"Asma belum keluar juga?" Aisyah yg membantu Bi Ida membuat sarapan menoleh mendengar suara Abi nya. Aisyah menggeleng dan kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Aisyah, kamu yg paling dekat dengan Asma, coba bicara sama dia ya, Nak. Dan dari semalam dia belum makan"
"Percuma Bi, saat ini Asma dalam kondisi yg engga mungkin mendengarkan siapapun "
"Tapi Asiyah, Abi benar benar Khawatir. Dia terlihat sangat marah"
"Bukankah sudah Aisyah peringatkan Bi? Kita semua mengenal Asma dengan baik, Abi ingat waktu Mbak Aqilah menikah? Saat usia Mbak Aqilah sudah 22 tahun, dan Asma mengajukan banyak sekali pertanyaan, kenapa harus di jodohkan? Kenapa harus menikah muda? Kenapa engga berkarir dulu, dan semacamnya. Dan begitu juga saat Aisyah menikah, dia juga mempertanyakan hal yg sama, dari sana kita sudah tahu Asma berbeda dari kita, dia tidak suka di jodohkan dan di atur hidupnya, dia punya dunia nya sendiri Bi. Apa lagi saat ini dia baru 18 tahun, dia pasti masih ingin menikmati hidupnya "
"Aisyah... Apa ini saatnya mengungkit hal itu, Nak? Aisyah tahu kan kenapa Abi mengambil keputusan itu?"
"Aisyah tahu, tapi tetap saja itu engga bisa dibenarkan... "Aisyah meletakkan pisau yg ia pegang dengan kasar, ia pun segera keluar dari dapur dengan wajah kesal, ia juga tak ingin di jodohkan saat itu, tapi ia tak punya keberanian mengatakan itu pada Abi nya, Aisyah mengerti betul perasaan Asma sekarang. Saat melangkah keluar, Aisyah terkejut saat melihat Khadijah yg sudah berdiri di ambang pintu dapur, Khadijah tampak pucat dan lemas.
"Khadijah... aku engga ada maksud menyinggung mu" setelah mengatakan itu, Asiyah segera berlalu dan hendak mendatangi kamar Asma, kebetulan sekali ia melihat Yasmin yg sedang memakan puding di ruang keluarga. Aisyah pun menghampiri Yasmin.
"Yasmin lagi makan apa?" tanya nya lembut
"Puding cokelat oreo, Tante " serunya sambil menyuapkan satu sendok puding kedalam mulutnya.
"Emm Yasmin mau engga berbagi puding sama Tante Asma?" Yasmin melirik sisa pudingnya.
"Tapi Yasmin belum kenyang tante" serunya yg membuat Aisyah tertawa.
"Di kulkas masih ada kok, Tante ambilkan ya, nanti Yasmin antar ke kamar tante Asma. Bagaiamana?" Yasmin mengangguk setuju. Aisyah pun segera kembali ke dapur dan megambil pudingnya, ia mengantar Yasmin sampai depan kamar Asma.
"Ketuk pintu nya" bisik Aisyah. Yasmin pun mengikuti perintah Tante nya itu.
"Tante Asma.... Tante mau puding engga?" setelah menunggu beberapa saat, tak juga ada jawaban dari Asma. Aisyah meminta Yasmin melakukan nya sekali lagi. Namun juga tak ada jawaban. Hati Aisyah mulai di hinggapi ke kekhawatiran, takut takut Asma kabur lagi.
Aisyah pun menggedor gedor pintu Asma sambil berteriak memanggil namanya.
"Asma, Kamu masih didalam kan? Buka pintu nya Dek!"
"Asma, jangan bikin Mbak khawatir dong"
"Asma, buk.. " pintu yg terbuka tiba tiba membuat Aisyah bernafas lega.
"Apaan sih Mbak, ganggu orang tidur aja" Asma menggerutu sambil menguap. Ia membiarkan Aisyah masuk kedalam kamarnya. Aisyah yg melihat keadaan kamar Asma yg sudah seperti kapal pecah hanya bisa membuka mulut lebar lebar.
"Apa yg kamu lakukan dengan kamar mu, Dek?" tanya Aisyah sembari mau membereskan kamar nya, tapi Asma melarang nya. Yasmin yg juga ikut masuk sama terkejutnya melihat keadaan kamar Asma. Ia berjalan melewati barang barang yg berserakan di lantai.
"Ya Allah... Tante Asma, kenapa kamar tante hancur begini? Apa ada gempa bumi? atau ada maling?" Yasmin menyerahkan piring yg berisi puding pada Asma, Asma mengambilnya namun enggan memakannya, ia masih tampak kecewa dan matanya pun sembab. Sudah pasti dia menangis semalaman.
