Seperti biasa, Bilal selalu bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan kewajiban nya mendekatkan diri pada sang Ilahi.
Ia merasakan kepalanya yg sakit karena sebenarnya ia tak bisa tidur namun dipaksakan. Karena merasa haus Bilal pergi ke dapur untuk mengambil air, namun saat mendekati ruang tengah, ia mendengar suara kriuk kriuk samar samar. Bilal yg berfikir mungkin ada tikus atau semacamnya segera berjalan lebih cepat dan menyalakan lampu yg langsung menerangi seluruh ruangan.
"Ya Allah....Zahra...."
Ia mendapati Asma yg sedang berbaring di sofa, memainkan ponselnya lengkap dengan satu toples kerupuk yg ia letakkan di atas perutnya.
Asma yg juga terkejut dengan kehadiran Bilal langsung duduk dan membenarkan hijabnya sambil mengunyah kerupuk.
"Ustadz, bikin Asma kaget aja".
"Kamu yg bikin aku kaget. Ya Allah, kerupuk nya habis" Bilal mengambil toples itu dan memperhatikan nya baik baik, ia ingat betul semalam toples itu masih penuh,"Zahra, kamu ini, dirumah orang, makan kerupuk orang sampai habis di tengah malam" Bilal kembali meletakkan kembali toples itu di meja, sementara Asma hanya tertawa kecil mendengar Bilal yg terus menggerutu.
"Asma engga bisa tidur, ya dari pada dikamar, nanti Asma malah ganggu tidurnya Yasmin. mending kan disini, kebetulan nemu kerupuk disini"
"Kamu yg ngabisin kerupuk sebanyak itu?" Asma mengangguk dan tersenyum dengan begitu polosnya, "Tenggorokan mu pasti sakit nanti"
"Semoga engga"
"Lagian kalau kamu engga bisa tidur, ya sholat malam, dzikir, atau belajar. Bukannya main hp sambil makan. Kamu pasti belum sholat malam. Ayo sholat berjamaah!"
"Engga"
"Engga?" Bilal mengulangi kata kata Asma karena berfikir mungkin ia salah dengar, namun Asma malah mengangguk.
"Kok engga sih? Sholat malam itu amalan yg sangat mulia, amalan ahli surga, bisa mendekatkan kamu pada Allah, sudah cepatan ambil wudhu dan sholat!"
Asma menghela nafas berat, bagaimana dia menjelaskan pada Bilal bahwa dia bukannya tidak mau sholat tapi tidak bisa sholat.
"Ustadz duluan aja deh" serunya sembari mengambil kerupuk itu lagi namun Bilal dengan cepat mencegahnya.
"Jangan Zahra, nanti tenggorokan mu sakit. Lagian kenapa kamu malas sekali sholat malam? Mumpung sudah bangun".
"Aduh, Ustadz. Asma itu bukannya engga mau sholat"
"Terus?" Asma benar benar malu mengatakan kalau dia sedang datang bulan. dan dia heran kenapa Bilal ini bersikap aneh sekali seseolah dia memiliki tanggung jawab terhadap Asma.
"Ya pokok nya engga."
"Oh, kamu datang bulan?"
"Huh?" Asma terkejut dengan pertanyaan Bilal namun ia menunduk malu kemudian mengangguk pelan.
"Ya Allah, Zahra. Apa susahnya bilang dari tadi kalau kamu lagi datang bulan, aku kan engga perlu bicara panjang lebar" Asma menatap tak percaya pada Bilal. Selama ini, ia bahkan tidak pernah mengatakan itu didepan Adil karena dia merasa malu.
"Terus kamu kalau engga sholat, engga tidur, mau ngapain?"
"Ya engga ngapa ngapain" jawabnya santai.
Bilal berjalan mendekati Asma, kemudian mengambil ponsel Asma yg ada di genggamannya dan meletakkan tasbih miliknya di tangan Asma sebagai gantinya.
"Kalau kamu lagi halangan, terus bangun ditengah malam, itu mungkin karena Allah masih rindu sama kamu, walaupun kamu engga bisa sholat, tapi kamu kan bisa dzikir dan memanjatkan doa. Bukannya main hp, ada banyak sekali waktu yg terbuang hanya untuk kesenangan sesaat, dan meskipun kamu tahu itu, tapi kamu tidak benar benar menyadari nya, dan jika tiba saatnya kamu menyadari bahwa mendekatkan diri pada Allah itu sangat penting, bagaimana jika itu sudah terlambat? perbanyak dzikir itu sangat baik untuk kamu"
Asma tertegun mendengar kata kata Bilal, ia menatap tasbih berwarna cokelat terang yg ada di tangannya, ia hanya bisa terdiam dan hatinya seperti bergejolak. Bukan karena dia pertama kali mendengar nasihat seperti itu, ia sudah mendengar nya ribuan kali dari Abi nya, Ummi nya dan kakak kakaknya. Bahkan Ummi nya hampir setiap malam menasehati nya.
Tapi Bilal, ini pertama kalinya hatinya terasa bergejolak dengan nasehat itu. Asma mengingat kembali masa masa sebelumnya yg ia habiskan hanya untuk hal tak berguna, saat tak bisa tidur, ia akan menonton film atau membaca novel, apa lagi saat ia datang bulan, ia begitu enteng dengan hubungannya pada Sang Ilahi. Dan sekarang, Asma merasa menyesali semua itu. Asma masih menatap tasbih yg ada ditangannya. Hal semudah ini, bagaimana dia tak menyadari nya sejak awal?.
