Asma sedang rebahan di ayunan yg ada di samping rumahnya, menikmati hembusan angin sore yg begitu menenangkannya.
Asma memejamkan mata namun tiba tiba ia mengingat tatapan Bilal terhadapnya, membuat Asma terkejut dan segera membuka mata lebar lebar. Asma kembali membuka Alfiyah nya dan melanjutkan hafalan nya, tapi entah kenapa dia tidak bisa fokus sedikitpun meski sudah ia coba berkali kali. Membuat Asma menyerah.
kemudian ia mengambil ponsel nya, memasang headset dan memutar musik untuk mengalihkan pikirannya yg seperti nya tidak stabil.
Asma kembali memejamkan mata, namun sekali lagi ia melihat Bilal seolah sedang menatapnya. Asma membuka mata dan segara duduk, kemudian ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Asma memegang dadanya dan merasakan jantung nya berdebar.
"Haduh, apa aku mulai sakit jantung ya? Tapi masak iya masih muda dan segar sudah sakit jantung? Kayaknya aku harus periksa ke dokter deh"
Asma menggumam sendiri dan saat hendak kembali rebahan, ia mendengar Adil memanggil namanya.
"Disini, Kak..." teriaknya, tak lama kemudian Adil datang
"Kakak mau jemput Fatimah sama Yasmin. Mau ikut?" Asma menatap kesal kakaknya itu karena telah membohongi nya saat ia bertanya tentang Bilal, kakaknya menghindar dan mengatakan akan menjemput istri dan anaknya, nyatanya.... dia tidak kemana mana.
"Engga deh" jawab Asma lemas dan kembali rebahan.
"Loh tumben, biasanya kalau Kakak keluar kamu selalu mau ikut".
"Males".
"Emang engga bosan dirumah? Ummi, Aqilah sama Aisyah pergi ke rumah Ustadzah Ranti untuk menjenguk bayinya".
"Loh, Ustadzah sudah melahirkan? Kok Asma engga di kasih tahu?".
"Tadi Ummi sudah cari cari kamu untuk pergi bersama, tapi kamu engga ada"
"Kayaknya dari tadi Asma cuma disini deh" Asma cemberut kesal "Ya udah, Asma ikut Kak Adil aja. Tapi engga nginep kan?"
"Engga, cumajemput Fatimah sama Yasmin"
"Oke kalo gitu".
"Nanti kamu duduk di belakang ya, soalnya didepan ada Bilal"
Asma yg mengikuti langkah kakaknya dari belakang itu tiba tiba berhenti saat sekali lagi merasakan jantungnya berdebar. Adil menoleh karena tak mendapati Asma di belakang nya.
"Kenapa, Dek?" tanya nya.
"Kak, hari ini Asma ada minum kopi engga ya?" Asma bertanya sembari memegang dada nya di mana jantung nya masih berdebar kencang.
"Ya mana Kakak tahu, Asma. Memang nya kenapa?".
"Engga apa apa, Cuma jantung Asma berdebar, Mungkin tadi pagi Asma minum kopi sebelum makan"
Mendengar itu, Adil hanya bisa menggelengkan kepala. Asma memang tidak cocok minum kopi karena jantung nya tidak kuat, tapi gadis itu kadang kadang masih nyolong kopi Abi nya di pagi hari. Tapi seingat Adil, sejak pagi Abi nya pergi ke undangan untuk berceramah dan selain Abi nya tidak ada yg minum kopi dirumah nya.
Asma masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang, dan ternyata Bilal sudah ada didalam. Adil pun masuk dan segera melajukan mobilnya.
setelah beberapa menit mengendarai mobil. Kini mereka telah keluar dari jalan raya dan mulai memasuki jalan yg sempit melewati pedesaan. Bilal tampak takjub memandangi sekeliling nya, alam yg masih begitu sempurna, sawah, pepohonan dan sungai yg mengalir di sepanjang jalan.
"Di kota, kamu pasti engga akan liat pemandangan seindah ini kan?" Adil bertanya sembari tetap fokus pada jalanan yg sepi.
"iya, Masya Allah... ini masih terjaga, sangat alami, udaranya begitu segar, angin nya seolah lebih sejuk dari pada angin kota".
"itu alasannya kenapa Asma suka ikut aku jika pergi kerumah mertua ku, ya kan Asma?" Adil melirik Asma dari kaca mobil namun raut wajah Asma tak seperti biasanya.