"Bukan gempa bumi, Yasmin, Sayang. Tapi gempa kehidupan "
"Apa itu gempa kehidupan?" tanya Yasmin dengan polosnya. Asma sudah membuka mulut hendak menjawab namun Aisyah segera menyela.
"Sekarang Yasmin pergi main ya" Yasmin pun mengangguk dan berlari keluar dari kamar Asma.
Aisyah duduk di samping Asma dan merangkul bahu nya.
"Mbak ngerti perasaan mu, Dek"
"Ini bukan hal kecil, Mbak. Asma engga ngerti bagaimana bisa Abi mengambil keputusan besar seperti itu tanpa berbicara sama Asma. Mbak tahu kan Asma benar benar engga siap menjalankan sebuah hubungan, apa lagi pernikahan" Asma kembali meneteskan air matanya. Aisyah membiarkan Asma menangis, berharap tangisan itu bisa membuat nya sedikit tenang.
"Dek... Mbak ngerti, dulu Mbak juga engga bisa nerima mas Farhan, tapi seiring berjalannya waktu, Mbak bisa menerima nya, dan bahkan sekarang Mbak sangat mencintai nya"
"Ya beda lah Mbak Aisyah. Ust... Maksud ku dia... Dia mencintai istrinya, dan begitupun sebaliknya. Lalu bagaimana aku bisa mencintai orang yg sudah mencintai orang lain?"
"Asma, Sebenarnya Bilal juga mencintai mu"
"Omong kosong" Asma menyanggah kata kata Aisyah dengan cepat "Siapa yg bilang begitu?"
"Abi, Ummi, Bilal dan bahkan Khadijah juga tahu Bilal itu mencintai mu"
"Itu engga masuk akal" teriak Asma tak percaya "Mbak, manusia itu cuma punya satu hati, dan satu hati itu cuma bisa mencintai satu orang"
Mendengar itu Aisyah hanya bisa menghela nafas, ia tak tahu bagaimana menceritakannya pada Asma dan lagi pula untuk saat ini, Asma tidak akan percaya apapun yg dikatakannya.
"Dia itu cuma sama seperti pria lainnya yg engga bersyukur dan selalu merasa kurang, sudah punya istri seperti Mbak Khadijah masih saja belum puas dan menginginkan yg lain"
"Jangan menghakimi orang sembarangan, Asma." Aisyah memperingatkan nya.
"Aku engga menghakimi nya, aku hanya...."
"Menuduh?" Asma dan Aisyah menoleh pada suara itu, Disana terlihat Bilal yg berdiri entah sejak kapan, Asma terlihat begitu kesal melihat kehadiran Bilal.
"Aku engga nuduh" jawab Asma dengan ketus.
"Terus kalau engga nuduh, engga menghakimi, apa itu namanya, Zahra?"
"Itu memang kenyataan nya. kan? Ust...Kamu ... Kamu itu pria yg engga bisa bersyukur, jahat, dan egois. Apa coba kurang nya Mbak Khadijah sampai sampai kamu harus menduakan nya? Apa salah nya sampai kamu tega menyakiti hati nya? Kebanyakan pria memang seperti itu kan? Tidak pernah puas dengan apa yg dimiliki nya?"
Bilal hanya bisa menghela nafas berat menerima semua tuduhan Asma itu.
"Apa ada tuduhan yg lain, Zahra?" Tanya nya yg membuat Asma semakin kesal.
"Ada, penipu, pembohong" Asma mengucap nya penuh penekanan dan kebencian.
"ada lagi?" Asma mendelik kesal namun tak menjawab "Asiyah aku ingin bicara berdua dengan istri ku" seru Bilal pada Aisyah, membuat Aisyah segera beranjak dan hendak pergi, bahkan Asma yg mencoba mencegahnya pun tak bisa.
"Dia suami mu, Dek. Dia punya hak atas dirimu lebih dari siapapun" ucap Asiyah kemudian pergi meninggalkan Asma yg tampak sangat kesal. Apa lagi mendengar kata 'dia suami mu' ingin rasanya Asma berteriak sekencang mungkin. Namun dia memilih bungkam dan menghindari tatapan Bilal yg sejak tadi menatapnya seolah akan melahapnya hidup hidup.
"Sebaiknya keluar dari kamar ku, aku engga mau mendengarkan apapun" ketusnya.
"Tapi kamu harus mendengarkan ku, Zahra. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini dan tidak membiarkan siapapun mengatakan sesuatu"
"Aku engga peduli"
"Kamu harus peduli, sekarang kamu istri ku"
"Aku engga mau jadi istri kamu"
"Sayangnya, itu engga akan merubah kenyataan dan engga akan berpengaruh pada ikatan pernikahan kita" Asma menutup telinga nya dengan telapak tangannya
pernikahan?