Berdzikir dan memanjatkan doa, itu adalah hal sangat mudah untuk dilakukan, tak perlu memeras otak seperti saat menjalani ujian, tidak lelah apa lagi terbebani, tapi kenapa dia tak menyadari itu dan menjadi pemalas?
"Ustadz, Asma...." saat Asma mendongak, ia sudah tak lagi mendapati Bilal disana. Ia melihat sekaliling ruangan namun juga tak ada.
Asma pun kembali ke kamar Yasmin dengan membawa tasbih Bilal ditangannya.
.
.
.
Pagi pagi sekali, mereka sudah bersiap pulang karena hari ini Asma harus menyetorkan hafalan nya sebagai tugas ujian terkahir kelulusannya.
Di sepanjang perjalanan, Asma dan Yasmin tampak sangat dekat, bercanda dan bahkan tak jarang mereka tertawa terbahak bahak. Membuat Fatimah hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam hati ia khawatir jika putri nya itu punya sifat bar bar seperti tante nya.
Sementara Bilal, ia selalu mencuri curi pandang pada Asma dari kaca mobil, ia tak bisa menyembunyikan senyum nya dan wajahnya yg berseri melihat Asma dan Yasmin.
Setelah sampai, Asma segera turun cepat cepat untuk mandi, kemudian mempersiapkan diri untuk hafalan nya.
Ia duduk di dalam kelas yg masih sepi, tak lama kemudian Bilal datang menghampiri nya. Asma merasa tak nyaman dengan kehadiran Bilal. Ia merasakan sesuatu dalam hatinya yg tak bisa ia mengerti.
"Mau aku bantu?" Bilal duduk di kursi samping Asma.
Asma hanya menggeleng tanpa menatap Bilal. Sekali lagi ia merasakan jantungnya berdebar, dan ia berfikir mungkin itu karena gugup, bagaiamana jika ia tak bisa menyelesaikan semua hafalan nya?.
"Sini, aku bantu..." Bilal mengambil kitab kecil dari tangan Asma, walaupun Asma sempat protes, tapi sepertinya dia butuh Bilal.
"Lanjutkan, aku akan lihat di bagian mana kamu yg kurang hafal"
Asma pun mengikuti perintah Bilal, walaupun ada beberapa bait yg ia hampir lupa, setengah lupa, dan benar benar lupa, membuat Asma merasa frustasi dan kesal. Namun Bilal bisa menenangkannya.
"Lantunkan hafalan itu sama seperti kamu menyanyikan sebuah lagu, Zahra. Nikmati dan resapi. Itu akan hadir dengan sendirinya dalam kepala mu"
"Asma coba dari awal lagi ya" ujarnya. Bilal mengangguk dan tiba tiba ia meletakkan tangan nya di kepala Asma dan mengusap kepala nya yg masih terbungkus hijab hitam itu. Namun entah kenapa Asma hanya bisa terdiam mematung, tak lagi muncul protes bukan muhrim.
"Tenang, dan fokus. Itu saja kunci nya" Bilal mengucapkannya sepenuh hati, tak lupa ia menyunggingkan senyum untuk menyemangati Asma.
Saat Bel berbunyi, semua murid pun mulai masuk kelas, tak lupa juga dengan teman teman sekelas Asma.
Lita yg datang dan melihat Bilal tampak begitu dekat dengan Asma, hanya bisa terdiam dengan seribu pertanyaan. Karena sebelumnya tak pernah satu guru pun entah wanita atau pria yg begitu dekat dengan Asma.
"Ya sudah, aku pergi dulu. semogaY berhasil "
"Makasih"
Setelah Bilal pergi, Lita segera menyerang Asma dengan berbagai pertanyaan, namun Asma enggan menjawab dan hanya ingin fokus pada hafalan nya.
"Bener ya, kamu di jodoh kan sama Ustadz Bilal?"
Pertanyaan Lita yg satu ini membuat Asma kesal.
"Engga, Ta. Dia sudah menikah. Kan sudah aku bilang, dia cuma guru privat "
"Engga mungkin, kalau memang Paman Rahman mau cari guru privat buat kamu, pasti cari nya Ustadzah, bukan Ustadz. Ya kan? "
Asma terdiam seketika dan mencerna kata kata Lita.
Benar, itu benar sekali. Apa lagi Asma dan Bilal sering berduaan saat belajar tapi tak ada satupun yg melarang. Apa jangan jangan...
Asma menggelengkan kepala mengusir fikirannya yg sudah kemana mana itu.
"Engga, Ta. Aku yakin kok. Masak iya Abi tega jodohin aku sama laki orang, bisa di cap pelakor aku. Mungkin kenapa Ustadz Bilal yg Abi pilih, karena Ustadz Bilal putra nya Kiai Khalil. Guru dan sahabat Abi".
Lita masih tidak yakin dengan jawaban Asma. Ia mengenal betul pamannya itu, siapapun pria nya, tidak mungkin di biarkan dekat begitu saja dengan putri nya.
Tapi ia pun tak mau memusingkan hal itu, lebih baik sekarang fokus pada hafalan nya juga.
▪️▪️▪️
Tbc.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Yus Warkop
banyak ilmu yg kudapat dari baca novel ini
2024-03-16
5
💞ålmå¥råᣵʱᵃ²🌸🍒⃞⃟🦅
udah dinikahin malahan kamu asma🤣🤣jadi istri kedua malah😅
2023-11-18
1
Sarie
ginjalku tercubit.... baca episode ini pas tebangun tengah mlm .... auto langsung ambil wudhu trus sholat mlm😁
2023-02-07
2