana kita bertiga bisa merasakan mana-nya.”
Zeeta terdiam. Tak tahu harus mengatakan apa.
“Zee, aku akan tanya ini. Kesampingkan semua hal yang sedang kaupikirkan sekarang, apa yang ingin KAULAKUKAN terhadap akar itu?” tanya Azure langsung ke inti.
“Aku ... aku ingin bertemu dengan ibuku....” Air mata Zeeta terjatuh. “Aku tidak tahu kenapa... aku merasa sangat rindu.... Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, tapi ... saat aku merasa orang-orang tak mempedulikan ibu, aku merasa sangat marah dan kecewa....
“Aku ... ingin memeluk ibu.” Tangis Zeeta semakin menjadi-jadi. Melihat Zeeta seperti ini, menggerakkan Arthur untuk memeluk Zeeta, begitu juga dengan Azure.
“Kami akan membantumu. Kita pasti bisa menemukan cara untuk menghancurkan akar itu,” kata Arthur sambil membelai rambut Zeeta lembut.
“Ya, aku juga akan selalu ada di sisimu, Zee!”
Orang-orang yang melintas di dekat mereka hanya bisa melihat dan bertanya-tanya. Mereka terlihat seperti keluarga yang sedang terharu akan sesuatu. Arthur dan Azure terus memeluk Zeeta sampai Zeeta bisa menenangkan dirinya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 354 Episodes
Comments