Tatapan lembut itu berubah menjadi tatapan tajam dan penuh kemarahan, perasaan bersalah itupun menjadi kebencian. Asma menatap Khadijah seolah akan memusnahkan wanita malang itu. ia mengepalkan tangannya, berjalan dengan langkah pelan namun pasti.
"Kau melakukan pengorbanan yg sangat besar demi suami mu, wow. Wanita luar biasa, setiap wanita akan iri dengan keberanian mu itu, Mbak . termasuk juga AKU " Asma berdiri tepat di depan Khadijah.
"Asma, tolong jangan terus marah, aku melakukan semua ini demi mas Bilal. Demi cinta nya pada mu"
"Omong kosong " seru Asma penuh emosi "kamu melakukan semua ini untuk diri mu sendiri, karena ambisi mu yg ingin membahagiakan suami mu, tapi apa harus dengan cara ini? Dengan menjebak ku dan mengorbankan aku?"
"Asma... Cobalah mengerti, aku sudah menceritakan semuanya pada mu, berharap kau memahami perasaan Mas Bilal"
Asma semakin marah mendengar pembelaan Khadijah.
"Apa yg harus aku fahami? Bahwa sekarang aku istri nya? Dan aku tidak tahu kapan itu terjadi. Yang aku fahami hanya satu, kau melakukan semua ini untuk dirimu sendiri, untuk ambisi mu yg ingin menjadi istri sempurna dan bisa memberikan apapun yg membuat suami mu bahagia"
"Astaghfirullah... Asma. Itu sama sekali bukanlah ambisi. Memberikan kebahagiaan pada suami adalah kewajiban seorang istri"
"Tapi apa harus melampui kemampuan nya? Kau tahu mbak, semakin manusia berusaha mencapai kesempurnaan, semakin tampak lah kekurangannya. Karena pada hakikatnya manusia itu punya batasan, tapi mbak ingin melampaui batasan itu, dan itu membuat Mbak menajdi egois dan sombong. Apakah ada yg lebih buruk dari kedua sifat itu?"
"Asma, aku tidak egois. Aku sudah sangat berbesar hati meminang wanita yg di cintai suami ku agar bisa di nikahi. Dimana keegoisan dan kesombongan ku?" Khadijah pun tak bisa membendung amarahnya mendapatkan tuduhan seperti itu dari Asma.
"Disitulah letak ke egoisan mu, yg kau fikir kan hanya suami mu, suami mu, dan suami mu. Bahkan kau sampai mengorbankan kehidupan seorang gadis yg tidak ada hubungan apapun dengan mu, dan bahkan tidak kau kenal. Kau menyeret ku dalam ambisi mu, bagaiman kau bisa memutuskan tentang kehidupan ku? Apakah kau tidak berfikir bagaimana perasaan ku? Bagaiamana keinginan ku?" Asma berteriak kesal dan ia pun mulai terisak, tak tahan lagi menahan perasaan yg seolah mencabik hatinya.
Seperti di sambar petir, Khadijah hanya bisa membisu mendengar kata kata Asma yg seolah menusuk tepat di hatinya. ia tak tahu harus bagaimana menghadapi kemarahan Asma yg begitu besar padanya.
"Asma.. ."
"Kau juga sangat sombong, kau menyombongkan kesempurnaan suami mu, kau menjamin nya akan membahagiakan ku, kau menjamin dia akan adil, apa jaminan nya bahwa semua kata kata mu itu benar? Katakan padaku, apa jaminan nya? Kau memohon pada Abi ku untuk pernikahan ini, dan sekarang... Pada siapa aku bisa memohon untuk melepaskan ikatan pernikahan ini?"
Asma berteriak penuh amarah tepat di depan wajah Khadijah. Membuat Khadijah semakin terguncang.
"Asma... Tidak seperti itu, ku mohon mengertilah" Khadijah berkata dengan suara bergetar. Ia pun tak mampu membendung air mata nya lebih lama lagi.