Biasa nya gadis itu begitu antusias saat melewati jalanan ini, dia akan membuka kaca mobil dan menikmati angin, tak jarang pula dia memotret atau merekam pemandangan.
"Asma, kamu sakit?" tanya Adil yg heran dengan perubahan adiknya itu.
"Engga "jawabnya singkat. Namun tiba tiba Asma berteriak untuk menghentikan mobilnya, membuat Adil seketika menginjak rem.
"Ada apa Asma?"
"Asma turun sebentar ya, Kak" serunya sambil melompat keluar tanpa peduli teriakan Adil.
Asma berlari menuju sawah di mana orang orang sedang memanen padi, ia mulai memotret dan merekamnya. Bilal yg melihat itu pun tersenyum melihat kelakuan Asma yg saat ini sedang berselfi ria di tengah kesibukan orang orang, bahkan ia mengajak selfie para petani. Kini wajah Asma kembali ceria.
Tak lama kemudian Asma kembali ke dalam mobil dengan wajah yg lebih sumringah. Bilal berbincang beberapa hal dengan Adil, hingga Adil memasuki sebuah rumah yg sangat sederhana. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun dan langsung di sambut oleh wanita cantik bersama dengan anak gadisnya.
"Abi...." gadis kecil itu langsung berlari ke arah Adil dan melompat kedalam pelukan nya yg segera di tangkap oleh Adil.
"Mas..." wanita itu bersalaman dan mencium tangan Adil.
"Bilal, Ini Fatimah Istri ku, dan ini... putri kecil Abi... Yasmin" Fatimah tersenyum ramah pada Bilal kemudian mempersilahkan mereka masuk. Bilal menatap Yasmin dengan pandangan sendu seolah penuh rindu, ia mengelus pipi Yasmin dengan sayang dan tersenyum.
"Assalamualaikum, Yasmin. Nama mu secantik kamu ya" Yasmin tersenyum malu malu mendapatkan pujian itu.
"Waalaikumsalam, Om. Om juga tampan sekali. " jawab Yasmin dengan suara nyaring nya. mendengar kata 'tampan ' seketika Bilal teringat pertemuan pertamanya dengan Asma yg juga mengatakan nya tampan.
"Asma, bawa Yasmin main ya. Kakak mau menemui Ayah" Asma mengangguk dan menggandeng tangan Yasmin masuk kedalam rumah, sementara Fatimah pergi ke dapur untuk membuatkan teh.
"Asma... " teriak Adil yg menghentikan langkah Asma dan menoleh padanya "jangan kasih Yasmin nonton youtube yg engga engga, jangan buat dis mendengarkan musik juga". Mendengar peringatan kakaknya itu Asma hanya cengengesan, karena dia memang sering membiarkan Yamin menonton apa yg dia tonton dan membiarkan Yamin mendengarkan musik menggunakan headset nya.
.
.
.
Bilal di sambut hangat oleh mertua Adil yg masih belum mengetahui status Bilal sebagai suami Asma. Bahkan setelah berbincang bincang dengan Bilal, mertua Adil menunjukan ketertarikan nya pada Bilal dan menceritakan tentang putri nya yg saat ini sedang di pesantren dan akan segera menyelesaikan pendidikannya.
Bilal yg mengerti kemana arah pembicaraan itu tak tahu harus menjawab apa, ia melirik Adil dan memberi isyarat agar Adil mengatakan sesuatu sebelum ayah mertua nya itu berharap lebih banyak lagi.
"Ayah, Bilal sudah menikah".
"Ayah tahu. Tapi perempuan mana pun pasti akan sangat beruntung menjadi istri Bilal dan menantu Kiai Khalil. Mereka pasti siap meskipun harus jadi yg kedua atau yg ketiga".
"Perempuan mana yg mau jadi yg kedua apa lagi yg ketiga?" suara Asma yg tiba tiba itu mengejutkan semua nya, terutama Bilal. Asma datang dengan nampan yg berisi teh dan biskuit.
"Asma, engga baik menyela pembicaraan orang dewasa" Adil menasehati nya sembari membantu Asma meletakkan teh nya di meja.
"Hehe iya, maaf. Tapi Paman, Mbak Arum itu cantik, pintar, pasti bisa kok dapat pria sholeh yg masih lajang. Kan kasian kalau harus jadi istri kedua" mertua Adil hanya tertawa menanggapi komentar Asma yg terus terang, sementara Adil dan Bilal hanya mampu terdiam dan menatap nanar pada Asma.