Kata kata itu seperti belati yg menusuk jantungnya. Bilal mencoba menjauhkan tangan Asma dari telinganya, namun Asma menepis nya dengan marah
"Jangan menyentuh ku" teriak nya membuat Bilal semakin frustasi.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kamu begitu marah? Apa yg salah dengan pernikahan ini? Aku mencintaimu, Zahra. Aku benar benar mencintai mu, aku menikahi mu karena aku sangat mencintai mu. Aku mencintai mu sejak pertama kali melihat mu, aku mencintai mu sejak saat itu dan seterusnya "
"DIAM....!!!" teriak Zahra yg seketika membuat Bilal terdiam. Asma mengambil tasbih Bilal yg masih tergeletak di atas sejadah, ia menarik tasbih itu hingga talinya terputus, dan manik manis tasbih itu pun berjatuhan di lantai. Melihat itu, Bilal sangat terkejut dan sama sekali tak menyangka, ia menatap nanar pada manik itu yg berserakan di sekitar kaki nya. Kemudian ia menatap Asma penuh luka.
"Seperti itu, kamu menghancurkan ku dan istri mu. Bagaiamana bisa seorang pria yg sudah memiliki pasangan dan terikat pada ikatan suci pernikahan bisa mencintai wanita lain? tidakkah kamu memikirkan perasaan istri mu dan perasaan ku?" setelah mengucapkan kata yg penuh penekanan itu, Asma berjalan melewati Bilal yg masih diam mematung. Hingga langkah kaki suara Asma tak lagi terdengar.
Bilal mulai memungut manik tasbih itu satu persatu, hatinya sakit, dan egonya terluka. Dia memberikan tasbih itu pada Asma dengan cinta dan kasih sayang. Tapi se kasar itu Asma mencampakkannya. Bahkan, tangan Bilal bergetar saat mengambil manik tasbih itu. Dan saat terdengar suara langkah kaki yg mendekat, Bilal mengira itu Asma.
"Kenapa kembali? Apa kamu merasa bersalah, Za...... Khadijah?" Ia mendapati Khadijah yg sedang menatapnya sayu. Tanpa berkata kata, Khadijah membantu Bilal memungut manik tasbih itu. "Biar aku saja, Khadijah "
"Engga apa apa, aku bantu." Khadijah dan Bilal mengumpulkan tasbih itu setelah terkumpul Bilal menghitung nya. "Apa cukup 99 butir?" Bilal menggeleng.
"97 butir" Bilal dan Khadijah pun mencari cari sisa butiran tasbih itu, Bilal tengkurap dan mencari di bawah kolong ranjang " Ada di sini " serunya sembari berusaha menggapai manik cokelat itu. Setelah berusaha keras, ia mampu menggapai nya.
"Biar aku sambung lagi ya, Mas" seru Khadijah dan menyunggingkan senyum yg tampak terpaksa. bagaiamana tidak? Khadijah pernah meminta tasbih cantik itu pada Bilal, tapi Bilal mengatakan Khadijah boleh memakainya tapi tasbih itu tetap menjadi milik Bilal, karena tasbih itu adalah pemberian gurunya di mekkah. Tapi ternyata, Bilal memberikan tasbih itu pada Asma. rasa cemburu menggelitik hati Khadijah. Namun dengan cepat ia menepisnya.
"Engga apa apa, Mas bisa sambung sendiri kok" seru Bilal dan pergi dari sana dengan membawa tasbih itu dengan hati nya yg terluka, perlakuan Asma padanya begitu menyakitkan.
Sementara Khadijah, hanya mampu menatap nanar punggung Bilal yg terus melangkah tanpa sedikitpun menoleh ke arah nya. Satu bulir air mata berhasil lolos dari sudut matanya, namun ia dengan cepat menyekanya.
"Kamu akan mendapatkan cinta mu, Mas. Aku janji"
▪️▪️▪️
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
sharvik
sperti mereka ini mmg sgt egois apapun alsn y tdk shrus y mreka mnikahkn bilal dg asma . .
2025-02-01
0
Herta Siahaan
nah Asma betul entah apa tujuan Khadijah melaukai hati nya dengan menikahkan suami pada wanita lain. Rela memendam perasaan sendiri apa itu demi mendapatkan surga. Nyatanya Khadijah cemburu kan...
2024-06-07
2
Juju M
ini ko isteri pertamanya ,kaya pengen bgt klw si asma samk billal, bersatu ,tapi Diah merasan sakit hati juga , GI mnh sih aku ko jadi bertanya²
2024-04-03
0