"Apa lagi yg harus ku mengerti?" lirih nya kemudian "Sejak mengetahui kebenaran ini, hati ku selalu menyalahkan Abi, berfikir dia lah yg menjodohkan ku dengan nya. Dan hati ku... hati ku juga merasa bersalah pada mu, Mbak. Aku berfikir aku telah menyakiti mu karena keberadaan ku dalam hidup suami mu, aku telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu karena Abi. Aku berfikir sama seperti ku, kau juga tersakiti dengan pernikahan gila ini, aku bersimpati dan bahkan meminta maaf pada mu... Tapi ternyata, justru kamu lah dalang nya. Kamu yg menyeret ku dalam hubungan ini, kamu membuat ku menjadi orang ketiga di antara kalian. Apa kau tidak bisa sedikitpun merasakan bagaiman perasaan ku tentang semua ini?"
Asma merendahkan suara nya, ia kembali menangis dan terisak, dengan lemas, Asma menjatuhkan dirinya di tanah. Ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya, tubuh nya bergetar karena tangis nya yg semakin menjadi. Dan Khadijah yg sudah tak tahan mendengar kata kata Asma, tak kuasa melihat keadaan Asma, segera berlari menjauhi dari Asma. Khadijah pun menangis, bukan karena Asma menuduh nya tapi karena semua yg dikatakan Asma itu benar, dia egois, jahat, dan sombong.
Maksud hati ingin melakukan yg terbaik, namun ternyata dalam usahanya itu, ia telah menyakiti orang lain tanpa ia sadari.
Tanpa mereka tahu, Bilal sejak tadi berdiri tak jauh dari sana, mendengarkan dengan baik apa yg mereka bicarakan. Dan hatinya begitu sedih dan sakit saat Asma dengan tega nya menuduh Khadijah egois dan sombong. Bilal menatap tasbih nya yg sudah dia perbaiki, ia pun tak tega melihat Asma yg begitu terpukul, namun ia juga marah karena Asma tak bisa mengerti pengorbanan Khadijah dan malah menuduh nya.
Dengan langkah lebar, Bilal menghampiri Asma yg masih menangis.
"Sudah puas?" tanya Bilal dengan nada marah. mendengar itu, seketika Asma mendongak, tatapan nya bertemu dengan tatapan Bilal. beberapa saat, kedua nya saling memandang, Bilal tak kuasa melihat Asma yg berlinang air mata, tapi ia juga tak kuasa menahan kemarahannya atas tuduhan Asma. Asma segera berdiri dan menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Sudah puas menyakiti istri ku?" Asma menatap marah Bilal mendengar kata kata itu.
"Menyakiti? siapa yg menyakiti siapa, huh?" teriak Asma sambil berusaha menghentikan tangis nya.
"Kamu sudah menyakiti Khadijah, Zahra. Kenapa kamu menuduh nya seperti itu? Dia sama sekali tidak seperti yg kamu tuduhkan"
"Aku engga nuduh, aku mengatakan yg sebenarnya" Asma masih mempertahankan tatapan nya pada Bilal.
"Itu salah, Zahra. Kamu ....kamu Engga akan bisa memahami nya" ingin rasanya Bilal meneriaki Asma, namun ia berusaha menahan diri dan juga tak ingin menyakiti Asma "Kamu masih ke kanak kanakan, karena itulah kamu engga akan memahami Khadijah. Cobalah berfikir seperti orang dewasa. Pengorbanan yg dia lakukan untukku tidaklah mudah, dia menyingkirkan segala perasaan nya untuk ku, dan itu bukan ke egoisan,"
"Kalau sudah tahu aku ke kanak kanakan kenapa masih mau menikahi ku? Kenapa tidak bertahan saja dengan istri mu yg luar biasa itu?"
"Karena aku mencintai mu, Zahra. Dan itu adalah kesalahan ku, saat istri ku tahu tentang perasaan ku, dia pun berusaha memberikan cinta ku. Apa yg salah dengan hal itu?"
"Salah, tentu saja sangat salah. Aku ini manusia, kau tidak bisa memiliki ku tanpa seizin ku, tanpa sepengetahuan ku. aku bukan barang yg bisa kau klaim menjadi milik mu begitu saja"
"Zahra... Abi Rahman yg meminta ku melakukan ini, aku sudah berusaha...."
"Jadi sekarang kamu menyalahkan Abi?"