"Iya, Paman tahu, Nak. Paman hanya mengutarakan perasaan Paman yg melihat sosok suami yg sempurna dalam diri Bilal."
"Ayah, jangan ambil hati kata kata Asma" Adil mencoba menyela dan berharap Ayah mertuanya itu tidak tersinggung. Namun ayah mertua nya yg sudah mengenal Asma hanya tertawa dan tak ambil pusing.
"Oh ya, Adil. Malam ini menginap ya disini. Nanti malam ada acara lamaran tetangga, mereka pasti akan sangat senang kalau kamu bisa hadir "
"Tapi Ayah, bagaimana dengan Bilal dan Asma"
"Mereka juga harus menginap, lagi pula kapan lagi Nak Bilal bisa menginap. Dan Asma, kamu tidak pernah mau menginap disini. Jadi sekali ini saja, ya?"
Adil menatap Asma yg juga menatapnya sambil menggeleng dengan isyarat ia tak mau menginap.
"Ya udah, kami akan menginap Ayah" Asma menghela nafas beat mendengar jawaban Adil dan ia pun pergi menemui Fatimah dan Yasmin di dapur.
.
.
.
Setelah sholat Maghrib, Adil dan Bilal hadir di acara lamaran khas desa. Bilal tampak menikmatinya. Apa lagi para tamu yg berdatangan membawa beberapa bingkisan dan semuanya berjalan kaki, canda gurau dan tawa menghiasi acara itu. dan saat acara lamaran berjalan, tidak ada interaksi antara mempelai wanita dan pria, mempelai pria duduk bersama pria, sementara mempelai wanita duduk bersama para wanita dari keluarga mempelai pria, dan ibunda sang mempelai pria yg menyematkan cincin pada wanitanya.
Setelah acara selesai, Bilal dan Adil kembali ke rumah mertua Adil, disana Bilal bertemu dengan mertua perempuan Adil. Bilal pun mengucapkan salam padanya.
"Tadi siang Ibu tidak melihat mu datang, karena ibu sibuk membantu tetangga kita yg sedang lamaran" Ibu mertua Adil meletakkan satu toples kerupuk diatas meja dan membuka tutupnya "Kerupuk ini Ibu membuat nya sendiri, Nak Bilal. rasanya enak sekali"
"Pantas saja saya tidak pernah melihat kerupuk seperti ini sebelum nya" ucap Bilal mengambil kerupuk itu dan memakannya satu. "rasanya enak"
"Oh ya, Fatimah sudah menyiapkan kamar untuk Nak Bilal. Nanti biar Adil antarkan ya, ibu tinggal dulu ya Nak"
"Terimakasih, Bu." jawab Bilal sungkan, ia tak menyangka akan disambut dengan begitu hangat dan ramah. Apa lagi dia pernah dengar, bahwa orang desa itu kasar, dan mudah berkelahi. Tapi dari apa yg Bilal lihat, justru kebalikan nya. Apa lagi saat acara lamaran tadi, para tetangga membantu tuan rumah menyiapkan segala nya, dan tanpa bayaran sedikitpun.
Adil mengatakan itu sudah menjadi tradisi, karena itulah jarang sekali ada katering di desa, hanya beberapa orang saja yg menggunakan jasa itu, mereka lebih suka saling bahu membahu, berbgai segalanya. Begitu indah.
Namun, senyum Bilal hilang saat ia mengingat kembali kata kata Asma.
"Perempuan mana yg mau jadi yg kedua apa lagi yg ketiga"
Kata kata itu menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran dalam hatinya. Berfikir bahwa ia telah melakukan kesalahan yg besar dengan menyetujui menikahi Asma dengan cara tak wajar seperti ini.
▪️▪️▪️
Tbc.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Umi Maryam
kasian banget nasib nya asma gadis kecil harus jadi istri ke dua ,itu org tua ga punya hati merampas hak untuk memilih pasangan hidup nya , jangan dampe deh di keluarga aku ada yg seperti mereka......
2024-11-28
1
💞ålmå¥råᣵʱᵃ²🌸🍒⃞⃟🦅
tanpa kamu sadari kamu udah menjadi yng kedua asma
2023-11-18
6
Yanti Ayu puspita sari
ada typo kak dis = dia
2023-11-04
0