"Engga, Abi engga salah"
"Jika ini bukan salah istri mu, bukan juga salah Abi, maka ini salah mu. kenapa kamu melakukan ini? Huh? Jawab aku?"
Bilal memalingkan wajahnya karena tak kuasa dengan tatapan Asma yg seolah ingin membunuhnya dengan amarahnya.
"Aku terpaksa melaku...."
"Jadi kamu terpaksa menikahi ku?" Asma berteriak menyela sebelum Bilal menyelesaikan ucapannya "Kalau begitu sebaiknya, kamu ceraikan saja aku"
"ZAHRA...." Bilal segera membentak Asma dan ia menatap tajam pada Asma membuat Asma terkesiap seketika. Di bawah cahaya bulan, Asma melihat jelas mata Bilal berkilat penuh amarah. Rahangnya mengeras dan ia mengepalkan tangannya kuat hingga kuku jarinya memutih. hal itu, tentu membuat nyali Asma menciut dan ia langusng terdiam mematung seketika, bahkan untuk bernafas pun rasanya ia sulit. Asma mundur selangkah dan menatap takut pada Bilal. Seumur hidup, ini pertama kalinya ia di bentak seperti itu.
Bilal yg baru menyadari ia telah membuat Asma takut, segera memalingkan wajahnya, perasaan bersalah hinggap di hatinya, ia lepas kendali mendengar kata perceraian yang tak pernah ia bayangkan bisa Asma ucapkan dengan begitu mudah.
Lama keduanya terdiam, hanya terdengar suara angin yg berhembus semakin kencang, suasana semakin dingin dan mencekam. Bilal berbalik badan dan ia melihat Asma yg masih terlihat shock karena bentakan nya. Seketika tatapan Bilal berubah menjadi sendu, otot wajahnya mengendur, ia menarik tangan Asma, menggenggammya dan Asma hanya bisa terdiam, ia terlalu takut untuk berbicara apa lagi memberontak. Bilal membawa tangan Asma pada bibirnya, dan mengecup nya dengan lembut. desiran hangat mengalir dalam darah Asma, perasaan yg tak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun sekali lagi, ia hanya bisa diam dan menatap Bilal dengan mata yg kembali ber kaca kaca.
"Maafkan aku, Zahra " seru Bilal dengan suara rendah, mengisyaratkan rasa bersalah nya "Aku engga sengaja membentak mu, maafkan aku" Bilal kembali mengecup tangan Asma dengan kecupan kecupan kecil, yg memciptkan percikan rasa yg menggelitik dalam hati Asma. Kemudian , Bilal meletakkan tasbih itu di telapak tangan Asma dan berkata "Fikirkan sekali lagi, Zahra. kau yg memutuskan apakah hubungan kita bisa di lanjutkan atau tidak, aku akan menerima apapun keputusan mu. Karena aku sangat mencintai mu, aku tidak bisa memaksa mu. Dua hari lagi keluarga ku akan datang kesini, jika kau menolak ku, maka keluarga ku tidak akan datang dan aku akan melepaskan mu"
Asma masih terdiam mencerna kata kata Bilal, ia menatap lama tasbih yg sudah Bilal perbaiki itu, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tercekat di tenggorokan nya, fikirannya tiba tiba kosong dan ia seperti hilang arah, tersesat di suatu tempat yg gelap.
▪️▪️▪️
Tbc.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Uci
Pikir dehh di posisi asma, hidup lagi anteng2 nya nyusun rencana ini ituh umtuk masa depannya sendiri, eh tiba2 ada orang yg ngga dia kenal sama sekali nyeret dia ke kehidupan rumah tangga orang lain yg emang udah mulai toxic sma keinginginan khadijah asli akuu ngga enak bgt nulis nama " khadijah" ya Allah ngga kuasa bgt sih ng roastiing nama wanita shalehah-Mu 😭 knapa harus pake nama itu sih untuk karakter permpuan egois disini 😭
2024-11-19
1
Alejandra
Kenapa hanya melihat pengorbanan Khadijah, kenapa tidak melihat perempuan yang menjadi korban dari pengorbanan Khadijah itu. Kenapa seolah" hanya Khadijah yang baik, dan yang lain jahat...
2024-08-22
2
Alejandra
Benar sekali Asma...
2024-08-22
0